BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Prolog [ Awal Dari Hidup Baru ]


__ADS_3

Hidup memang kejam bukan harta, melainkan penglihatan yang tlah diambil oleh sang kuasa.


************


[ B. G. L. S ]


************


Saat ini, cuaca cerah menyosong ibukota. Rumah yang berkisar seharga miliaran rupiah itu sangat ramai, slalu terjadi kekacauan seperti sekarang ini suara pecahan kaca terdengar nyaring.



Pyarrrr...


"AKU NGGA MAU MINUMAN INI! JAUHKAN BENDA TAJAM ITUUU!!!" Suara gadis berteriak, seluruh isi rumah berdatangan saat sesama teman pelayannya di bentak.


"Maafkan saya non, maaf..." Pelayan yang terkena amukan itu bersujud, berbelas kasih memohon pengampunan.


"Aku ngga butuh maaf mu! udah berapa lama kau bekerja di sini, tapi tetap aja ngga bisa memahami keinginan majikannya. Aku udah bilang! Sajikan minuman yang berbeda. Aku ngga suka aromanya, kau tuli atau bagaimana???" Gadis itu berdiri, dengan pandangan yang tetap mengarah kedepan. Ia mulai menengok ke samping, namun tetap pada pandangan yang sama.


"Maafkan sssaa-yaa sekali lagi non. Sayaaa--" Lirih pelayan itu dengan wajah ketakutan, matanya melihat nona muda yang sudah lama ia layani. Gemetar di tangan, membuatnya lagi-lagi meminta pengampunan.


"Kau masih ngga dengar perkataanku, Yaa! SINGKIRKAN BENDA TAJAM ITU DARIKU!!"


"NGGA BERGUNA! KAU AKU PECAT!!!" Bentak gadis itu dengan nada nyaring dan pandangan mata yang masih lurus kedepan. Ia tidak memperdulikan, tangisan dan permohonan disertai kakinya yang terasa dipegang.


"MENYINGKIR DARI KU!" Lagi-lagi gadis itu berteriak, spontan mantan pelayannya menjauhkan diri. Memandang dengan air mata yang bercucuran disertai isakkan kecil.


"PAK GIO!!!"


Laki-laki yang sudah berumur 40 tahun itu menghampiri nona mudanya.


"Iya, non Arletta, apa anda butuh sesuatu? Saya akan--"


"Ngga perlu! Siapkan mobil, aku ingin pergi ke kantor." Gadis yang sudah diketahui bernama Arletta memotong pembicaraan pengawal pribadinya. Seakan paham, Pak Gio mendekat lalu menyerahkan lengan kanannya sebagai penopang.


Arletta tidak membutuhkan lengan kanan itu, ia mulai mengambil tongkat yang sedari tadi menemaninya duduk di sofa. Tongkat yang saat dilihat, sudah pasti tahu fungsi kegunaannya memanjang lalu menjuntai kelantai.


Ttikkk Ttikk...


Suara tongkat itu, dengan Arletta yang sudah berjalan mencoba menggunakan instingnya sebagai petunjuk arah.


"Awas non! Sebelah kanan anda, masih ada pecahan kaca." Suara Pak Gio mengingatkan. Arletta mencari arah lain untuk melangkah pergi.


"Aku ingin semua perabotan di dapur ngga menggunakan kaca. Ganti dengan plastik atau bahan yang lainnya! Kaca itu bisa aja melukai ku, dengan kebodohan pelayan disini."


"Baik, non Arletta," Jawab, Pak Gio mengiyakan.


"Non Arletta, serius ingin pergi ke ZX ONE GROUP? Bukannya, kemarin anda baru kesa--"


"Aku bosan. Aku butuh udara segar, makanya aku ingin ke sana," Ujar Arletta menyuarakan keinginannya. Pak Gio mengambil nafas, sebelum akhirnya memberi usul.


"Kalau begitu, bagaimana dengan jalan-jalan ke taman atau--"


"Cepat siapkan aja mobilnya. Aku ingin segera pergi."


"Baik, non." Pasrah, Pak Gio tanpa membantah. Seharusnya ia ingat, jika nona mudanya sangat membenci bantahan.


************


[ B. G. L. S ]


************


Arletta memandang kaca mobil. Kepalanya sengaja ia senderkan di kaca, meski seakan sedang melihat namun tatapan mata itu kosong. Dipenuhi kegelapan.


Pak Gio duduk di jok pengemudi, matanya tak henti melirik ke kaca bentuk persegi panjang yang leluasa mengawasi nona mudanya.


"Non, sepertinya papa non Arletta nanti akan pulang. Setelah 3 hari bekerja, tuan besar pasti sangat merindukan anda." Pak Gio memberi tahu, namun tidak ada gerakan atau suara sebagai jawaban dari jok belakang.


Arletta tetap diam, membiarkan pandangannya kosong mengarah kedepan. Pak Gio, menghembuskan nafasnya kembali. Tak ingin melanjutkan percakapan, ia lebih memilih fokus menyetir.


Cittt ...



