
Happy Reading, tinggalkan jejak vote dan komentar ya 👍
************
[ B. G. L. S ]
************
Suasana Di Dalam Mobil
Clara sedari tadi menatap ke kaca persegi panjang, melihat pantulan wajah Arletta yang duduk di jok belakang bersama dengan Divon. Ia duduk di jok depan menemani sopirnya, yang duduk di jok pengemudi. Clara merasa cemas sekaligus kasihan, ia berkali-kali menengok kebelakang, Divon yang melihat sikap Clara merasa aneh dan bingung.
"Letta..." Akhirnya Clara mengeluarkan suaranya, tapi Arletta tetap diam. Pandangan gadis itu, hanya fokus kedepan menatap kosong tanpa cahaya atau objek apapun.
"Lebih baik, kamu gak perlu datang lagi ke kantor. Kamu dirumah aja ya," Tutur, Clara menasehati.
"Ngga mau! Aku bosan dirumah," Tolak, Arletta, membuat Divon menatap kearahnya.
"Yaudah, pergi ke tempat lain aja. Gimana ke taman, mall? Dulu kan kamu suka belanja. Jangan kekantor, ya?"
"Ngga mau! Aku lebih suka kekantor. Aku malas belanja. Ramai, banyak orang . Aku ngga suka!" Balas, Arletta menolak dengan nada ketus.
"Kenapa si kak? Ngga boleh ya, aku ke kantor?" Sekarang justru, Arletta yang balik bertanya.
"Ngga gitu dek. Kakak gak mau kamu kena masalah lagi. Udah seminggu lebih kamu datang ke kantor, tapi slalu ada masalah. Kakak gak mau kamu trus jadi bahan pembicaraan pegawai kantor lainnya, kakak pengen negur tapi gak bisa bagaimana pun, mereka adalah karyawan yang udah lama kerja sebelum ayah meninggal. Kakak kesal aja sebenarnya, kalau kamu trus jadi bahan candaan dan obrolan mereka." Clara mencoba menjelaskan tentang isi hatinya, jujur ia tidak tega melihat pegawai kantor yang trus menerus membicarakan tentang Arletta. Selama kedatangan Arletta dikantor, ia slalu tanpa sengaja mendengar jika banyak yang membuat obrolan bahkan candaan tentang kondisi fisik Arletta.
"Biarin aja mereka bicara sesuka mereka, sampai bibir mereka dower pun aku ngga peduli. Mereka ngga pernah ngalamin berada diposisi ku, makanya seenaknya bicara, kalau mereka buta juga pasti tau gimana rasanya berjalan ditengah-tengah kegelapan. Dasarr, mereka itu.... ishhh..." Arletta mencibir dan berdesis pelan. Matanya seakan memancarkan kekesalan, sedangkan Divon yang sedari tadi memperhatikan cara pandang dan gerak gerik Arletta merasa terharu. Bibirnya mengulum keatas, ia tersenyum tanpa sadar ucapan Arletta membuat hatinya menghangat.
"Tapi kak. Atau, Jangan-jangan, kakak malu ya punya sepupu buta sepertiku?" Tanya, Arletta meneruskan ucapannya yang sempat ia jeda. Clara melotot tidak percaya begitu juga dengan Divon yang berhenti tersenyum.
"Ngomong apa si dek! Kakak gak pernah sedikitpun malu punya adek kayak kamu, Letta. Jangan dengerin, ucapan mereka! Kamu, masih tetap jadi adek kakak!" Ujar, Clara dengan nada tegas. Ia paling tidak suka, kalimat yang Arletta ucapkan, baginya Arletta tetaplah adiknya. Clara menyayangi nya dari dulu sampai sekarang.
"Ya... Kan aku pikir kakak malu." Clara tidak menanggapi ucapan Arletta, ia kembali fokus menatap kedepan. Divon juga ikut diam, tidak tau harus bersuara seperti apa.
"Lebih cepat pak!"
"Baik, Non Clara," Jawab, Pak Dewa selaku sopir pribadi Clara. Mobil Mercedes akhirnya melaju cepat.
************
Cittt...
"Sudah sampai non," Ujar, Pak Dewa memberi tahu.
