BLIND GIRL LOVE STORY

BLIND GIRL LOVE STORY
Mengenal Sosok Divon


__ADS_3

************


[ B. G. L. S ]


************


Beralih ke profil ke dua. Ada Divon Albarra, laki-laki berumur 22 tahun hidup berbanding terbalik dari hidup Arletta. Jika gadis itu dipenuhi akan kemewahan dan orang-orang yang menjaganya dengan kasih sayang, justru hal itu tidak didapat oleh Divon. Laki-laki jakung dengan tinggi 180cm yang berparas sangat tampan tidak menyangka kalau terlahir di keluarga sederhana. Ibu Divon dulunya hanya asisten rumah tangga, kehilangan sosok kepala keluarga membuat wanita paruh baya tersebut harus bersusah payah menghidupi dirinya dan anak satu-satunya yaitu Divon.


Divon tidak pernah menyesal dengan kehidupannya sejak kecil, tapi kalau mengingat kembali masa kecilnya yang masih sangat polos serta hinaan banyak orang itu membuat dirinya membenci masa kecilnya.


Divon yang saat itu, masih berusia 8 tahun tiba-tiba berhenti. Ada 3 wanita paruh baya seumuran dengan ibunya, menghadang langkah kaki kecilnya.


"Hei Divon! Kasih tau ibumu, biar gak setiap hari bawa laki-laki lain kerumah. Aku yang melihat saja, udah kesal. Ibumu itu, seharusnya gak seenaknya bawa masuk laki-laki ke kampung ini."


"Hush! Jangan begitu! Dia kan masih kecil, dia pasti gak tau tentang ibunya."


"Justru dia harus tau tentang perilaku ibunya. Kita gak mau kan? Kampung ini tercemar karna sikap ibunya yang sering bawa masuk laki-laki lain ke rumah." Wanita dengan rambut disanggul, menyahut dengan wajah sinis.


Divon hanya diam saat itu, meski sebenarnya sudah sering ia mendengar banyak tetangga yang menyinggung soal sikap ibunya dirinya tidak peduli. Divon hanya anak kecil, bahkan teman-teman yang slalu bermain bola dengannya sudah mulai menjauhinya. Ibu-ibu mereka melarang anaknya bermain dengan dirinya. Divon diam bukan berarti pasrah, ia memang masih takut untuk menegur ibunya.


"Bu Ratna, itu gak punya malu apa? Padahal baru bercerai sama mantan suaminya ehhh... udah dapat laki-laki lain."


"Pak Angga, kan yang aku tau gak banyak bicara. Ehhh... malah pisah. Harusnya kamu ikut ayahmu, Divon!"


"Kemarin aku lihat, Bu Ratna sama laki-laki itu ribut. Ada wanita yang datang juga, tapi kelihatannya mereka ribut besar. Wanita itu nunjuk-nunjuk Bu Ratna, sepertinya... dia istrinya laki-laki itu."


"Wahh!! Serius!!"


"Iyalah! Istrinya ngamuk-ngamuk, ngancam sampai mau bawa polisi."


"Udah keterlaluan itu. Bu Ratna pasti yang goda-goda suami orang Ya ampun... wanita penggoda yang gak punya malu emang!"


Divon berlari, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya. Saat anak seusianya yang harusnya hanya memikirkan bermain bersama teman-temannya justru menghadapi semua ocehan dan hinaan tentang ibunya.


Divon masuk kedalam rumah, memang benar ibunya masih saja membawa laki-laki tua itu masuk kedalam rumah.


"Ibu!"


"Divon... Kenapa nak?"


"Berhenti bawa laki-laki ini masuk kerumah! Apa ibu gak mikirin ayah? Semua orang juga ngomongin tentang ibu."


"Biarin saja, mereka ngomong sesuka mereka nak."


"Tapi aku gak suka, ibu dihina! Ibu kenapa gak cari kerja yang lain. Aku gak mau ngeliat wajah laki-laki tua ini lagi dirumah kita."

__ADS_1


"Divon! Jaga bicaramu! Yang sopan! Pak Made ini yang akan--"


"Aku gak mau punya ayah baru! Usir laki-laki tua-"


Plakk...


Tamparan keras, akhirnya melayang di pipi kanan anak laki-laki nya itu.


"Ratna!!!" Suara laki-laki ikut menimpali.


"Aku benci ibu! Aku akan pergi dari rumah! Aku gak mau tinggal bersama ibu! Aku mau sama ayah!!!"


