
Happy Reading, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar π
************
[ B. G. L. S ]
************
"Andine! EL! mama cariin ternyata kalian ada disini."
"Mama......" Teriak, EL berseru senang. Ia menghampiri mamanya lalu memeluk perut wanita berbadan dua tersebut. Ny. Ratna tersenyum menyambut putra kecilnya.
"EL! Habis ini kita beli makan ya? Yaudah Ayo pulang," Ujar, Ny. Ratna mengelus lembut kepala putranya.
"Ma, dedek bayinya kapan lahir?" Tanya EL, tidak sabaran.
"Masih lama, EL. Mungkin 8 bulan lagi, sabar ya sayang," Tutur, Ny. Ratna mengulas senyumannya. EL menekuk kebawa sudut bibirnya, membuat wanita itu menatap bingung.
"Yahh... masih lama dong, Ma."
"Sabar, dek. Lagian gak mungkin mama langsung ngeluarin dedek bayinya disini," Celetuk, Andine menimpali.
"Siapa tau aja kan, Kak! Wleek...." EL, Justru membalas dengan menjulurkan lidahnya, diselingi nada mengejek.
Ny. Ratna hanya tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala melihat perilaku kedua anaknya itu. Ia mengalihkan pandangannya sampai bisa melihat Divon berdiri didekat Tn. Hans yang sangat ia kenali.
"Pak Hans!" Sapa wanita itu begitu ramah.
"Bu Ratna! Aku pikir siapa yang sakit, ternyata Bu Ratna?" Ny. Ratna menatap bingung, lalu setelah paham ia kembali tersenyum.
"Bukan, Pak Hans! Saya hanya mengecek kandungan, mereka sengaja ikut untuk menemani saya kesini," Ujar, Ny. Ratna memberi tahu.
"Ohh... Selamat atas kehamilannya, Bu Ratna." Pak Hans, Membalas dengan ikut tersenyum.
"Ma! Kak, Divon ikut pulang sama kita kan?" Sekarang, EL yang kembali bertanya. Ny. Ratna menatap putra kecilnya itu.
"Ya, Ma.... Biar Aku ada temennya." Rengek, EL dengan menarik pelan ujung baju di pinggang ibunya.
"EL! Kak Divon gak ikut sama kita. Dia kan harus kerja, bukan begitu, Div?"
"Kamu ada kerja kan hari ini?" Divon terkejut, Ibunya itu menatap kearahnya.
"I-iyaa, Bu. Aku masuk siang hari ini," Ujar, Divon membalas setengah gugup.
"Nah, kan. Ada Kak Andine, biar kamu ditemenin sama Kak Andine aja." EL, kembali menatap dengan kecewa.
"EL!" Panggil, Divon. EL tahu, lalu ia melihat kearah kakak laki-laki nya itu.
"Kapan-kapan, Kakak janji kalau libur kerja, Kakak akan ajak kamu main sepuasnya." Mata EL berbinar mendengar tuturan dari Divon.
"Janji, ya kak!"
"Janji!" Divon tersenyum mencoba membuat suasana bahagia untuk adiknya.
Sedangkan Arlettta hanya diam, sedari tadi ia diam-diam mendengarkan ucapan Divon, meski tidak bisa melihat interaksi keduanya. Arlettta yakin, Divon tipe orang yang penyayang.
"Pak Hans, kalau begitu saya pulang dulu, sekalian mau beli makan siang buat anak-anak." Ny. Ratna berujar.
"Iya, Bu Ratna. Salam untuk Pak Marcell." Wanita itu mengangguk, lalu menggandeng tangan kanan EL.
"Ayo Pulang."
"Bang, Div! Aku pulang dulu." Divon tersenyum membalas pamitan dari Andine.
