BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Pelukan Di Rumah Sakit


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak vote dan komentar ya 👍


***********"


[ B. G. L. S ]


************


Hari tlah berganti, sinar terang kini terpancar di ruangan dengan berbagai alat disekitar untuk melakukan pemeriksaan Slit Lamp di mata Arletta. Setelah kurang lebih sekitar 20 menit akhirnya selesai. Arletta meraba-raba di sekitar, tangan kanan Tn. Hans menyambutnya dan menuntun putrinya untuk kembali duduk di kursi berhadapan langsung dengan Dr. Richard, disebelahnya ada Justin yang berdiri menunggu hasil pemeriksaan.


"Bagaimana, Dok? Mata putri saya baik-baik saja kan?" Tanya, Tn. Hans begitu panik.


"Matanya baik-baik saja, hanya saja ada benjolan disekitar korneanya tapi itu bukan hal yang besar, kalau Arletta bersedia cek up rutin benjolan itu akan mengecil," Ujar, Dr. Richard menjabarkan.


"Tapi putri saya, masih bisa melihat lagi kan, Dok? Saya hanya ingin, Arletta bisa melihat lagi."


"Papa...." Arletta menghentikan ucapan ayahnya. Ia menggenggam erat tangan kanan ayahnya, berusaha meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Tenang saja, Pak Hans! Saya akan mengusahakan untuk segera mencari donor mata yang cocok untuk, Arletta. Pak Hans, tidak perlu khawatir besar kemungkinan, Arletta akan bisa melihat lagi," Tutur, Dr. Richard menenangkan membuat Tn. Hans tersenyum, begitu juga dengan Justin. Laki-laki itu tidak pernah melepaskan pandangannya ke arah Arletta, ingin sekali ia datang dan memberi semangat untuk gadis itu.


Dr. Richard berdiri, lalu menengok ke arah samping kanannya. Justin menatapnya, lalu mengerutkan keningnya saat mendapat tepukan pelan dibahu kanannya.


"Beri resep obat dan vitamin juga yang harus diminum untuk Arletta." Justin mengangguk patuh, lalu Dr. Richard kembali menatap kearah Tn. Hans dan juga Arletta.


"Pak Hans, biar selanjutnya cek up Arletta, akan ditangani oleh Dr. Justin. Dia baru pertama bekerja disini, saya sangat percaya dengan kemampuan nya. Anda tidak perlu khawatir, Arletta akan bisa melihat kembali," Ujar, Dr. Richard yang mendapat anggukan paham dari Tn. Hans.


"Saya harus pergi, ada jadwal operasi setelah ini."


"Baik Dr. Richard, Terimakasih." Setelah berpamitan, Dr. Richard keluar dari ruangan. Justin tersenyum lalu duduk di kursi yang sebelumnya Dr. Richard gunakan.


Justin menulis beberapa jenis obat, Tn. Hans hanya memperhatikan cara Justin menulis, membuat senyumannya mengembang.


"Sudah selesai." Justin mendongak, dan memberikan selembar kertas putih berisi resep obat.


"Ini obat, yang harus anda tebus di apotek beserta vitamin. Arletta harus rutin meminum nya, dan untuk cek up bisa seminggu 3x," Lanjut, Justin menjelaskan, Tn. Hans mengangguk paham dan mengambil resep obat tersebut.


"Terimakasih Dr. Justin."


"Sama-sama, Pak. Saya akan berusaha keras, agar Arletta segera mendapatkan donor mata." Justin membalas dengan tersenyum membuat Tn. Hans bernafas lega, tapi Arletta hanya diam. Ia tidak bicara apapun dan hanya menatap kedepan.


"Saya percaya padamu, Dr. Justin."


"Jangan panggil Dokter, Pak Hans. Arletta adalah pasien pertama saya, meski saya sudah bekerja disini, saya merasa masih banyak Dokter yang lebih berpengalaman dibandingkan saya. Saya hanya membantu, Arletta semampu saya. Jika diperkenankan, Pak Hans bisa memanggil saya Justin saja."


Hening untuk beberapa detik, sampai akhirnya Tn. Hans menepuk pundak kanan Justin.


"Kau masih sangat muda untuk jadi Dokter. Ayahmu pasti bangga, aku salut dengan semangat dan kegigihanmu, Nak Justin." Tn. Hans menjeda ucapannya, kembali menatap putrinya.


"Aku percayakan Arletta kepadamu. Tolong bantu dia untuk sembuh dan bisa melihat kembali seperti dulu lagi," Sambung, Tn. Hans melanjutkan ucapannya.