"Terimakasih, Pak. Pak Dewa tunggu sini ya," Balas, Clara tersenyum hangat. Pak Dewa hanya mengangguk dengan mematikan mesin mobil.
"Ayo keluar, udah sampai." Clara menengok kebelakang, memastikan jika Arletta dan Divon segera turun dari mobil.
"Baik, mbak..." Ucap, Divon keluar lebih dulu, tapi sebelum itu ia melirik kearah Arletta. Gadis itu membuka pintu mobil, lalu meraba-raba kesamping dan mengeluarkan tongkatnya menjuntai panjang. Divon keluar, karna merasa Arletta baik-baik saja, dan sepertinya tidak membutuhkan bantuannya untuk keluar dari mobil.
Clara melihat arena restoran, lumayan padat. Divon berdiri di sebelah kiri Arletta, menatap takjub sebuah restoran yang menurutnya dengan desain sangat apik. Arletta diam, ia hanya mencium beberapa aroma yang melintasinya.
"Ayah ada pertemuan dengan klien, Justin. Ayah telfon Pak Vino buat jemput kamu."
"Kemarin ayah bilang bakal jemput aku dibandara, trus kenapa sekarang gak bisa jemput, yah?" Suara laki-laki muda dibalik ponsel yang dipegang oleh laki-laki paruh baya.
"Iya, ayah tau. Ayah ada klien sekarang, seharusnya pagi tadi, tapi klien ayah minta ketemuan siang. Ayah minta maaf, Justin. Biar Pak Vino aja ya yang jemput kamu."
"Gak usah! Aku naik taksi aja. Ayah temui klien ayah, aku bisa pulang sendiri."
__ADS_1
"Pak Egar? Apa benar, anda Pak Egar?"
Tiba-tiba suara wanita menimpali. Clara tersenyum menatap klien nya itu yang menatapnya bingung. Ia bisa melihat, kalau Pak Egar sedang menjawab panggilan dari orang lain diponsel laki-laki paruh baya tersebut.
"Iya benar," Balas, Pak Egar yang sudah menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya.
"Saya Clara, Pak. Direktur ZX ONE GROUP." Clara memperkenalkan diri dengan masih tersenyum, begitu juga Divon yang menggandeng lengan kanan Arletta disampingnya ikut tersenyum.
"Oh Clara ya!" Akhirnya, Pak Egar berseru karna sangking terkejutnya, sampai lupa mengenali wajah kliennya itu.
"Silahkan duduk. Saya sudah menunggu, sebentar ya." Clara mengangguk mendengar instruksi dari Pak Egar. Ia duduk lebih dulu di kursi sofa, lalu Divon menuntun Arletta untuk duduk disamping Clara dan terakhir dirinya ikut duduk. Posisinya sekarang Arletta duduk di tengah-tengah Clara dan Divon, sedangkan Pak Egar duduk tepat di depan Arletta.
"Justin! Ayah nanti suruh Pak Vino buat jemput kamu. Klien ayah udah datang, ayah tutup telfonnya."
Setelah memutuskan panggilan sepihak, Pak Egar meletakkan ponselnya keatas meja, dengan beberapa berkas dokumen yang tergeletak didekat ponselnya.
"Maaf, tadi anak saya telfon, dia baru pulang dari Inggris. Saya gak bisa jemput, makanya saya suruh sopirnya buat jemput," Ujar, Pak Egar memberi tahu.
"Tidak apa-apa, Pak, saya mengerti," Balas, Clara menyahuti.
"Baiklah, sebelumnya, saya tidak bisa berlama-lama. Mari kita mulai kerja samanya." Pak Egar, Sedikit menggeser berkas dokumen nya kesebelah kanan. Tangannya sengaja dilipat diatas meja.
"Sebelumnya terimakasih, sudah datang Pak Egar. Sekretaris saya, Pak Adam sedang cuti, jadi saya datang bersama pegawai saya yang lain. Ini adalah adik sepupu saya, namanya Arletta," Ucap, Clara memperkenalkan Arletta. Pak Egar menatap kearah Arletta lalu mengulurkan tangannya kedepan.
