
************
[ B. G. L. S ]
************
Kita mulai dari Arletta Xavendra. Gadis umur 20 tahun, dengan blasteran Padang-Jawa itu adalah putri dari seorang pilot maskapai Garuda Indonesia. Dengan gaji ayahnya serta pangkat kedudukannya membuat Arletta terkenal ke berbagai kalangan Entertainer sekaligus para pebisnis besar. Menjadi satu-satunya anak semata wayang dengan hidup penuh kemewahan adalah sebuah anugerah semasa hidupnya.
Arletta di besarkan dengan penuh kasih sayang, meski ayahnya jarang sekali pulang bahkan bisa dihitung jari tidak membuat Arletta membenci ayahnya. Ia memahami kesibukan dari pekerjaan menjadi seorang pilot maka untuk itu Arletta sudah terbiasa ditemani beberapa pelayan, dan paling penting adalah Pak Gio.
Sosok Pak Gio sangat berarti dihidup Arletta. Laki-laki yang seumuran dengan ayahnya tersebut banyak mengajarkan, mendidik dan menjaganya sampai tumbuh menjadi gadis kuat seperti sekarang ini.
Masa lalu Arletta, membuat kenangan buruk itu berputar kembali seakan slalu datang dalam mimpi buruknya. Saat usianya masih 12 tahun dia menginjakkan kaki untuk menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemunculannya sebagai murid teladan membuat dirinya menjadi korban bully para teman sebaya bahkan kakak kelasnya.
"Hahahaha.... Ayo teman-teman coret semua buku pelajarannya. Buang dan sobek kalau bisa. Biar ini anak gak semakin ngelunjak, enak bener slalu jadi anak emas Bu Risma sok banget kan dia..."
"Dia juga cari muka sama Pak Bisma. Sikapnya itu lho yang sok manis buat aku jijik!"
Arletta kecil hanya bisa diam, ia ketakutan dan memilih menahan isakkannya. Mata bulatnya mengeluarkan cairan bening beberapa kali, saat semua buku pelajarannya baik buku tulis dan paket di sobek dengan begitu sadisnya.
"Aku rasa kalian jangan sobek semua bukunya. Gimana kalau dia ngadu, bisa gawat kita--"
"Dia gak berani ngadu. Dia kan penakut. Gayanya aja sok cantik banget gak suka aku hihhh..." Geli gadis kecil dengan rambut berkuncir kuda.
"Apalagi dia gak bakal berani ngadu ke guru, dan ayahnya yang katanya pilot, pilot itu hahahaha...."
"Pilot pesawat mainan si iya. Hahahaha......"
Arletta memang dikenal sebagai anak yang pendiam. Sikapnya yang ramah dan slalu memilih menyendiri untuk membaca buku membuatnya dikaruniahi otak yang cerdas. Sebab itulah, banyak teman-teman nya dulu yang tidak suka, bagi mereka sikap Arletta begitu naif, slalu mencari perhatian dan slalu ingin dipuji banyak orang termasuk menjadi anak emas berbagai guru disekolahnya.
Sejak menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas (SMA) Keadaan sedikit berubah, banyak orang masih memperlakukan dirinya seperti manusia. Bukan lagi bullyan tapi teman baru yang ingin dekat dengannya. Semua tidak berlangsung lama, karna teman-teman yang dulu pernah membully nya masuk disekolah yang sama. Arletta merasa tertekan, ditambah kecantikannya membuat beberapa laki-laki mendekatinya. Lagi dan lagi pembullyan terulang kembali, tapi dengan cara yang lebih kejam.
Arletta pernah masuk rumah sakit beberapa kali, itupun karna kasus yang sama. Pemukulan di fisik, luka memar dan berbagai hinaan ia alami. Ia sempat 2 minggu izin tidak masuk sekolah, naasnya selama Arletta berlibur mengurung diri di rumah sebuah kecelakaan menimpa dirinya.
Memori kelam, tabrakan antar 2 mobil itu membuat Tuhan mengambil penglihatannya. Saat ia sadar dari koma dengan pandangan gelap, kosong tanpa cahaya barulah hidupnya berubah total.
Arletta membenci hidupnya.
__ADS_1
Ia bahkan berkeinginan memilih diambil nyawanya saja daripada harus penglihatannya. Ia belum siap hidup dengan mempunyai kekurangan.
"Ini gak mungkin!! Aku gak mungkin buta!! papa.... mataku-uuu...."
"Tenanglah letta! Ada papa disini. Jangan khawatir nak, kamu akan melihat lagi..."
"Ngga pa... Nggaa.... Akk--uu ngga bisa melihat, semuanya gelap. Akku--"
Arletta yang berumur 18 tahun itu berteriak, meraung dan menangis. Pada saat itu seluruh ruangan terasa gelap. Arletta tidak bisa melihat apapun, hanya suara yang ia dengar. Ayahnya saat itu memeluknya, berusaha menenangkan dan memberi kehangatan.
"Papa pasti akan membuatmu bisa melihat lagi, sayang. Tenanglah.... Dokter akan mencarikan donor mata yang cocok untuk kamu, letta. Percaya sama papa, kamu pasti bisa melihat lagi..." Sang ayah masih terus memberikan kalimat penenang dan penyemangat, namun semua itu hanya sebuah kalimat saja.
