BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Tertarik


__ADS_3

Happy Reading. Jangan bosan-bosan ya baca, tinggalkan jejak vote dan komentar 👍


************


[ B. G. L. S ]


************


Brakk...


Justin keluar lalu menutup pintu mobil dengan lumayan keras. Pak Vino yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepala. Justin berjalan mulai memasuki Caffe seperti tujuan pertamanya. Matanya mengedar keberbagai tempat duduk, lumayan ramai sampai ada seseorang yang melambai dan memanggil nya.



"Justin!!!"


Justin menghampiri wanita yang memanggil namanya. Berada di pojok selatan, membuatnya sedikit melangkah jauh. Justin menarik kursi berbahan kayu, lalu duduk didepan wanita berambut Curly.


Kriekk...


"Kamu yang ngajak ketemuan, kamu sendiri yang telat, Jus."


"Kalau aku nyetir sendiri, aku akan sampai dari tadi, Cris," Balas, Justin menyahuti sindiran Cristy.


"Hahahaha, iya iya aku tau! Oh iya, sebelum datang kesini aku ketemu sama Clara." Alis Justin terangkat, mendengar nama Clara, sepertinya tidak asing lagi untuknya.


"Clara!" Cristy mengangguk mengiyakan. Ia kembali menyedot mocchalattenya yang tersisa setengah dari gelas kaca. Cristy memutuskan menyetujui ajakkan Justin untuk bertemu di Caffe, setelah Divon menolak ajakkan makan siangnya. Cristy merasa kesal, saat mengingat alasan Divon menolak karna Arletta. Gadis buta itu, merecoki kesenangannya. Cristy tak habis pikir, bagaimana gadis buta seperti dia bisa dekat dengan Divon, padahal ia sangat tertarik dengan Divon saat laki-laki itu menolongnya minggu lalu.


"Iya Clara, Jus! Masa kamu lupa? Dia sahabat ku yang aku ceritakan lewat email, satu jurusan juga waktu di New York. Dia udah balik, dan sekarang dia jadi Direktur di perusahaan ayahnya. ZX ONE GROUP," Ujar, Cristy menjelaskan. Justin hanya mengangguk mencoba memahami ucapan Cristy.


"Dia hebat."


"Memang! Bukankah, dia adalah cewek tipe idealmu, Jus? Aku rasa, Clara cocok denganmu," Balas, Cristy memberi usul. Justin mengerutkan keningnya, menerka maksud dari Cristy.


"Yang kamu kasih tau fotonya itu, Dia emang cantik, keliatan sangat pintar, hmm... aku gak tau apa dia benar-benar tipeku." Justin berujar penuh keraguan. Matanya, seakan tidak begitu tertarik.


"Masih mending dia, daripada adiknya itu. Keliatannya aja sombong, padahal gak bisa melihat, tapi masih aja bersikap sombong!"


"Gak bisa melihat?" Tanya, Justin memastikan.


"Iya! Adiknya Clara itu buta. Bagus deh, dia buta aja masih sombong gimana kalau udah melihat." Cristy menjawab dengan nada ketus dan raut wajah sinis.


"Siapa namanya?"


"Arletta! Ehh, Jus! Ngapain kamu kepo soal dia? Gak penting juga, udahlah dia bukan tipe idealmu sama sekali berbeda dengan Clara." Justin menghembuskan nafasnya, lalu senyum tipis terukir di bibirnya.


"Cris! Maaf aku gak bisa lama-lama. Oh iya, kirim aku fotonya. Foto Arletta yang kamu maksud," Ujar, Justin menarik kebelakang kursi yang ia duduki. Cristy menatap nya bingung.


"Untuk apa foto cewek buta seperti dia!" Celetuk, Cristy tidak suka.

__ADS_1


"Aku penasaran. Pokonya kirim fotonya Arletta ke WA ku, ya. Aku duluan, Cris!" Justin mengusap lembut kepala Cristy, seperti rutinitas nya ia mengacak gemas rambut sahabatnya itu.


Cristy dan Justin tlah bersahabat lama, bahkan sebelum Cristy pindah ke New York, kuliah disana dan bertemu dengan Clara. Terpisah lama, dan jarang bertemu tidak membuat hubungan pertemanan Cristy dan Justin renggang. Meski beda keinginan, untuk melanjutkan masa depan mereka masing-masing, tapi keduanya tetap memberi kabar lewat email yang Cristy kirim setiap minggunya ke Justin.


