Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 1. Part 6


__ADS_3

Setelah selesai makan, malam sudah semakin gelap.


Mataku sudah sangat berat untuk terbuka. Dimanapun aku berada, setelah makan memang paling enak adalah tidur. Namun, aku dan Nazdia harus berjalan kaki kembali ke penginapan.


“Bagaimana kalau kalian tidur di sini?”


Mendengar ucapan Anifsa membuat hatiku gembira. Jika diperbolehkan, pasti itu sangat melegakan karena tidak perlu berjalan kaki lagi.


“Nazdia bisa tidur denganku dan Rizkal tidur sendiri, gimana menurut kalian?” tanya Anifsa pada Lizfa dan Linda yang duduk berdampingan.


Lizfa dan Linda mengangguk bersama.


“Baiklah, sudah diputuskan.”


Setelah membereskan meja makan, masing-masing dari kami masuk ke dalam kamar.


Walaupun hari ini kami kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi kami, kami harus tetap tegar. Berdasarkan ingatan Rizkal, aku percaya, kita boleh bersedih, namun kita harus tetap melangkah maju bersama dengan orang yang kita sayangi.


Saat tiba di kamar yang aku tempati, aku segera melepaskan pakaian luarku lalu merebahkan tubuhku di kasur. Meskipun tidak senyaman di kasur penginapan, tapi masih lebih nyaman dibandingkan kasur di dunia asliku .


Akhirnya tidur juga.


Baru beberapa menit aku memejamkan mata dan belum benar-benar tertidur, pintu kamarku di ketuk.


Aku mendesah pelan, berdiri, lalu membuka pintu kamarku.


Nazdia berdiri di depan pintu kamarku.


"Boleh kita bicara sebentar?"


Tentu saja aku mengangguk, meskipun aku sudah merasa mengantuk, melihat wajah cantik Nazdia, aku tidak mungkin menolaknya.


"Ayo masuk," ucapku padanya menyilakan dirinya masuk.


Aku tidak terlalu mengerti kenapa aku menyilakan Nazdia masuk kamarku, namun sepertinya ini sudah hal biasa bagi Rizkal dan Nazdia bicara satu ruangan di dalam kamar. Bahkan beberapa kali juga tidur bersama, meskipun memang hanya tidur bersama tanpa terjadi apa-apa.


Walaupun aku mempunyai ingatan Rizkal, tapi aku bukanlah Rizkal. Dan ini pertama kalinya aku mengajak seorang gadis cantik masuk kedalam kamar.


Jantungku berdegup kencang.


Kami duduk bersisian di atas kasur. Aku menunggu Nazdia membuka suara, namun Nazdia tidak terlihat ingin mengatakan sesuatu. Dia hanya menunduk.


"Jadi…," ucapku pada akhirnya setelah beberapa saat keheningan di antara kami.


Nazdia menggeleng pelan. "Aku hanya ingin berada di dekatmu sebentar lagi."


"Mau tidur bareng?"


"Boleh?"


Aku mengangguk. Kami berdua merebahkan tubuh kami di atas kasur, untungnya luas kasur cukup untuk dua orang.


Kami berbaring dengan wajah saling berhadap-hadapan.


Aku memperhatikan wajah Nazdia dengan jarak yang sangat dekat, kali ini wajahnya terlihat cukup sedih.


Mata kami bertatapan untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba dari ujung matanya meneteskan air mata.


Aku mengusap air matanya pelan dengan jariku.


Entah ini perasaan milik Rizkal atau bukan, aku tidak ingin melihat Nazdia menangis.


"Aku siap mendengarkan," ucapku dengan suara pelan.


Tanpa kuduga, Nazdia membenamkan wajahnya pada dadaku.


"Anifsa hebat ya?" ucap Nazdia masih membenamkan wajahnya di dadaku, suaranya masih terdengar jelas.


"Maksudnya?"


"Meski kehilangan orang yang sangat berharga baginya, dia masih bisa tersenyum di depan adik-adiknya."


Nazdia benar, meskipun saat pertama kali Anifsa melihat Zazki telah tiada, dia menangis dengan sangat keras. Namun setelah bertemu dengan kedua adik Zazki, dia terlihat menjadi lebih tegar.