************


Tn. Hans berjalan dengan menggandeng lengan kiri Arletta, menuntun putrinya itu melewati koridor rumah sakit. Arletta masih diam dan membiarkan tongkat ditangan kanannya sebagai petunjuk arah.


"Kamu sabar ya, Letta. Kamu pasti bisa melihat lagi seperti dulu," Ujar Tn. Hans, tapi tidak mendapat respon apapun dari putrinya. Tiba-tiba dering ponsel terdengar. Tn. Hans menghentikan langkahnya, mengecek ponsel di saku jasnya.

__ADS_1


"Letta! Papa, angkat telfon dulu ya. Tunggu disini, sampai papa kembali." Setelah berpamitan, Tn. Hans pergi ke arah Utara. Arletta hanya diam, mengikuti instruksi dari ayahnya.


"Kakak-kakak!!!" Arletta memusatkan pendengarannya ke arah timur. Suara anak kecil yang Arletta tebak berkisar umur 5 tahun itu memanggil nya, diikuti tarikan berkali-kali di baju bagian pinggang nya.


"Kakak aku dibawah! Kakak....." Ujar Anak laki-laki itu.


"Ahhh... iya, maaf dek, kakak gak liat," Tutur, Arletta yang mulai meraba-raba kedepan sampai sebuah tangan kecil meraihnya.


"Disini, Kak!" Arletta memegang tangan kanan anak laki-laki itu, lalu perlahan-lahan jongkok dengan bantuan tongkatnya sebagai penyangga.


"Kakak, gak bisa melihat?"


"Iya, dek. Kakak mengalami kecelakaan dulu, makanya kakak gak bisa melihat." Anak laki-laki itu mengusap lembut kepala Arletta.


"Aku doakan, kakak bisa melihat lagi ya, biar bisa melihat wajahku, trus kita bisa main." Arletta tersenyum, mendengar penuturan anak kecil itu sangat menyentuh hatinya. Ia merasa tenang sekaligus nyaman.


"Makasih. Namamu siapa, dek?"


"EL! Namaku EL, Kak!"


"Makasih ya, EL. Kakak pasti ajak kamu main, kalau kakak udah bisa melihat lagi," Ujar, Arletta tersenyum hangat.


"Kak Divon!!!" Arletta terkejut. Matanya mengarah ke semua tempat, mencoba mencari tahu dengan penciumannya. EL langsung saja lari kearah Divon yang memandangnya dengan tersenyum.


"EL! Hati-hati! Awas, jangan lari nanti kamu jatuh!"


Brugh...


Sekali tangkap, Divon memeluk tubuh kecil EL dengan jongkok. Ia mengusap lembut kepala adiknya itu, kemudian melepaskan pelukannya.


"Abisnya aku kangen kak Divon. Mama, gak bolehin aku buat ketemu sama kakak, kan aku jadi gak bisa main lagi sama kak Divon." EL berucap dengan nada sendu dan raut wajah yang sedikit masam. Divon menghembuskan nafas beratnya, seharusnya ia sudah biasa mendengar ucapan pengaduan dari adiknya itu.


EL adalah anak dari hasil pernikahan ibunya dengan laki-laki lain sejak 5 tahun yang lalu. Divon masih mengingat saat ia hadir di pernikahan Ibunya, waktu itu tepat dihari ulang tahunnya yang ke 17. Ibunya tidak memberikan apapun, atau bahkan sekedar ucapan selamat ulang tahun, yang ia tahu ibunya memberikan undangan pernikahan saat itu juga. Divon hanya bisa diam dan mendoakan kebahagiaan ibunya, tapi tidak dengan ayahnya, setelah menghadiri acara pernikahan ibunya, mendadak ayahnya jatuh sakit. Tidak berselang lama, ayahnya tidak kunjung pulih malah semakin parah dan akhirnya Pak Angga menghembuskan nafas terakhir kalinya di rumah sakit.


Divon menganggap kepergian ayahnya, karna kehendak sang kuasa, tidak ada kaitannya dengan pernikahan ibunya dan suami barunya. Ibunya tidak datang ke pemakaman ayahnya, untuk itu kenapa Tante Devi tidak menyukai ibunya saat itu.


Sudah berganti tahun, Divon bahagia karna bisa melihat kembali ibunya dengan keluarga barunya, meski begitu ibunya jarang sekali menemui dirinya tapi Divon tidak pernah membenci ibunya.


