
Matahari sudah bersinar terik di atas kami saat kami melihat benteng kota Banderang.
Dari jarak yang cukup jauh, kami menyadari ada sesuatu hal yang aneh. Di atas tembok benteng, berdiri makhluk hitam besar yang tidak lain adalah gorila besar. Sepertinya para gorila besar sudah masuk ke dalam kota. Sudah pasti keadaan kota sekarang sudah sangat gawat. Pertanyaannya apakah para penduduk kota masih bertahan?
Desfi menggertakan giginya. “Kita harus cepat.”
Kami segera memacu kuda secepat mungkin. Desfi sebagai utusan untuk meminta bantuan dari kota lain, dia tidak akan memaafkan dirinya jika dia terlambat membawa bantuan.
Bahkan bagi aku dan Nazdia, kota Banderang juga memiliki banyak kenangan setelah tinggal beberapa tahun disana. Kami juga mengenal banyak orang bersikap baik kepada kami saat kami kesusahan.
Dari cerita Desfi, sebelum dia pergi dari kota, para warga disarankan untuk berkumpul di sebuah bangunan tengah kota. Bangunan yang memiliki taman yang sangat luas dan dikelilingi tembok besi. Tempat itu harapan kami satu-satunya.
Saat kami tiba di depan gerbang utama kota, gerbang itu terbuka lebar, namun tidak terlihat ada bekas pertarungan. Sepertinya pertarungan melawan gorila besar terjadi di gerbang utara kota.
Saat kami melewati gerbang itu, semua mata kami terpana tidak percaya.
Kota Banderang yang di isi banyak bangunan tembok tinggi, sebagian besar dari bangunan itu sudah rusak parah, bahkan beberapa sudah rata dengan tanah.
Tidak hanya itu, di tengah jalan, bagian tubuh manusia berceceran. Darah yang mulai mengering dan bau amis darah tidak dapat kami hindari.
Pemandangan ini mengingatkanku kejadian 8 tahun yang lalu.
Tanpa menghiraukan pemandangan di sekitar, kami terus berjalan dengan kuda, saat ini hanya ada satu tempat yang segera kami tuju.
Antara senang dan sedih saat kami melihat bangunan yang kami tuju masih dikerubungi oleh lebih dari 20 gorila besar. Setidaknya kami belum benar-benar terlambat.
Dengan gerakan cepat kami melompat dari kuda dan mengikatnya di pagar besi, lalu berlari dengan cepat melewati pagar besi yang sudah roboh.
__ADS_1
Aku menyiapkan buku sihirku lalu memilih salah satu sihir dengan jangkauan area serangan yang luas. Buku sihir terbuka lalu kurasakan di atas telapak tangan kananku dipenuhi oleh energi sihir. Saat jarak aku berdiri sudah cukup dekat dengan para gorila besar berdiri. Aku meletakan telapak tangan kananku di tanah.
Dalam sekejap area lurus di hadapanku tertutup oleh es dan membuat hampir semua gorila besar tidak bisa bergerak.
Untuk sesaat aku mengamati keadaan di sekitarku.
Para petualang dan para penjaga kota bersatu melindungi bangunan di belakangnya, meskipun nyawa menjadi taruhannya, terlihat dari beberapa tubuh temannya yang tergeletak tak bergerak. Namun mereka tidak terlihat akan menyerah.
Di bagian paling depan, berdiri pemuda yang membawa dua pedang, pedang di tangan kirinya tertutup es dan pedang di tangan kanannya tertutup api yang berkobar. Dia terlihat kelelahan dan di beberapa bagian tubuhnya keluar darah. Dia pasti pemuda bernama Rasniar yang sebelumnya diceritakan oleh Desfi.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang aku buat, Rasniar melompat lalu mengayunkan kedua pedangnya, badannya berputar cepat. Dua kepala gorila besar terlepas dari lehernya.
Beberapa gorila besar menyadari kedatangan kami lalu menarik kaki dan tangannya yang tertutup es dengan keras. Mereka berlari ke arah kami berdiri dengan raungan yang keras.