Ny. Ratna beserta EL dan Andine sudah melangkah pergi, Divon hanya bisa menatap punggung mereka yang kian menjauh. Ada perasaan tidak rela melihat kepergian ibunya. Ia sangat merindukan ibunya, meski beberapa kali ketemu tapi ibunya jarang mengajaknya bicara. Ingin sekali Divon memeluk ibunya lalu mengucapkan kata selamat, tapi hal itu mustahil. Ia sadar kalau ibunya berubah sejak menikah dengan suami barunya.
Ny. Ratna jarang menemui Divon, meski sudah tau putra sulung dari Alm. Mantan suaminya dulu bekerja di sebuah perusahaan besar dan tinggal di kos kecil yang tak jauh dari kantor, tetap saja tidak membuat wanita itu iba dan meluangkan waktu untuk menemui putranya. Ny. Ratna kini, hanya fokus kepada keluarga dengan suami barunya termasuk anak-anak dari hasil pernikahannya dan juga anak dari suaminya itu. Pak Marcell Wiguna, laki-laki sukses yang kerja sebagai Manajer utama di sebuah Hotel memang memiliki anak sendiri sebelum menikah dengan ibunya Divon.
__ADS_1
"Papa..." Panggil, Arletta bersuara pelan.
"Iya, Letta? Kenapa?" Tn. Hans, bertanya dengan kebingungan.
"Aku ingin pergi ke kantor!"
"Kantor? Ngapain kesana? Kakakmu ada dikantor?" Arletta menggeleng, karna tidak tahu apakah Kakaknya, Clara itu ada di kantor.
Drrtt...
"Bentar, ya, Letta. Ada telfon," Ujar Tn. Hans, Arletta diam. Ayahnya itu merogoh saku jasnya, lalu menatap heran ke layar ponsel dengan menampilkan sebuah nama.
"Letta! Bos papa telfon lagi, bentar ya, kamu tunggu sini."
"Iya pa," Balas, Arletta mengangguk patuh. Buru-buru Tn. Hans melangkah ke arah Utara meninggalkan putrinya yang menatap kosong kedepan.
"Oh iya, Divon." Arletta, memekik pelan, ia baru sadar bahwa masih ada Divon disini.
Arletta membalikkan badannya, mencoba mencari arah yang tepat. Ia berjalan dengan bantuan tongkat serta tangan kiri yang meraba-raba kedepan, mencoba mencari objek apapun sekaligus keberadaan Divon.
"Divon! Kamu masih disini?" Arletta, bertanya dengan memanggil sedikit keras. Divon membuyarkan lamunannya, ia menoleh menatap ke arah Arletta yang berusaha mendekatinya.
"Iya, Aku disini," Ujarnya pelan. Arletta mengikuti suara itu dengan masih berjalan pelan-pelan.
"Ulurkan tanganmu," Titah, Arletta.
Divon paham, lalu ia menghampiri Arletta lebih dekat dan memegang tangan kiri gadis itu. " Iya, ini aku."
"Divon! Kamu nanti ke kantor?" Arletta, bertanya, seusai berhasil menggenggam tangan kanan Divon.
"Gak tau." Divon, membalas seadanya.
"Kenapa? Katamu tadi, kamu masuk siang?"
"Hmm.... Iya aku ke kantor, mungkin, sekaligus nganterin obat untuk Mbak Selia," Ujar, Divon memberi keputusan.
"Gak usah!" Tolak, Divon cepat. Ia kini menatap bingung kearah Arletta. Melihat ekspresi wajah gadis itu, mengingatkan kembali kejadian semalam. Ia baru ingat, soal penemuan Chip penyadap suara di punggung baju seragam kerjanya.
"Kenapa sii? A-aku kan pengen ke kantor, Div!" Arletta, merengek dengan nada sendu.
"Aku tau, kau kesana untuk menguntitku aja kan?" Alis Arletta terangkat, beberapa detik ia terkejut dengan ucapan Divon.
"Apasii.... G-gga aak--"
"Aku tau! Kau yang memasang penyadap suara di balik punggung bajuku kan," Potong, Divon menyela cepat, sedangkan Arletta menggeleng berusaha menangkis ucapan Divon.