Rem mobil di pijak, tepat berhenti di depan gedung bertingkat. Buru-buru, Pak Gio melepaskan seatbelt nya berkeinginan keluar namun terlambat saat pintu dari jok belakang mobil sudah dibuka.


Arletta mulai memanjangkan tongkat putihnya, dengan sekali tegak. Ia sudah berdiri masih dengan tatapan kedepan. Pak Gio menghampirinya, lalu uluran lengan kirinya lagi-lagi ditolak.


Arletta mulai berjalan, hanya dengan menggunakan kepercayaan pada tongkat serta instingnya untuk melangkah sebagai petunjuk arah.

__ADS_1


Pak Gio mengikuti dari belakang, sampai ada tangga kecil didepan buru-buru ia berlari menghampiri Arletta.


Ttiikk... Ttiikk... Ttikkk...


"Non Arletta, ada tang---" Pak Gio, bernafas lega saat Arletta berhasil melewati pijakkan tangga tersebut.


Arletta masih sangat mengingat jelas. Gedung ini, memiliki tangga dilantai dasar lalu berjarak 5 langkah dengan kakinya dari tangga tersebut barulah berbagai aroma tubuh tercium di indranya. Ia sudah memasuki sampai ke area lobi kantor.


Sebelah kanannya, dengan 15 langkah kecil sudah ada sofa serta meja kaca dengan vas bunga. Satu minggu sering mengunjungi kantor ini, sudah pasti membuatnya paham letak dan sudut ruangan manapun.


Baru 5 menit ia sampai kantor lalu duduk disofa, banyak pasang mata mengarah disertai suara bisikan.


"Bukannya itu cewek yang kemarin. Dia datang lagi, untuk apa dia datang trus menerus kesini. Dia kan ngga kerja disini."


Arletta menatap lurus, namun indra pendengarannya sangat amat peka mendengar suara bisikan dari arah timur. Mungkin Arletta menebak, ada orang yang berdiri berjarak 10 langkah kaki dari tempat duduknya.


"Aku pikir gosip tentang sepupunya, Bu Clara memang benar."


"Gosip Apaan? Apa ada gosip terbaru?"


"Dia kan buta. Lihat aja, dia ngga bereaksi apapun. Dia hanya menatap kedepan. Aku merasa kasihan."


Arletta meremas kuat genggaman tangan kanan di tongkatnya. Ia membiarkan 2 suara itu tetap terdengar. Arletta tahu, ternyata ada wanita yang mungkin seumuran dengannya dan wanita yang sedikit lebih tua. Suara khas yang satu sangat kecil dipadukan dengan suara ke dua yang sedikit besar.


"Untuk apa kasihan. Dia datang slalu membuat masalah. 2 hari yang lalu dia ribut dengan cleaning servis disini, dia juga sering berteriak dengan ucapannya yang ngga sopan. Bu Clara, pasti malu punya sepupu buta dan pengacau seperti dia."


Suara dari yang lebih muda.


"Padahal Bu Clara masih sangat muda, umurnya masih 26 tahun baru aja lulus S2 dari Universitas yang ada di Amerika. Bu Clara pasti malu punya sepupu buta, Bu Clara kan famous dikalangan kita."


Yang lebih tua mengimbuhi.


"Benar, kalau aku pasti malu. Cantik si, tapi aku dengar dia anak dari Pak Hans yang katanya seorang pilot."


"Dia beruntung, bisa punya keluarga kaya. Aku rasa dia ngga akan lama lagi pasti bisa melihat."


Lalu suara tawa terdengar, meski tidak begitu keras namun Arletta masih mendengar jelas.


Suara tawa itu adalah suara tawa meremehkan.


Pak Gio juga paham, sedari tadi ia hanya berdiri disamping sofa menemani Arletta. Mata laki-laki paruh baya itu melirik, seakan ingin membuat ke dua wanita tersebut diam.


"Upps kita ketahuan, sebaiknya kita pergi nanti dia dengar."


"Pak Gio!!"


"Iya non, apa--"


"Aku ingin ke toilet. Jangan ikuti, aku udah hafal tempatnya!" Pak Gio, terdiam membiarkan Arletta mulai melangkah pergi.


Ttikkk.... Ttikk.... Ttikkk....


Arletta berjalan menuju ke arah barat. Matanya menatap kedepan, tanpa memperdulikan suara-suara yang sesekali terdengar ditelinganya.


Arletta memutar langkahnya, setelah ia rasa ada belokan. Ia masih berjalan sampai ia bisa mencium aroma yang sangat khas.


Aroma sabun hingga percikan air dari wastafel ia kenali. Arletta masuk kedalam yang diyakini adalah toilet.


Seseorang baru saja melewati tubuhnya. Ia tetap berjalan, tangan kirinya meraih kedepan berusaha menemukan objek.


Tepat sasaran, meja dari wastafel dengan lapisan keramik yang pastinya begitu dingin di tangannya.


Arletta berdiri memandang kedepan. Kaca besar tengah memantulkan setengah tubuhnya. Ia mulai memencet kran wastafel sampai percikan air terdengar.


Arletta mencuci kedua tangannya, sebelum itu ia menekuk dan menaruh tongkatnya di atas bersebelahan dengan dirinya yang masih sibuk membiarkan air mengaliri kedua telapak tangannya.


