
Keesokan harinya, setelah memakan sarapan yang disediakan untuk kami, kami bersiap-siap menuju serikat petualang. Petugas serikat yang baru saja membawa sarapan meminta kami untuk segera kesana.
Walaupun sebenarnya aku masih ingin tidur-tiduran setelah kemarin seharian bekerja keras. Namun itu tidak mungkin, jika melihat banyak penduduk kota yang sedang kesulitan bertahan hidup di sini.
Kemudian aku menyadari sesuatu, tidak ada satu hari pun Rizkal bermalas-malasan. Sangat berkebalikan denganku. Yang sangat menyedihkan. Tidak ada satu haripun tanpa malas-malasan.
Tentu saja sebagai rasa terima kasih dapat merasakan kehidupan pemuda bernama Rizkal, aku akan hidup sebaik mungkin. Bukan sebagai diriku yang biasanya namun sebagai seorang pemuda bernama RIzkal.
Aku harap, di dunia asliku juga suatu saat bisa seperti Rizkal.
Kami berjalan melewati banyak penduduk kota yang sedang memperbaiki rumahnya atau jika rumahnya rusak sangat parah, mereka hanya mencari benda berharga di bawah tumpukan rumah mereka.
Hidup di dunia ini tidak mudah. Jika seseorang memilih bermalas-malas, hidupnya pasti tidak akan bertahan lama.
Bahkan dua anak kecil yang kemarin sempat aku lihat di jalan, masih mencari barang berharga di sebuah rumah yang sudah rata dengan tanah.
Aku memutuskan menyapa mereka.
“Apa yang sedang kalian cari?”
Anak kecil yang memiliki tubuh lebih besar, menoleh, lalu memperhatikanku beberapa saat. Tangannya terlihat banyak luka gores. “Itu tuan, koin yang sudah dikumpulkan oleh ibu, saya sedang mencarinya.”
“Aku bisa membantumu.”
“Benarkah tuan?”
Aku mengangguk. “Tentu saja jika kau sudah yakin lokasinya?”
“Disini tuan, di bawah tembok ini, seharusnya ada lemari tempat menyimpan itu.”
“Baiklah, kalian mundurlah.”
Aku mulai mengangkat sisa tembok yang sudah hancur satu persatu, Nazdia juga segera membantuku. Tidak lama kemudian, tepat seperti yang anak kecil itu katakan, ada sebuah lemari kayu berukuran kecil di bawah puing-puing rumah yang sudah kami bersihkan.
Anak kecil itu melompat turun, lalu membuka lemari dengan kunci yang dibawanya. Lemari pun dibuka dan sebuah kantong diambil oleh anak itu.
Dia memegang erat kantong itu lalu mulai meneteskan air matanya.
"Terima kasih tuan," ucapnya lalu berlutut dihadapanku.
"Tidak masalah dan tidak perlu berlutut, berdirilah."
Anak itu berdiri lalu mengusap air matanya.
__ADS_1
"Sekali lagi saya berterima kasih telah menyelamatkan kota ini, tuan. Jika bersedia, walaupun tidak seberapa, maukah tuan menerima setengah dari kantong ini?"
Aku tertegun mendengar ucapan pria kecil di depanku. Kenapa? Meskipun mereka baru saja kehilangan orang tua mereka dan juga kehilangan tempat tinggal, tapi tetap tidak melupakan orang lain.
Kenapa orang-orang di dunia ini… di banding denganku…
Walaupun sejujurnya, aku tidak benar-benar menyelamatkan kota ini, bahkan masih banyak penduduk yang meninggal dan kehilangan tempat tinggal seperti mereka.
"Tuan?"
"Ahh tidak perlu, kamu simpan saja, tapi jika aku boleh memberikan saran, lebih baik koin yang kamu pegang di simpan di serikat petualang. Kamu bisa mengambilnya sedikit demi sedikit dari sana.”
Pria kecil itu mengangguk lalu menyimpan kantong itu di balik bajunya.
Kami naik kembali ke tempat adik anak kecil itu dan Anifsa berada. Anifsa sedang mengelus pelan rambut gadis kecil di sampingnya.
Melihat kakaknya kembali, gadis kecil itu berlari ke arahnya. “Gimana kak? Ketemu?”
Kakaknya mengangguk dengan senyum di wajahnya, lalu memeluk erat adiknya.
