BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Keterkejutan Divon


__ADS_3

Happy Reading. Tinggalkan jejak vote dan komentar 👍


************


[ B. G. L. S ]


************


Arletta duduk di kursi dengan pandangan mata lurus kedepan. Dibawanya ada Divon yang duduk dengan berjongkok. Divon memperhatikan perban di lutut kanan Arletta, ia menekan perban itu agar tidak terlepas.


"Aawhh..." Arletta merintih kesakitan, saat luka di lututnya seakan ditekan.


"Ehh maaf, aku gak sengaja. Ini, perbanmu mau lepas, makanya aku tempelin lagi biar gak lepas. Sepertinya... kau harus mengganti perbanmu nanti," Tutur, Divon mengingatkan. Arletta mulai meraba lutut kanannya, seakan yang dikatakan Divon benar, dia hanya mengangguk.


"Aku akan suruh pelayan menggantinya nanti, makasih."


"Buat?" Divon bertanya bingung.


"Udah ngingetin." Arletta tersenyum diakhir kalimat, dan Divon hanya ber-O ria tanpa harus melanjutkan ucapan apapun.


Divon berdiri, lalu melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia menghembuskan nafasnya, menatap ke sekeliling. Kosong? Ia sampai lupa, kalau Pak Gio sedang izin ke toilet 10 menit yang lalu.


"Aku harus kembali bekerja. Tunggu disini sampai pengawalmu datang." Divon memegang erat beberapa map. Insiden tadi, membuatnya lupa kalau Selia, HRDnya itu menyuruhnya untuk memberikan berkas ini ke ruangan Clara, Direkturnya.


"Tapi... Semalam kenapa kau ngga menelfonku?" Tanya, Arletta sedikit kesal.


"HA???" Spontan, Divon memekik bingung. Setelah beberapa detik ingat, baru ia merasa menyesal.


"Maaf. Kemarin malam aku ketiduran," Divon memberi tahu, sedangkan Arletta mengerutkan dahinya seperti tidak mempercayai ucapan Divon.


"Kau ngga bohong kan?" Arletta bertanya.


"Aku serius. Ngapain bohong hmmm..." Divon menghembuskan nafasnya kembali, sebelum akhirnya bersuara.


"Udah dulu ya, aku harus pergi ke ruangan, Bu Clara. Kau pulang saja habis ini" Divon pamit dengan cepat, sampai Arletta tidak bisa membalas ucapan laki-laki itu.


**********


Di Kantin Bandara Soekarno-Hatta.


Dua laki-laki yang seumuran tengah menyesap kopi, yang baru dipesannya. Laki-laki dengan wajah khas Padang itu menatap bimbang, setelah menyesap habis kopinya, laki-laki yang tidak memakai topi pilot tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Hans!" Panggil, Pak Tyo bersuara pelan. Tangan kanannya menepuk pundak teman sesama profesinya.


"Iya? Ada apa, Yo?" Pak Hans menoleh kesamping kiri, menyahuti dengan kebingungan.


"Kau memikirkan putrimu lagi, kan?" Pak Tyo bertanya, yang langsung dibalas anggukan Pak Hans.


"Aku hanya gak tega sama, Letta, Yo."


"Gak tega kenapa?" Lagi-lagi Pak Tyo bertanya dengan penasaran.


"Aku bingung harus mencarinya donor mata kemana lagi, semua rumah sakit tetap gak berhasil. Aku merasa gagal sebagai ayah. Putriku itu--" Pak Tyo yang paham dengan maksud ucapan temannya, ikut menatap khawatir. Tangannya terulur untuk tetap memberi tepukkan penenang sekaligus penyemangat di bahu kiri Pak Hans.


"Dua tahun dia gak bisa melihat. Aku udah berusaha cari donor mata kesemua rumah sakit tapi tetap gak ada yang cocok. Terakhir, waktu Dokter Fredo memeriksa, katanya ada yang salah dengan mata putriku. Apa yang salah? Apa matanya gak bisa buat di operasi, atau emang gak ada donor mata yang cocok sama sekali dengan, Letta." Selagi Pak Hans menjelaskan apa yang selama ini menjadi beban dalam hati dan pikirannya, Pak Tyo justru mengecek ponselnya. Ada pesan masuk, sepertinya penting yang membuat bibirnya melengkung ke atas.