"Ulurkan tanganmu." Divon berbisik disebelah kiri, dengan menyenggol lengan kiri Arletta. Gadis itu paham, aroma maskulin bercampur mint tercium sangat kuat. Ia mengulurkan tangan kanannya, menyambut dengan tatapan lurus kedepan.
"Arletta." Setelah tidak ada kata lagi, Arletta melepaskan jabatan tangannya. Pak Egar menatapnya bingung.
"Adik saya ini, tidak bisa melihat, Pak. Saya minta maaf," Tutur, Clara dengan sedikit canggung.
"Gak masalah, saya mengerti. Semoga, kamu segera bisa melihat lagi, Arletta." Pak Egar kembali tersenyum. Terdengar sangat tulus ucapan Pak Egar ditelinga Arletta, tapi dia hanya diam tidak merespon apapun.
"Masih sangat muda, seperti anak saya." Divon tersenyum lalu terkekeh pelan.
***********
Sementara Masih Di Bandara Soekarno-Hatta.
Justin berjalan dengan wajah dingin, melewati koridor bandara yang sangat ramai. Sampai tepat diujung, ia bisa melihat wajah Pak Vino dengan tangan yang melambai ke arah nya.
"Den Justin! Saya senang, anda sudah kembali dari Inggris." Pak Vino menyambut dengan tersenyum, ia bisa melihat kalau tuan muda yang terakhir ia lihat sejak 5 tahun lalu, kini berubah menjadi sosok laki-laki tinggi yang sangat tampan.
"Seharusnya, Pak Vino gak datang. Aku baru saja ingin memanggil taksi," Ujar, Justin. Ia langsung jalan menuju mobil Pajero berwarna hitam, sedangkan Pak Vino hanya diam tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia buru-buru mengambil koper hitam besar, dan dimasukkan kedalam bagasi mobil. Pak Vino memeriksa kembali keadaan, setelah dirasa tidak ada barang yang tertinggal, ia akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di jok pengemudi.
Aku sudah kembali dari Inggris, bisa kita ketemuan. Aku tunggu di Caffe Aroha.
Justin menutup ponselnya, setelah berhasil mengirim pesan singkat kepada seseorang.
"Ke Caffe Aroha Pak!"
"Bukannya, kerumah den?"
"Iya. Sekarang antarkan aku ke Caffe Aroha terlebih dahulu, aku harus menemui seseorang."
"Baik, den..." Ujar, Pak Vino mengiyakan. Tidak ada bantahan, ia memilih menyalakan mesin mobil. Justin duduk dibelakang dengan menatap kearah jendela mobil, Pak Vino yang melihat dari pantulan kaca persegi panjang itu hanya menghembuskan nafasnya, lalu akhirnya kembali fokus menyetir.
Tuan mudanya, Justin ternyata tidak berubah. Laki-laki itu tumbuh dengan menjadi sangat dingin, entah apa saja yang Justin lakukan di Inggris, sehingga tidak bisa mengubahnya menjadi sedikit lebih hangat.
************
"Terimakasih Pak Egar, atas kerja samanya. Saya berharap produk terbaru ini akan berhasil di pasaran." Clara tersenyum, ikut berdiri dengan menatap Pak Egar yang sudah bersiap-siap akan pergi.
__ADS_1
"Tenang saja. Saya justru sangat percaya dan yakin dengan kualitas kinerja pemasaran oleh ZX ONE, udah gak diragukan lagi, kalau produk ini akan laku keras," Balas, Pak Egar dengan ikut tersenyum.
"Kalau begitu, saya harus pergi. Saya harus menyambut kepulangan anak saya, kalau gak, dia akan marah nantinya." Clara serta Divon hanya menimpali dengan tertawa pelan, lalu setelah berpamitan Pak Egar pergi begitu saja.
"Tadi mbak Clara hebat. Mbak Clara mengatasinya dengan penuh percaya diri." Clara menoleh kearah Divon.
"Bisa aja kamu, Div. Ini juga berkat kamu dan juga Arletta. Terimakasih udah mau nemenin aku," Ucap Clara yang mendapat anggukan dari Divon. Clara melihat kearah Arletta dan mengelus pelan kepala adiknya itu.