"Mungkin dia tidak ingin kedua adik Zazki semakin sedih ketika melihat dia menangis."


"Kamu benar," ucap Nazdia dengan suara pelan. "Jika aku menjadi dirinya, mungkin aku memilih untuk tidak melanjutkan hidup."


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu."


"Aku tidak tahu kenapa kita harus tetap hidup walaupun hanya penderitaan yang akan kita alami."


"Kamu menderita bersamaku?"


Nazdia menggeleng. "Tapi aku yakin tidak akan ada kebahagiaan jika kita berpisah."


Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya dan memilih mengusap punggungnya pelan.


"Kamu tahu, aku masih menangis saat mengingat mama papaku meninggal, hanya untuk melindungiku." Nazdia mulai terisak pelan di dadaku. "Jika aku juga kehilanganmu, aku tidak akan sanggup lagi melanjutkan hidup."


Aku tidak terlalu mengerti keadaan seperti ini, lagipula ini pertama kalinya bagiku. Satu hal yang aku mengerti adalah keinginan terakhir Rizkal adalah membahagiakan Nazdia.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, menurutku daripada memikirkan masa depan yang belum pasti, lebih baik memikirkan saat ini. Memikirkan bagaimana membuat kebahagiaan saat ini, yang dapat kita jadi kenangan untuk masa depan nanti. Jika suatu saat kita mengenang kenangan itu, kita bisa terus hidup agar kenangan itu tidak hilang dari ingatan kita, benar kan?"


Nazdia hanya terisak pelan.

__ADS_1


"Aku yakin kamu mempunyai kenangan indah bersama mama dan papamu."


"Kamu benar," ucap Nazdia lalu menjauhkan wajahnya dari dadaku.


Kami bertatap-tatapan untuk beberapa saat, mata Nazdia masih basah setelah menangis. Lalu dengan gerakan tiba-tiba wajahnya mendekat ke arah wajahku.


Kemudian bibir kami bersentuhan.


"Kenangan seperti ini?" ucap Nazdia setelah menjauhkan wajahnya dariku. Wajahnya memerah dan tersenyum malu.


"Kamu benar," ucapku lalu mencium bibirnya sekali lagi.


Ciuman pertamaku.


Sejujurnya aku masih merasa bersalah telah mengambil tubuh Rizkal secara tiba-tiba dan mengambil semua yang dia punya. Salah satunya adalah gadis di depanku.


Apakah tidak apa-apa?


Aku menyentuh lembut kulit pipi Nazdia. Masih ada perasaan bersalah di hatiku.


"Ada apa?" tanya Nazdia, lalu menyentuh lembut tanganku yang berada di atas pipinya. "Hari ini kamu sering melamun."


Aku mengangguk, ku gerakan ujung jempolku merasakan halusnya kulit Nazdia.


"Misalkan," ucapku pelan, ada keraguan saat aku ingin menceritakan kegelisahanku. "Misalkan, Rizkal yang dihadapanmu bukan Rizkal, apa yang akan kamu lakukan?"


Untuk sesaat Nazdia hanya menatapku, memperhatikan wajahku dengan teliti. Meskipun pertanyaanku sangat aneh, dia tidak terlihat kaget sedikitpun.


"Maksudnya?"


Aku menyakinkan pada diriku. "Jika aku yang sekarang adalah kepribadian seseorang dengan ingatan Rizkal."


"Aku tidak paham." Nazdia memejamkan kedua matanya, terlihat memikirkan sesuatu. "Tapi ada satu hal yang ingin aku pastikan?"


Aku mengangguk.


"Kamu masih ingat janji kita dulu?"


"Mencari kebahagiaan bersama, kan?"


Nazdia mengangguk lalu tersenyum dengan sangat manis. Dia membenamkan wajahnya di dadaku sekali lagi.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu," ucap Nazdia dengan sangat pelan, tapi masih bisa kudengar dengan jelas.


Aku mengusap punggungnya pelan. "Aku juga, apapun yang terjadi, aku akan membahagiakanmu."


Demi Rizkal dan diriku sendiri, aku berjanji dengan berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan Nazdia.