"Aku bisa membantumu, Hans."

__ADS_1


Pak Hans terkejut, setelah mendengar ucapan Pak Tyo membuatnya tertarik. Pak Hans menatap serius, seolah menunggu jawaban maksud dari ucapan temannya tersebut.


"Iya. Aku baru dapat kabar, kalau anak dari sahabatku si Egar. Kau pasti ingat kan, yang pernah aku temui saat dia ada penerbangan ke Singapura."


"Ya, Aku ingat. Dia mau ke Singapura lagi?" Pak Hans bertanya, tapi mendapat gelengan kepala dari Pak Tyo.


"Lalu?"


"Anaknya baru lulus di sekolah kedokteran yang ada di Inggris. Egar bilang, kalau putranya, Justin, dia akan mulai bekerja di rumah sakit Medika. Setahuku, Justin bisa membantu putrimu mencarikan donor mata atau kau bisa konsultasi ke dia. Kebetulan dia ahli mata bukan spesialis organ dalam." Ucap, Pak Tyo menjelaskan. Pak Hans menatap dengan alis terangkat, seakan ragu tapi akhirnya tersenyum lebar.


"Benar juga. Kenapa baru memberitahu sekarang?"


"Justru dia baru pulang setelah selesai study nya di Inggris. Besok, temui dia di Rumah Sakit," Tutur, Pak Tyo meyakinkan.


"Tapi besok aku ada penerbangan pagi ke Palembang," Ucap, Pak Hans dengan nada lesuh. Seakan mustahil untuk dia mengambil cuti.


"Ada aku. Ada Robby juga yang bisa menggantikan. Besok aku gak ada jadwal, baru ada jadwal terbang lusa ke Lombok dan Bali. Izin sehari aja, bilang ke Pak Widi, kalau kamu mau mengantarkan putrimu cek up mata ke rumah sakit." Tyo kembali berujar, kali ini lebih meyakinkan dan tersenyum. Pak Hans seolah mengerti lalu mengangguk setuju dengan usul temannya tersebut.


**********


Clara mengecek kembali isi didalam tasnya, takut ada yang tertinggal, karna bagaimana pun ia akan menemui klien penting seorang Direktur dari Holdas Company. Ini adalah pertemuan pertamanya tanpa sekretarisnya. Kemarin Pak Adam cuti, karna istrinya melahirkan anak ke dua laki-laki paruh baya tersebut. Clara jelas kesusahan, selama ini ia dibantu oleh bimbingan dan arahan dari Pak Adam. Clara bukannya tidak siap, tapi ia butuh waktu beberapa bulan sampai ia mulai terbiasa dengan semua tugas-tugasnya.


Clara hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman, jika saat dirinya sedang menemui klien penting, terlebih lagi jika untuk membicarakan soal Investasi ataupun kerja sama dari perusahaan besar lainnya. Contohnya sekarang ini, ia harus benar-benar menyiapkan mental dan kata-kata yang cocok agar pertemuannya ini berakhir dengan kerja sama yang memuaskan oleh kedua belah pihak.


"Tunggu, mbak--"


"Maksud saya, Bu Clara." Divon membenarkan kesalahan dari ucapannya. Clara hanya tersenyum mengetahui kegugupan laki-laki itu.


"Kalau udah panggil mbak, ya mbak aja, Div. Lagian sepi, gak ada yang denger juga. Ini kan lagi jam istirahat," Tutur, Clara yang mendapat garukan kepala kaku di leher belakang Divon, serta cengengesannya itu.


Clara menghampirinya, begitu juga dengan Divon. Ia juga terkejut, karna seharusnya Arletta sudah pulang. Bukankah ia yang menyuruhnya pulang tadi? Divon melirik ke semua objek.


Kemana perginya pengawalnya Arletta?


Divon bertanya-tanya dalam hati.


"Letta! Kenapa masih ada disini? dimana, Pak Gio?" Tanya, Clara dengan berseru kebingungan. Arletta memusatkan pendengarannya, di utara ada suara yang sangat ia kenali.


"Kak Clara?"


"Iya ini aku. Dimana, Pak Gio? Kenapa masih belum pulang?" Arletta menggeleng cepat, membuat Clara semakin kebingungan.


