
Happy Reading tinggalkan jejak like dan komentar 👍
************
[ B. G. L. S. ]
************
"Ayo cepat pergi! Biarkan saja dia disini," Ujar laki-laki bertato menginstruksi kawanan temannya untuk segera pergi. Mereka semua berhasil kabur dengan beberapa motor dan mobil, sedangkan Divon sibuk memegangi perutnya. Ia merintih merasakan ngilu dan nyeri yang luar biasa sakit. pukulan di bahu dan perutnya benar-benar hampir membuatnya susah berdiri.
"Awwww... Nggrr..." Rintihnya pelan.
Sekuat tenaga Divon berdiri namun, naasnya lututnya tidak kuat menyanggah berat badannya hingga.
Brughh...
Divon terjatuh dan matanya meredup menjadi gelap. Ia pingsan.
Sementara itu di Rumah Sakit.
Beberapa perawat datang dengan mendorong kereta dorong yang diatasnya sudah ada Divon. Bersyukur pada Tuhan, setelah Divon pingsan beberapa orang datang untuk menolong dan akhirnya seorang wanita paruh baya yang membawa Divon ke Rumah Sakit Medika.
"Ada apa ini, Sus?" Tanya Dr. Ragil begitu panik.
"Sepertinya, dia korban pemukulan Dokter. Banyak luka memar, tapi paling parah dibagian kepala belakangnya."
"Minggir! Biar saya periksa."
"Baik, Dr. Ragil." Suster bernama Anita itu mundur dan membiarkan Dr. Ragil memeriksa Divon yang tengah terbaring di ranjang UGD.
"Dokter! Saya menemukan dia di jalan. Saya tidak tahu pasti, tapi sepertinya kata suster tadi benar. Anak ini pasti habis di pukuli," Ujar Wanita berambut panjang yang digelung.
"Baik, saya akan periksa lebih dulu."
Dr. Ragil mulai memeriksa tubuh Divon dengan menggunakan testoskop lebih dulu, lalu memeriksa denyut nadi dan membuka kelopak mata Divon secara bergantian. Dr. Ragil menghembuskan nafasnya, membuat wanita itu memandang bingung.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Lukanya sangat parah. Saya harus Rontgen kepala bagian belakangnya, apa ada benturan keras atau semacamnya," Ujar Dr. Ragil menjelaskan.
"Suster Nita!"
"Iya, Dok?"
__ADS_1
"Obati luka dibagian tubuhnya, setelah itu pindahkan pasien ke ruang ICU. Dia harus segera di tangani."
"Baik, Dok," Jawab Suster Anita mengangguk patuh, sedangkan Dr. Ragil kembali jalan menghampiri wanita yang menolong Divon tersebut.
"Apa anda walinya?"
"B-bukan, Dok. Saya yang menemukannya dijalan tadi." Wanita itu menjawab dengan raut wajah panik sekaligus bingung.
"Apa dia tidak apa-apa, Dok?"
"Dia akan baik-baik saja, tapi saya harus bertemu walinya lebih dulu. Tolong hubungi keluarganya, kalau begitu saya tinggal dulu." Wanita itu hanya mengangguk mengiyakan tanpa bersuara lagi.
"Mama..."
"Justin!" Justin langsung menghampiri ibunya dan menatap bingung, karna kedatangan ibunya yang tiba-tiba tanpa bilang lebih dulu.
"Mama ngapain kesini? Mama sakit?" Tanya Justin mulai panik.
"Mama gak sakit, Jus. Ini lho, tadi mama nemuin orang. Mama bawa ke Rumah Sakit. Kasian dia, karna habis dipukuli orang." Kening Justin berkerut menandakan kebingungan.
"Aku pikir mama sakit."
"Gak, Nak. Mama baik-baik saja. Mama habis belanja, dan langsung bawa anak itu ke Rumah Sakit. Mama sekarang bingung, karna mama gak tau keluarganya," Ny. Siqia kembali berujar dengan nada sendu dan mimik wajah yang masih panik.
"Gak tau. Dia disana, Nak." Ny. Siqia menunjuk sekaligus menatap kearah ranjang yang di baringi Divon. Dua suster masih setia mengobati, memperban bagian tubuh Divon yang luka.
Justin menatap kearah samping. Pandangannya lurus ke arah Divon, lalu ia melangkah karna penasaran.
"Dr.Justin!" Suster Anita memekik, karna terkejut.
"Dia kenapa, Sus?"
"Pasien mengalami luka pukulan yang begitu banyak. Oh iya tadi saya menemukan ini di saku jaketnya, Dok." Justin menatap kearah tangan kanan Suster Anita. Ada sebuah dompet hitam, lalu ia mengambilnya.
