Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 1. Part 5


__ADS_3

Perjalanan menuju rumah Zazki membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit dengan berjalan kaki. Semakin malam, jalanan mulai sepi, walaupun di beberapa tempat masih terlihat cukup ramai.


Saat kami tiba rumah Zazki, Anifsa dan kedua adik Zazki sudah menunggu kedatangan kami.


“Kukira kalian tidak jadi datang, ayo masuk,” ucap Anifsa, wajahnya sudah agak lebih cerah.


Saat kami baru saja melewati pintu masuk, Lizfa menundukan kepala padaku.


“Tuan Rizkal, jika diperbolehkan, izinkan saya masuk ke dalam kelompok menggantikan kak Zazki, meskipun kemampuan berpedang saya masih belum sehebat kak Zazki, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin, membawa barang bawaan pun tidak apa-apa.”


Melihat Lifza gadis yang baru berumur 11 tahun mengatakan itu, aku tertegun. Bukankah aku sudah berjanji merawatnya?


Aku menatap Anifsa, seharusnya dia sudah menceritakannya kan?


Anifsa memalingkan wajahnya, pura-pura tidak tahu apa-apa.


Bagaimanapun, aku tetap tidak mengerti kenapa semua orang di dunia sangat berusaha keras hanya untuk bertahan hidup. Rizkal, Nazdia, Anifsa, Zazki dan kedua adiknya. Jika aku diposisi mereka, mungkin aku memilih untuk terbunuh oleh monster dibanding berusaha keras lalu pada akhirnya juga terbunuh oleh monster.


Di dunia asliku, aku tidak mempunyai alasan kenapa aku harus berusaha keras. Aku menjalani hidup semampu yang aku bisa, menurutku berusaha sangat keras dan berlebihan adalah sesuatu yang tidak diperlukan. Bagaimanapun, suatu saat, kita pada akhirnya akan meninggal kan?


Sebagai seseorang yang memiliki kepercayaan dan meyakini ada dunia abadi setelah kita meninggal, aku merasa sudah semampuku menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan-Nya. Meskipun tentu saja aku bukanlah seseorang yang baik, namun setidaknya aku juga bukan orang yang jahat.


Satu-satunya alasan aku masih hidup mungkin karena, setidaknya aku ingin sedikit membalas budi kepada kedua orang tuaku karena telah merawatku. Namun jika kedua orang tuaku sudah meninggal, aku tidak tahu lagi alasan aku hidup.


Dan aku tetap tidak tahu pada mereka yang tetap berusaha keras, walaupun orang tua mereka sudah meninggal.


"Kalau boleh tau," ucapku setelah cukup lama berpikir. Aku menatap Lifza, matanya sama sekali bukan mata dengan keraguan. "Kenapa kamu memilih bergabung dengan kami? Bukankah lebih baik kamu berlatih hingga sudah siap?"

__ADS_1


"Saya dengar, jika anak kecil tanpa ada orang dewasa yang melindungi, mereka pasti menjadi target penculikan, dan dipaksa untuk bekerja atau lebih parah disiksa hingga meninggal. Saya tidak ingin itu terjadi padaku dan adikku."


"Aku mengerti."


Bahkan Rizkal dan Nazdia pun beruntung bertemu dengan seorang petualang dan bersedia melatihnya hingga bisa hidup mandiri.


Di dunia ini, bertahan hidup bukanlah sesuatu yang mudah. Jika kamu lemah dan sendirian, para penculik pasti dengan mudah menangkap lalu menjual kepada seorang bangsawan untuk dijadikan pelayan. Dan kebanyakan bangsawan yang membeli anak yang diculik bukanlah seorang yang berhati baik. Sudah banyak yang terjadi anak yang disiksa dan meninggal.


Namun jika mengingat Lizfa dan Linda adalah adik Zazki, serikat petualang juga tidak akan sungkan merawat mereka.


"Kalian tidak perlu khawatir, lagipula aku juga sudah berjanji pada Zazki untuk merawat kalian hingga mampu hidup sendiri," jelasku pada Lizfa, membuatnya sedikit terlihat lega. "Hal ini juga seharusnya sudah dijelaskan oleh Anifsa."


Aku menatap Anifsa yang masih pura-pura tidak mendengar.


"Tapi kata kak Anifsa, tuan Rizkal sebentar lagi akan pergi dari kota ini?"


“Menurutku dia lebih percaya jika mendengarnya secara langsung darimu,” jelas Anifsa padaku.


Yah, menurutku dia juga ada benarnya.


“Itu tidak benar, kami akan tetap disini sampai kamu menjadi lebih kuat dan bisa mencari uang sendiri.”


“Benarkah?“


Aku mengangguk.


“Terima kasih banyak, tuan Rizkal.”

__ADS_1


Aku berdeham beberapa kali. “Tidak perlu menggunakan tuan.”


“Kak?”


“Itu lebih baik.”


“Baik, terima kasih, kak Rizkal.”


Aku mengangguk lalu tersenyum tipis.


“Baiklah, makanan sudah siap, bagaimana kalau kita makan sekarang?”


Menyetujui usulan Anifsa, kami berpindah ruangan lalu duduk di kursi meja makan. Daging potong dengan ukuran besar beserta kentang yang masih mengepul, terlihat sangat menggoda. Perutku juga sudah meminta diisi sejak tiba di kota ini.


Aku mengambil satu potong daging dan satu butir kentang. Bahkan dari aromanya sudah tercium nikmat. Aku memotong satu iris kecil daging lalu memasukan ke dalam mulutku. Lembut dan enak. Aku tidak menyangka di dunia ini pun, aku dapat merasakan makanan yang sangat lezat.


Sementara di hadapanku, aku melihat Lizfa sedang membantu Linda mengiris daging dan meniup kentang agar tidak terlalu panas untuk dimakan oleh adiknya. Bahkan beberapa kali dia mengelap mulut adiknya yang cukup berlepotan.


Saat melihatnya, aku menyadari sesuatu, alasan kenapa Lizfa berusaha keras untuk bertahan hidup adalah agar adiknya bisa hidup dengan bahagia. Aku yakin begitu juga dengan Zazki, Anifsa, Nazdia bahkan Rizkal.


Meskipun Lizfa baru saja kehilangan kakaknya yang bisa melindunginya, dia terlihat tidak ingin terus bersedih, bahkan walaupun bersedih, waktu akan terus berjalan. Aku yakin dia juga tidak ingin adiknya menjalani kehidupan dengan penderitaan.


Akhirnya aku menyadari alasan terpenting kenapa mereka berusaha sangat keras, adalah demi orang lain. Mereka ingin membahagiakan orang yang berharga dalam hidupnya. Sama seperti Rizkal, dia ingin membahagiakan Nazdia.


Demi orang lain, ya?


Apakah aku mampu hidup seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2