Bertukar Badan Dengan CEO

Bertukar Badan Dengan CEO
Bab 3


__ADS_3

Aku langsung menjadi lesu.


Aku baru sadar ketika sedikit berjongkok. Kenapa aku harus takut?


Sialan! Merendah diri selama tiga tahun sudah menjadi ingatan melekat bagiku.


Erwin bahkan menepuk bahuku, “Kerja baik-baik.”


Aku masuk ruang rapat dengan kesal, tetapi menciut setelah masuk.


Suasana sangat gugup.


Setelah orang lain selesai bicara, Erwin mengajarku harus bagaimana melalui headset.


Aku mengulangi omongan Erwin kata per kata.


Namun, aku terbata-bata karena pertama kali dan tidak mahir.


Semua peserta rapat terus melemparkan tatapan curiga padaku, tetapi tidak ada yang berani bertanya karena kewibawaan Erwin.


Setelah rapat berakhir, aku pura-pura meraba dahi dan bilang tidak enak badan untuk menyelamatkan nama baik Erwin.


Lalu aku kabur dari ruang rapat.


Erwin mencibir di headset, “Kamu begini masih mau cerai?”


Aku tidak terima, “Memangnya kenapa?”

__ADS_1


Sebelum Erwin menjawab, aku mendengar suara yang familiar dari sebelah sana, “Winda?”


Langkahku ke kantor langsung terhenti.


Aku belok ke toilet, menyembunyikan ekspresiku yang semakin aneh dan menggosok tangan dengan rasa penantian.


Di sebelah sana, suara Erwin menjadi lembut, “Lin … Sherline.”


Terdengar suara Sherline yang waspada, “Kenapa kamu di sini?”


Erwin tidak menjawab.


Aku tebak Erwin pasti terkejut karena nada Sherline.


Sherline senantiasa lembut dalam pandangan Erwin. Kapan Sherline pernah segalak ini?


Aku memegangi perut dan tertawa tanpa suara.


“Oh,” kata Sherline, “Antar makanan lagi untuk Bang Erwin? Kenapa kamu belum nyerah sih? Sudah dibilang dia tidak akan makan masakanmu.”


“Apa maksudmu?”


Aku juga dapat membayangkan ekspresi Erwin yang mengerutkan alis walau terpisahkan headset.


“Ya begitu,” kata Sherline dengan sombong, “Bisa gak kamu jangan ganggu dia terus? Sudah dibilang dia tidak akan suka kamu walau kamu setiap hari antar makanan untuk dia.”


“Dia … Kapan aku setiap hari antar makanan untuk dia?” kata Erwin terbata-bata.

__ADS_1


“Masih gak mau ngaku? Saat kamu baru berhasil paksa Bang Erwin nikah denganmu, bukannya kamu sangat rajin?” Lalu Sherline merendahkan suara, “Aku jujur saja, Bang Erwin sama sekali tidak tahu karena dia tidak ingin melihatmu. Makanan yang kamu bawa sudah aku beri makan anjing.”


Aku meraba dagu sambil duduk di toilet duduk.


Ternyata begitu. Waktu itu aku benar-benar kira setiap hari si bajingan Erwin tidak menghargai tanda kasihku.


“Win … Erwin!” seru Erwin sambil menggertakkan gigi.


Di saat bersamaan, terdengar ketukan menusuk telinga di headset yang aku buka ke volume maksimal.


“Maaf, tadi aku sedang di toilet.” Dengan santai aku menekan tombol flush.


Erwin mendesis.


Aku tebak Erwin ingin memaki aku, tetapi Sherline masih di sana.


Aku pulang ke kantor dan melihat dua orang yang sedang bersengit. Aku mencontohi nada Erwin tadi dengan dilebih-lebihkan, “Sh … Lin!”


Erwin menoleh padaku.


Mungkin sekarang aku sudah menjadi landak jika tatapan bisa menembakkan panah.


“Bang Erwin!” Sherline maju dan memegangi tanganku dengan girang.


Aku takjub dengan kecepatan perubahan ekspresi Sherline.


“Ayo kita pergi makan.” Sherline mengedipkan mata.

__ADS_1


“Tidak bisa,” kata Erwin tiba-tiba, “Siang ini aku  … dia makan bareng aku.”


“Winda, jangan-jangan kamu cemburu ya? Tidak ada apa-apa antara aku dan Bang Erwin,” kata Sherline dengan nada kasihan.


__ADS_2