
Aku: ?
Ini orang cemburu lagi?
. Erwin tidak menjelaskan apa-apa dan terus menarikku pergi.
Berjalan sampai kesuatu tempat, aku baru tahu apa yang mau dia lakukan.
Erwin orang yang pertama berbicara: “Mah.”
Ibunya Erwin menatap dengan bangga, dari hidung keluar suara: “Huhh”
Erwin Hantoro: ….
Aku menahan senyum: “Mah.”
Ibu Erwin segera memalingkan wajahnya dan menghadap kepadaku lalu tersenyum “Aiya.”
Tuhan tahu seberapa sulitnya aku untuk dapat tersenyum.
Erwin, Erwin, tiba juga hari ini.
Ibu Erwin menarik tanganku, tanganya lembut dan hangat.
Aku tidak tahu cara menanggapi di antara anak dan ibu ini, dan hanya bisa pura-pura tersenyum, aku tersenyum hingga wajahku terasa kaku.
Aku bukan anakmu, lepaskanlah aku.
Erwin yang di sampingku merasa bosan, karena gaunnya tidak punya saku, jadi kedua tanganya sepertinya tidak punya tempat untuk disandarkan.
Dan akhirnya dia menarik perhatian Ibu Erwin: “Winda, berdiri yang benar, tidak tahu sopan santun ya.”
Aku: “Tersenyum sinis..”
Mereka berdua menatapku, tapi Ibu Erwin terus mengomel: “Sudah menikah berapa tahun ini, kenapa perutmu tidak ada perubahan?”
__ADS_1
Wajahnya Erwin terlihat gelap bagaikan arang.
Aku berusaha keras agar sudut mulutku tidak kelihatan tersenyum.
Mungkin senyum sinisku tidak disembunyikan dengan baik, Erwin tiba-tiba berkata: “Oke Mah, aku sudah tahu.”
Aku: Apa yang kamu tahu?
Erwin mengangkat tanganya dan meraih lenganku: “ Aku akan berusaha hamil sesegera mungkin.”
Kamu mau berusaha apa?
Melihat Ibu Erwin menganggukkan kepala, tiba-tiba aku kepikiran sebuah ide: “Sebenarnya masalah ini tidak sepenuhnya salah dia.”
Ekspresi Erwin yang rumit sambil menatapku.
Dengan tekadku: “Mah, jadi gini, aku agak tidak mau, jadi…..hmmhmm.”
Aku diseret oleh Erwin yang sambil menutup mulutku dihadapan ibunya, yang membuat ibunya terkejut.
Aku yang merasa aneh: “Bukankah ini jelas banget”
Erwin menyipitkan matanya: “Apa untungnya untukmu merusak nama baikku?”
Dari awal aku sudah merencanakannya: “Apa masih perlu dibicarakan, dengan begini bukankah kita dapat bercerai dengan lancar”
“Enak saja” Erwin mencibir, “ Demi menutup mulutmu, aku gak akan melepaskanmu dari keluarga kami dan mengikatmu bersama kami.”
Aku tercengang, mataku terbelalak dan mulutku terngaga “Kamu benar-benar gak tahu malu!”
Erwin mengangguk: “Terima kasih pujiannya.”
Aku terkejut dengan sikap tidak tahu malunya.
“Aku kasih tahu lagi” Erwin dengan wajah bangganya “Aku bisa atau tidak bisa, apa kamu gak tahu?”
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa tahu” Aku berkata dengan heran.
“Kamu tidak pernah melihatnya?” Erwin bertanya sambil mencibir.
Aku mengangguk dengan jujur tapi aku tetap tidak sependapat: ”Kalau lihat sih aku sudah, tapi kan aku belum pernah mengalaminya, siapa yang tahu kamu mau atau tidak untuk…..”
Aku tidak sempat menyelesaikan kalimat terakhirku.
Karena Erwin membungkam mulutku.
Dia menatapku dengan tatapan marah: “Kalau kamu berani melanjutkan lagi, kita akan menderita bersama.”
Aku menepuk-nepuk punggungnya, setelah dia melepaskan tangannya, aku menghiburnya: “Tidak apa-apa, lagi pula kita berdua akan bercerai, jadi kamu tidak perlu membuktikannya.”
“Apa maksudmu?” Erwin tampak tidak senang dan cemberut.
Aku tersenyum dan menunjuk ke samping.
Melihat Sherline berganti ke pakaian formalnya, dengan pinggang ramping dia berjalan kemari.
“Kalian kenapa?” Dia tiba-tiba menagis “Aku tidak mau kalian berantem hanya karena aku.”
Aku sedikit canggung karena mau kasih tahu dia kalau kami tidak berantem karena dia.
Dengan lemah lembut Sherline berkata: “Abang Erwin, aku barusan jatuh ke kolam dan sepertinya masuk angin, ada sedikit flu juga.”
Terus aku menyarankan: “Banyak-banyak minum air hangat.”
Sherline:....
Dia menghela nafas lagi, dan dia langsung terjatuh ke arahku: “Kepalaku pusing sekali.”
Terasa sentuhan yang lembut di lenganku, terus aku melihat ke bawah, dan terpana pada pemandangan yang indah yang menggetarkan mata.
Selain aku, mungkin tidak ada laki-laki yang bisa tahan dengan situasi ini.
__ADS_1