Bertukar Badan Dengan CEO

Bertukar Badan Dengan CEO
Bab 12


__ADS_3

Aku menatap ke Erwin, terus aku memberikan isyarat kepadanya “Aku sudah mengerti.”


Wajah Erwin menampakan kemarahan.


Sherline ditariknya sampai terhuyung-huyung: “Bang Erwin, tolong aku”


“Gak usah takut, dia gak bakal meracunimu.” aku menghiburnya dengan suara lembut, terus aku menatap mereka yang berjalan keluar.


Setelah kembali dari perjamuan, wajah Erwin tampak tidak enak di pandang.


Tidak tahu apa yang membuat dia merasa tidak puas.


Aku malas memikirkannya, lebih baik serius berpikir untuk cari cara agar dapat kembali ke kondisi semula.


Karena strategi berciuman yang aku pikirkan kemaren belum dipakai, sehingga ketika aku tidur aku masih memikirkan cara ini.


Setelah tidur tidak begitu lama, aku tiba-tiba terbangun karena ditendang. walaupun kecenderungan tidurku tidak sebesar Erwin, tapi kan siapa pun yang dibangunkan pada tengah malam tidak akan senang!


Aku melihatnya dengan tidak puas, aku melihat wajah yang sebenarnya merupakan wajahku tidur diterangi dengan lampu redup terlihat sangat pucat.


Erwin berbicara layaknya hantu: “Winda, kamu sepertinya…datang bulan”


Kami saling menatap selama beberapa detik.


“Hahahahah.” Aku sudah tidak tahan lagi, jadi mengeluarkan suara tawa yang keras, menghilangkan situasi yang tidak puas di antara kami.


Tawa itu membuat badan Erwin penuh dengan aura membunuh.


Aku menyalakan lampu, dan memberikan kelas kecil, menjelaskan padanya dengan terperinci tentang tampon, cara menggunakan pembalut wanita, bahkan sampai cara melipat tisu toilet yang benar.

__ADS_1


Erwin memegangiku yang lagi membantunya melepas pembalut wanita, wajahnya tampak biru pucat.


“Selamat Pak Erwin.” aku berkata dengan serius sambil menepuk punggungnya, “Hidupmu sudah lengkap,  bahkan seorang waria tidak memiliki pengalaman seperti ini, kamu lebih sukses daripada waria!”


“Winda” Erwin menggertakan giginya dan memanggil namaku sambil tersenyum.


“Tidak benar loh” Aku menggoyangkan jari telunjukku, “Di waktu seperti ini, kamu seharusnya memanggil aku dengan sebutan Guru Winda.”


Senyum Erwin semakin lebar, kata demi kata keluar dari mulutnya: “Saat kita kembali pada kondisi normal, aku akan membuat kamu mempunyai pengalaman yang lengkap sebagai seorang wanita, aku pasti akan melakukannya.”


Erwin membawa sesuatu ke toilet.


Setelah beberapa saat, setelah mengerti apa maksud perkataannya tadi, dengan tersipu wajahku mulai tampak memerah.


Aku merasakan perasaan krisis di hatiku.


Jika benar-benar kembali ke kondisi semula, dan Erwin ingin memaksa melakukan hubungan ****, aku pasti bukanlah tandinganya.


Lagi pula Pak Erwin yang sekarang adalah pria yang sensitif dan rapuh.


Demi membantunya memakai pembalut dengan benar, aku menemaninya mengobrol separuh malam.


Pada pagi hari, Erwin yang berdiri di sana dan untuk pertama kali membuka pintu menuju dunia barunya dengan tatapan mata yang kosong layaknya tidak ada yang tersisa dari hidupnya.


Ketika Pak Argus menjemput kami, Pak Argus dengan aneh menatapnya beberapa kali, terutama ketika dia berjalan dengan tatapan kosong.


“Nyonya, kamu kenapa?”


Aku yang lagi memikirkan sebuah alasan, tiba-tiba Erwin menatapku, melihat ke belakang sambil tersenyum: “Tidak apa-apa, tadi malam capek sekali.”

__ADS_1


Pak Argus menampakan ekspresinya yang kelihatan jelas


Aku tercengang, kemudian di hatiku seperti mau gila.


Erwin, kenapa kamu mau merusak nama baikku, kamu mau menunjukkan apa!


Di kantor, Erwin selalu menutup perutnya dengan kedua tangannya, wajahnya tampak pucat.


Aku mengerti keadaan tubuhku, dua hari sebelumnya sakitnya bahkan parah sekali.


Mau tidak mau aku juga merasa kasihan padanya, yang menanggung rasa sakit itu untukku.


Setelah dipikir-pikir, aku mulai keluar untuk membelikan obat ibuprofen, ketika kembali aku berjumpa dengan Pak Argus.


Dia melihat aku membawa obat penahan sakit, sekali lagi dia menunjukan ekspresi yang berpikiran terlalu jauh.


Aku benar-benar…..kehilangan kata-kata.


Aku mengambilkan segelas air hangat untuk Erwin, menaruh di depannya: “Minum airnya sedikit dan obatnya, bisa meringankan sakitnya.”


Erwin mengangguk dengan wajah pucatnya, menelan obatnya dan meneguk airnya.


Aku tidak ingin terlihat menunjukan ekspresi rumit, hanya memberikan tatapan bagaikan pertama kali bertemu dengannya.


Erwin sambil meminum obatnya dan bertanya dengan heran: “Kenapa melihatku begitu?”


Aku dalam dilema sebentar dan bertanya ke dia: “Pak Erwin, kamu kan tidak takut sakit, di kamar tidur saja kamu menyembunyikan tali, atau tidak….”


“Apa?, Ngomong” ucap Erwin dengan ekspresi santainya.

__ADS_1


“Atau kamu mempunyai fetish yang aneh? Seperti, masokisme atau semacamnya itu..”


__ADS_2