Justin membuka dompet tersebut, sampai matanya menemukan sebuah KTP.
"Divon Albarra..." Kening Justin mengerut, membaca Kartu Identitas itu disertai rasa penasaran yang kuat.
************
Grey tersenyum penuh kemenangan, akhirnya rencana menculik mantan tunangannya itu telah berhasil. Beberapa preman suruhannya mengangguk setelah mendapat amplop upah, lalu keluar dari ruangan dengan warna hitam mendominasi.
Arletta kini tengah terbaring di ranjang. Akibat penculikan tadi, membuatnya pingsan sampai sekarang ini. Obat bius preman tersebut sangat ampuh dan itu membuat Grey tersenyum bangga, karna bisa mengambil keuntungan dengan mudah.
__ADS_1
Drrrtt..
Grey mengambil ponselnya di saku jasnya, lalu langsung menerima panggilan dari ayahnya.
"Grey! Apa kamu yakin ingin bawa Arletta ke Prancis?"
"Iya, ayah. Aku akan bawa Arletta kesana, setelah dia mendapat donor mata, aku langsung menikah dengannya disana. Ayah gak perlu khawatir. Aku udah menyiapkan semuanya dengan benar kali ini. Ayah cukup bantu aku, agar aku bisa langsung mendapat tiket penerbangan ke Prancis malam ini."
"Grey, ayah udah cek. Gak ada penerbangan ke Prancis untuk hari ini. Kamu tunda dulu niatmu, jaga Arletta sampai ayah benar-benar dapatkan tiket ke Prancis."
"Gak bisa ayah!" Grey menyela dengan sedikit nada keras.
"Kalau bukan malam ini, pasti laki-laki itu udah melaporkan ke polisi. Aku ingin secepatnya dan itu malam ini. Ohh, aku lupa kenapa aku gak pakai helikopter ayah saja untuk pergi ke Prancis malam ini."
"Jangan, Grey! Jangan sentuh helikopter itu. Itu bukan milik ayah, tapi itu milik bos ayah."
"Ayah tinggal pinjam saja apa susahnya. Ayah, aku gak punya banyak waktu. Aku harus bawa Arletta pergi dari Indonesia, sebelum mereka berhasil menemukan Arletta."
"Sabar putraku... Ayah akan usahakan, sementara itu tunggu kabar dari ayah. Grey, ayah tidak mau, karna keinginanmu ini ayah jadi terlibat masalah besar. Tunggu saja, biar ayah yang mengaturnya."
Tut.
Panggilan terputus. Grey mengeram kesal, ternyata usahanya masih belum sepenuhnya berjalan lancar. Grey tidak bisa menunggu sampai besok pagi, bagaimana pun rencana membawa pergi Arletta harus berhasil hari ini. Ia tidak ingin Tn. Hans mengetahui ini, bisa-bisa rencananya hancur total. Pengaruh ayahnya memang hebat, tapi Grey tidak bisa meremehkan pengaruh yang pernah menjadi calon mertuanya itu.
Grey jalan mendekat, sebuah ide berlian langsung muncul di kepalanya. Ia menyunggingkan smirknya, lalu duduk di atas ranjang tepat di samping Arletta yang masih pingsan.
"Kamu harus jadi milikku, Letta. Maafkan aku, tapi aku harus membuatmu hamil anakku. Ini semua demi Giselle. Aku sangat mencintainya, sampai rela melakukan hal besar seperti ini." Grey mengelus pipi kiri Arletta terasa lembut di jemarinya.
"Tenang, Giselle! Kita akan tetap menikah, meski kamu gak bisa punya anak sekalipun aku gak peduli. Aku sangat mencintaimu. Tetaplah berada di dekatku. Aku akan lakukan apapun, agar ayahku menyetujui pernikahan kita."
"Tap-pii gimana caraa-nya, Grey. Ayahmu, pasti gak mau punya menantu yang cacat kayak aku. Aku gak bisa beri kamu anak, Grey! Aku mandul!!!"
"Aku tau, Giselle! Diamlah, dan tetap disampingku. Aku akan pikirkan caranya, agar kita bisa tetap bersama-sama."
Brughh...
"Aku mencintaimu, Grey. Aku beruntung punya kamu. Kamu mau nerima aku, meski aku punya kekurangan. Aku sangat mencintaimu, Greylon."
Grey membuyarkan lamunannya, saat sepintas memori perbincangannya dengan Giselle kembali berputar. Ya, wanita itu adalah alasan terbesar ia melakukan rencana besar ini.
Giselle adalah calon istrinya. Pernikahan mereka hampir terjadi, kalau saja Giselle tidak mengalami kecelakaan saat itu yang membuatnya harus menjalani pengangkatan janin.
************
__ADS_1