Ceklekk....


"Eh dia lagi, dia lagi."


Suara hembusan nafas terdengar disertai suara wanita. Kali ini berbeda, suara itu beda dari 2 wanita di lobi tadi.


"Bikin susah aja. Seharusnya tidak usah datang kalau cuma jadi pengacau."


Arletta diam. Ia menatap kedepan, dan membiarkan suara percikan air menghalangi sehingga menjadi suara yang samar-samar.


Sebelah kiri. Wanita itu berdiri, aroma lavender tercium dari samping.


"Dasar Buta!"


Arletta memencet kran wastafel hingga suara air menghilang. Ia sangat jelas mendengar suara itu. Suara pengolokkan.

__ADS_1


"Heii kau! Si wanita lavender!" Wanita yang melewati tubuh arletta mendadak berhenti. Ia menengok, mulai menatap kearah Arletta.


"Ha! Makssud mu? Akku--"


"Ya! Siapa lagi pemilik parfum lavender itu kalau bukan dirimu. Aku peringatkan! Berhenti membicarakan orang. Jika kau trus meremehkan dan mencibir, aku yakin Tuhan akan membuatmu buta suatu saat nanti."


Wanita di samping Arletta melotot tak percaya. Ia diam tak berkutik, saat Arletta juga menatapnya.


Meski ia yakin Arletta tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi aura dari pancaran matanya membuat dirinya bergidik.


Arletta mengambil tongkatnya, lalu detik berikutnya hanya terdengar suara tongkat.


Ttikkk... Ttikkk... Ttikkk...


Arletta berhasil keluar dari toilet, tapi naasnya tiba-tiba dari arah barat ada orang yang menabrak tubuhnya.


Ctakk....


Pyarrrr....


Tongkatnya terjatuh, bersamaan dengan 2 gelas pecah yang mengitari posisi tongkat yang tergeletak.


Arletta terkejut, tubuhnya terpental meski ia berusaha mengimbangi tapi akhirnya oleng dan terjatuh kelantai.


Telapak tangan kanannya tak sengaja menekan benda kecil yang ia yakini adalah potongan dari pecahan kaca.


Pecahan kaca itu menusuk telapak tangan kanannya.


"Aaaww...." Rintihnya, secepat mungkin ia mengangkat tangan kanannya. Tangan kirinya berusaha mengecek, meraba-raba telapak tangan kanannya.


Bau amis darah tercium.


Telapak tangan kanannya berdarah.


Arletta yakin darahnya menetes lumayan banyak. Terasa nyeri, tapi suara bass khas seorang laki-laki terdengar.


"Maaf bu..."


"Saya tidak sengaja. Saya minta maaf. Apa ibu tidak apa-apa?" Laki-laki itu bertanya, nadanya sangat khawatir.


"Bu, Bu, Bu.... Aku bukan ibumu!" Arletta berteriak.


"Kau ngga punya mata ya? Masih syukur Tuhan memberimu penglihatan, tapi kau masih aja buta. Kau pikir aku baik-baik aja ha! Lihat tanganku terluka. Dasar bodohh!!!" Arletta memaki dengan membentak sangat keras.


Suara nyaringnya membuat beberapa orang penasaran dan datang menghampiri.


"Sekali lagi maaf... saya--"


"Ada apa ini???"


Tiba-tiba suara wanita ikut menimpali. Arletta mengenali suara itu, suara sepupunya.


"Astaga, Arletta!!!" Clara memekik keras, terkejut lalu melihat kesampingnya. Seorang laki-laki yang sangat dikenalinya. Laki-laki berpakaian OB, dengan kepala yang menunduk.


"Saya tidak sengaja Bu Clara. Ibu ini---"


"UDAH AKU BILANG AKU BUKAN IBUMU, KAU INI TULI YA!!" Arletta berteriak lagi, membuat laki-laki itu menatapnya horor.


"Maksud saya, nona ini..."


"Gapapa Divon. Aku memaklumi kesalahanmu." Potong wanita berambut sebahu, dengan menghembuskan nafasnya ia mengulurkan tangan kanannya.


"Ayo letta, berikan tanganmu. Aku bantu." Clara berujar lirih.


************


[ B. G. L. S ]


************


Holaaa aku bawa cerita baru, tapi kali ini mengusung tema yang berbeda. Aku mencoba cari inspirasi dari kehidupan sehari-hari, sehingga aku putuskan buat cerita ini.


Semoga Kalian yang baca suka, dan tinggalkan jejak vote, rate dan kritik sarannya. Btw aku kasih spesial ilustrasi dari visual tokoh cerita.


Pertama ialah ARLETTA. Sosok gadis cantik tapi memiliki kekurangan dengan penglihatannya.



Kedua ialah CLARA. Sosok sepupu Arletta yang menjadi Direktur Utama di perusahaan ZX ONE GROUP.


__ADS_1


Dan Ketiga ialah DIVON. Sosok laki-laki tampan, tapi sayangnya bekerja sebagai OB di perusahaan ZX ONE GROUP.



__ADS_2