“Ayo kita balik ke tempat pengungsian dulu?”
“Hmm.” Gadis kecil itu menjawab dengan tersenyum manis.
Setelah berterima kasih sekali lagi, kedua anak kecil itu melambaikan tangan pada kami bertiga lalu mulai berjalan menjauh. Hanya melihat tangan mereka bergandengan tangan dengan erat saat berjalan, sudah cukup membuatku bahagia sekaligus sedih.
“Jadi, kita juga harus segera ke serikat petualang kan?” Anifsa menatapku dengan kedua tangan di belakang kepalanya.
“Ayo.”
Kami melanjutkan perjalanan kami menuju bangunan serikat petualang.
Karena kejadian kemarin, bangunan itu juga mengalami kerusakan yang cukup parah, namun dengan sigapnya para petualang untuk memperbaiki, bangunan itu sudah mulai bisa digunakan lagi.
Kami segera masuk ke serikat petualang dan segera di sambut oleh Agustio yang sekarang menjabat sebagai ketua serikat.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Agustio mempersilahkan duduk di salah kursi yang kosong di sebuah meja bulat.
Di dalam serikat masih belum terlalu ramai, sepertinya para petualang masih membantu para penduduk kota memperbaiki rumah atau mencari sesuatu di rumah mereka yang hancur.
Kami duduk di salah satu kursi yang tersedia, Agustio juga duduk di hadapan duduk kami bersama seorang wanita yang sudah cukup tua.
"Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan kota ini," ucap Agustio menundukan kepalanya, wanita di sebelahnya juga mengikutinya.
__ADS_1
Kami bertiga mengangguk, entah sudah berapa kali kami mendengar ucapan terima kasih.
"Namun jika kalian masih bersedia membantu sekali lagi, kami sangat berterima kasih."
"Apa yang terjadi?" ucapku pada Agustio.
"Kami baru saja menerima surat dari kerajaan, mereka akan datang membawa bantuan, baik prajurit maupun makanan, namun sepertinya untuk sampai ke kota ini membutuhkan waktu sekitar 4-5 hari.
Kami tidak yakin stok makanan yang sekarang cukup hingga saat itu, karena itu kami berencana mengambil stok makanan yang disimpan di desa Risari.
Disini, ibu Liani sebagai tetua di desa Risari, menyimpan stok makanan di bawah tanah. Seharusnya sampai sekarang masih aman."
Desa Risari berada di utara kota Banderang, tempat datangnya gorila besar. Untuk warga biasa tempat itu sekarang sangat berbahaya, bahkan tidak mustahil masih ada beberapa gorila besar yang berkeliaran.
"Jadi kami diminta untuk mengawal mengambil stok makanan?"
Agustio mengangguk menjawab pertanyaanku lalu menundukan kepalanya sekali lagi.
Aku menatap Nazdia dan Anifsa bergantian.
"Kenapa tidak?" ucap Anifsa padaku. "Masih terlalu bahaya bagi petualang peringkat perak untuk kedesa Risari ."
"Anifsa benar," tambah Nazdia.
"Baiklah, kami menerima tugas ini."
"Terima kasih," ucap Agustio dan Liani berbarengan.
"Untuk bayarannya…."
"Tidak perlu dipikirkan," ucapku cepat memotong ucapan Agustio yang belum selesai. "Sebagai gantinya serikat petualang harus merawat anak-anak yang kehilangan orang tuanya, hingga suatu saat mereka bisa melindungi kota ini."
Semalam aku sudah membahas masalah ini dengan Nazdia dan Anifsa, mereka sama sekali tidak keberatan jika tugas kali ini tidak di bayar sama sekali.
"Baiklah saya mengerti." Agustio mengangkat tangan kanannya, tidak lama kemudian petugas wanita serikat datang ke meja kami. "Tolong siapkan kereta kuda dan para petualang, seperti yang sudah direncanakan."
"Baik tuan." Petugas itu pun segera pergi.
"Kami sudah menyiapkan 4 kereta kuda dan beberapa petualang peringkat perak, semoga mereka bisa membantu."
"Terimakasih," ucapku pada Agustio. "Kalau begitu, kami undur diri dulu untuk bersiap-siap. Kami tunggu di gerbang utara kota."
Agustio mengangguk dan kami segera berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1