
************
[ B. G. L. S ]
************
"Aku baik-baik aja pa. Papa ngga perlu khawatir."
"Maafkan papa, Letta. Papa gak bisa pulang malam ini, papa pikir bisa ambil cuti, ternyata gak bisa. Ada jadwal penerbangan sampai minggu depan. Papa minta maaf..." Sahut, suara dibalik ponsel yang Arletta pegang. Suara laki-laki paruh baya dengan nada menyesal.
"Papa fokus kerja aja. Ada, Pak Gio yang menemaniku." Arletta memberi suara hangat, agar ayahnya diseberang telfon tidak merasa khawatir.
"Apa kau datang ke perayaan yang dibuat kakakmu, Clara?" Ayahnya mulai bertanya.
"Hemm...." Arletta, hanya berdeham. Matanya setelah fokus melihat kedepan, kini ia menengok melihat ke samping kaca mobil. Walaupun tetap kosong dan gelap, ia yakin diluar pasti sangat ramai terbukti dari banyaknya suara mesin kendaraan.
"Iya, Pa! Aku datang bersama, Pak Gio. Pestanya, kelihatannya sangat meriah. Kak Clara pasti menghabiskan banyak uang untuk membuat pesta itu."
"Kakak mu memang seperti itu orangnya. Kamu jaga diri baik-baik, Letta. Papa akan segera pulang, setelah tidak ada lagi jadwal penerbangan."
"Iya, Pa. Papa juga baik-baik disana."
"Tentu. Papa mencintaimu, sayang."
"Aku menyayangimu, Pa." Setelah tidak ada lagi percakapan, Arletta memutuskan sambungan telepon.
"Pak Gio! Ini ponselnya," Ujar Arletta dengan tangan kanan yang terulur kedepan. Pak Gio mengerti, lalu tangan kirinya berusaha mengambil ponsel yang Arletta berikan. Berhasil, ia memasukkan ponselnya kedalam dashboard, sebelum akhirnya kembali fokus menyetir.
"Papa non mungkin masih sangat sibuk. Kalau tuan besar tidak sibuk, pasti beliau akan segera pulang," Pak Gio, menyuarakan pendapatnya. Ia melirik ke pantulan kaca persegi panjang. Arletta hanya diam tanpa menjawab sedikitpun.
Cittt.....
Pak Gio mengerem mendadak, setelah ada gerombolan laki-laki bertubuh besar yang berhenti dan menghadang mobilnya.
"Add-aa apaa, Pakk?" Tanya, Arletta dengan wajah panik.
"Non, Letta! Non, tetap disini ya! Jangan keluar, saya akan melihat mereka."
"Haaa! Taapii, Paakk!! Pak Gio! Pakk!!" Arletta semakin panik. Tidak ada sahutan suara dari pengawalnya. Ia mulai meraba-raba objek didepannya.
"Pakk Giooo!" Arletta memanggil, matanya seakan mencoba mencari sesuatu. Kosong, Arletta benci dengan semua kegelapan ini. Suara pukulan sangat terdengar jelas, Arletta mengerti kenapa pengawalnya menyuruh untuk tetap di dalam mobil.
Tidak bisa tinggal diam, ia berusaha meraba-raba. Meraih apapun, sampai tiba-tiba sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangan kanannya.
"Ayo, keluar! Ayoo! Dasar buta! Seharusnya, bos tidak menyuruhku untuk menculik gadis buta sepertimu!" Suara pria asing terdengar. Arletta dipaksa keluar dari mobil. Bau laki-laki beraroma rokok itu tercium sangat pekat di hidungnya.
"Lepaskan Akuu!!!" Arletta berteriak, tangannya masih diseret begitu kuat. Arletta kesusahan, ia tersandung sehingga lututnya berdarah.
Bughh...
"Sial! Kau benar-benar menyusahkan! Ayo bangun!" Laki-laki bertubuh kekar itu mengumpat, dengan sekali tarikan kasar ia berhasil membuat Arletta kembali berdiri.
"Lepaskan non Letta! Jangan pernah kau menyentuhnya!" Pak Gio, berteriak tapi naasnya suara gebukan semakin terdengar. Berkali-kali, Arletta bersusah payah melepaskan diri.
"PECUNDANG!"
Arletta mengarahkan pandangannya kearah timur. Ia mendengar sangat jelas, suara yang begitu familiar.
"Kalau berani, maju dan hadapi aku!"
Si Green...
Arletta tersenyum, tapi tangannya masih di cekal, ia menggunakan kaki kanannya untuk menginjak sesuatu.
