BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Usaha Arletta


__ADS_3

Happy Reading tinggalkan jejak like dan komentar 👍


************


[ B. G. L. S. ]


************


Malam hari telah tiba, saat ini Grey melepaskan ikat pinggangnya. Lengan kemejanya ia gulung sampai siku, lalu membuka dua kancing atas kemejanya. Grey mengambil gelas berisi minuman yang pastinya sudah dicampurkan obat sesuai rencananya. Ia mengamati lekat gelas itu dan sebuah smirk terukir dibibirnya.


"Sebentar lagi Letta..." Gumannya penuh ambisi.


Arletta mulai membuka kelopak matanya, kepalanya masih berdenyut pusing. Ia meraba disampingnya, mencoba mencari sesuatu didekatnya. Arletta bangun dengan tangan kanan memegangi kepalanya.


"Divon..." Panggilnya begitu lirih.


Mendengar suara Arletta membuat Grey membalikkan badannya, tapi masih dengan senyum licik yang masih terukir.


"Putri tidur udah bangun ternyata." Arletta terkejut, suara khas dengan aroma yang sangat ia kenali bercampur dalam satu ruangan.


"Grey!"


"Ya! Ini aku, mantan tunanganmu Letta." Grey melangkah mendekat dengan tangan kanan yang masih memegang gelas tersebut.


"Minumlah ini," ujar Grey memerintah.


Arletta mencoba berdiri dari ranjang, tangannya meraba-raba kedepan. Kosong, ia tidak mendapatkan apapun.


"Dimana tongkatku?"


"Divon! Dimana dia?"


Grey tersenyum miring, "Dia tidak ada disini."


"Mau apa lagi kamu? Pergi dari kehidupanku, Grey! Jangan pernah menganggu ku, apa kamu gak puas ha!" Arletta membentak dengan suara kerasnya, meski diselingi tangan yang bergetar, tapi ia tetap memandang ke depan seolah benar-benar meneriaki Grey.


"Berhenti berteriak! Takdirmu itu bersamaku Letta. Lebih baik nurut dan nikmati malam ini bersamaku. Aku bahkan gak malu kalau harus tidur dengan wanita buta sepertimu, jadi jangan membantahku." Grey semakin mendekat, namun kaki Arletta mencoba mundur, tapi naasnya ranjang itu membuat tubuhnya kembali jatuh.


"JANGAN MENDEKAT!"


Srrttt


Grey langsung mengcekram kuat pipi Arletta, membuat gadis itu merontah karna merasa pipinya di tekan kuat.


"Mhhh... Lepaa-sss!!!"


"DIAM!" Grey berteriak keras. Laki-laki itu bahkan kini berusaha membuka mulut Arletta, tapi sekuat tenaga Arletta menggeleng agar cekalan di pipinya terlepas.


"DIAM DAN MINUM INI!"


"Atau... Aku akan bersikap kasar sama kamu Letta!" gertak Grey penuh penegasan.

__ADS_1


"Uhukk... Uhukk...." Arletta terbatuk saat berhasil Grey meminumkan minuman tersebut. Grey kini menjauh, matanya beralih kearah laci.


"Brengsek! Apa yang kamu berikan padaku Grey!" Arletta berteriak lagi. Ia kini mengelap kasar sudut bibirnya yang basah. Arletta mencoba kembali berdiri, ia menajamkan penciuman serta pendengarannya. Grey berada di sebelah kanan, Arletta melangkah dengan tangan yang meraba-raba kedepan.


"Jangan coba kabur dariku Letta, itu gak akan berhasil. Lebih baik diam dan menurut, kalau bukan demi Giselle aku gak sudi harus menidurimu." Arletta tidak memperdulikan ucapan Grey, ia trus jalan sampai kakinya menyentuh sebuah meja.


"Kamu tau Letta, saat kamu dinyatakan buta aku langsung hilang selera denganmu. Kamu benar, aku mencari wanita lain yang lebih cantik dan pastinya gak buta sepertimu." Grey berhasil mengambil tali didalam laci, ia kini berbalik lalu menghampiri Arletta yang sudah berdiri di sudut pojok.


"BERHENTI!" Suara langkah kaki membuat Arletta berteriak sangat keras.


"Jangan membuatku marah Letta. Diam dan ikuti saja permainan ku malam ini, agar semuanya cepat sele-"


"Dalam mimpimu brengsek!" Maki Arletta, justru semakin membuat Grey melangkah mendekatinya.


Srrtt...


"AKU BILANG BERHENTI! KALAU GAK, AKU AKAN LEMPAR INI GREY!" Grey menghentikan langkahnya, saat ditangan kanan Arletta sudah terpegang sebuah lampu tidur yang sebelumnya ada diatas meja laci.


"Kamu mengancamku, Letta? Apa kamu pikir aku akan takut? Hahahahhahaahahah...." ujar Grey dengan diiringi tawa kerasnya.


"Berhenti bermain-main Letta, orang buta sepertimu gak akan mungkin bisa melempar lampu itu tepat kearahku." Grey kembali melangkah, tapi Arletta semakin menajamkan pendengarannya. Suara derap kaki kian mendekat ditambah aroma parfum yang kuat. Arletta menengok tepat kearah Grey melangkah.


"Taruh saja lampu itu dan menurut padaku."


"Jadilah gadis yang baik malam ini. Aku janji gak akan kasar padamu nanti."


"Jadi.... Taruh saja lampu itu, karna gak berar-"


Pyarrr...


"Awwwhhh keparatt!" Grey berteriak sangat keras. Lampu yang Arletta lempar, ternyata tepat sasaran dan mengenai kepala sekaligus mata sebelah kanannya.