Nazdia segera berdiri di hadapanku, menunggu serangan gorila besar dengan tamengnya.
Anifsa menyiapkan panahnya lalu menarik anak panahnya mengarah para gorila besar yang berlari ke arah kami. Lima detik berlalu, ujung anak panahnya tertutupi petir berwarna biru. Dia menembakan anak panahnya kearah leher gorila besar.
Saat tiba di hadapan kami, gorila besar mengayunkan tongkat kayu berukuran besar ke arah Nazdia. Nazdia menahannya dengan tamengnya. Lalu menusukan tombak yang ujungnya ditutupi api, ke arah leher yang sebelumnya terkena serangan oleh Anifsa. Dia memutar tombaknya hingga leher gorila besar berlubang.
Satu gorila besar tumbang. Masih ada 5 gorila besar yang berlari menuju arah kami.
Setelah melihat serangan panah petir Anifsa yang tidak cukup kuat melawan gorila besar, aku membuatnya lempengan lempengan es berukuran cukup besar. Sihir yang hanya bisa digunakan oleh petualang peringkat perak dan emas.
"Anifsa, kamu tembak di bagian yang aku serang."
"Baik."
__ADS_1
Aku menembakan lempengan es ke arah salah satu dada gorila besar, beberapa detik kemudian anak panah yang tertutupi petir melesat dengan cepat mengenai dada ya sudah terluka. Gorila besar itu jatuh ke tanah.
Tiga gorila sudah berada dihadapan Nazdia, bersiap untuk memukul dengan tangan mereka yang besar dengan sekuat tenaga. Mereka meraung dengan keras.
Nazdia dengan tenang menyiapkan salah satu kemampuan tameng yang dimilikinya. Untuk serangan fisik, tamengnya bisa memantulkan semua serangan.
Tiga gorila besar terpental ke belakang.
Satu gorila besar muncul dari arah samping dan dihadapi oleh Desfi. Dengan tameng di tangan kirinya di menangkis serangan pukulan keras dari gorila, lalu menebas dengan pedang api miliknya.
Namun luka yang diterima gorila belum terlalu dalam. Aku menembakan lempengan es ke arah gorila itu, lalu ditambah dengan serangan dari Anifsa, gorila itu roboh ke tanah.
Tersisa tiga gorila besar di hadapan kami.
Nazdia tanpa memberikan kesempatan gorila berdiri, dia menghunuskan tombak apinya menembus zirah bagian jantung gorila besar hingga tak bergerak.
Dengan cepat aku menembakan dua lempengan es ke dua gorila yang tersisa. Lalu diakhiri oleh Anifsa dan Defsi sebagai serangan terakhir.
Setelah memastikan semua gorila besar di hadapan kami tak bergerak, kami bergerak maju, menuju para petualang yang tersisa berada.
“Semua yang masih bisa bertarung,” teriakku pada para petualang dan pasukan penjaga di depanku. “Kita serang bersama.”
Mereka menjawab dengan teriakan keras. Beberapa dari mereka yang sebelumnya terlihat putus asa, sekali lagi mengangkat senjatanya. Dengan munculnya tiga petualang peringkat emas, tentu saja membuat jalannya pertarungan berbalik.
Masih ada lebih dari 50 ekor gorila besar yang tersebar di seluruh kota. Beberapa dari mereka masih berdiri di atas tembok benteng, lalu melompat ke sebuah rumah dan menghancurkannya.
Suara jeritan masih terdengar di sudut kota, sepertinya belum semua penduduk kota berkumpul di sini. Entah itu penduduk kota atau petualang maupun penjaga yang masih bertarung. Hal yang perlu di lakukan sekarang adalah mengalahkan semua gorila yang tersisa di hadapan kami.
__ADS_1
Sekali lagi aku membekukan tangan dan kaki gorila besar dengan sihirku agar mereka tidak bisa bergerak.
"Serang!" teriakku dengan sekeras mungkin.