************


Divon duduk bersantai di kursi kayu yang ada di pantry dapur kantor. Matanya, sesekali mengatup dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya. Tiba-tiba suara mengagetkan nya.


"Ya, ampun Divon!" Divon tersentak, ia kembali pada kesadarannya dan langsung berdiri saat melihat wanita berusia 30 tahun itu berteriak kearahnya.


"Ada apa, mbak Gina?" Tanya, Divon begitu panik.


"Malah enak-enak an tidur disini. Div! Kerjaanmu, kan belum selesai!" Tegur, Gina selaku senior Office Girl yang sudah bekerja selama 5 tahun disini.


"Saya sudah mengantarkan minuman ke ruang keuangan dan administrasi, Mbak."


"Trus, kamu pikir kerjaanmu udah selesai gitu aja?" Bantah, Gina menyela cepat. Divon hanya diam dan menatap nya bingung.


"Kalau kerja jangan malas-malasan, Div! Harus aktif, bersihkan ruangan atau apa gitu. Oh ini aja!" Gina menjeda ucapannya, ia melirik kearah kardus Aqua gelas yang ada didekat dispenser air.


"Ini ambil, dan bagikan ke ruangan Bu Selia. Aku liat, masih ada anak magang disana, keliatannya Bu Selia belum selesai mewawancarai anak magang," Tutur, Gina memberi perintah. Divon hanya diam.


"Kenapa masih diam? Ayo angkat, dan bagikan ini ke ruang Bu Selia, sebelum wawancaranya selesai!" Divon terkejut, dengan cepat ia menghampiri Gina dan mulai mengangkat satu dus berisi gelas Aqua. Gina hanya tersenyum miring, setelah memastikan Divon pergi, ia menarik bekas kursi yang Divon duduki.


"Akhirnya aku bisa istirahat juga, seharusnya punya anak buah emang harus bisa disuruh-suruh, kalau begini kan aku gak perlu capek-capek kerja." Gina berguman dengan penuh kelegaan, ia duduk dan meletakkan kepalanya di meja pantry, lalu mulai terlelap.


Ceklek...


"Ada apa, Div?" Selia bertanya, ia menghentikan tulisan di papan putih dengan berisi coretan spidol hitam. Beberapa pasang mata menatapnya, Divon tersenyum dan menunduk.


"Maaf, mbak, menganggu. Ini saya bawakan minuman."


"Oh! Yasudah bagikan, Div!" Ujar, Selia mengintruksi. Divon langsung masuk kedalam meletakkan kardus Aqua gelas itu diatas meja. Untung saja, kardusnya sudah dibuka, Divon mengambil beberapa dan ia bagikan mengitari anak magang yang duduk dengan posisi meja yang melingkar.


Sedangkan di dalam mobil Arletta mendesis pelan, dengan headset yang menjuntai terpasang di kedua telinganya.


Arletta memang belum sepenuhnya pulang, meski Pak Gio datang untuk menjemput nya dikantor, tapi mobil Mercedes nya belum benar-benar keluar dari arena kantor, malahan masih terparkir apik di sebelah timur dari parkiran mobil kantor.


"Wanita yang bernama Gina itu benar-benar harus diberi pelajaran. Dia seenaknya menyuruh Divon, dasarr!! Banyak sekali wanita ular yang bekerja di kantor, kak Clara." Arletta berguman dengan mendesis kesal.


30 menit yang lalu, saat dirinya berada dekat dengan Divon bahkan sangat menempel erat bak lem dengan perangko, saat itulah Arletta memasang chip sebuah alat penyadap suara. Ia sangat terampil dan lihai, kebutaannya, membuat Arletta belajar apapun termasuk hal seperti ini. Alat penyadap berukuran kecil ia tempel tanpa sepengetahuan Divon di balik baju Divon yang ada dipunggung. Untuk saat ini Arletta senang, karna dengan begini ia bisa mengetahui apa saja aktivitas Divon, ia berharap Divon tidak menemukan alat penyadap suaranya itu.


************


Hari semakin larut tapi cuaca masih sangat mendukung. Langit masih sangat cerah tanpa awan hitam diatas langit. Justin duduk di kursi sofa dengan kaki berbahan besi. Ia menyesap kopi yang hanya tersisa setengah, memandang ke depan berbagai tanaman dengan rumput yang hijau di sekitar taman rumahnya ia pandangi.