Saat itu, Ratna menyadari jika perilakunya sangatlah keterlaluan. Divon, putranya masih sangat kecil wajar kalau anak laki-laki nya itu marah. Ratna tidak bisa mengendalikan emosinya, bagaimana pun ia melakukan ini semua demi Divon.


Divon memilih tinggal bersama ayahnya, meski ayahnya itu hanyalah seorang sopir pribadi dari Pak Frans. Majikan ayahnya adalah orang yang terpandang, seorang pengusaha batu bara yang sukses. Divon senang, setidaknya ia tidak lagi mendengarkan banyak hinaan tentang ibunya.


Semua kesenangannya tidak beransur lama, saat usianya baru menginjak 17 tahun sang ayah meninggal karna mengidap penyakit komplikasi jantung. Divon tidak menyangka, ayahnya secepat itu pergi. Ia sangat terpukul, namun keluarga dari ayahnya itu mengajaknya tinggal bersama. Divon menolak, meski keluarga satu-satunya yang ia miliki adalah kakak kandung ayahnya dengan istrinya itu tetap saja Divon tidak ingin tinggal bersama mereka. Dirinya tahu, jika kematian ayahnya slalu disalahkan atas nama ibunya.


Tante Devi, sangat tidak suka dengan ibunya. Wanita berumur 30 tahun saat itu, trus menyinggung ibunya adalah penyebab kematian utama ayahnya. Divon tidak bisa tinggal bersama mereka, dengan bermodal doa, tekad dan keberanian ia memilih jalan hidupnya sendiri.


Divon memilih tinggal seorang diri, ia terpaksa bekerja agar sekolahnya tidak terhenti. Berbekal pengalaman menyetir mobil yang pernah ayahnya ajarkan dulu, Divon memutuskan bekerja serabutan. Pegawai caffe, pengantar makanan sampai sopir pribadi juga pernah ia jalani. Tuhan mendengar doanya, hingga ia bertemu dengan sosok Clara.


Clara Agnessa, wanita yang pernah ia tolong karna sebuah insiden lalu mengantarkan nya sampai ke pekerjaan nya sebagai OB. Divon beruntung, baginya Clara adalah wanita yang baik. Dikaruniahi kecantikan, keramahan serta kepintaran membuat Divon mengaguminya.


Seperti sekarang ini, Clara memanggilnya untuk datang keruangan direktur utama. Clara memang seorang direktur, sejak 3 bulan yang lalu sebelum ayah wanita itu meninggal dunia. Semua aset perusahaan, dan warisan jatuh kepada Clara satu-satunya putri dari Pak Senno yaitu adik kandung ayahnya Arletta.



Divon menurut, lalu duduk di kursi. Clara menatapnya, dan setelah itu ia berdiri berjalan hingga akhirnya terhenti di samping kanan meja. Divon menatap bingung dengan alis tebal yang terangkat.


"Nanti malam, ada perayaan untuk merayakan berhasilnya kesepakatan kerja ZX ONE dengan GMB GROUP. Ini atas usulan, Pak Adam katanya kalau aku merayakan ini, semua tamu dari berbagai perusahaan akan mulai tertarik dan ingin bekerja sama dengan ZX ONE. Menurut mu gimana, Div?" Setelah mendengarkan cerita dari Clara, membuat Divon tersenyum.


"Menurut saya, itu bagus. Yang dikatakan Pak Adam memang benar Bu, tidak ada salahnya anda menyetujuinya," Balas Divon, menyuarakan pendapatnya. Clara ikut setuju, dan mengangguk.


"Seharusnya, Kamu yang jadi sekretaris ku Divon! Pak Adam itu, kadang masih sering keluyuran. Kadang dia, tidak ada di kantor saat aku butuhkan makanya aku nanya ke kamu, Div. Satu lagi! Jangan bicara formal, kalau aku lagi ngomong berdua sama kamu. Santai aja, umur kita beda 4 tahun. Sebenarnya aku belum siap harus dipanggil Bu, aku terlihat seperti orang tua apa kamu tau!"


Divon tertawa menanggapi keluh kesah Clara. "Maaf mbak Clara, aku udah biasa manggil mbak Clara dengan sebutan ibu. Apalagi pas lagi jam kerja."


Clara menatap Divon juga ikut tertawa, ia menepuk-nepuk bahu kanan Divon, karna tlah terlarut dalam topik ini.


