
Dua hari setelah kehancuran yang terjadi di Pangkalan militer Amerika yang berada di Okinawa, Suja pulang kembali ke Indonesia untuk mengurus beberapa hal seperti menjual beberapa bidang tanah miliknya serta dua perusahaan yang dia rintis beberapa tahun lalu belum lagi dia harus menjual beberapa lembar saham yang dia tanam di banyak perusahaan besar maupun perusahaan menengah rintisan putra bangsa dan 60% hasilnya akan dia gunakan untuk membeli banyak barang yang dia inginkan sedangkan sisanya untuk disumbangkan ke beberapa panti asuhan dan juga beberapa sekolah yang berada di perbatasan seperti di Kalimantan Timur, Papua, dll.
Selain itu dia juga berencana untuk menjual beberapa rancangan teknologi yang dia buat ke perusahaan plat merah negara seperti PT. Pindad, PT. DI, dan beberapa perusahaan Alutsista dalam negeri lainnya.
Saat ini Suja berada di dalam rumahnya yang berada di kawasan perumahan elit kawasan Jakarta Pusat dengan bersantai sejenak sembari membiarkan Shiro berenang santai di dalam kolam renangnya, sambil membaca beberapa berita online dia juga mengirimkan tubuh-tubuh para wanita personel dan prajurit Amerika yang telah selesai dia nikmati selama beberapa minggu di dalam ruang dimensinya.
"Suja, setelah ini Pangkalan mana yang akan menjadi sasaran kita selanjutnya?" Tanya Shiro yang saat ini tengah tiduran santai di atas sofa santai miliknya di tengah kolam renang.
"Hmmm, mungkin yang berada di Australia dulu saja yaaa atau yang berada di Filipina. Keduanya sangat dekat dengan kawasan negara ini, atau mungkin Pangkalan rahasia milik mereka yang berada di dekat Provinsi NTB. Mengingat di sana terdapat beberapa rudal jelajah antar Benua yang ditempatkan di sana, atau mungkin yang berada di Singa gila dulu saja yaa?" Balasnya bingung.
"Kenapa tidak diserang serentak saja sih? Lagipula dengan Qi milikmu yang banyak itu kau tidak akan kesusahan untuk membuat puluhan clone yang bisa disebar ke berbagai negara, lagipula kalau Qi kilikmu habis tinggal mengisinya kembali di ruang dimensi" ujar Shiro santai sembari menikmati jus buah yang dibuatkan oleh Suja.
Suja memikirkan perkataan Shiro sebentar dan menimbang baik dan buruknya solusi itu, beberapa saat kemudian dia akhirnya mengambil keputusan untuk mengikut saran yang diberikan Shiro.
"Lalu bagaimana setelahnya? Cara menyelesaikan misi untuk menangkap orang yang kita cari?".
"Kau ini bodoh atau bagaimana?! Yang mencuri banyak Alutsista berbagai negara kan kamu! Yang menyerang Pangkalan Amerika di Okinawa juga kita berdua! Yang akan menyerang Pangkalan lainnya nanti juga clone milikmu! Tinggal kamu atur saja agar semua clone itu tertangkap di Australia dua hari setelah penyerangan Pangkalan-Pangkalan yang berada di negara lain! Katanya kamu pintar apalagi setelah meminum ramuan pencerah akal, tapi kok sekarang kamu jadi bodoh seperti ini?!" Sindiran pedas dilayangkan Shiro saat mendengar pertanyaan sang tuan yang menurutnya sangat bodoh dan kurang masuk akal itu.
"Heheheeee maaf aku lupa, tapi kamu juga jangan bilang aku bodoh dong! Aku cuman lupa aja, soalnya kan aku lagi bingung cari solusi tadinya! Mana mungkinkan aku pergi ke dimensi lain tempat dunia asalmu itu sementara di duniaku ini saja aku meninggalkan banyak masalah!" Balas Suja berusaha membela diri padahal dia juga tau apa yang dimaksud oleh Shiro saat menyindirnya tadi.
"Iya-iya, sekarang lebih baik kamu pergi saja jual tuh perusahaan sama usaha kamu yang lainnya biar kita bisa secepatnya menyelesaikan urusan yang ada di sini sebelum kita pergi ke dimensi lain" ujar Shiro mengusir Suja secara halus.
"Okeeee, kalo gitu aku mau siap-siap dulu. Kamu mau ikut apa tidak?".
"Nggak ah, aku masih mau malas-malasan di sini. Lagipula apa untungnya juga aku ikut yang punya perusahaan kan kamu, ya kamulah yang pergi!".