Kriekk....

__ADS_1


"Kamu disini, Justin." Justin meletakkan cangkir kopi di meja besi. Ia melihat kehadiran ayahnya, yang duduk disebelahnya.


"Apa kamu masih marah, karna ayah gak bisa menjemputmu di bandara tadi siang?" Tanya, Tn. Egar kepada putranya.


"Bukan itu, Ayah! Aku mengerti, lagian Pak Vino udah datang menjemput ku, tadi." Justin membalas dengan tersenyum.


"Ayah senang kamu udah menyelesaikan pendidikan mu di Inggris. Besok adalah, hari pertama mu berkerja sebagai dokter di Rumah Sakit Medika. Ayah udah bilang ke Dokter Richard, dia akan mengarahkan mu dan membimbing mu selama bekerja di sana. Ayah harap kamu betah, dan bisa bekerja dengan baik disana," Tutur, Tn. Egar menasehati putranya. Justin mengangguk paham.


"Aku mengerti, Ayah. Ayah gak perlu khawatir, aku akan membanggakan ayah." Tn. Egar, mengulas senyumannya. Ia bangga dengan semangat dan antusias Justin. Belajar di Inggris memang adalah pilihan yang tepat, tidak salah Tn.Egar menghabiskan banyak biaya agar putranya bisa lulus dari kedokteran ternama yang ada di Inggris.


"Justin! Besok, siap-siap menerima pasien baru. Ayah baru dapat kabar dari, Tyo, kalau ada anak dari temannya yang ingin menemuimu di Rumah Sakit. Kalau gak salah, mungkin bakal konsultasi soal kondisi mata anaknya. Mendengar cerita, Tyo, buat ayah kasihan."


"Maksud ayah? Om Tyo bicara apa saja dengan ayah?" Tanya, Justin semakin penasaran.


"Anaknya temennya itu gak bisa melihat, Justin." Justin terkejut, mendengar penuturan ayahnya.


"Besok mereka bakal menemui kamu di rumah sakit. Ini adalah awal yang bagus, setelah kepulangan mu dari Inggris, kamu mendapat pasien pertama. Ayah sangat berharap kamu bisa menolong dan membantunya mencarikan donor mata. Kasihan sekali, padahal ayah liat, anaknya cantik masih sangat muda sekitar sepertimu."


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin, Yah," Ujar, Justin penuh keyakinan. Tn. Egar menatapnya lagi, ia yakin putranya itu sangat bisa diandalkan.


"Bantu dia, yah, Putraku! Ayah yang melihat aja gak tega sama Arletta." Justin mengerutkan keningnya.


"Arletta?"


"Iya! Kata, Tyo, anak temennya bernama Arletta. Setelah ayah dikasih liat fotonya, ayah baru sadar, kalau ayah ketemu dia tadi di restoran waktu ayah bertemu dengan klien. Dia adik dari klien ayah, masih sangat muda dan cantik." Tn.Egar berujar dengan menjelaskan lagi kronologi pertemuan nya saat di restoran tadi siang.


Justin menatap bingung, ucapan Cristy kembali terlintas dipikiran nya. Sahabatnya itu masih belum mengirimkan foto yang ia minta.


"Ayah! Emm... apa aku boleh liat fotonya? Foto Arletta, dia kan yang akan jadi pasienku nantinya." Justin bertanya, dengan ragu-ragu, tapi ayahnya langsung mengangguk membuatnya bernapas lega.


"Boleh, nak. Ayah kirim ke WA mu ya, Justin."


Tidak lama hanya selang waktu 3 menit barulah ada pesan WA dari ayahnya. Justin dengan gesit membuka dan sebuah foto terpajang jelas di matanya.


Tring...


Sebuah notifikasi dari WA nya kembali terdengar, ada pesan masuk dari Cristy. Justin mengecek pesan yang sahabatnya itu kirim dan matanya membulat saat membaca sebuah pesan dari Cristy dengan disertai foto seorang wanita.


Ini foto Arletta yang kamu inginkan Justin.


Jelek kan?


Udah aku bilang, dia bukan tipemu sama sekali.


Foto dengan orang yang sama. Justin sampai menzoom foto Arletta. Ia menyunggingkan senyum tipis nya.


"Cantik." Guman nya, singkat.


************

__ADS_1


__ADS_2