"Pen-yadap?? Penyadap aa-pa?" Arletta membalas dengan sedikit gugup, dan tatapan biasa seolah ia tidak tahu apa-apa.
"Gak mungkin kalau Mbak Clara, pasti kau yang memasangnya. Sekarang jangan lakukan hal yang aneh, apalagi sampai menempelkan penyadap suara di bajuku. Jangan-jangan.... kau juga menempelkan banyak penyadap suara-"
"Iya! Iya, Iya! Aku yang udah nempelin, maaf... tapi aku cuman nempelin satu penyadap suara aja kok, gak lebih," Ujar, Arletta berterus terang.
"Ak-akuu pengen tau aja, apa yang setiap hari kamu lakuin, Div." Arletta melanjutkan, dengan nada lirih. Divon menghembuskan nafasnya, lalu mengacak rambut gadis itu.
Srtt...
"iihhh, Divon!!! Jangan rusakin rambutku, ya!" Teriak, Arletta kesal. Tangan kirinya, ia gunakan untuk menangkis tangan Divon, tapi hal itu malah memberi kesempatan Divon untuk mengerjainya. Divon sengaja menghindari saat, tanpa sengaja tangan Arletta menyentuh dan berusaha menangkis di rambutnya.
"Divonnn....."
"Hahahahhahaahahah...." Gelak tawa terdengar, Arletta justru bersungut kesal.
Awas aja kalau aku udah bisa liat, abis kamu Div sama aku.
Itulah isi hati Arletta. Ia hanya bisa bergumam dengan mendengus kesal, sedangkan Divon tidak begitu memperdulikan, dan trus tertawa.
Ini namanya kesenangan dalam penderitaan orang.
__ADS_1
************
Masih Di Rumah Sakit.
Justin kini duduk, di kursi kayu. Ia memandang heran kearah sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Cristy. 20 menit lalu, Cristy datang mengunjunginya, entah kebetulan atau apa padahal Justin tidak memberi tau jadwal ia masuk kerja dan ruangannya itu, tapi Cristy tetap bisa menghampirinya.
"Cris! Kenapa? Ada masalah lagi? Kamu sampai datang kesini, sebentar lagi aku harus menemani Dr. Miko ke Rumah Sakit Budi Rahayu. Ada pasien yang di pindahkan hari ini disini, makanya aku gak bisa nemenin kamu lama-lama," Ujar, Justin menjelaskan.
"Justin! Aku datang kan pengen curhat sama kamu, iihhh!" Omel, Cristy dengan nada ketus. Justin menghembuskan nafasnya, mencoba menghadapi suasana hati dari sahabatnya.
"Iya, masih ada waktu ini. Mau cerita apa hm?" Tanyanya, dengan senyuman hangat.
Cristy menyedot Es Jus Jeruk, yang barusan ia pesan 10 menit lalu. Ia kini memang ada di kantin rumah sakit, setelah berhasil mengelilingi koridor luas dari rumah sakit, dan menemukan Justin yang tengah berbincang dengan beberapa perawat, baru ia membawa laki-laki itu ke kantin. Cristy butuh menenangkan pikiran, setelah tadi ada yang membuat suasana hatinya kacau.
Justin masih diam, dan setia menunggu Cristy untuk bercerita.
"Aku kesel!"
"Kesel kenapa?"
"Itu, si wanita sok baik malah makin buat papa bahagia," Celetuk, Cristy dengan aksen sinisnya.
"Maksud mu?" Tanya, Justin bingung.
"Siapa lagi, kalau bukan Mama tiriku!" Justin diam mencoba membiarkan Cristy bercerita lebih lanjut.