"Makasih, Letta..."
"Apa sih kak! Jangan mengusap kepala ku. Aku bukan anak kecil lagi tau!" Sungut Arletta, menepis usapan tangan Clara di kepalanya.
"Ehh... Clara!!!" Panggil seseorang. Clara membalikkan badannya, lalu terkejut melihat kearah wanita yang seumuran dengannya.
"Ya ampun Cristy!!!" Pekik, Clara antusias. Ia memeluk tubuh teman lamanya itu.
"Apa kabar Clar? Aku pikir kamu gak akan balik dari New York, eh taunya benar udah balik aja," Tanya, Cristy membuat Clara tersenyum kikuk.
"Awalnya begitu, Cris, tapi gak bisa. Aku harus kembali ke Indonesia, apalagi setelah ayahku meninggal, aku yang harus menggantikan nya untuk memimpin ZX ONE."
"Astaga aku baru ingat, ternyata ayahmu beneran udah gak ada. Turut berduka ya, Clar. Kamu pantas kok mimpin ZX ONE, menurutku kamu punya potensi. Aku gak perlu raguin lagi kemampuan mu, Clar," Ujar, Cristy membuat Clara tertawa pelan.
"Bisa aja kamu, Cris."
"Trus ini kamu, ehh maksudku kalian udah mau pulang atau masih mau makan?" Cristy bertanya, dengan kebingungan.
"Aku baru selesai ketemu sama klien tadi, ini mau balik ke kantor. Oh iya! Sampai lupa, Kenalin ini Arletta. Dia adik sepupu ku." Clara mengarahkan Arletta ke arah Cristy. Arletta hanya diam, aroma strawberry yang kuat tercium diindranya. Cristy tersenyum mengulurkan tangan kanannya.
"Cris! Adikku ini gak bisa melihat," Tutur, Clara memberi tahu.
"Ha! Serius?"
Clara hanya mengangguk, mendengar nada bicara Cristy membuat Arletta sedikit terusik.
"Ya ampun... kasian sekali. Ehh maksudku, yang sabar ya, Letta. Aku yakin kamu bisa melihat lagi nanti." Arletta tersenyum miring, tanpa membalas uluran tangan kanan Cristy.
"Oh iya Cris! Ini Divon, pegawai ku." Cristy tersenyum kecut, saat jabatan tangannya tidak dibalas oleh Arletta. Ia kini menatap kearah Divon yang menunduk dengan tersenyum.
"Saya Divon, Mbak Cristy."
"Ehh, kamu kan yang udah nolongin aku tempo lalu!" Divon terkejut.
"Iya aku masih ingat jelas wajahmu. Kamu yang nolongin aku pas kecopetan itu, kalau gak salah minggu lalu," Ujar, Cristy menjelaskan. Divon mengerutkan keningnya lalu ia tersenyum.
"Jadi.... Ahh maaf mbak, saya sampai gak mengenali anda." Cristy menepuk pelan pundak Divon. Arletta mengetahui itu, ia menggeser posisinya semakin mendekat kearah Divon. Divon terkejut, saat lengan kirinya ditenggeri lengan kanan Arletta yang memeluk erat.
"Ayo kita pulang," Ujar, Arletta dengan nada ketus dan tatapan datar. Clara dan Divon menatapnya bingung.
"Oh iya sampai lupa. Cris, kita pulang dulu ya."
"Kenapa buru-buru si! Oh ya, Div! Aku ingin ngajak kamu makan siang, sebagai ungkapan terimakasih aku waktu itu. Kamu pergi begitu aja, saat aku belum ngasih apapun." Kini Cristy kembali menatap kearah Divon.
"Gak perlu mbak. Saya ikhlas nolongin mbak Cristy waktu itu." Divon menolak halus membuat Arletta tersenyum tipis.
"Yahh padahal ada yang ingin aku bicarakan juga sama kamu, Div."
Srrttt...
Arletta semakin mengeratkan pelukan lengannya di lengan kiri Divon. Ia berusaha untuk tidak melepas Divon, sedangkan Divon hanya mengerutkan keningnya bingung menatap lengannya yang dipeluk erat oleh Arletta.
************
__ADS_1