
Happy Reading, tinggalkan jejak vote dan komentar 👍
************
[ B. G. L. S ]
************
Selepas mendapatkan panggilan mendadak dari Tn. Widi selaku kepala penerbangan, sekarang Tn. Hans menuntun Arletta hingga sampai di depan Rumah Sakit. Beliau, terpaksa harus pergi dan tidak bisa menemani lebih lama putrinya itu.
"Maafkan, Papa, Letta! Papa harus segera pergi. Pak Gio, akan datang sebentar lagi. Kamu ditemenin sama Pak Gio, ya? sekaligus nanti aku suruh Pak Gio buat beli obatmu," Ujar, Tn. Hans menjelaskan.
"Gapapa, Pa. Aku tau, Papa gak perlu khawatir lagian ada Divon. Dia yang bakal jagain aku, yakan, Div?" Arletta, berujar dengan tersenyum. Tatapannya mengarah kedepan, dengan tangan kanan yang masih setia memeluk lengan kiri Divon.
"Nak, Divon! Tolong jaga Arletta, ya! Turuti semua kemauan dia. Saya harus pergi, ada kerjaan mendadak. Saya titip Arletta ke, Nak Divon, bisa?"
"B-bisa, Pak...." Balas, Divon dengan gugup.
"Makasih, Nak Divon." Tn. Hans tersenyum membuat Divon mau tak mau ikut tersenyum.
"Papa! Apa aku boleh minta sesuatu?" Tanya, Arletta.
"Tentu, Putriku. Kamu mau minta apa saja bakal papa turutin." Tn. Hans berujar dengan mengusap lembut kepala putrinya.
"Besok kalau papa sibuk, papa gak perlu anterin aku cek up. Aku ingin Divon yang slalu anterin aku cek up ke rumah sakit." Kening Divon berkerut. Ia menatap penuh tanda tanya ke arah Arletta.
"Kamu yakin?" Tn. Hans, kembali bertanya masih penuh keraguan, tapi Arletta membalasnya dengan anggukan kepala.
"Kenapa aku?" Tanya, Divon cepat.
"Aku ingin kamu yang nemenin aku ke rumah sakit, Div," Ujar, Arletta menoleh kearah Divon.
"Nak, Divon! Mungkin besok saya gak bisa anterin Arletta, kamu mau kan anterin dia cek up kesini lagi? Berapapun yang kamu mau akan saya bayar."
"Ma-aaf Pak! Bukan masalah uang, tapi besok saya tidak yakin bisa," Tutur, Divon menolak halus.
"Kenapa gak bisa?" Arletta, kembali bertanya.
"Besok aku kan mesti kerja, gimana-"
"Kamu masuk siang aja seperti hari ini," Potong, Arletta menyela.
"Papa!" Panggilnya lagi.
"Iya, Letta?"
"Telfon kak Clara, bilang kalau Divon kerjanya masuk siang aja, biar paginya bisa anterin aku cek up. Ya pa.... bilang ke kak Clara, kalau papa yang minta, pasti kak Clara mau. Pa... ya... telfon kak Clara...." Ujar, Arletta penuh permohonan, sedangkan Tn. Hans masih menatap bingung, tapi melihat nada memohon putrinya, membuatnya mengangguk lalu kembali mengelus rambut Arletta.
"Iya! Nanti papa bilang ke kakak mu ya."
"Yeyyy!!! Makasih papa." Arletta, berseru senang.
"Divon!" Panggil nya, dengan tangan kanannya yang memegang erat lengan kiri Divon. Arletta mencoba menghadap kearah Divon berdiri.
"Papaku pasti bakal bilang ke kak Clara. Kamu gak perlu khawatir, besok anterin aku cek up kesini ya?" Sambung, Arletta bertanya.
Divon diam sesaat, menimbang kembali keputusan Arletta. Matanya menatap Tn. Hans, ayah dari gadis disampingnya menatap penuh harap. Divon menghembuskan nafasnya, ia tidak bisa menolak.
"Iya..." Ujar, Divon memberi keputusan.
Senyum Arletta mengembang.
"Beneran, Div?"
"Iya, Aku mau nganterin cek up kerumah sakit."
__ADS_1
"Makasih, Nak Divon. Saya titip Arletta ya besok, tolong jaga dan anterin dia cek up lagi kesini." Ujar, Tn. Hans tersenyum hangat.
"Baik Pak! Besok saya usahakan untuk nganterin Arletta cek up." Divon, masih tersenyum sampai tiba-tiba datang mobil Mercedes dengan diikuti Pak Gio yang jalan kearahnya.
"Non Arletta!"