"Dasar ******! Kauu aarrghhh...." pekik Grey dengan makian geramnya. Ia merintih memegangi kepala dengan tubuh yang sudah terjatuh di lantai, tapi masih dalam kondisi sadar.


"Jangan meremehkan orang buta sepertiku, Grey!" Arletta mencoba jalan dengan meraba-raba kedepan ditangannya ia selipkan gunting, yang ia dapat diatas meja tadi.


"Jangan kamu pikir, kamu akan lolos."


"Arrwwhhh brengsekk!!!" Grey berteriak lagi, saat Arletta menginjak telapak tangannya dilantai. Injakan yang semula biasa, kini menjadi semakin kuat.


"Kamu pikir aku takut, Grey?" Suara Arletta memelan dengan nada dinginnya.


"Aaaaghhhh Hentikan!!!!!" Tepat teriakkan terakhir, Grey membulatkan matanya saat tangan kanan Arletta yang memegang gunting hampir saja mengenai bola matanya.


Arletta membungkuk tapi kakinya masih setia menginjak kuat telapak tangan Grey, saat tangan kiri Grey hendak mendorong tubuh Arletta saat itu juga gunting lancip yang sangat tajam semakin mendekat kearah matanya. Grey kesulitan melihat, lemparan lampu tadi membuat pinggir matanya robek dan lecet.


"Seharusnya orang brengsek sepertimu harus mati, agar hidupku tenang bukan begitu Greylon?" Smirk Arletta terukir disudut bibirnya. Matanya seolah memancarkan api amarah yang kapan saja membakar dan menghanguskan sosok laki-laki didepannya saat ini.


Arletta melepaskan injakkan kakinya, ia lanjut melangkah pelan-pelan mencoba mencari sesuatu. Fikirannya sekarang adalah mencari gagang pintu, tapi kebutaannya menghalangi segalanya. Arletta bahkan tidak mengenali tempat apa ini, membuatnya tidak tahu betul letak beberapa sudut diruang ini.


"Aku gak akan biarin kamu lolos," guman Grey yang berusaha berdiri, meski tangannya merasakan luar biasa nyeri.

__ADS_1


Srrkkk...


Berhasil, sekali tangkap Grey memeluk tubuh Arletta dari belakang, membuat langkah gadis itu terhenti dan sekarang memberontak keras.


"Lepaskan Aku Grey!"


"Kamu pikir, kamu bisa lolos gitu aja? Gak Letta! Kamu milikku. Ayo! Aku akan beri kamu pelajaran, berani sekali orang buta sepertimu membuatku terluka." Grey langsung menarik tubuh Arletta untuk mengikuti langkahnya yang kembali kebelakang, sedangkan Arletta trus memberontak.


"LEPASKAN AKU GREY!"


"LEPAS BRENGSEK!!!"


Brugh...


Arletta didorong dengan sangat keras sampai mengenai dinding ranjang. Gadis itu merintih merasakan punggungnya terasa nyeri.


Di Rumah Sakit.


Divon kini tengah terbaring di ranjang ICU, kepalanya sudah diperban. Dr. Ragil menyatakan ada benturan keras di kepala bagian belakangnya, untung saja tidak sampai gagar otak. Justin sedang memeriksa kondisi Divon atas suruhan dari Dr. Ragil, karna sang Dokter sedang mengurusi pasien yang lain. Ada jadwal operasi bedah, membuat Justin yang ditugaskan untuk memeriksa kondisi Divon paska 1 jam yang lalu dipindahkan ke ICU.


"Justin, dia baik-baik saja kan, Nak?" tanya Ny. Siqia. Sang ibu masih setia berada di rumah sakit. Rasa khawatir membuat jiwa keibuannya keluar, rasanya Ny. Siqia tidak tega melihat kondisi Divon.


"Dia baik-baik saja, Bu. Oh iya, apa ibu udah hubungi keluarganya?"


"Ibu hampir lupa! Ibu gak tau Justin. Keluarga anak itu, ibu benar-benar gak tau," balas Ny. Siqia menjelaskan. Nadanya sedih, seakan tidak bisa membantu putranya tersebut.


"Di KTPnya juga alamatnya bukan di Jakarta. Ibu pulang aja, bukannya tadi ibu abis belanja, biar dia disini untuk sementara waktu. Ada aku, ibu gak perlu khawatir." Justin tersenyum memberi pelukan hangat di bahu kanan sang ibu, lalu menuntun keluar dari ruangan.


Sampai diluar Justin melepaskan pelukannya.


"Ibu pulang aja, dia disini biar aku yang jaga," ujarnya lagi.


"Kalau ada kabar tentang dia, kamu kabarin ibu ya, Jus?" Justin mengangguk.


"Iya ibu, kalau dia sadar aku beritau ibu." Ny. Siqia tersenyum hangat mengelus pundak kanan putranya dan mengangguk.


Sedangkan di Bandara Soekarno-Hatta.


"Apa? Arletta diculik Pak?"


"Be-benar tuan besar, orang itu membawa Non Arletta pergi. Maafkan saya, tuan besar, saya tidak bisa melindungi Non Arletta..." Pak Gio mengadu sedikit merintih memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Baik Pak Gio, saya akan pulang."


Panggilan Terputus.


"Pak Gio apa Non Arletta baik-baik saja?" tanya, pelayan bernaman Mira.


"Gak tau, Mir. Semoga Non Arletta baik-baik saja..." lirih Pak Gio yang masih menahan rasa nyeri saat perutnya di obati oleh Mira.


************

__ADS_1


__ADS_2