
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, langit pun mulai menunjukan keindahan para bintang nya, sementara itu dibawah Langit yang indah ini terlihat sosok Diana yang berjalan di lorong Istana mencari Liliana yang tak kunjung dilihatnya
"sebentar lagi waktunya makan kenapa aku tidak melihat putriku sama sekali" fikir Diana yang merasa khawatir sebagi seorang ibu yang sangat menyayangi kedua anaknya.
Dia terus melangkahkan kakinya mencoba menuju ke kamar salah satu Putrinya itu, sementara untuk Ana dia tidak perlu khawatir tentangnya, karena ada Fortaz yang selalu menempel dengan dia bagaikan lem yang tak bisa di pisahkan, mengenai itu, mungkin Fortaz sangat merasa kasihan kepada Ana yang harus ditinggalkan kedua Orangtuanya atau bahkan lebih dari itu, entahlah Diana sama sekali tak berani membayangkan Fortaz yang dulu selalu meminta perlindungan darinya itu menjadi seorang Lolicon.
Tepat sesudah ia memasuki kamar Liliana, ia disuguhi oleh pemandangan sosok Liliana yang terlentang dengan suara dengkuran seperti **** yang sedang sekarat di atas ranjang, dia mengedarkan pandangan nya mendapati sosok anak kecil yang tertidur di atas Kursi tepat di bawah tirai yang masih terbuka membawa hembusan angin kecil yang mengenai wajah anak kecil itu, dia perlahan mendekat berniat membangunkan keduanya, namun dia kembali harus mematung di tempat ketika ia melihat bekas air mata di pipi manis anak tersebut, bagaimanapun dia sampai lupa bahwa se Arogan atau Angkuh apapun Ling Xinyu ia tetap seorang Anak kecil yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari kedua Orangtuanya.
Dia perlahan mendekati Ling Xinyu, sebagai sosok yang mempunyai dua Orang Anak tentunya ia merasa sangat prihatin dengan kondisi Ling Xinyu, dari lubuk hatinya yang terdalam seperti ada sosok yang berbicara menyuruh dia memeluk Ling Xinyu agar Ia juga merasakan kehangatan sebuah keluarga, ia mendekat berniat mendekap nya, namun ia tak tega jika perbuatan nya itu akan membangunkan Bocah kecil dihadapan nya itu.
Perlahan ia mengambil bangku juga duduk disamping Ling Xinyu, ia membelai rambut anak itu dengan penuh kasih sayang, ia membayangkan bagaimana jika dirinya berada di posisi Ling Xinyu.
Apakah ia akan tahan dengan semua itu?
Tentu saja tidak, terkadang hidup memang begitu adanya, penuh omong kosong dan ketidak adilan, dia membayangkan sekali lagi seorang anak yang harus menghabiskan waktunya dihutan, bukan untuk bermain, melainkan untuk kekuatan, latihan menjadi mainan sehari harinya, ia memaklumi mengingat Ling Xinyu yang Arogan dengan kekuatan yang ia dapat dengan jerih payahnya.
Meskipun begitu anak di depan nya itu tetap mencari keberadaan Orang tuanya, ia ingin memastikan segala kegundahan yang mengganjal dihatinya, dengan kekuatan ia juga sangat ingin melindungi keluarganya.
Sebagai orang tua Diana sangat tersentuh dengan sikap yang ditunjukan Ling Xinyu,
Seorang anak kecil yang berani melewati segala rintangan hidup dan mati, hanya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, ia tak berani untuk menahan isak tangis nya, Air mata berjatuhan dari pelipis mata yang sangat indah itu.
"hoaaam"
Uap Ling Xinyu yang merasakan ada tetesan air menjatuhi wajahnya.
ling Xinyu mengucek kedua matanya dengan tangan kecilnya itu, perlahan ia melihat sosok Diana disamping nya yang sedang mengusapi bekas air matanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis" tanya Ling Xinyu dengan polosnya bagaikan anak kecil yang sedang memohon sesuatu kepada ibundanya.
Diana yang melihat mimik wajah Ling Xinyu kembali merasa iba, ia kembali menjatuhkan air mata tanpa seijin dirinya.
"Apa aku bersalah ?
kalau begitu maafkan aku" kembali Ling Xinyu yang masih tidak mengerti situasi dirinya saat ini
"Hiksss"
desah Diana yang sudah tak tahan ia kemudian segara memeluk Ling Xinyu dengan penuh kehangatan.
