BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Pahlawan Untuk Arletta


__ADS_3

Sebelumnya terimakasih karna sudah meluangkan waktu membaca. Tinggalkan jejak dan beri komentar ya.


************


[ B. G. L. S ]


************


Keesokan harinya tepat sudah hampir 10x, Arletta mengunjungi kantor. Arletta masuk tanpa pengawalan pengawalnya, Pak Gio. Ia sudah memasuki lobi kantor, tangan kanannya yang memegang tongkat mencari-cari arah agar memudahkannya untuk berjalan. Disisi lain, tiba-tiba seseorang lagi-lagi menabraknya. Sudah terhitung 5x Arletta mengalami hal serupa.


Brakk...


Arletta terjatuh dengan tongkatnya yang terlempar ke sembarang arah.


"Awwhhh, sakit...." Rintihnya, dengan memegangi lutut kanannya yang sudah diperban.


"Kenapa lagi-lagi aku jatuh si..." Arletta, merengut kesal. Bekas luka memar kemarin di lutut dan tangannya kembali menimbulkan rasa nyeri.


"Udah tau buta, tapi sok jalan sendiri. Rasain! Lain kali, mending diam dirumah ngapain repot-repot datang kesini, nyusahin aja!" Ujar, Jihan, cewek dengan setelan lengkap blazer hitam dan dipadukan high heels tinggi.


"Jihan! Mending ambil tongkatnya, buang kalau bisa, biar dia ngga bisa jalan," Usul, Melody, Teman sekantornya.


"Bener juga. Good Job, Mel," Balas, Jihan dengan memberikan satu jempol kanannya kearah Melody.


Akhirnya mereka toss, sebagai tanda setuju, lalu Jihan melangkah mendekati tongkat Arletta yang tergeletak didekat tong sampah. Jihan mengambil, dan menekuk tongkat panjang tersebut lalu ia buang kedalam tong sampah.


Buru-buru Jihan menghampiri Arletta kembali, tapi kali ini ia memancarkan wajah kasihan serta tatapan iba.


"Ya ampunn... Arletta! Maaf ya, Aku gak sengaja," Ujar, Jihan dengan nada panik.


Melody ikut menimpali. Ia mencoba membuat raut wajah yang serupa dengan Jihan.


"Arletta! Ayo, aku bantu."


"Ngaa Perlu!" Tolak, Arletta membantah dengan tegas. Jihan maupun Melody menatapnya bingung.


"Aku Ngga Butuh Bantuanmu!" Arletta, berseru penuh penegasan.


Jihan dan Melody hanya mencibir kesal, sedangkan Arletta mulai meraba-raba lantai. Tangannya merayap ke semua arah, Kosong? Ia kebingungan, tapi Jihan justru menatapnya remeh.


"Rasain, salah sendiri bikin onar."


Suara Jihan didalam hati.


"Dimana tongkatku?" Tanya, Arletta menegakkan tubuhnya.


Jihan terkekeh karna Arletta justru menatap objek kosong. Ayolah, ia berdiri di samping bukan dibelakangnya.


"Aku disini, bukan dibelakang!" Jihan berseru memberi tahu. Arletta buru-buru memutar badannya sehingga benar-benar menghadap kearah Jihan. Sebelum Jihan bicara, suara seseorang datang untuk menolongnya.


"Astaga! Sini aku bantu," Ujar, cewek yang berkalung name tag Siska.


Arletta menerima uluran tangan itu, karna ia mencium aroma parfum yang berbeda. Bau parfum jeruk, yang membuatnya yakin jika pemilik parfum itu bukan orang jahat.


Arletta berhasil berdiri. Ia memegang kuat pergelangan tangan kanan Siska.


"Tolong, carikan tongkatku."


"Baiklah... Tapi, aku tidak melihat tongkatmu." Ujar, Siska kebingungan. Ia mencoba melihat ke sekeliling tempat dan itu kosong.


"Ngga mungkin! Pasti ada tongkatku," Arletta kembali berseru, membantah ucapan Siska yang tidak masuk akal.


Siska mencoba melepaskan tangan kanan Arletta, ia berjalan untuk mencari tongkat tersebut, tapi tetap nihil. Siska kembali menghampiri Arletta.


"Tetap tidak ada. Pasti kau lupa menaruhnya."


Arletta melotot tak percaya. Ia berjalan dengan kedua tangan yang meraih-raih objek didepannya. Ia berdiri tepat di depan Jihan. Aroma avocado tercium jelas dari hidungnya. Itu adalah parfum Jihan, dengan sekali tarik Arletta tepat mengenai sasaran.


