Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 2. Part 6


__ADS_3

Perjalanan menuju desa Risari, kami sama sekali tidak mendapat masalah.


Walaupun beberapa gorila besar terlihat di tengah perjalanan, namun mereka memilih berjalan menjauh dari jalanan. Ini seolah kelakuan gorila besar sudah kembali seperti sedia kala, seperti tidak menyerang manusia jika mereka tidak diserang terlebih dahulu.


Aku mengamati pemandang di sekitar yang hampir dipenuhi padang rumput dan perbukitan. Jalanan yang terbuat dari tanah pun cukup nyaman di lewati.


Sangat berbeda dengan pemandangan di sekitar kota Lorisa yang mempunyai banyak sungai besar yang mengalir.


Aku baru menyadari pemandangan di dunia ini sungguh indah.


Aku menggeleng pelan, ini mungkin karena aku hanya selalu di dalam kamar dan tidak pernah memperhatikan di pemandangan di sekelilingku.


Saat kami sudah mendekati desa Risari, tanah yang sebelumnya dipenuhi padang rumput berganti dengan tanaman perkebunan, seperti gandum dan sayur-sayuran. Walaupun beberapa dari tanaman itu sudah rusak setelah di lewati oleh kawanan gorila besar.


Sudah puluhan tahun desa Risari terakhir kali diserang oleh monster. Biasanya beberapa minggu sekali, Hutan Hitam di utara desa Risari didatangi oleh petualang dan prajurit kerajaan untuk membunuh para monster yang berkeliaran sebagai bahan baku senjata.


Namun, memang akhir-akhir ini, para monster sering berperilaku tidak biasa. Mengetahui hal itu, para penduduk desa sudah meninggalkan desa Risari dan untuk sementara mengungsi di kota Banderang. Meskipun pada akhirnya kota Banderang juga di serang dan hampir hancur tak bersisa.


Beberapa saat berlalu hingga kami akhirnya tiba di desa Rosari.


Satu persatu rumah yang di bangun cukup berjauhan mulai terlihat. Namun, ada hal yang janggal di desa Risari. Saat ini, desa itu benar-benar sepi dan tanpa suara monster terdengar. Biasanya setelah sebuah desa di serang, beberapa monster yang lain akan mulai berdatangan. Seperti babi besar atau tikus besar setinggi satu meter.


Di dunia ini para monster terlihat mirip dengan hewan di dunia asliku walaupun ada beberapa bagian yang berbeda dan ukuran mereka lebih besar, antara dua kali lipat hingga sepuluh kali lipat lebih besar.


Kami segera mengangkat senjata kami lalu melompat turun dari kereta.


Aku, Nazdia dan Anifsa berdiri paling depan, sementara para petualang perak yang ikut bersama kami juga sudah bersiaga di belakang kami.


Liani, satu-satunya penduduk biasa desa Risari masih berdiam diri di dalam kereta.


“Keluar kalian!” Aku berteriak cukup keras, menyadari ada seseorang yang bersembunyi.


Beberapa saat kemudian, dari balik beberapa rumah di depan kami, muncul dua sosok manusia memakai mantel yang menutupi kepalanya. Mereka juga memakai penutup mulut sehingga hanya mata dan dahi yang terlihat. Salah satu dari mereka membawa sebuah pedang dan yang lainnya membawa sebuah tombak.


Salah satu dari mereka tertawa melihat kami, terdengar suara seorang pria. “Tidak kusangka kalian bisa menyadari keberadaan kami.”


Ada sebuah rumor.


Tentang para petualang perak atau perunggu yang tewas atau hilang di sekitar kota Banderang. Setelah diselidiki lebih dalam, mereka tidak di serang oleh monster, melainkan oleh seseorang yang menggunakan pedang api.


Ada sebuah kesimpulan, setelah beratus-ratus tahun berdiam diri, akhirnya mereka mulai bergerak lagi.


“Kalian dari kerajaan Siskf, kan?”


Kerajaan Siskf dihuni oleh ras Siskf, ras manusia yang memiliki sisik pada tubuhnya. Mereka mempunyai kekuatan lebih kuat dibanding ras manusia yang lain. Karena berbatasan langsung dengan kerajaan kami, kerajaan manusia, sudah sejak lama kami berselisih.


