BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Penggerebekan


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak like, vote dan komentar ya 👍


************


[ B. G. L. S ]


************


Divon mengerjapkan kelopak matanya, sinar terang dari ruangan membuatnya sedikit silau namun memaksa untuk terbuka. Perlahan pasti Divon menyesuaikan cahaya yang ada, kesadarannya telah kembali dan membuat kepalanya berdenyut nyeri.


"Akhirnya kau sudah sadar," ujar Justin bernafas lega. Sudah sekitar hampir 2 jam ia bolak balik hanya untuk melihat kondisi Divon.


Divon mencoba bangun, tapi instruksi Justin membuatnya diam sesaat.


"Jangan banyak bergerak! Tubuhmu masih belum pulih total, lebih baik istirahat." Divon menurut, namun seketika bayangan Arletta terlintas di otaknya.


"Arletta..." Lirihnya pelan.


"Arletta?" Divon melirik kearah Justin, sedangkan Justin menatap penasaran tentang nama yang barusan Divon sebut.


"Aku harus pergi."


"Tapi kau masih belum sembuh!"


"Aku gak peduli, aku harus mencari Arletta," bantah Divon cepat. Ia kembali bangun, lalu melepaskan infus ditangannya dan berdiri dari ranjang.


"Siapa Arletta? Apa dia pacarmu?" tanya Justin masih penasaran.


"Dia diculik, tolong bantu aku menemukannya..." Divon memohon dengan raut wajah sendu.


"Diculik? Kau yakin? Kenapa gak telfon polisi saja."


"Gak ada waktu! Jam berapa sekarang?"


"Aku rasa masih jam 8," jawab Justin melihat kembali jam di pergelangan tangan kirinya.


"Ya jam delapan," sambungnya yakin.


Divon berjalan kearahnya, sedangkan Justin mencoba membantu untuk menuntunnya.


"Kau yakin? kalau dia emang diculik, aku akan membantumu. Aku lapor polisi secepat mungkin, agar polisi yang menemukan pacarmu itu." Divon menatap Justin, lalu mengangguk setuju atas usulan Dokter muda tersebut.


"Telfon polisi, penculikannya sekitar siang tadi. Semoga dia baik-baik aja. Aku harus pergi sekarang." Divon jalan melewati Justin, sampai akhirnya ia membuka pintu, tapi lagi-lagi Justin bersuara dan menghampirinya.


"Aku akan membantumu," ujar Justin penuh keyakinan.


"Antarkan aku ke kantor polisi terdekat."


"Baiklah, ayo aku antar." Divon mengangguk kembali melangkah yang diikuti Justin dibelakangnya.


Sementara itu di Rumah Grey.


Grey buru-buru memakai kembali kemejanya, meski tidak terlalu benar dikancingi asal tubuhnya tertutup oleh kain. Baru saja, anak buahnya melaporkan kalau plat nomor mobil dari kawanan yang membawa Arletta berhasil dilacak polisi, dan beberapa anak buahnya tertangkap. Grey tidak punya waktu, bahkan ayahnya tidak mengabari tentang tiket ke Prancis malam ini.


Sial dia kehabisan waktu untuk kabur.

__ADS_1


"Brengsek kamu Grey!"


"Aku bersumpah akan membunuhmu suatu saat nanti!"


"Keparat Bajingannnnn Kamu Greylon!!!"


Arletta trus berteriak sambil memegangi bajunya yang mungkin sedikit terkoyak hasil perilaku bejat yang dilakukan Greylon, meski tidak sampai berhasil memperkosanya karna dering terlfon, tapi laki-laki itu sudah meninggalkan beberapa bekas di tubuhnya.


"Diamlah Letta!" bentak Grey penuh emosi. Ia kehilangan akal bahkan cara untuk mengatasi situasi sekarang.


Tok Tok Tok...


"Apa ada orang didalam?"


"Buka pintunya sekarang juga, atau kami dobrak!" Grey melotot, suara berat yang ia ketahui pasti dari kepolisian, membuat nyalinya seakan menciut. Rasa gugup dan panik bercampur jadi satu.


"AKU DISINI!"


"TOLONG AKU! AKU DISINI!"


"DIAM!" Grey kembali membentak Arletta yang trus berteriak diselingi isakkan kecilnya.


"Segera keluar, atau kami akan benar-benar mendobrak pintu ini." Suara instruksi dari salah satu polisi kembali terdengar.


"Sial aku harus kabur dari sini." Grey berguman dengan geraman kesal. Ia menatap sekilas kearah Arletta yang merintih memegangi tangannya, terdapat beberapa luka memar ya itu karna ulahnya.


"Dobrak saja."


Setelah mendapat anggukan setuju, polisi yang diketahui bernama Gunawan tersebut mundur, mencoba untuk berancang-ancang mendobrak pintu yang kini terkunci rapat.


"Pak Hans? Kenapa ada di rumah putraku?" tanya Tn. Edo mencoba mengalihkan topik sesantai mungkin.


"Anda tidak perlu berpura-pura didepan saya Pak Edo! Grey, dia yang sudah menculik Arletta!"


"Apa? Grey menculik Arletta?" pekik Tn. Edo begitu terkejut.


"Apa anda keluarga dari saudara Greylon?" tanya Polisi Gunawan.