"Masa ya, Tante Ratna hamil lagi! Kesel aku, Jus! Perhatian papa makin bertambah. Kenapa si, papa harus menikah dengan wanita itu, dan malah ngabai'in aku. Makanya aku males pulang ke rumah, apalagi harus ketemu sama wanita itu dan anaknya. Andine juga terlalu polos, bisa-bisanya nurut gitu aja, padahal cuman mama tiri."
"Cris!" Ujar, Justin sangat pelan. Cristy berhenti bicara, lalu menatap ke arah laki-laki didepannya.
Justin bingung, mendengar cerita Cristy sungguh membuatnya tidak habis pikir. Kenapa sabahatnya itu sangat membenci istri baru sekaligus mama tirinya. Justin memang slalu rutin, mendengarkan segala keluh kesah Cristy, meski saat di Inggris, ia juga tidak pernah absen untuk membalas pesan Email yang sahabatnya kirim. Kebanyakan berisi curhatan, keseharian dan hal-hal yang menjadi kesenangannya. Berteman sejak lama, semakin membuat Justin memahami Cristy. Gadis itu sangat tempramental.
"Kenapa, sepertinya kamu benci banget sama mamamu?"
"Bukan Mama, Jus!" Sela, Cristy dengan tegas.
"Tapi dia mamamu, Cris," Balas, Justin masih tenang.
"Aku gak pernah nganggap dia mamaku. Mamaku cuman satu, kamu paham kan! Aku gak pengen, papa makin lengket sama wanita itu apalagi bakal ada anak baru dari wanita itu. Iiihhh aku-"
"Cristy, Dengarkan aku!" Justin terpaksa memotong cepat.
"Kenapa kamu jadi marah sama aku, Jus?" Sekarang, Cristy bertanya bingung.
"Aku gak marah! Tapi dengerin, kata-kata ku dulu, Cris! Bisa?" Cristy diam lalu mengangguk tanpa merespon sekatapun.
"Aku tau punya mama tiri itu gak enak, tapi gak semua mama tiri itu jahat, atau yang ada dalam pikiranmu, Cris. Cobalah untuk menerima Tante Ratna, bagaimana pun dia adalah mamamu, meski hanya mama tiri. Selagi dia gak nyakitin kamu, dan perhatian sama kamu, untuk apa kamu sampai membencinya. Tante Ratna mamamu, Cris!" Justin, berujar menjelaskan. Nada bicaranya stabil, berusaha memberi keyakinan pada Cristy.
"Gak, Jus! Sampai kapanpun, aku gak bisa nganggap wanita itu adalah mamaku. Dia gak bisa gantiin posisi mama, Jus! Kenapa sii, kamu gak bisa paham sama aku? Sejak papa menikahi wanita itu, papaku berubah. Bahkan setelah aku pulang dari New York, papa gak kayak dulu lagi. Aku merasa, kasih sayang papa terbagi, Jus! aa-kk akuu..." Cristy menghentikan ucapannya. Justin diam, menatap wajah sahabatnya itu, yang kini menunduk.
Tiba-tiba bahu Cristy bergetar, Justin menatap bingung, lalu ia mendorong kursinya kebelakang. Justin kini menghampiri tempat duduk Cristy, ia sengaja duduk berjongkok didepan Cristy.
"Cris, maaf..." Lirihnya, pelan.
Brugh...
Tanpa bicara, Cristy langsung memeluk tubuh Justin, ia menumpahkan segala tangisan dan beban yang selama ini ia pendam. Jujur, Cristy masih belum terima dengan nasibnya sekarang. Ia ingin ibunya kembali, tapi hal itu mustahil, karna ibunya sudah lama meninggal sejak umurnya 5 tahun.
Justin mulai mengusap lembut kepala Cristy, membiarkan gadis itu menumpahkan segala tangisan pada bahunya.
"Aku gak akan bisa menerima wanita itu beserta anaknya. Sampai kapanpun aku akan tetap membenci wanita itu!" Guman, Cristy dengan samar-samar.
************
Aku up ni, kasih vote dan komentar ya semoga suka part kali iniπ
__ADS_1