Suja tidak tau harus berkata apa mendengar balasan Shiro yang kelewat santai itu, tapi dari pada harus berdebat lebih jauh Suja memilih untuk pergi saja dan membiarkan Shiro menikmati kegiatan santainya itu.
__ADS_1
.
.
Di sebuah gedung perusahaan miliknya Suja duduk memeriksa berbagai berkas-berkas penting yang ada sembari menunggu waktu untuk pergi menjual kedua perusahaan miliknya kepada seorang pengusaha terkaya nomor satu di negara itu, welain itu dia juga berencana untuk pergi ke badan milik negara yang menjadi tempat penjualan saham berbagai perusahaan untuk menjual saham miliknya.
"Tuan, semua pegawai sudah dikumpulkan" Seorang wanita berpakaian seksi memasuki ruangannya untuk memberikan laporan.
"Baiklah, ayo kita ke sana!" Perintahnya sembari berdiri dan mulai melangkah keluar diikuti sang wanita seksi.
Di lobi lantai dasar perusahaannya sudah berkumpul ribuan pegawai yang menantikan moment terakhir mereka dengan bos sekaligus pemilik perusahaan, sebenarnya mereka bertanya-tanya kenapa bos mereka harus menjual perusahaan yang sudah dirintis dari nol dengan susah payah selama empat tahun ini dan sudah memiliki banyak klien dan juga mitra kerja di berbagai bidang. Apakah bos sekaligus pemilik perusahaan mereka tengah menghadapi masalah keuangan? Ataukah ada masalah genting lainnya sehingga perusahaan harus dijual kepada pihak lain? Berbagai macam pertanyaan terlintas di benak semua pegawai tapi mereka tetap diam sembari menunggu sang bos sekaligus pemilik perusahaan menampakkan diri.
Beberapa menit kemudian CEO mereka muncul bersama sang sekertaris seksi, mereka menunggu apa yang akan dikatakan oleh sang bos.
Beberapa puluh menit setelahnya, semua karyawan yang berada di lobi telah mendapatkan penjelasan terkait apa yang mereka hadapi dan mengerti serta menerima keputusan CEO mereka
Sementara Suja merasa cukup sedih karena harus menjual perusahaan yang telah dia bangun dari nol dengan susah payah sampai sebesar ini, jika bukan karena masalah yang telah dia buat beberapa tahun yang lalu maka tentunya dia tidak akan menghadapi situasi seperti ini dan akan mempertahankan semua yang dia miliki.
Setelah memberikan beberapa ucapan perpisahan dan hadiah perpisahan berupa total gaji selama 3 bulan serta bonus terakhirnya Suja meninggalkan perusahaannya untuk menemui orang yang akan membeli semua perusahaan dan usahanya yang lain, semua karyawan dari kedua perusahaan dan beberapa bidang usaha lain turut mengantarkan sang CEO di saat perpisahan mereka bahkan sebagian besar meneteskan airmata mengingat betapa baiknya CEO mereka selama ini kepada mereka yang awalnya hanyalah sarjana-sarjana miskin yang tidak memiliki pekerjaan sebelum bertemu dengan mantan CEO mereka dan diangkat menjadi karyawan di perusahaan yang telah memberikan mereka kehidupan dan masa depan yang cerah selama ini.
.
.
.
Setelah menyelesaikan semua urusannya Suja kembali ke rumahnya dan langsung menuju kamar untuk beristirahat, Shiro yang melihat bagaimana sedihnya Suja karena harus merelakan dan menjual perusahaan-perusahaan serta beberapa usaha yang lain yang telah dirintis dengan susah payah hanya bisa terdiam membisu membiarkan Suja memiliki waktu sendiri selama beberapa waktu sebelum mereka melakukan beberapa hal yang diinginkan oleh Suja sebelum meninggalkan dunia dan dimensi tempat mereka hidup sekarang ini.
__ADS_1
Satu hal yang menjadi beban pikiran untuk Shiro selama ini, dia tau dengan tingkatan Kultivasi yang dimiliki oleh Suja saat ini mereka bisa dengan mudah membuka portal dimensi ruang dan waktu untuk melakukan perjalanan antar dimensi. Tapi dengan belum sempurnanya kekuatannya apalagi Suja tidak menerima ujian petir Surgawi saat naik ke tingkatan Kultivasi Ranah Dewa membuatnya tidak bisa melakukan sebuah teknik tigkat tinggi tanpa resiko yang besar, meskipun nantinya mereka bisa melakukan perjalanan dimensi tetapi mereka tidak akan tau ke dimensi mana mereka akan terlempar dan apa saja resiko lainnya yang akan ditanggung entah oleh Suja sendiri ataupun mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.