"Jangan lepaskan, biarkan aku memelukmu sebentar saja"
Ling Xinyu hanya terdiam tidak tau harus berbuat apa, dia merasa tak bersalah, karena ia baru bangun tidur dan langsung melihat Diana yang sedang menangis kemudian mendekapnya.
"Baiklah, segera siapkan dirimu, sebentar lagi waktunya makan malam" ucap Diana yang melapas pelukan nya itu ia segera kembali menguasai dirinya yang seperti semula.
"Wanita memang aneh" tatap Ling Xinyu yang menyadari perubahan sikap Diana
...
.....
Suasana ruang makan kali ini tidak begitu mengasik kan hanya ada Fortaz yang mengoceh seperti biasanya dia mencoba memasukkan segala makanan ke mulut kecil Ana, sungguh berlebihan.
seperti biasa selesai makan dilanjutkan dengan basa basi tentang perkembangan Liliana, sementara Diana hanya terdiam diri saja, Ling Xinyu entah kenapa merasa bersalah akan hal itu, ia merasa seakan akan dirinya lah penyebab Diana menjadi murung seperti sekarang, dia ingin bertanya, tapi situasinya kurang pas akan hal itu, kemudian ia tak lupa memberi jadwal pelatihan Liliana sebelum beranjak dari meja makan, karena waktu Turnamen Antar Anak muda di adakan sepuluh hari kedepan Ling Xinyu segera menyuruh Liliana giat berlatih, dia telah menyusun segala kegiatan Liliana yang akan sangat melelahkan dimulai dari lari keliling Istana dipagi hari dilanjutkan latih tanding di siang hari kemudian pelatihan sihir dan meditasi di sore hari, meditasi sendiri lebih baik dilakukan di sore hari karena itu bisa membuang banyak sekali zat Negatif didalam tubuh, Ling Xinyu yang sudah mengatakan segalanya menghilang dibalik kekosongan.
__ADS_1
Satu persatu isi meja mulai kosong, dari Liliana yang ingin meningkatkan pemahaman nya tentang sihir, sampai ke Fortaz yang ingin membacakan dongeng untuk Ana, hingga tiba waktunya Diana.
Dia dengan malas dan suntuk melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan yang sudah mulai dibersihkan oleh para pelayan, fikiranya melayang membayangkan Banyak hal, hingga tanpa ia sadari ia sudah berada di depan kamarnya.
"Segeralah masuk" suara seorang bocah dari dalam ruangan
Diana sangat mengenal suara itu segera melangkahkan kakinya kedalam ruangan
"Kenapa kau ada disini"
"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu secara pribada" Kata Ling Xinyu yang sedang duduk memangku segelas teh nya.
Diana langsung menuangkan teh kedalam gelas Ling Xinyu yang sudah hampir kosong, kemudian ia mengambil tempat disamping Ling Xinyu yang sedang asik meminum tehnya.
"Kenapa ada yang aneh dengan wajahku" Kata Ling Xinyu yang sedang merasa tak nyaman dengan tatapan Diana
"Tidak, apa kau merasa kesepian"
"Bisa dibilang iya, bagaimanapun banyak hal yang harus seseorang korbankan untuk berada di puncak rantai makanan" jelas Ling Xinyu
"Kenapa harus berada di puncak rantai makanan ?
bukan nya begini saja sudah cukup"
"Banyak yang menghantuimu jika kita tak berada di puncak Rantai Makanan seperti halnya sekarang, kita di hantui oleh para Demon dan para Zhoul, kita hanya akan mendapat kedamaian jika kita berada di puncak Rantai Makanan"
Diana yang mendengar penjelasan Ling Xinyu hanya terdiam memang benar yang dikatakannya, tapi bukan kah kata-kata itu milik orang dewasa
__ADS_1
"Aku mulai meragukan umurmu" selidik Diana yang ingin mengetahui sedikit kebenaran Rahasia tentang Ling Xinyu, sayang nya sepertinya itu terlalu dini
"Hah ..bukan kan aku sudah bilang Sembilan Tahun, jangan kan engkau, Aku pribadi juga meragukan kehidupan ini" balas Ling Xinyu dengan sorot mata yang mendalam seakan akan telah melewati Seribu macam kesengsaraan