"Pak Gio..."
"Iya Tuan besar." Balas, Pak Gio menatap kearah majikannya tersebut.
"Pak Gio besok tolong anterin Arletta cek up lagi kesini, karna besok saya sepertinya gak bisa nemenin Arletta. Ada Divon juga, dia bakal nemenin Arletta cek up. Oh iya Pak Gio, ini ada resep dari Dokter, Pak Gio nanti tolong beli ya," Ujar, Tn. Hans disertai tangan kanan yang memberikan catatan kertas resep obat ke Pak Gio. Pengawalnya itu mengerti, lalu mengambilnya.
"Baik, Tuan Besar. Saya nanti akan langsung beli obat, Non Arletta." Pak Gio, membalas dengan senyum.
"Letta! Papa pergi ya, ayo papa antar kamu ke mobil dulu."
"Gak perlu pa, biar aku dituntun sama Divon aja," Tolak, Arletta halus. Ia semakin mengeratkan kembali pelukan di lengan kiri Divon.
"Ayo Div..."
"Mari, Non Arletta," Ucap, Pak Gio seraya memberi jalan agar Divon berjalan kearah mobil dengan menuntun Arletta. Tn. Hans mengikuti dibelakang.
Divon membuka pintu mobil dan membantu Arletta masuk ke mobil, sebelum pintu di tutup Tn. Hans kembali bersuara.
"Letta! Abis ini papa telfon Kakakmu. Kamu langsung ke kantor ya, jangan pergi kemana-mana." Arletta mengangguk paham.
"Div! Ayo masuk." Divon menutup pintu mobil, lalu menatap kearah Tn. Hans.
"Divon! Terimakasih sekali lagi. Tolong jaga Arletta ya? Ini pertama kalinya, Dia mempunyai teman. Saya yakin kamu pria baik-baik, dan saya percayakan Arletta sama kamu."
Divon diam, tampak berpikir lagi.
Teman?
Jadi Arletta langsung menganggapnya teman, mengenai ucapan Tn. Hans, membuatnya seakan tidak tega dan akhirnya mengangguk dengan tersenyum.
************
Divon hanya diam, ia tidak tahu harus bersuara apa. Matanya melirik kearah sampingnya, ada Arletta yang menatap kedepan. Sekilas ucapan ayahnya gadis itu kembali berputar, seolah trus membuatnya kepikiran. Gadis disampingnya ini, apa benar-benar selama ini kesepian. Divon berpikir kalau Arletta memang tidak punya teman, sebenarnya apa yang terjadi dulu dengan gadis itu, sungguh ia sangat penasaran.
"Letta..." Divon, memanggil pelan. Kepala Arletta menengok, seolah ikut menatap kearahnya.
"Iya, Div, Kenapa?"
"Maaf ya kalau aku harus tanya tentang ini. Hmm... kamu gak bisa melihat karna apa? Kecelakaan?" Ujar, Divon sekaligus bertanya.
Arletta diam untuk sesaat, ucapan Divon kembali membuat memori kelam di masa lalunya terlintas. Akhirnya, ia mengangguk.
"Iya. 2 Tahun lalu aku kecelakaan, ada mobil yang menabrak mobil papa waktu itu. Saat itu, aku benar-benar takut, aku takut kalau papa mengalami hal yang lebih parah. Aku berusaha keras keluar dari mobil untuk minta bantuan, tapi mungkin karna saat itu sangat malam jalanan begitu sepi. Aku ketakutan, tapi... Aku melihat seseorang datang, dia berusaha memanggilku sampai akhirnya aku udah ada di rumah sakit dan dok-ter bilang aku udah gak bisa melihat apapun."
Arletta, dia adalah gadis yang kuat. Divon bisa melihat nada dari ucapan serta tatapan yang kosong membuat Arletta tidak gentar sedikitpun. Gadis itu, menjelaskan secara rinci bahkan tidak sedih atau kembali takut saat tanpa sengaja memori kelamnya di tanyakan kembali.
Divon memegang pundak kanan Arletta, mencoba memberi ketenangan.
"Maafkan aku... Aku gak bermaksud buat-"
"Divon!" Arletta, menyela cepat.
"Mungkinkah, kamu adalah orang itu."
"Ha?" Tanya, Divon kebingungan.
"Iya! Orang yang menolongku saat kecelakaan 2 tahun lalu, apa itu kamu?" Arletta menjelaskan lagi lebih spesifik.
"Aku???" Divon, memekik sedikit keras. Otaknya kembali bekerja, dan memikirkan tentang pertanyaan gadis disampingnya.