Nyatanya ia masih tidak bisa melihat selama 2 tahun ini. Sejak kejadian mengerikan itu, merenggut penglihatannya dan membuat Arletta hidup dengan penuh kegelapan selama 2 tahun.
Ayahnya sendiri tidak menyerah sama sekali, janjinya harus ia tepati. Mencari donor mata ke berbagai rumah sakit, nyatanya tidak membuahkan hasil. Ada saja alasan, ia slalu gagal mendapatkan donor mata. Apa takdirnya harus seperti ini. Hidup dengan penuh kegelapan untuk selamanya. Hari demi hari, sampai berganti tahun membuatnya terbiasa hidup dengan kegelapan.
Arletta menerima kehidupannya yang sekarang, sekaligus menerima sebutan dan cacian gadis buta, penyandang tunanetra itu untuk dirinya. Arletta sangat siap, terbukti dengan perubahan sikap dan sifatnya.
Kini dirinya bukan lagi Arletta yang penakut, pendiam tetapi Arletta berwatak keras, tegas dan sangat emosional. Ya, itulah dirinya yang sekarang.
************
[ B. G. L. S ]
************
Pak Gio datang dengan menyerahkan seberkas lembar putih. Merasa paham karna suara kertas itu terdengar di telinganya. Ia meraba, saat berhasil mendapatkan sebuah tangan barulah ia mengambil kertas tersebut.
Arletta menatap lurus kedepan, namun jemarinya dengan sangat teliti membaca huruf Braille. Tersusun dengan begitu rapi, setiap huruf tersebut Arletta baca sehingga menjadi sebuah kalimat. Ia menghentikan gerakan tangannya, matanya masih menatap lurus. Mata Arletta seakan berekspresi, seperti tlah membaca sesuatu yang membuatnya berpikir.
"NAMA DIVON ALBARRA."
"UMUR 22 TAHUN."
"PEKERJAAN SEBAGAI OFFICE BOY DI PERUSAHAAN ZX ONE GROUP."
__ADS_1
Arletta menghembuskan nafasnya sesaat, sebelum akhirnya kembali jemarinya meneliti setiap huruf Braille.
"STATUS BELUM MENIKAH."
Pak Gio sedari tadi hanya berdiam diri. Wajahnya, slalu memerhatikan ekspresi dari nona mudanya.
1 jam yang lalu Arletta memang menugaskannya, untuk mencari informasi dari laki-laki yang menabrak nona mudanya itu saat di kantor. Pak Gio bingung, tapi tidak membantah detik berikutnya ia menggunakan kelincahan dan kelihaiannya dalam mencari informasi seseorang.
"Non Letta, saya masih penasaran kenapa anda ingin mengetahui biografi laki-laki itu. Dia hanya OB, untuk apa non Letta bersusah payah mengetahui informasi tentang dirinya." Akhirnya rasa penasaran Pak Gio, yang ia pendam dari saat dirinya ditugaskan itu tlah menguar. Pak Gio bertanya, mencari jawaban dari rasa penasarannya.
"Aku hanya ingin tau aja, tentang dirinya."
"Aroma itu... Aku seperti pernah menciumnya."
"Aroma? Maksud non, Letta? Aroma seperti apa kalau saya boleh tahu?" Pak Gio kembali bertanya, rasa penasarannya semakin tinggi.
Arletta menengok ke sebelah kirinya. Ia memajukan wajahnya, dengan hidung yang berusaha seolah-olah tengah melacak sesuatu. Bukan seperti layaknya seekor anjing yang trus mengendus, tapi dengan sekali endusan ia menegakkan kembali badannya.
"Aroma parfum Pak Gio sangat kuat. Bau Citrus. Pak Gio memakai parfum dari Issey Miyake beraroma citrus saat ini." Arletta menjawab, setelah itu ia mengalihkan pandangannya menatap lurus kedepan.
"Bagaimana ann-daa tau Non, Letta?" Laki-laki yang baru saja mengetahui yang dilakukan nona mudanya sangat terkejut. Indra penciuman yang begitu tajam.
"Aku udah mempelajari semua jenis parfum, aroma dari apapun. Aku rasa dengan hanya mengingat aroma yang aku cium itu memudahkan ku untuk melakukan aktivitas. Sekarang aku ngga bisa melihat Pak, makanya aku menajamkan indra penciumanku untuk mengenali seseorang."
"Oh iya pak...!! Aku besok ingin kekantor lagi dan aku janji ngga akan membuat masalah lagi disana." Arletta tersenyum, yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Pak Gio.
"Baik, Non Letta... Tapi Non harus ingat, akan ada perayaan di hotel Grandmax untuk menyambut para tamu bisnis dari Non Clara." Pak Gio berujar mengingatkan.
"Aku akan datang. Aku ngga akan sembunyi lagi. Aku akan tunjukkan, kalau yang hilang cuma penglihatanku bukan kehidupanku." Pak Gio yang mendengar antusias dan semangat nona mudanya itu, tersenyum bahagia.
Akhirnya nona mudanya, non Arletta tidak rapuh dan justru berubah menjadi gadis yang kuat.
************
[ B. G. L. S ]
************
__ADS_1
Yeyy akhirnya part ini udah kelar. Segini dulu ya, semoga suka dan tinggalkan jejak like serta sarannya. 😊