"Aawwhhhhh! Apa yang kau lakukan?" Jerit, Jihan saat rambutnya ditarik kuat oleh Arletta. Bersyukur Tuhan memberikannya bentuk tubuh yang profesional. Tinggi 169cm, membuat Arletta dengan mudah menggapai apapun.


"Berikan tongkat ku! Aku yakin, kau yang sudah membuangnya. Berikan, atau aku tarik sampai rambutmu rontok. BERIKAN !!!"

__ADS_1


Dan terjadi lagi, beberapa orang berdatangan. Melody terkejut, begitu juga dengan Siska. Bisik-bisik dari banyak orang mulai kembali terdengar.


************


[ B. G. L. S ]


************


"Makasih, Div," Ujar, Selia tersenyum manis. Divon membalasnya dengan mengangguk.


"Sama-sama mbak, Selia."


Divon kembali melanjutkan langkahnya setelah berhasil mengantarkan segelas jeruk hangat ke kepala HRD tersebut.


"Tunggu, Div!" Panggil, Selia dengan berseru. Divon membalikkan badannya.


"Ada apa mbak? Apa mbak butuh sesuatu? Atau minumannya-"


"Bukan itu, Div." Selia berfikir, menimbang kembali keputusannya, sebelum akhirnya kembali bicara.


"Antarkan, dokumen ini ke meja mbak Clara. Aku habis ini harus mewawancara pegawai magang. Antarkan ya, minta dia untuk menandatangani."


Divon berjalan mendekat ke arah tangan kanan Selia yang terulur. Ada berkas dokumen, lalu ia mengambilnya sangat hati-hati.



"Baik, mbak." Jawab, Divon. Selia hanya mengangguk mempersilahkan Divon untuk segera pergi.


"Hari ini benar-benar membuatku kewalahan. Banyak sekali yang ingin mengajukan magang disini. Awalnya 20 sekarang udah 40. Berapa yang harus aku pilih nanti?"


Divon menghentikan langkahnya, ia melirik lagi kebelakang. HRDnya itu sedang berbicara sendiri dengan suara yang terdengar lirih.


"Pilih seperlunya aja mbak. kalau terlalu banyak nanti sulit dikoordinasi. Hmm... aku rasa 10 orang sudah lebih dari cukup, mereka bisa di taruh dibeberapa tempat," Ujar, Divon menyuarakan pendapatnya. Selia menatap dengan wajah berbinar.


"Luar biasa, Div. Saranmu memang yang terbaik."


"Terimakasih, mbak."


"Seharusnya, kau bisa jadi pegawai disini. Kontrak juga gak masalah, meski kau lulusan SMA tapi kinerja mu sangat bagus. Aku akan merekomendasikan mu ke mbak Clara."


"Saya sudah nyaman kerja sebagai OB. Terimakasih mbak atas pujiannya. Saya permisi keluar dulu," Lanjut, Divon dengan senyuman diakhir kalimat.


Divon melangkah ke sepanjang koridor kantor. Beberapa orang trus berjalan dengan berbisik-bisik.


"Aku gak nyangka, dia ribut lagi."


"Kita keruangan Bu Clara, kasih tau."


"Sepupu nya, Bu Clara itu anarkis ya. Hihhh serem, aku bayanginnya."


"Siapa namanya?"


"Arletta, Iya! Kalau gak salah itu namanya."


"Ya udah, ayoo."


Divon menatap kebelakang. Dua wanita barusan yang melewatinya itu sedang membicarakan sesuatu. Divon tidak sengaja mendengar pembicaraan dua wanita tersebut, tapi ia tidak begitu memikirkannya. Tiba-tiba suara teriakkan terdengar sangat nyaring.


"LEPASKAN AKU PAK GIO! AKU AKAN MENARIK RAMBUTNYA SAMPAI RONTOK!"


"Sudah, Non! Hentikan! Sebaiknya, kita pulang."


"Arrghhhhh!! Lepaskan tanganmu dariku. Dasar wanita gila!"


"Apa kau bilang? Berani sekali kau membuang tongkatku. Rasakan ini, Dasar Wanita Ular!" Teriak, Arletta semakin menguatkan tarikan tangannya di rambut Jihan. Wanita yang rambutnya ditarik itu berteriak sangat histeris.


