
Perbatasan laut Indonesia-Australia, pukul 15:00 Wit 22 Maret 2025.
Sebuah formasi dari sepuluh kapal perang berbagai tipe berbendera negara Indonesia tampak berlayar pelan menuju lokasi tujuan mereka, di setiap kapal suasana para awak kapal terutama bagian persenjataan apalagi bagian P.I.T atau Pusat Informasi Tempur.
Di atas kapal Patroli sedang KRI Anak Laut berdiri Suja dengan mengenakan Pakaian Dinas Lapangan loreng darah mengalir miliknya bersama dengan Shiro yang tengah menyamar sebagai kenalannya sekaligus ahli teknologi yang dia ajak dan di dekat mereka juga berdiri beberapa orang agen independen lainnya, mereka semua tengah berada di Anjungan kapal bersama dengan Kapten Kapal Mayor (Laut) Suherman S.T.Han.
"Mayor Suherman, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai di titik itu?".
Sang Mayor yang mendengar itu mengecek jarak menuju tujuan mereka saat ini.
"Perkiraan tinggal satu jam lagi Letnan, kurang lebih titik tujuan kita masih berjarak 15 mil dari sini".
"Baiklah kalau begitu, aku dan temanku Shiro akan pergi ke dek dapur untuk meminta kopi sekaligus mencoba menganalisa siapa 'target' kita sebenarnya. Kalau kalian ada perlu tinggal panggil saja menggunakan speaker, ada yang mau ikut?".
Lima orang agen independen yang juga berada di sana menggelengkan kepala mereka dan mengatakan kalau mereka akan menuju dek persenjataan untuk meminjam beberapa senjata selama mereka berada di atas kapal itu, bukan tidak mungkin kalau Australia dan Amerika serta beberapa negara lainnya akan memerintahkan prajurit mereka untuk menyerang armada tempur Indonesia selama penyelidikan berlangsung. Apalagi Presiden telah menetapkan status Defcon four dan telah melakukan mobilisasi besar-besaran pasukan militer bahkan memperketat pengawasan di setiap titik berdekatan tapal batas negaea ini, selain itu mereka juga ingin sedikit beristirahat sebelum menjalankan misi mereka.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu Mayor".
"Tentu Letnan, kalau ada sesuatu yang mencurigakan kami akan segera memanggilmu".
Suja dan Shiro melangkah meninggalkan anjungan menuju dek dapur, selama perjalanan mereka menyaksikan suasana tegang yang dirasakan semua awak kapal yang bahkan juga menenteng senjata api karena misi mereka yang cukup berbahaya apalagi dengan status negara yang saat ini tengah berada dalam keadaan siaga satu menghadapi pecahnya peperangan antara negara tercinta yang mereka jaga dengan banyak negara besar lainnya.
"Suja, ini pake satelit mana? Kamu tau kode buat masuk satelit militer Garuda milik Indonesia nggak?".
Shiro saat ini tengah berkutat dengan berbagai kode-kode militer serta bahasa komputer untuk mencoba masuk ke dalam salah satu satelot militer milik Indonesia yang berada di ruang angkasa sana, meskipun dia ahli teknologi tapi dia masih belum menguasai maupun mengetahui berapa banyak satelit yang berada di angkasa sana entah itu satelit militer, maupun satelit milik perusahaan atau milik militer yang disamarkan menjadi satelit sipil misalnya saja salah satu satelit milik Indonesia yang diberi nama Mata Langit yang disamarkan sebagai salah satu satelit stasiun televisi swasta padahal 95% penggunanya adalah militer dan badan intelijen negara.
"Sebentar, sepertinya bisa kuusahakan".
Sembari menyesap secangkir kopi miliknya Suja melakukan panggilan dengan perangkat khusus agen intel miliknya kepada markas utama dalam operasi ini, tentunya yang menjadi komandan langsung adalah Kepala BIN dengan wakilnya Jenderal Hadi
__ADS_1
"Kode!" Perintah dari penerima sambungan yang merupakan seorang Kapten Teknologi Angkatan Udara terdengar dari balik earphone khususnya.