Mereka juga selalu menganggap ras manusia biasa seperti kami adalah makhluk lemah.


Sekali lagi, pria itu tertawa, lebih keras. “Sepertinya kita tidak perlu menyembunyikan diri lagi.”


Kedua orang di depan kami melepaskan mantel dan penutup mulutnya, lalu melemparkan ke samping mereka. Mereka memakai pakaian yang cukup terbuka dan terlihat pakaian yang cukup tipis. Namun karena itu juga kami dapat melihat sisik di beberapa bagian kecil dari tubuh mereka, seperti tangan, kaki, leher dan beberapa bagian kecil di perut. Bahkan jika di perhatikan lebih teliti mata mereka terlihat seperti mata hewan melata.


“Aku mendengar kota Banderang di serang oleh monster?”


“Itu bukan urusan kalian,” ucap Anifsa terdengar marah, dia menarik busur panahnya lalu membidik pria yang berdiri cukup jauh di di depannya. “Apa yang kalian inginkan?”


“Tenanglah dulu gadis manis.” Si pria tersenyum lebar. “Seharusnya kamu sadar kan, kalian adalah ras manusia terlemah di dunia ini. Meskipun kalian bisa mempunyai keturunan dengan cepat, namun ras lemah akan selamanya lemah. Bahkan beberapa bulan di kerajaan ini, kami selalu saja menemui manusia lemah.”


“Jadi benar kalian yang membunuh teman-teman kami?” Anifsa terlihat semakin marah.


“Benar, bahkan mereka tidak cukup baik untuk menghibur kami.”


Sebuah anak panah yang terselimuti petir melaju dengan sangat cepat menuju kepala si pria. Namun dengan mudah si pria menghindarinya. Walaupun tubuh si pria besar dan berotot namun dia memiliki pergerakan yang cepat.


“Oi…oi…bisakah kamu menjinakan gadis di sampingmu?”


“Apa yang kalian inginkan?” ucapku mengulangi pertanyaan Anifsa.


“Hmm, biar kupikirkan.” Si pria memperhatikan kami lebih teliti dan beberapa saat matanya berhenti saat melihat beberapa kereta kuda di belakang kami. “Meskipun kota kalian baru saja di serang, kalian memutuskan datang ke tempat berbahaya seperti ini. Kalian mau mengambil sesuatu di desa ini kan?”


Kami semua tidak ada yang menjawab, namun itu juga memberitahu ucapan si pria memang benar.


“Jadi benar. Kalau begitu, serahkan semua kereta kuda kalian dan tunjukan barang yang akan kalian ambil berada.”


“Kenapa kami harus melakukan itu?”


“Tentu saja jika kalian ingin hidup, jika tidak…,” ucap si pria masih dengan senyum lebarnya. Dia mengangkat pedangnya lalu beberapa detik kemudian pedangnya berkobar api sangat besar. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat pedang berkobar api sebesar itu.


Si pria mengayunkan pedangnya, api besar menyembur cepat di hadapan kami.


Nazdia sudah bersiap di depan kami, dia menahan dengan tamengnya. Api dari pedang milik si pria menghilang saat mengenai tameng Nazdia.


“Cih, senjata pengecut itu sangat cocok untuk ras manusia lemah seperti kalian.”


“Mengapa kalian melakukan hal ini?” ucapku mencoba memahami pemikiran pria di depanku. Ini pertama kalinya Rizkal bertemu dengan ras Siskf, walaupun sudah menjadi hal umum ras SIskf sangat terobsesi dengan kekuatan. “Bukankah lebih baik jika kalian menyerang Hutan Hitam atau jika itu masih belum cukup, kalian bisa menyerang Tanah Hitam.”


Si pria tertawa dengan keras. “Kamu benar, disana selalu muncul monster yang sangat kuat. Meskipun begitu, kalian tidak pantas melindungi senjata legendaris."


"Meskipun kerajaan kalian juga mempunyai dua senjata legendaris."


"Tentu saja itu tidak cukup."


"Jadi apapun yang terjadi, kalian akan menyerang kerajaan manusia?"