__ADS_1
"Brengsekk!!!!" Umpat, laki-laki itu. Arletta meninju ke sembarang arah, tangan kanannya ia ayunkan sampai mengenai suatu objek.
"Awwhh! Sialan!!"
"Kau yang sialan! Dasar keparat! Enyahlah dari hadapanku!" Arletta ikut membentak dengan disertai umpatan pedasnya. Dia memang pandai mengumpat, karna dia adalah ratunya umpatan.
"Dasar buta! Berani Sekali Kau, Sialan!" Laki-laki itu hampir melayangkan tinjuannya, tapi tangan Divon lebih dulu menahan dan memelintirnya.
"Sialan! Siapa lagi kau? Jangan menjadi pahlawan, atau aku akan menghabisi mu!"
"Habisi saja, sebelum itu aku yang lebih dulu mematahkan tanganmu!" Ujar, Divon diselingi gertakan tajam.
"Awwhh.... Brengsekk!!" Teriak laki-laki tersebut, merasa tangan kanannya dipelintir kuat sampai dipunggungnya. Divon menendang lutut belakangnya, sehingga laki-laki bertubuh gempal itu tersungkur ketanah.
Dari arah lain, suara beberapa kawanan laki-laki itu datang lalu menyerbu Divon tanpa ampun. Divon yang mendapat serangan dadakan, menangkisnya. Ia mundur berusaha menghindari Arletta, tapi terlambat saat tubuh Arletta ditabrak kencang. Gadis itu tersungkur, lutut dan tangannya semakin parah mengeluarkan darah.
"Aawwhhhhh...... Siapa yang menabrakku? Dasar ngga tau diri! Kalau aku udah bisa melihat, akan aku balas kalian nanti! Sakit..."
Suara Arletta seperti angin berlalu, semua preman bertubuh gempal mengeroyok Divon. Pak Gio yang merintih memegang perutnya itu, berusaha berdiri menghampiri nona mudanya.
Arletta bersusah payah menyeka beberapa kerikil atau pasir tanah di lutut dan tangannya. Ia tidak menangis, justru ia kesal dengan semua ini. Fikirannya melayang dengan ucapan preman tersebut.
Boss?
"Aku bersumpah akan membunuh boss mereka. Jangan meremehkan ku, meski aku ngga bisa melihat tapi bukan berarti aku ngga bisa mencari siapa dalang semua ini." Guman nya dengan pancaran kemarahan dimatanya.
"Non Letta, apa anda baik-baik saja? Maafkan saya non. Saya tidak bisa melindungi anda." Pak Gio datang, ia menatap sangat khawatir sekaligus panik.
"Pak Gio?"
"Iya! Ini saya non, Letta."
"Pak Gio gapapa? Preman itu, memukuli pak Gio kan?" Tanya, Letta gusar. Ia memusatkan pendengarannya di sebelah kanan.
"Gapapa pak! Ini luka kecil. Aku masih baik-baik aja," Ujar, Arletta menjelaskan. Ia tersenyum, berusaha menutupi rasa nyeri di lutut dan tangannya.
"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" Tanya, Divon yang tiba-tiba berseru. Ia menatap cemas Arletta dengan wajah penuh keringat. Divon mengatur nafasnya, berkelahi dengan kurang lebih 7 orang membuat tenaganya terkuras.
"Ahhh green! Tanganku terluka, dan lututku juga, tapi kau ngga apa-apa kan?"
"Iya. Aku baik-baik saja. Hmm... kau bisa berdiri?" Arletta menatap kebawah, setelah berusaha untuk berdiri tapi tiba-tiba ia kembali jatuh ketanah. Lagi-lagi ia memekik dan merintih. Rasa perih semakin menjalar di lututnya. Divon menghembuskan nafasnya, tanpa aba-aba tubuh Arletta seolah melayang di udara.
Apa ini? ia kesusahan. Arletta mencoba mencari objek untuk ia pegang. Objek lembut tapi tampak basah saat disentuh.
"Lingkarkan tanganmu di leherku, jangan di rambut!"
"Greennn!! Kau--"
"Aku menggendongmu, diam saja! Aku akan membawamu ke mobil." Divon bersuara dengan nada penuh perintah. Arletta tidak membantah, ia mengikuti saran Divon. Arletta mengeratkan pelukan tangannya dileher Divon.
Divon berjalan menuju mobil berwarna silver. Pak Gio mengikuti dibelakang Divon, sampai suara Divon kembali terdengar.
"Pak! Tolong buka pintunya." Buru-buru, Pak Gio membuka pintu mobil di jok belakang. Divon dengan hati-hati menaruh tubuh Arletta di jok sofa. Sudah berhasil, ia mencoba melepaskan gendongan bridal style nya.