__ADS_1
"Bau laki-laki itu, sama persis seperti baumu, Div! Aroma Green, aku masih ingat jelas, tapi untuk suara nya waktu itu aku dengernya masih samar-samar. Ak-uu--"
Citttt....
Ucapan Arletta terhenti, saat secara mendadak ada mobil yang memotong laju mobilnya. Divon tersentak, langsung menatap kearah depan.
"Ada apa, Pak?"
"Ada mobil didepan, sebentar saya liat dulu." Pak Gio, membalas dengan diikuti lepasan seat belt dibadannya.
Bugh...
Divon terkejut, suara pukulan baru saja ia dengar, tiba-tiba pintu mobil disamping Arletta dibuka. Seorang pria dengan pakaian hitam itu memaksa Arletta untuk keluar. Divon baru ingat, orang itu adalah orang yang sama saat ia menolong Arletta dari kumpulan preman tempo lalu.
Ceklek...
"Ayo, Keluar!" Ujar, Laki-laki itu dengan suara kerasnya.
"Divon...." Arletta, memanggil sedikit ketakutan, tapi sebelum Divon menarik tangan kanan Arletta agar mendekatinya, Arletta justru sudah dipaksa tarik keluar oleh laki-laki tersebut.
"Lepaskan aku!" Teriak, Arletta keras.
"Divon!!!" Panggilnya lagi.
"DIAM!"
"Ikut saja dengan kami, atau aku akan membunuh laki-laki yang bersamamu itu," Sambung, laki-laki itu dengan ancaman. Arletta membulatkan matanya terkejut.
"Aku gak akan biarin kalian bunuh Divon!!!"
"Orang buta sepertimu, tidak bisa apa-apa, lebih baik menurut biar tugasku berjalan lancar."
"Lepaskan Dia!!"
"Divon!!! Hati-hati, Div mere-- ummppp..." Tiba-tiba Arletta dibungkam. Laki-laki itu langsung menarik paksa tubuh Arletta untuk mengikuti arahnya. Teman laki-laki itu ikut membantu dan membawa, lalu memasukkan Arletta kedalam mobil Jeep.
"Lepaskan Dia! Keparatt!!!" Divon, berteriak lagi dengan sangat keras. Matanya menyalang tajam.
"Kalau ingin dia, lawan kita lebih dulu anak muda!"
Tanpa banyak bicara lagi, Divon langsung menghampiri dan menghajar laki-laki bertubuh gempal. Ada yang memukul bahunya, membuat Divon menekukkan lutut menahan rasa nyeri. Ia tidak menyerah dan semakin membalas pukulan beberapa orang dan menangkisnya cepat. Divon hampir selesai, tapi saat hanya tersisa dua preman saja, saat itulah preman yang lain datang, kali ini dengan jumlah banyak.
Bugh...
Pukulan terakhir berhasil membuat preman berambut sedikit gimbal itu tersungkur ketanah. Divon menghembuskan nafas beratnya, meski sedikit lelah, ia berusaha mengatur deru nafasnya dan menatap kedepan. Ada sekitar 10 lebih orang yang berdiri, seakan menantangnya untuk berkelahi.
"Urus dia, aku akan langsung bawa ini cewek ke Boss!" Ujar, Laki-laki yang membawa Arletta itu, lalu mendapat anggukan paham dari teman sesamanya.
Semua preman itu langsung menyerang Divon tanpa ampun, tapi ia berhasil menangkisnya satu persatu. Divon sibuk mengurusi para preman, tapi matanya menatap kearah mobil yang ditumpangi Arletta.
Brughh...
Divon ambruk saat punggungnya di pukul benda keras. Kepalanya pusing, seolah matanya akan meredup. Mobil Jeep hitam yang membawa Arletta semakin menjauh.
"Halo, Bos. Saya berhasil membawa tunangan, bos."
"Bagus! Cepat bawa dia kesini, aku akan langsung membawanya pergi dari Indonesia."
"Baik, Bos, saya mengerti."
Tut.
Panggilan terputus, Grey tersenyum penuh kemenangan, akhirnya usahanya untuk menculik Arletta berhasil. Saat tempo lalu, ia gagal membawa pergi gadis itu, tidak kekurangan cara. Grey, terpaksa melakukan tindakan ini, meski ia tahu resikonya akan besar, tapi dengan bantuan ayahnya ia pasti akan dengan mudah membawa pergi Arletta tanpa meninggalkan jejak apapun.
"Sekarang, kamu gak akan bisa lari lagi, Letta. Kamu akan jadi milikku!" Ujar nya dengan senyuman licik.
__ADS_1
************
Like dan beri komentar ya😊