Hidup sendiri dan membiayai semua kebutuhan hidupnya, adalah jalan yang sudah ia pilih, jadi jika ibunya tidak mengurus nya, Divon tidak masalah sama sekali. Ia sudah biasa hidup sendiri, baginya inilah jalan hidupnya yang seharusnya ia jalani.


"EL, ngapain kesini? Kamu sakit?" Divon bertanya berusaha mengalihkan topik.


"Aku gak sakit, Kak! Aku nganterin mama cek up, katanya mama bakal punya dedek bayi lagi, kalau udah lahir aku bisa ajak dedek bayinya main hehehehe..." EL terkekeh, membuat Divon mengacak rambutnya gemas.


"Bagus! Dedek bayinya bisa trus main sama kamu, EL."


"Sama kak Divon juga!"


"Tapi kan, kakak kerja. Kakak gak bisa tiap hari nengokkin dan ajak kamu main."


"Yahh......" Lirih, EL dengan wajah ditekuk.


Arletta berdiri dengan bantuan tongkatnya. Ia mulai berjalan dengan tangan yang meraba-raba kedepan. Divon melirik ke arah Arletta, alisnya terangkat bingung.


"Divon!" Panggil, Arletta berseru. Divon berdiri yang mendapat pandangan bingung dari EL.

__ADS_1


"Arletta, Awass!!!"


Divon buru-buru lari dengan sekali tarik, tubuh Arletta berada dalam dekapan nya. Divon melindungi kepala belakang Arletta, barusan jika terlambat sedetik, Arletta bisa saja jatuh karna tersenggol seseorang. Rumah sakit ini banyak orang yang berlalu lalang, dengan suara anak kecil dan beberapa perawat.



Aroma green dari dedaunan tercium sangat kuat di hidung Arletta, kedua tangannya seakan tidak bisa bergerak. Divon mendekapnya sangat erat, benar-benar melindunginya.


EL datang menghampiri dan bertepuk tangan. Beberapa anak-anak yang lain juga ikut menatap kearah Divon dan Arletta.


"Cie-cie yang pelukan!" Celetuk, EL kegirangan.


"Wahh, kakak itu hebat ya meluk pacarnya."


"Kayak di film-film yang aku tonton, Fel!" Seru, anak perempuan berambut coklat pirang. Teman perempuannya, mengangguk setuju dengan tatapan berbinar.


"Iya, Mel!"


"Amel! Felly! Kalian ada disini, pantas ibu cari gak ada. Ayo! Ayah kalian udah dipanggil dokter, ayo kita liat," Ujar wanita paruh baya, langsung membawa pergi kedua putrinya tersebut.


"Pelukanmu sangat hangat, Div!" Guman, Arletta dengan suara pelan. Divon tersadar, lalu melepaskan pelukannya, membuat Arletta merasa kecewa.


Srrttt...


"Hmmm... maaf."


"Ka-uu hampir kesenggol tadi," Sambung, Divon dengan perasaan gugup.


"Makasih udah nolongin, Div. Lagi-lagi kamu menolong ku. Aku berhutang banyak sama kamu, andaiii.... aku punya penjaga seperti kamu, Div." Arletta membalas dengan tersenyum, begitu tulus, sedangkan Divon menatapnya bingung sekaligus canggung. Ada yang aneh dengan suara gadis itu.


"EL!" Panggil seseorang.


"Kak Andine!" EL berseru lalu menghampiri wanita muda dengan gigi gingsulnya saat tersenyum.


"Ehh... ada bang Divon. Disini juga bang, Div? Aku sama EL nganterin mama cek up kandungan."


"Iya, Din! Abang cuman ngambil resep kemarin."


"Bang Divon sakit?" Tanya, Andine khawatir.


"Div, kamu sakit? Sakit apa? kenapa gak kasih tau aku kalau sakit?" Arletta bertubi-tubi melayangkan pertanyaan.


"Aku gak kenapa-kenapa, cuman ambil resep obat dari pemeriksaan Mbak Selia, bos ku di kantor," Ujar, Divon memberi tahu.


"Bukan abang dek, tapi bos abang dikantor!" Andine bernafas lega begitu juga dengan Arletta.


"Letta! Maaf papa lama. Kamu ada disini. Papa khawatir! Papa pikir kamu pergi."


Tn. Hans datang menimpali, ia menatap khawatir kearah Arletta tapi Andine justru menatapnya terkejut.


"Om Hans!!!" Pekik, Andine. Tn. Hans menoleh kearahnya.


"Ehh.... Andine! Disini juga?"


************

__ADS_1


__ADS_2