"Siang tanpa awan malam tanpa bintang, bersinar cerah layaknya bintang namun seakan tersembunyi terangnya lampu taman!" Setelah Suja mengucapkan kode yang dia terima terdengar suara ketukan dan hentakan tuts keyboard dari seberang sana.
"Ada apa Elang Hitam?!" Suara itu terdengar sedikit berat nan berwibawa membuat Suja yang mendengarnya sedikit tersenyum.
"Komandan, saya memhutuhkan kode untuk memasuki satelit Mata Garuda demi misi dan keamanan kami serta tim penyelidik Angkatan Laut yang ada di semua kapal. Saya merasa kami akan mendapatkan sambutan kurang menyenangkan nantinya bila sampai di tujuan, mengingat banyak negara yang mencurigai kita sebagai pelaku dari peritiwa Lost Assets".
"Baiklah tunggu sebentar!".
Tampaknya di seberang sana suasana cukup tegang karena banyaknya suara berisik dari orang-orang yang berbicara dan melaporkan berbagai hal menjadi suara yang menyenangkan untuk Suja yang sekarang tengah kalut dengan situasi mereka saat ini.
"Silahkan ditulis Elang!"
"Baik!".
"ALPHA, BRAVO, FIVE, NINER, KILO, INDIA, LIMA, ZERO, ONE, CHARLIE, DELTA, SEVENT, ECHO, DELTA, SIX, FOXTROT!" Setiap kode yang didengarnya dicatat oleh Suja dan saat selesai catatan itu diberikan kepada Shiro.
"Jenderal, sepertinya perjalanan kami akan sedikit kurang baik!".
"Ada apa?!".
"Dari tampilan satelit kami menemukan ada beberapa kapal perang yang telah memasuki kawasan laut negara kita tanpa izin, dan sepertinya mereka kurang bersahabat karena semua persenjataan mereka mengarah ke rombongan kami! Apalagi Amerika yang mengirimkan 1 fleet kapal induk mereka yang memasuki wilayah laut Indonesia bahkan sekarang sudah ada lima unit F-35 yang mengudara dan nampaknya sudah mengunci rombongan kami!" Di seberang sana suasana langsung berubah semakin mencekam mendengar informasi yang mereka dapatkan, para petugas militer yang ada di sana segera menghubungi atasan mereka untuk melapor dan Kepala Staff Angkatan Laut juga Panglima TNI yang juga berada di sana segera memberikan perintah baik untuk Angkatan Darat maupun dua angkatan militer lainnya.
"Letnan, dengan persetujuan KSAL dan Panglima! Saat ini kamu diperintahkan dan diberikan kewenangan khusus untuk memimpin semua kapal perang dan mereka para Kapten juga sudah menyetujuinya!" Perintah dari seberang terdengar seperti angin segar bagi Suja dan segera dia beranjak menuju ke anjungan kapal diikuti Shiro yang masih memperhatikan layar laptopnya untuk mengantisipasi pergerakan dari semua kapal militer asing terutama Amerika yang mengincar mereka belum lagi beberapa burung siluman yang terus mengawasi mereka dari angkasa bahkan memperlihatkan semua persenjataan yang mereka bawa.
Sesampainya di Anjungan kapal semua orang yang ada di sana segera memberikan hormat terlebih Mayor Suherman yang memang memiliki rasa hormat dan kekaguman akan prestasi Suja dan bagaimana para petinggi begitu memberinya kepercayaan penuh untuk memimpin semua kapal dalam rombongan mereka.
.
__ADS_1
,
.
.
.
.
.
.
.
.....
.....
......
.......
,......
.........
........
__ADS_1
***** jangan lupa untk berikan vote, dan komentar untuk penulis. bila berkenan berikanlah tip agar penulis bisa lebih bersemangat dalam mencari imajinasi agar novel ini bisa terus lanjut sampai chapter akhir.
terima kasih ******