Akhirnya, aku menyadari sesuatu tentang tujuan hidupku di dunia ini, demi Nazdia aku akan berusaha lebih keras.


Di dunia asliku, apakah ada seseorang yang ingin aku bahagiakan?


Saat aku mengingat dunia asliku, mungkin ini waktu yang tepat untuk kembali ke dunia asliku.


Tapi bagaimana aku memanggil makhluk kecil itu.


Seperti yang aku ingat tadi sore, pandanganku berubah menjadi kelabu sekali lagi.


Waktu berhenti.


Cahaya kecil muncul lalu beberapa saat kemudian keluar makhluk kecil yang sudah aku tunggu.


Dia terbang berputar-putar di atas tempat tidurku, sampai akhirnya berhenti.


"Kamu memanggil ku?"


Aku berusaha untuk duduk, namun karena Nazdia masih membenamkan wajahnya di dadaku, aku cukup kesulitan menggerakkan tubuhku. Lalu aku mencoba mendorong tubuh Nazdia agar sedikit menjauh dariku. Namun aku menyadari sebuah keanehan.


Aku tidak bisa menyentuh Nazdia.


Karena terkejut, aku bangun dari kasurku.


Aku berdiri dan melihat tubuh Nazdia masih membenamkan wajahnya pada dadaku, atau lebih tepatnya tubuh Rizkal. Iya, aku masih melihat tubuh Rizkal meskipun aku sudah berdiri.


“Ada apa? Apa kamu baru sadar, kamu yang sekarang hanya arwah?” ucap makhluk kecil di depanku dengan menyilangkan kedua tangannya, terlihat kesal.


“Apakah siang tadi juga begini?”


“Aaahhhh…,” Makhluk kecil itu mendesah dengan sangat kesal. “Sia-sia kan penjelasan panjangku tadi.”


“Maaf,” ucapku merasa bersalah. Mungkin karena terlalu heran dengan yang terjadi, siang tadi aku tidak memahami semua ucapan makhluk kecil itu.


Aku memperhatikan tanganku dan masih bisa kugerakan, namun hal yang aneh adalah tanganku yang sekarang tembus pandang.


“Tidak masalah, itu sudah biasa bagiku." Makhluk kecil tertawa dengan keras dan cukup mengagetkanku. “Jadi, kamu ingin kembali kedunia aslimu sekarang?”


“Ah iya benar,” jawabku cepat, aku tetap tidak mengerti kelakuannya.


“Baiklah, tapi ada beberapa hal penting sebelum kamu kembali, dan kali ini jangan sampai melupakannya.”


“Aku mengerti.”


"Pertama, jika kami ingin masuk kedunia ini lagi, kamu harus memegang bola hitam saat tidur. Jika tidak, kamu tidak akan masuk ke sini.


Kedua, bola hitam di dunia aslimu, hanya kamu yang bisa melihatnya, bahkan orang lain pun tidak bisa menyentuh apalagi melihat bola hitam. Jadi sebaiknya simpan di tempat yang aman.

__ADS_1


Dan yang terakhir, namaku Pieria, panggil saja namaku, aku pasti datang."


Aku mengangguk mencoba mengingat dan menyimpan di dalam otakku. Namun sepertinya penjelasan kali ini lebih singkat dibanding saat siang tadi.


Bahkan hal penting seperti nama Pieria, tidak sempat dijelaskan padaku. Bagaimanapun, sekarang aku ingin kembali ke dunia asliku dan melihat apakah semua yang dikatakan Pieria semuanya benar.


"Tunggu dulu ," ucapku teringat sesuatu. "Apakah bisa aku kembali saat aku tertidur malam ini."


Setidaknya aku terlelap di samping gadis yang aku sukai, lagipula aku merasa tidak enak, jika tiba-tiba meninggalkannya saat seperti ini.


"Itu hal yang mudah." Pieria mengangkat jempolnya. "Baiklah kalau begitu, tunggu, satu hal lagi."


"Ehh…."


"Aku harap kamu tidak menyesal datang ke dunia ini dan masih mau melanjutkan hidup disini."


"Tentu saja, jangan khawatir."


"Baiklah, sampai ketemu lagi nanti."


