Bertukar Badan Dengan CEO

Bertukar Badan Dengan CEO
Bab 18


__ADS_3

Erwin selalu tidak menyadarinya, sampai saat dia memasukkan headset ke telingaku.


“Kamu pilek?” dia mengerutkan keningnya.


“Ngak kok.” Aku tiba-tiba bersin, “Kondisi tubuh tidak baik.”


Erwin mencibir: “Apa ini salahku?”


Memikirkan situasi tadi malam, aku tidak berani mengatakan iya.


Erwin mengerutkan kening dan menatapku. Dia sepertinya ragu-ragu apakah aku harus pergi ikut rapat atau tidak, aku langsung merapikan pakaianku dan masuk dengan kepala tegak.


Tapi setelah keluar dari rapat, aku langsung pingsan.


Aku berbaring di sofa, dengan nafas yang susah aku berusaha memanggil Erwin kehadapanku: “Aku sudah tidak tahan…., jika aku pergi, tubuh ini akan ku kembalikan padamu lagi.”


Erwin meletakkan kain basah ke keningku dengan ekspresi kosongnya: “Jangan banyak drama.”


Aku tersenyum.


Erwin pernah mengatakan kalau tubuhnya sangat kuat, jadi tidak ada waktu dimana dia membutuhkan obat, sehingga di kantor tidak disiapkan obat.


Terus dia bergumam “Wanita itu merepotkan” dan berjalan keluar untuk membeli obat.


Aku berbaring di sofa sambil menunggunya.


Tapi ketika aku menunggu, Pak Argus masuk dengan panik seketika membangunkanku dan memberitahuku berita yang mengejutkan.


“Nyonya di culik!”

__ADS_1


Dia bilang para penculik tidak bisa menghubungiku, jadi dia menghubungi Pak Argus.


Pihak penculik tidak meminta apa-apa, hanya menyuruhku pergi untuk membantunya.


Bisa dikatakan, Pak Erwin bernasib buruk setelah bertukar tubuh denganku….


Memikirkan begitu menyedihkannya Erwin, aku berusaha pergi ke tempat yang ditentukan penculik itu dengan badanku yang sakit ini.


Para penculik menekankan tidak boleh ada polisi, jadi hanya ada aku sendiri yang ke sana.


Lucu sekali, aku kan begitu penakut, mana mungkin mendengarkan kata-kata penculik, jadi aku meminta Pak Argus ke kantor polisi sebelum aku sampai ke tempat itu.


Setelah aku masuk ketempatnya, aku menemukan Erwin yang duduk terikat di atas kursi, mulutnya juga dilakban.


Ketika dia melihatku, matanya langsung menunjukan ekspresi yang berubah total.


Aku tidak terlalu memedulikannya dan hanya menatap penculik bertopeng yang layaknya seperti bos: “Kamu sedang ingin melakukan apa?”


Penculiknya menyeringai: “Kalian berdua hanya boleh ada satu orang yang hidup, pilih salah satu.”


Baru ketika itu aku baru sadar bahwa di sudut lainnya ada Sherline yang juga di culik.


Dia menatapku dengan sedih, air matanya mengalir, sungguh menyedihkan.


Sangat beda dengan tatapan yang melotot itu.


Tapi mulut Sherline tidak dilakban, jadi dia berteriak ke arahku dengan nada sedih: “Jangan pedulikan aku, selamatkan Winda.”


Aku menghela nafas.

__ADS_1


Kalau ini beneran, penculiknya akan memberikan umpan yang matang.


Tapi jalan alur ini aku tahu, di dalam situasi tragis ini sangatlah umum, seorang wanita penjahat yang menyukainya tidak boleh egois tapi memilih mengambil resiko.


Mungkin kemaren Sherline melihatku ditarik oleh Erwin tanpa perlawanan, jadi dia merasa posisinya mungkin terancam.


Tapi sebenarnya aku tidak tahu, jika saat ini tubuh ini adalah jiwanya Erwin.


Dia akan memilih siapa?


Aku melirik Erwin.


Dia mengunakan kepalanya untuk menunjuk ke arah Sherline, dan gak tahu maksudnya itu apa menolong dia atau menyerahkannya.


Aku memiringkan wajahku: “Bisakah aku bicara dengan dia sebentar?”


Aku bicara sambil berjalan ke arah Erwin.


Tapi penculik tidak setuju dan menodongkan pistol ke arahku dan berkata: “Tidak.”


Aku menghentikan langkah kakiku.


Sepertinya dia khawatir Erwin akan memberitahuku bahwa Sherline adalah pembawa pesan utama.


Melihat keraguanku, Sherline menggigit bibirnya dan berteriak pada penculik, "Bunuh aku! Aku ingin membantu mereka!"


Melihat ini, penculik melepaskan tembakan ke kakinya: "Diam."


Setelah berhasil membuat Sherline tidak berteriak, penculik itu menunjuk ke arahku lagi: "Pilih cepat, kamu tidak punya banyak waktu."

__ADS_1


__ADS_2