"Kau sudah ada didalam mobil." Divon memberi tahu, tapi Arletta tidak bergerak seincipun. Kalungan dilehernya belum ia lepas.
"Kau sudah aman." Lagi, Akhirnya Divon membuang nafas beratnya.
"Bisa kau lepaskan tanganmu dariku!"
"Haa???"
"Kau terus memeluk leherku. Aku kesulitan keluar, jadi lepaskan tanganmu dariku!" Divon kembali memerintah, seakan paham Arletta justru semakin mengeratkan pelukannya itu.
__ADS_1
ssrtt...
"Apa yang kauu---"
"Jangan pergi...." Lirih, Arletta dengan tatapan penuh permohonan. Dari jarak dekat, bahkan deru nafas Arletta berkali-kali menerpa wajahnya, tidak sedikitpun Divon memalingkan wajahnya. Ia menatap secara intens mata yang masih dipenuhi ketakutan.
"Tidak apa-apa..."
"Tenanglah..."
"Mereka sudah pergi. Kau sekarang aman. Lebih baik kau segera pulang, istirahat." Divon ketiga kalinya bersuara, ia mengusap lembut kepala Arletta berusaha memberi ketenangan.
"Terimakasih. Aku akan membalas jasamu ini." Divon menegakkan tubuhnya, setelah kalungan dilehernya memudar.
"Tidak perlu. Aku ikhlas menolong mu, lagi pula aku kebetulan lewat disekitar sini." Tolak, Divon dengan diakhiri senyuman tipis. Meski Arletta tidak melihatnya, tapi Pak Gio justru membalas senyuman itu.
Pengawal itu sudah duduk didalam jok pengemudi. Ia hanya memandang ke kaca persegi panjang, menyaksikan Divon dan Arletta yang masih berbincang.
"Pulanglah..."
"Pak! Hati-hati dijalan."
"Baik tuan. Terimakasih anda sudah membantu saya dengan non Arletta." Pak Gio, membalas dengan anggukan ramah.
"Tunggu green!" Arletta menyela, membuat Divon yang sudah akan menutup pintu mobil menjadi terhenti.
"Pak Gio! Berikan kartu namaku," Ujar, Arletta memberi perintah halus. Pak Gio paham, lalu buru-buru membuka dashboard mobil. Ia mengambil satu kartu lalu menyerahkannya dibelakang.
"Ini non. Awas, kepala anda!" Arletta meraba-raba, tangannya meraih tangan kanan pengawal nya. Dapat, ia berhasil mengambil kertas berukuran kecil.
"Greennn!! Kau masih disini?"
"Namaku Divon, bukan green! Hmm... iya aku masih disini."
"Ahh iya namamu Divon. Oh ini, ambillah ini kartu namaku. Meski kau bilang ikhlas tapi aku ingin memberikanmu ini." Arletta mengulurkan tangan kanannya, dengan tangan kiri menggapai suatu objek. Divon mengerti, lalu mengambil kartu kecil dari tangan Arletta.
"Ada nomerku disana. Jangan lupa telfon aku nanti ya! Awas kalau ngga nelfon. Kau harus menelfonku pokoknya, atau aku juga harus tau nomormu? Sini aku minta--"
"Tidak perlu!" Divon memotong cepat. Ia menghembuskan nafas beratnya.
"Iya! Aku pasti akan telfon."
"Janji ya??"
Divon kembali menghembuskan nafasnya. Baginya, permintaan Arletta sangat aneh.
"Iya janji. Sudah ya, aku harus segera pergi." Setelah mengatakan ucapan perpisahan, pintu mobil langsung ditutup.
"JANJI YA! AKU AKAN MENUNGGU TELFON DARIMU! AWAS AJA, KALAU BENERAN NGGA NELFON. AKU AKAN MENEMUIMU BESOK DIKANTOR!"
Pak Gio hanya bisa menggelengkan kepala, suara teriakkan nona mudanya itu sangat nyaring. Sedangkan Divon, tidak terlalu menganggap penting. Ia mulai berjalan, tapi tiba-tiba berhenti.
Divon mulai penasaran, dan saat itu juga ia mengambil kartu nama di saku jaketnya. Divon mengangkat kedua alisnya, karna berhasil membaca isi kartu tersebut.
************
[ B. G. L. S ]
************
Halo aku up lagi, semoga part kali ini suka dan kalian menikmati. Tolong tinggalkan jejak vote, dan komentar ya. Beri saran juga 😊
__ADS_1