
Karena kami akan pergi ke perjamuan.
Erwin tidak suka keramaian, dulu kalau ada perjamuan yang bisa di undur maka akan diundur, kalau boleh tidak membawaku pergi maka dia tidak akan membawaku pergi, kecuali harus pergi dengan membawa pasangan.
Tapi dia membawaku pergi dan tidak berbicara sama sekali denganku, layaknya harmonis namun sebenarnya tidak.
Kali ini adalah perjamuan pertunangan putri paman kedua dari keluarga Hantoro, jadi kita harus hadir bersama.
Tidak hanya itu, harus berdandan untuk menghadirinya.
Makanya Erwin dalam mode kekesalan sejak awal tadi.
“Kenapa rumit banget?” Erwin ditekan ke depan cermin untuk merias wajahnya, mengerutkan kening sehingga nyamuk saja dapat terjepit mati di keningnya.
Aku yang telah membuat gaya rambut sederhana untuknya melipat tangan dan menyandar di sampingnya berkata, "Setiap kali ya seperti ini."
"Tsk." Erwin berkata dengan tidak puas, "Wanita benar-benar merepotkan."
Penata rambut dan penata rias terkejut.
Tapi Tuan muda Erwin sadar kalau masih terlalu dini untuk mengatakannya hal seperti itu.
Erwin memandangi sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter di depannya, wajahnya menjadi gelap.
"Berikan flatshoes," dia berkata dengan arogan.
Penata Rambut menatapku dengan perasaan yang susah, tapi aku tersenyum bahagia: "Tidak, Nyonya Hantoro, ini adalah etiket yang diperlukan."
__ADS_1
Erwin menatapku, dan aku juga menatapnya.
Hanya dalam beberapa kali tatapan bolak balik, aku tahu bahwa Erwin telah menemukan delapan belas cara untuk membunuh.
“Kalau gitu aku tidak mau memakai sepatu,” kata Erwin dengan acuh tak acuh.
“Oke, aku yang akan memakai sepatu hak tinggi itu!” Aku menatapnya dan tersenyum.
"..."
Erwin masih ingin berkompromi.
Saat aku berjalan, dia selalu memegang lenganku sepanjang waktu, dan dia masih berjalan dengan tertatih tatih.
“Hei!” Erwin tiba-tiba menendang kakiku, dia menatapku tidak puas, matanya sudah cukup untuk membunuhku.
Erwin tampak bingung, dan kemudian aku memeluknya.
"Turunkan aku!" Erwin berkata dengan marah.
"Apa, bukannya kamu minta aku untuk memelukmu?"
Erwin berjuang keras dalam pelukanku, tetapi dalam keputusasaan, aku hanya bisa menjatuhkannya.
“Kamu berhasil membuatku marah!” Erwin mendorongku dengan keras, lalu dengan marah berjalan pergi dengan sepatu hak tingginya. Kali ini, dia terlihat seperti biasanya.
Aku berdiri di sana dan terkikik, sampai suara menawan datang dari sampingku: "Ah, ipar, kenapa kamu sendirian di sini?"
__ADS_1
Sudah datang! Wanita Protagonis yang jahat- saudari perempuanku yang disukai tapi kejam!
Sari Nanda melirik ke punggung Erwin dan berkata dengan penasaran, "Kok bisa-bisanya dia meninggalkanmu di sini sendirian, benar-benar bodoh."
Aku sangat terkejut, dan pandanganku terhadapnya hancur.
Apakah Sari Nanda begitu lembut seperti air di depan orang lain?
Dia tidak mungkin bermuka dua kan?
"Kakak ipar ..." Sari Nanda memutar tubuhnya, "Kenapa kamu berpikir dia orang seperti itu ..."
"Bukan apa-apa." Aku samar-samar, "Sedikit curiga pada kehidupan."
“Kalau mau aku mau menemanimu jalan?” Sari Nanda mengedipkan matanya dengan putus asa yang membuat aku khawatir apakah matanya kejang.
Aku menolak tapi dia bersikeras, Aku mundur tapi dia mendekat.
Saat lagi menahannya, terdengar teriakan tidak jauh dari situ, disusul suara benda berat yang jatuh ke dalam air.
Aku mengambil kesempatan untuk menyingkirkan Sari dan bergegas.
Kemudian aku melihat Erwin berdiri di tepi kolam dengan wajah tanpa ekspresi, dan Sherline yang berada di dalam air mengerakkan kaki dan tangannya tidak karuan.
"Haha, apa yang terjadi di sini?" Aku berbicara dengan semangat.
Terus aku menyadari mata terkejut di sampingku, dan aku buru-buru memasang nada serius: "Apa yang terjadi!"
__ADS_1