************


[ B. G. L. S ]


*************

__ADS_1


Malam tlah tiba, tepat di hotel mewah. Sebuah pesta perayaan sudah dimulai. Setelah selesai mengucapkan beberapa kalimat pembuka/pidato kecil dari Clara, sontak semua orang yang datang tertawa bahagia. Sekilas, Divon yang sudah rapi dengan setelan kemeja itu tersenyum. Ia melirik Clara dari jauh, wanita itu terlihat bahagia, mungkin karna pestanya berjalan lancar dan meriah.



Divon melihat ke sekeliling nya, ia juga berjalan menghampiri beberapa tamu untuk menawarkan minuman yang ia bawa. Kali ini yang datang sangat banyak, terlebih lagi semuanya adalah orang-orang dari pebisnis besar.


Divon memusatkan pandangannya, dari jauh ia bisa melihat dua orang yang sedang bicara. Merasa ada yang aneh, Divon mulai mendekat tapi ia memberikan terlebih dahulu nampan yang tlah kosong itu ke teman sesama nya. Divon mulai penasaran, gerak gerik sosok laki-laki tinggi itu sangat mencurigakan.


"Ikutlah denganku, Letta! Ayahku, ingin bertemu denganmu," Ujar laki-laki berpakaian dengan jas coklatnya, tangannya memegang pergelangan tangan kiri gadis yang menatap kosong didepannya.


"Lepas! Aku ngga mau! Untuk apa lagi, aku harus datang ke rumahmu?" Arletta, bertanya dengan tangan kiri yang ia tarik agar terlepas dari cekalan.


"Letta! Ingat, aku ini tunanganmu!!" Nada bicara laki-laki itu mulai membesar.


"Aku bukan lagi tunangan mu, Grey! Kau sendiri yang membatalkannya. Apa, kau lupa! Pengkhianatan mu dulu ha! Kau malu kan karna aku buta, makanya kau lebih senang mencari wanita lain. Dasar Buaya!!"


"Arletta! Itu hanya masa lalu, aku kan udah minta maaf. Lupakan kesalahan ku dulu, sekarang ikut denganku--"


"Apa kau tuli, Grey! AKU BILANG NGGA MAU, YA NGGA MAU! AWAS! MENYINGKIR DARIKU!"


"Kau emang seharusnya minta aku berbuat kasar, Kau Ini--" Saat tangan, Grey mulai mengambil paksa tongkat yang Arletta pegang hal itu ditahan oleh tangan kanan seseorang.


"Seharusnya, anda tidak bersikap kasar! Terlebih lagi dengan seorang wanita. Tindakan anda sangat tidak terhormat, Tuan!"


Divon datang, ia menahan gerakan kasar dari tangan laki-laki yang tinggi setara dengannya.


Arletta memutar kepalanya, mencoba mencari letak sumber suara tersebut. Tepat disebelah kanannya. Ia sedikit maju, tangannya dengan susah payah ia lepaskan lalu meraba seseorang yang barusan datang disamping nya. Arletta menemukan nya, ia memegang ujung baju dari pinggang laki-laki itu, matanya menatap kedepan seolah minta perlindungan.


"Siapa kau? Berani sekali ikut campur dengan urusan ku! Apa kau, tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!" Grey memberi suara yang sangat tegas, urat-urat dilehernya sampai terlihat.


"Oh... Kau hanya pelayan, tapi bertingkah-"


"Hentikan, Grey! Atau aku akan berteriak!" Arletta setengah teriak, berusaha memberi gertakkan.


"Argh, Sial! Kau lolos untuk saat ini, Letta. Aku akan datang lagi!" Grey, pergi begitu saja. Arletta menghembuskan nafas nya, setelah aroma parfum Grey tidak terhirup lagi.


"Tenanglah, tapi apa kau baik-baik saja? Ehh tunggu! Kau cewek yang ada di toilet itu kan?" Divon, meloloskan pekikan nya. Ia yakin, gadis yang ada disampingnya adalah gadis yang sama menabraknya dikantor.


"GREEN!!"


"KAU LAKI-LAKI YANG MENABRAK KU. WANGIMU SAMA. AKU MASIH MENGINGAT NYA. KAU LAKI-LAKI YANG BERAROMA GREEN ITU!!"


************


[ B. G. L. S ]

__ADS_1


************


Hai up lagi ni, semoga suka dan beri masukkan atau saran ya biar cerita ini tetap dilanjutkan. Tinggalkan jejak vote ya 😊


__ADS_2