"Aku ngga mau pulang! Aku bosan dirumah. Pak Gio emang aku suruh pulang duluan dan datang lagi kesini nanti malam. Kalau ada Pak Gio, aku ngga bisa bebas, makanya aku suruh pulang.


Clara menghembuskan nafasnya, melihat perilaku Arletta hari ini sudah cukup membuatnya kelelahan dan pusing. Ia bingung, setiap hari ada saja perilaku yang ditimbulkan adik sepupunya itu.


"Kakak panggilin taksi ya, biar kamu pulang naik taksi--"


"Jangan!" Potong, Arletta cepat.


"Letta... Kamu harus pulang. Aku ada pertemuan dengan klien sekarang, lagian ngapain juga nyuruh Pak Gio pulang. Aku telfon rumah kalau gitu." Sebelum Clara merogoh benda persegi nya, tiba-tiba Arletta memekik keras.


"Jangan Kak!!"


"Aku kan ngga mau pulang."


"Trus ngapain disini?" Sela, Clara bertanya dengan dahi yang berkerut.

__ADS_1


"Mbak, Clara... Udah hampir jam satu." Tiba-tiba Divon menimpali, memberi tahu tentang waktu. Clara menepuk dahinya pelan, seakan kembali ingat dengan tujuannya.


"Astaga sampai lupa! Makasih Div, udah ngingetin."


"Green? Ehh maksudku Divon... Kau disini???" Arletta mulai berdiri, memandang ke aroma green yang tercium di indranya.


"Iya. Aku menemani mbak Clara buat menemui klien." Divon, menjelaskan yang mendapat anggukan kepala dari Arletta.


"Kakak gak ada waktu banyak, dek! Kamu naik taksi ya buat pu--"


"Aku bilang aku ngga mau pulang!" Arletta membantah cepat, dengan nada ketus. Clara lagi-lagi menghembuskan nafasnya, seolah memaksanya untuk berfikir.


"Aku ingin ikut kalian."


"Ha! Maksudmu, Letta?" Clara memekik sangking terkejutnya, begitu juga dengan Divon. Ia justru menatap aneh Arletta.


"Iya kak. Aku ngga mau pulang, aku juga bosan kalau nunggu disini trus, jadi aku ikut kalian aja ya?"


"Ya? Ya... Ya... Yaa? Boleh ya, kak," Sambung, Arletta dengan wajah seakan memelas. Divon semakin mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud ucapan Arletta. Ikut katanya?


Apa gadis itu waras?


Berbeda dengan Clara, justru dia menatap bimbang, meski ada keraguan tapi apa boleh buat. Keadaan yang membuatnya, terpaksa harus menyetujui permintaan Arletta.


"Ya udah, kamu boleh ikut, dek."


"Serius mbak?" Divon bertanya, seakan tidak percaya dengan keputusan Clara.


Membawa Arletta untuk menemui klien?


Apa ia tidak salah dengar?


"Iya, Div. Mau gimana lagi, aku gak bisa membiarkan Arletta disini tanpa pengawasan. Aku takut, dia kenapa-kenapa, makanya aku ajak aja." Divon hanya mengangguk, tanpa membantah sedikit pun. Rasanya, percuma saja kalau membantah hanya akan memakan waktu.


"Oh iya, Div!"


"Ha! Iya, mbak?"


"Nanti kamu bantu, Letta ya. Awasi dan tetap berada disampingnya. Aku gak masalah sendiri. Tolong jaga dia, saat aku sama klien nanti," Ujar, Clara dengan nada penuh permohonan. Divon ingin bersuara tentang pendapatnya, tapi suara Arletta mengejutkannya.


"Yeyy...." Arletta berseru kegirangan.


"Divon! Berikan lenganmu!"


"Ha? Maksud-"


"Begini lho, Div, maksud Arletta."


Divon terkejut, saat lengan kirinya ditarik Clara agar bisa Arletta raih. Berhasil, Arletta mengalungkan lengan kanannya ke lengan kiri Divon.


"Kau harus menuntunku, Div. Ayo kak, jalan!" Saat itu Divon tersadar, ia hanya pasrah, membiarkan lengan kirinya ditenggeri oleh lengan kanan Arletta.


"Divon! Ayo jalan, nanti kita telat!"


"Ha! Ahh... iya mbak."


**********

__ADS_1


__ADS_2