"LEPASKAN TANGANMU! DASAR BUTA! KAU BENAR-BENAR--" Tangan kiri Jihan ikut menarik rambut Arletta dengan kencang, sedangkan tangan kanannya mulai berancang-ancang menampar Arletta, sayangnya hal itu ditahan oleh tangan kekar seseorang.


"Tolong jaga sikap anda, Mbak Jihan!" Ujar, Divon dengan nada tegas.


"Jangan ikut campur! Wanita buta ini yang mulai dulu. Suruh dia lepaskan tangannya dirambutku," Jihan, menyela berusaha membela diri.

__ADS_1


Arletta memusatkan pendengarannya ke sebelah kanan. Parfum beraroma green kembali tercium. Buru-buru ia memekik keras, berusaha memastikan.


"Green! Itukah kau?" Tanya, Arletta.


"Ya, Ini aku. Lepaskan tanganmu darinya," Pinta, Divon dengan nada halus. Arletta menggeleng cepat.


"Dia udah buang tongkatku-"


"Bohong!" Jihan, membantah cepat.


"Jangan menuduh ku sembarangan tanpa bukti!"


"Aku yakin kau yang udah buang tongkatku," Sela, Arletta tetap pada pendiriannya.


"Mana ada. Emang kau lihat sendiri ha? Kau aja gak bisa melihat, jadi jangan menuduh ku sembarangan, Mengerti!"


"APA KAU BILANG! DASARRR WANITA ULAR!!" Arletta kembali berteriak. Ucapan Jihan yang tanpa berpikir, membuatnya kembali emosi.


"Aku Bilang Hentikan! Ada banyak orang yang melihat. Lepaskan tanganmu! Aku ingin bicara denganmu," Ujar, Divon memotong pembicaraan. Arletta menengok kearahnya.


"Percaya padaku."


Suara halus serta tepukan lembut di pundaknya berhasil membuat Arletta melepaskan tarikan di rambut Jihan.


ssrtt...


"Awwhhh sakit...." Suara, Jihan setelah tarikan dirambutnya terlepas.


Tiba-tiba datang seorang anak kecil. Tangan mungil bocah yang berkisar umur 7 tahun itu menunjuk-nunjuk kearah Jihan. Semua orang menatapnya, tetapi tidak dengan Arletta.


"Kakak ini yang udah buang tongkatnya, kakak yang ini," Seru bocah laki-laki itu, lalu menunjuk kearah Arletta.


"Apa???"


"Hei anak kecil! Jangan asal bicara ya. Mana mungkin aku melakukannya."


Sepertinya Jihan masih tetap membela diri.


"Aku melihatnya sendiri. Kakak yang udah buang tongkat kakak ini, padahal kakak ini kasihan, tapi kakak malah membuangnya ke tong sampah yang disana," Ujar anak laki-laki tersebut, justru menunjuk kearah tong sampah dibagian dekat dengan pintu masuk lobi.


"Apa aku bilang kan. Wanita ini benar-benar ular! Aku akan-"


"Udah Hentikan!" Cegah, Divon menahan serangan tangan Arletta ke Jihan.


"Aku akan ambil tongkatmu dulu, kau tetap disini." Perintah, Divon dengan nada meyakinkan Arletta.


Divon menghampiri bocah laki-laki itu. Ia jongkok menyetarakan tinggi badannya, lalu mengusap kepala bocah laki-laki tersebut.


"Terimakasih."


"Siapa namamu?" Tanya, Divon dengan tersenyum.


"Namaku Jakson, Kak."


"Terimakasih, Jakson. Ini kakak punya permen buat kamu."


Divon memberikan sebungkus permen bermerek Kopiko dan permen Kiss. Semuanya berjumlah 5 butir permen. Jakson mengambil tanpa sisa.


"Wahh! Makasih kak." Jakson berseru kegirangan, lalu berlari keluar dengan disambut wanita yang memeluk tubuh kecil bocah laki-laki itu. Divon tersenyum, lalu berdiri dan melangkah ke tong sampah.


"Green???"


"Maaf, lama. Ini tongkatmu," Ujar, Divon dengan memberikan tongkat tersebut yang sudah memanjang ke tangan kanan Arletta.


"Terimakasih. Kau udah menolong ku lagi, Green-"


"Bukan Green, tapi Divon. Panggil aku Divon!" Sela, Divon membenarkan.


Arletta tertawa dengan senyum yang mengembang. Sangat manis, Divon tidak sadar tlah lama memperhatikan wajah Arletta.


************

__ADS_1


[ B. G. L. S ]


************


__ADS_2