Aku mengangguk, lalu memperhatikan Pieria berubah menjadi gumpalan cahaya.


Sebelum waktu berjalan kembali, dengan cepat aku berbaring seperti semula.


Pandanganku berwarna kembali.


Aku mengusap pelan punggung Nazdia sebelum aku mencoba memejamkan mataku.


"Selamat tidur, Nazdia."


"Selamat tidur juga, Rizkal."


***


Aku membuka kedua mataku.


Pemandangan yang sangat tidak asing terlihat olehku. Aku mengerjap-kerjapkan mataku beberapa kali, mencoba melihat angka pada jam dinding kamarku.


16.00.


Jika tidak salah ingat, aku ketiduran sekitar jam 14.30.


Aku mendesah pelan. Ku angkat tangan kananku dan melihat bola hitam sekali lagi.


Semua ucapan Pieria benar, meskipun aku melewati dunia itu lebih dari 12 jam, namun disini hanya terlewati 12 menit ya?


Itu seperti mimpi sekaligus seperti kenyataan.


Bahkan perasaan sedih yang aku rasakan di dunia itu masih bisa ku rasakan sekarang.


Nazdia, ya?


Jika aku mempunyai seseorang seperti Nazdia di sini, mungkin hidupku bisa lebih baik.


Aku menggeleng pelan.


Bahkan jika ada Nazdia disini, aku tidak yakin dia akan tetap mencintaiku saat melihatku seperti ini.


Menyedihkan, kan?


Ditambah lagi, ada banyak hal yang berbeda. Saat aku berada di tubuh Rizkal, aku merasa aku bisa berusaha dengan keras demi Nazdia. Namun saat aku kembali ke tubuh asliku, aku merasa hal seperti itu mustahil dilakukan di dunia ini.


Di samping aku tidak mempunyai teman perempuan yang cukup dekat, bahkan laki-laki pun juga hampir tidak ada. Kedua orang tuaku pun sama, aku merasa mereka tidak menyayangiku, mereka selalu sibuk bekerja. Seolah mereka hanya membesarkanku hanya untuk aset masa tua mereka. Tentu saja itu bukan hal yang salah, tapi itulah mengapa, aku merasa tidak perlu berusaha dengan keras.


Hidup di dunia ini mustahil demi orang lain?


Meskipun suatu saat aku menemukan gadis yang aku sangat cintai dan mencoba berusaha keras demi dia. Tapi semua itu tidak menjamin gadis itu akan setia. Di dunia dengan segala kenyamanan dalam menjalani kehidupan, mencari seseorang pengganti bukanlah hal yang sulit.


Tentu sangat berbeda dibandingkan dengan hidup Rizkal dan Nazdia. Setelah menjalani hidup dan mati bersama, mereka tidak mungkin dengan mudahnya berganti pasangan.


Aku bangun dari tidurku, lalu duduk di tepi kasurku, tanganku masih menggenggam bola hitam.


Aku mendesah pelan.


Apa yang harus aku lakukan.


Mengingat semua kejadian yang terjadi di dunia itu, seharusnya aku tidak bermalas-malasan lagi kan?


Tapi entah mengapa, tidak semudah yang aku kira, berbeda dengan tubuh Rizkal yang dengan mudah untuk melakukan sesuatu, tubuhku yang asli terasa sangat berat untuk melakukan sesuatu.


Ini hasil dari kemalasanku selama ini ya?


Setidaknya aku ingin melakukan sesuatu hal kecil dahulu.


Push up 5 kali, squat jump 20 kali dan sit up 10 kali.


Setelah melakukan itu semua, jantungku berdegup kencang dan nafasku tidak teratur. Itu adalah batas aku berolahraga, jika melebihi itu, badanku akan merasakan sakti.


Aku mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya.


Waktunya mandi.


Saat aku hendak melangkah keluar kamar, pandanganku teralihkan pada sebuah laptop di atas meja belajarku. Aku ingat ada daily quest yang belum aku lakukan di salah satu game yang sekarang aku sangat sukai.


Sepuluh menit tidak apa-apa kan?

__ADS_1


Aku menggeleng keras. Memantapkan hatiku lalu berjalan ke arah kamar mandi.


__ADS_2