"Ya, saya ayahnya Greylon. Ada apa ini pak? Sepertinya anda salah paham," balas Tn. Edo, dengan wajah yang terlihat bingung.


"Jangan mengelak Pak Edo!"


"Pak Hans! Anda sudah salah paham. Grey tidak mungkin menculik Arletta," bantah Tn. Edo, membuat Tn. Hans menatap tajam seolah ucapan mantan besannya itu omong kosong.


"Saya tidak percaya. Anak buah dari Greylon yang mengakuinya sendiri," tungkas Tn. Hans penuh penegasan.


"Maaf, saya harus memeriksa didalam untuk memastikan saudara Greylon apa ada didalam rumah ini bersama dengan putri dari Pak Hans." Tn. Edo diam, seolah tidak punya kekuatan lagi untuk mengelak, lalu mengangguk mempersilahkan polisi melanjutkan tugasnya.


"Tolong anda buka pintunya lebih dulu," ujar Polisi Gunawan membuat Tn. Edo paham lalu membuka pintu rumah tersebut.


Ceklek...


"Ayo masuk, cari disetiap sudut ruangan."


"Baik." Dua orang polisi yang pangkatnya lebih rendah dari Polisi Gunawan mengangguk patuh, lalu berpencar ke segala arah.

__ADS_1


"Pak Gunawan, tolong cari putri saya. Dia pasti ada disini," ujar Tn. Hans begitu cemas.


"Baik Pak Hans, saya akan mencari putri anda." Pak Gunawan melangkah untuk pergi ke arah barat, sedangkan Tn. Hans menatap tajam kearah Tn. Edo yang masih berdiri di sebelahnya.


"Kalau sampai Arletta terluka, aku akan tuntut Grey dan aku pastikan perusahaanmu hancur Edo!" Nada Tn. Hans begitu tegas dan menukik memberi peringatan yang sangat jelas.


Brakkk...


"Tolong Aku...." Arletta berdiri karna suara keras mengusik pendengarannya. Aroma Grey sudah tidak ada, sepertinya laki-laki itu berhasil kabur.


"Ternyata kamu disini."


"Dia disini, aku menemukannya." Teriakkan lantang Polisi Hendri membuat Tn. Hans terkejut, lalu berlari pergi keasal suara.


"Arletta...."


"Papa...." Arletta menjatuhkan bulir air matanya lagi, seolah doanya telah di kabulkan. Ia meraba-raba kedepan, tiba-tiba ayahnya datang dan langsung memeluknya.


"Putriku... maaffin papa, Letta. Akhirnya papa menemukanmu, setelah Pak Gio memberi tahu kalau kamu diculik. Papa Khawatir, Letta..."


Srtt...


Tn. Hans melepaskan pelukannya, lalu merapikan beberapa helaian rambut Arletta diwajah anak gadisnya itu. Hatinya seolah tersayat ketika melihat kondisi Arletta saat ini. Baju putrinya terdapat banyak robekkan, dan beberapa luka memar di tangan putrinya.


"Ada apa denganmu? Tanganmu? Siapa yang melakukan ini, Letta? Beritahu papa, siapa orangnya?" tanya ayahnya dengan begitu cemasnya.


"Greylon Pa."


Seolah benar dugaannya, Tn. Hans menatap tajam, lalu kembali memeluk tubuh putrinya.


"Papa akan temukan dia. Kamu jangan khawatir, papa akan pastikan dia mendekam di penjara, Nak." Arletta hanya mengangguk. Kebungkamannya, semakin membuat hati Tn. Hans teriris. Putri semata wayangnya itu harus mengalami pelecehan seperti ini.


Tn. Hans melepaskan lagi pelukannya, lalu menuntun Arletta untuk keluar dari kamar.


Setelah sampai di ruang tamu, Tn. Hans masih melihat Tn. Edo yang berdiri menatapnya.


"Tangkap dia pak! Putranya itu pasti melarikan diri, jadi saya minta tangkap Pak Edo, bagaimanapun dia harus menanggung perbuatan anaknya itu."


"Pak Hans! Apa yang anda bicarakan?" Tn. Edo sangat terkejut, lalu mencoba pergi, tapi naasnya dua polisi berada dibelakangnya dan mencekal tangan laki-laki paruh baya tersebut.


"Anda ditangkap karna tuduhan anak anda yang sudah menculik dan melakukan tindakan pelecehan terhadap saudari Arletta."


"Silahkan jelaskan saja nanti dikantor." Sebuah borgol berhasil tertengger di kedua tangan Tn. Edo, sedangkan tersangka tidak terima dan berusaha memberontak dengan memberi pembelaan diri.


"Ini salah paham Pak! Saya jelas tidak bersalah, dan saya tidak ada kaitannya dengan apa yang dilakukan anak saya."


"Pak Hans! Anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini!"


"Putramu itu hampir mencelakakan putriku Pak Edo!" ujar Tn. Hans membentak keras, seolah sebagai seorang ayah tidak terima atas perilaku yang didapat putrinya itu.


"Papa aku ingin Grey mendekam di penjara kalau perlu buat dia mendapatkan ganjarannya, Pa..."


"Tenang, Nak. Papa gak akan tinggal diam, Grey akan mendapat balasan yang setimpal atas perilakunya itu."


************

__ADS_1


__ADS_2