
"revisian dik ?" tanyanya sambil mencoba berpikir.
"kapan kita kasi kag?" tanyanya lagi.
" 2 hari yang lalu prof saya sudah memasukkannya dan kata prof hari ini saya boleh menggambilnya." ucapku sabar menjelaskan.
"oghh siapa lagi namamu?"
"widya prof"
"widya, widya astuti dik ?"
"bukan prof widya ayuwarningsih prof"
"oghh iyaa, ada ki skripsimu di rumah sudah saya baca."
"jadi prof kapan saya bisa ngambilnya prof"
"aiesss kapan dik?" katanya balik bertanya
"prof jangan gitu dong prof saya juga pengen cepet-cepet sarjana ini" ujarku kehilangan kesabaran namun tetap meminta kepastian
"untuk apa cepet sarjana na?"
"...." wah pertanyaan menstrem dan saat itu terasa aku kejatuhan batu besar tepat di atas kepalaku
"kau angkatan berapakah?" ucapnya lagi karena aku kunjung menjawab pertanyaanya
"2013 prof"
"ogh ndak lama lagi D.O dik ?" ucapnya dengan wajah bahagia
"iya prof makanya saya ngarep banget bisa selesai tahun ini" ucapku dengan memelas
"tahun ini dik?" ujarnya memastikan
"iye"
"apa lagi kemarin judulmu"
"efek sosial budaya pernikahan dini di kota Pinrang prof"
"kau orang pinrang kah?"
"bukan prof saya asalnya dari bandung"
__ADS_1
"beggg belapa sisalana bandung na penrang. di bandung kau di bandung bagian mana?"
"sukabumi prof"
"sukabumi tidak suka surga?"
"heheh tidak ada kampung seperti itu dibandung prof"
"besok kita bikin he' tapi kau sedia ji jadi ibu negaranya"
"eggg maksudnya prof" ucapku canggoh tidak menggerti alur pembicaraan
"aieess kau ini" ucapnya menunjukkan wajah jengah. "sampai dimana mi tulisanmu pade?" ucapnya lagi
"itu prof saya kan udah selesai nulis sampai bab akhir nah saya sisa ngambil revisian dari prof biar saya tahu bagian mana yang harus saya revisi lagi." ujarki lagi-lagi dengan rasa was-was.
"oghh iya iya begitu dik?"
"hehe iya prof" ucapku cenggengesan tidak jelas namun karena tidak mendapat balasan aku akhirnya bertanya lagi.
"jadi prof?"
"apa lagi ?"
"revisian saya bagaimana prof?"
"aduh prof berapa lama ya?"
"suka-suka saya dong" luar binasa orang ini pikirku mulai jengah.
"prof" ujarku manja dan merayu
"begini saja kau tahu kontak saya toh"
"iya prof"
"hubunggi saja nanti saya bawakan"
"eghh katanya besok ke belanda?"
"iyaa kau susul saya ke belanda"
"prof"
"aisss kau ini menyusahkan sekali sudah mau mi lagi di D.O tambah menyusahkan ko lagi" ucapnya yang lancar dan kata-kata itus sukses menusuk hingga kesukma jiwa.
__ADS_1
"prof" ucapku dengan wajah memelas
"apa?" dengab wajah beram
"bagaimana prof dan kapan prof kembali?"
"eghh soal kembalinya saya tidak mau kasi tahuko tapi kau susul saya saja kebandara jam 3 shubu bagaimana?"
"prof"
"apa kah kau kah dari tadi praf prof terus dik bagaimana bapak rahmat ?"
"kasian tawwa prof" ucap asisten dosennya yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia percakapanku dengan dosenku itu.
"bagaimana saya mau kasian kalo cantik begini mukanya bagaimana menurutmu rahmat?" ujarnya sekali lagi sepertinya mulutnya itu sudah lelah dengan sopan santun hingga dengan mudah berkata nista seperti itu.
"...."
"jadi begitu mi dik, itu mi solusi terbaikku"
"eghh yang mana prof?"
"ededede kau dik, aisss kasi tau i sedikit rahmat aiss" ucapnya sambil menggeleng-geleng
"kau temui prof sebelumnya berangkat" ujarnya santai dan tanpa beban
"dibandara" ucapku memastikan namun dengan suara lemah
"iya masa dipernikahan kita" ucap rahmat cuek aisss ternyata assisten dan dosen yang sangat cocok, mereka sama-sama menyebalkannya
"prof" ucapku sekali lagi menggemis dan berharap ucapan dari dosen gilaku itu berubah.
"saya ndak ada mi pilihan lain kalo kau mau kontak saya biar kita janjian kalo tidak." ucapnya memperhatikanku intens "bagaimana" ujarnya lagi.
"iye prof" ujarku pasrah
"iya nah itu mi saja" ucapnya lalu berlalu begitu saja meninggalkan aku dan asistennya di ruangan yang tadinya berisikan kami bertiga tanpa belas kasih kuremas tangganku sebagai ganti agar mulutku tak komat-kamit menggeluarkan sumpah serpah padanya.
dunia ku serasa runtuh menghadapi lelaki tua yang tidak ingat mungkar dan nakir itu sungguh aku ingin menggadukan segala rasa yang ada dihati biar memperpanjang masa hukumannya kelak di akhirat.
tapi apalah aku mahasiswa bangkotan yang tidak kuat diterjang angin topan jarilah aku hanya merunduk dan mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan nista itu tapi sebelum aku benar-benar meninggalkan ruangan suara asisten yang bernama rahmat itu menghalau langkahku.
"simpan noku juga biar sama-sama ki pergi bandara sebentar kalo mau ko"
bagai diterpa semilir angin pantai aku kembali ceria dan menyerahakan hpku padanya aku tidak ingin kesempatan sebagus itu hilang begitu saja, dan setelah selesai aku akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
kupacu langkahku menuju kantin para mace disana terpampang dengan nyata maba berbaju hitam putih menjadi pemandangan yang lebih mendominasi aku yang menggunakan pakaian santai menjadi satu-satunya sorotan mereka tapi aku tidak peduli toh aku bukan orang yang memegang sistem senioritas tapi ketika seseorang dari masa kelamku datang dan menyapa para cicak-cicak itu semakin menurunkan pandangannya, bagaimana tidak seorang ketua BAM berbadan layaknya tukang pukul berambut gondrong dengan tidak tahu malu duduk dihadapanku dengan cenggiran khasnya, terlihat manis untuk mereka yang baru pertama kali melihat senyumnya tetapi bagiku senyuman itu menandakan tanda perang diantara kami.
huh sungguh sial hari ini belum habis satu kesialan berikutnya menunggu sudah cukup hari ini dengan malas akhirnya aku tidak jadi menggisi perutku lalu aku pergi meninggalkan kantin begitu saja tanpa menghiraukan gonrong nista dan segala kekacauannya.