
Akhirnya Sherline memberitahuku, dia melihat Winda dijemput oleh bosnya Pak Kemmel, arah mereka pergi adalah ke hotel.
Aku dengan lega: “Oh.”
Sherline jelas terkejut dengan ketenanganku, hingga menutup mulutnya karena terkejut: “Abang Erwin kamu gak keberatan kalau dia…”
Dia merasa tidak enak denganku, jadi aku menambahkan: “Apa dia berselingkuh?”
Sherline mengangguk dengan gugup.
Aku menatapnya dengan dalam.
Kamu tidak mengerti.
Sherline dengan ekspresi rumitnya: “Kamu benar-benar tidak mau pergi melihatnya?”
Aku melambaikan tanganku: “Tidak pergi”
Dua laki-laki normal emangnya hal buruk apa yang bisa mereka lakukan?
__ADS_1
Sherline menatapku dan dengan nada mengeluh: “Bang Erwin, kamu sudah berubah.”
Aku hampir sekarat karena tesedak air liurku sendiri, jadi aku hanya bisa tertawa: “Kok bisa?”
Sherline setelah mendengarkan kata-kataku, dia segera menjelaskan ekspresi dinginku kepadanya baru-baru ini.
Aku mendengarnya hingga membuat telingaku seperti kapalan, aku hanya ingin cepat-cepat pulang kerja.
Sherline menuangkan aku segelas teh, tapi aku melambaikan tangan, dia dengan mata yang hampir menangis: “Lihat, bahkan teh yang aku tuangkan saja, kamu tidak mau minum.”
Demi tidak menghancurkan citra pribadinya Erwin, jadi mau tidak mau aku mengambil secangkir tehnya.
Kan cuma secangkir teh, minum saja, bukan berarti juga dia menaruh racun di dalamnya.
Saat itu juga pintu tiba-tiba didorong terbuka, Erwin dari luar pintu berjalan masuk dengan rambut yang berantakan: “Jangan minum!”
Aku kaget, Sherline yang berada di sampingku dengan cepat mengangkat tanganku dan meminumkan tehnya, tehnya dituang kedalam mulutku hingga aku tersedak.
Tiba-tiba aku merasa tidak enak.
__ADS_1
Erwin mengerutkan keningnya, berjalan mendekat dan hendak menarikku keluar.
Sherline menarik tanganku yang satunya, berteriak: “Winda, kamu mau ngapain!”
Erwin menatapnya dengan dingin: “Sherline, aku tidak berpikir kamu adalah orang seperti ini, apa yang telah kamu perbuat, kamu sendiri yang tahu!”
Sherline melangkah mundur beberapa kali karena tatapan mata Erwin yang tajam, dan bertanya penasaran: “Kenapa kamu ada di sini?”
Erwin dengan senyuman menghinanya melirik kemari: “Kamu pikir aku sama bodohnya dengan dia?”
Mereka lagi membicarakanku, mereka pasti sedang membicarakanku.
Aku yang baru mau membantah, tiba-tiba perasaan panas melonjak dengan cepat dan mengalir keseluruh tubuhku.
Ini tidak perlu dijelaskan oleh Erwin, aku sudah mengerti apa yang terjadi.
“Er…” Aku meraih tangannya yang lembut, dengan terbata-bata: “Datang, sudah datang…”
Erwin dengan khawatir memandangiku, di mata Sherline yang penuh kecemburuan dan kemarahan, dia menarikku pergi.
__ADS_1
Sampai ditengah jalan, aku tidak dapat mengontrol diriku sendiri.
Aku bahkan tidak sempat memerdulikan supir dan Pak Argus yang masih berada di kursi depan, aku menempel ke tubuh Erwin seperti gurita.