Bertukar Badan Dengan CEO

Bertukar Badan Dengan CEO
Bab 7


__ADS_3

Aku sedang duduk di kantor, memakai earphone dan dengan serius, seolah-olah aku sedang mendengarkan dari sudut dinding.


Aku mendengar pengemudi bertanya kepadanya, "Nona Winda mau kemana?"


Suara Erwin terdengar sangat tidak senang: "Nona Winda? Panggil aku Nyonya Hantoro."


Sopir itu mengabaikannya.


Erwin melaporkan alamatnya, dan aku dapat dengan jelas mendengar bahwa dia menahan napas.


Aku menyandar dengan nyaman di kursi kantornya sambil tertawa diam.


Kan! Menikahiku selama tiga tahun tapi kamu tidak mengakui aku!


Pada saat yang sama, aku juga menantikan kalau dia sudah sampai di perusahaan tempat kerjaku, Erwin mau membuat percikan api seperti apa kepada lelaki tua pak Kemmel yang berminyak itu!


Erwin menanyakan alamat Pak Kemmel, dan dengan sepatu balet flatnya berjalan menuju kantorku .


Aku mendengar Kemmel Sinagar memanggilnya dengan lembut: "Winda, kamu sudah sampai kesini."


Aku : wueee-


Erwin memarahinya, terus bertanya mengapa dia menyebut dirinya layaknya begitu akrab dan apa hubungannya dengan dia.


Nada bicara Kemmel sedih: "Winda, kenapa kamu blak-blakan begitu?"


Erwin: "Apa aku akrab denganmu?"


Kemmel Sinagar berkata dengan penuh kasih, "Selama kamu setuju."


Erwin Hantoro: "Kamu gak tahu ya kalau aku sudah menikah?"


"Heh." Kemmel tidak dapat menerimanya, "Dia kan tidak mengakuimu, kamu harusnya bercerai dengan dia, kamu akan baik-baik saja kalau bersamaku."

__ADS_1


Dia masih berbicara dengan nada kasih sayang: "Aku tidak akan membencimu."


Aku mendengar Erwin menggertakkan geraham dan berbisik, "Winda, ini yang kamu mau aku lihat?"


Aku meniup ke earphone.


Sudah lihat belum, lelaki anjing, bukan karena aku tidak ada yang mau jadi ingin memohon menikahimu.


Meskipun orang ini bodoh.


Kemudian aku mendengar suara sendi yang bergerak.


Hatiku menegang: "Jangan melakukan kekerasan!"


Tapi jelas banget, kalau Direktur sombong ini mau mendengarkan aku, maka dia tidak akan menjadi Direktur yang sombong lagi.


Sepuluh menit kemudian.


Aku menyandar di kursi kantor terus menatap langit-langit kantor, telepon aku terus bergetar karena ada pesan baru yang masuk.


Aku menyesal, figur wanita pekerja keras yang aku bangun dengan susah payah dihancurkan begitu saja oleh pria bau itu.


Tapi Aku telah lama berpikir kalau Pak Kemmel memang tidak enak dipandang, seorang cabul tua, jika bukan karena gak bisa mengalahkan dia, aku sudah lama meninju dia ke tanah dengan tiga kali pukulan.


Memikirkan hal ini membuatku bahagia lagi.


Ketika Erwin kembali, tidak ada rasa malu di wajahnya.


Dia bahkan duduk dan menyilangkan kakinya dan terus menatapku: "Jelaskan."


Jelaskan kentutmu!


Aku mengabaikannya dan bertanya, "Ngapain memukul orang lain?"

__ADS_1


“Terus bagaimana menurutmu?” Erwin mencibir dan bertanya balik, “Kamu sudah menikah tapi masih saja merayu sana sini di luar sana? Winda, kenapa kamu tidak menganggapku serius?”


Aku pura-pura terkejut: "Eh, Pak Erwin, jadi kamu tahu ya kalau sudah menikah tidak boleh keluar merayu orang lain?"


Erwin tersedak olehku.


Aku menlanjutkan: "Dik Lin kesini lagi ya, nungguin abangnya Erwin untuk makan siang bersama. Mau saya bantu untuk buat janji  temu gak?"


Erwin menundukkan wajahnya: "Winda!"


Aku yang sudah tidak mau tahu pun menjawab: "Hadir."


Aku menirunya dan melontarkan kalimat terakhir dengan keras dan lantang: "Pak Erwin, sebelum menasihati kepada orang lain, pertama-tama kamu sendiri harus menyelaraskan perkataan sama perbuatan kamu."


Aku berjalan keluar kantor dengan dada yang gagah.


Setelah itu aku menutup pintu, tapi aku mulai kehabisan nafas.


Aku mencengkeram jantungku yang berdebar kencang dan mengacungkan jempol.


Aku, Winda, pahlawan wanita yang kejam.


Hari ini sangat berkesan!


Harus diketahui bahwa memperbaiki kebiasaan bukan hal yang gampang!


Namun harus sesuai, itu membuat Erwin mengabaikanku selama tiga hari.


Kalau diabaikan ya biarkan saja.


Aku juga tidak seperti dulu lagi yang selalu menunjukan perasaan hangat kepada orang yang dingin, dia ngerjain punyanya, aku ngerjain punyaku sendiri, dan belum tentu berada pada frame berbeda.


Tapi demi dapat kembali ke tubuh semula, kami masih harus tidur di ranjang yang sama di malam hari, bersebelahan di kedua sisi ranjang.

__ADS_1


Maksud sebenarnya dari satu ranjang dengan mimpi berbeda!


Namun pada hari keempat, kami harus menghentikan Perang Dingin dan berjabat tangan untuk berdamai.


__ADS_2