Dengan senyum lebarnya, dia mengangguk lalu mengarahkan ujung pedang ke arah kami.


"Kalau begitu, kami akan menghentikan kalian disini."


Aku mulai membuat sihir penciptaan lempengan es berukuran kecil. Walaupun aku tahu sihir seperti itu tidak akan melukai mereka. Ditambah lagi, pedang api milik si pria terlihat sangat kuat. Namun aku hanya ingin melihat elemen yang dimiliki tombak si gadis.


"Sihir seperti itu hanyalah mainan anak kecil bagi kami," ucap si pria sengaja menunggu sihir yang aku buat selesai.


Kalau begitu…


Puluhan lempengan es berukuran kecil telah terbentuk namun aku tidak menghentikan penciptaan sihir es milikku. Hingga akhirnya ratusan lempengan es tercipta di atas kepalaku.


"Hmm, sepertinya kalian bukan manusia lemah yang biasa kami temui."


Aku mengayunkan tangan kananku, seketika lempengan es yang sudah aku ciptakan melaju dengan kecepatan tinggi menuju dua orang di hadapanku.


Hujan es.


Si pria dengan wajah percaya diri, mengayunkan pedangnya, lempengan es yang aku buat seketika menghilang saat mengenai pedang api miliknya.


Namun seperti tujuanku semula, gadis disebelahnya terpaksa menggunakan tombaknya, menangkis semua serangan es milikku. Dia memutar tombak di tangannya dengan sangat cepat. Tanpa satupun es milikku melewati tombaknya.


Angin ya, setidaknya bukan api.


"Cuma ini?" ucap si pria setelah ratusan lempengan es menuju ke arahnya berhenti dan sama sekali tidak melukainya.


"Baiklah, aku akan melawan gadis dengan tombak."


"Hati-hati," jawab Nazdia di depanku.


"Aku mengerti, kami akan mengalahkan pria itu dengan cepat." Anifsa mengeluarkan kemampuan senjata panahnya, dua puluh detik kemudian panahnya mulai bersinar.


Aku juga mulai membuat sihir penciptaan lainnya, tiga bongkahan es berukuran besar yang bergerak pelan mengitariku, mulai terbentuk. Itu adalah sihir pertahanan. Sihir ini membutuhkan waktu 15 detik.


Tidak mau menunggu lagi, pria dan gadis di hadapan kami mengayunkan pedang dan tombaknya bersamaan.


Satu kobaran api dan dua tebasan angin berbentuk x menuju ke arah kami. Api yang sebelumnya sudah sangat besar, kali ini bertambah lebih besar dengan bantuan angin milik si gadis.


Nazdia menggunakan kemampuan tameng miliknya, cahaya emas menyelimuti di sekeliling kami. Serangan api milik mereka berdua, sekali lagi ditahan dengan mudah oleh Nazdia.


"Cih, pengecut."


Tepat setelah serangan api mereka menghilang, muncul kabut tipis di antara kami.

__ADS_1


Aku membuat sihir lempengan es tajam berukuran kecil dan sedang di atas kepalaku. Sejujurnya aku tidak memiliki sihir es yang efektif melawan lawan yang mempunyai kecepatan.


Bisa dibilang sihir es yang aku miliki bertujuan untuk mengalahkan musuh yang besar dan kuat, bukan lawan yang kecil dan cepat seperti dua orang di depanku.


"Baiklah, ayo maju."


Aku bergerak ke arah samping, menjauh dari Anifsa berdiri, sementara Nazdia berlari menuju pria dengan pedang apinya.


"Jika kalian menginginkan seperti itu," ucap si pria. "Maluna, kamu hadapi pria dengan buku sihir."


Maluna mengangguk lalu berlari menuju tempat ku berdiri.


Ada beberapa alasan aku berani melawan musuh yang sama sekali belum aku ketahui kekuatannya. Asalan pertama adalah mereka belum pernah melawan petualang peringkat emas dan kedua adalah jika kami kalah melawan mereka, itu berarti kekuatan mereka sangat berbahaya bagi kerajaan manusia. Meskipun mereka berdua terlihat bukan seseorang yang terkuat di kerajaan Siskf.


Aku menyerang dengan lempengan es tajam yang sudah aku ciptakan, seperti yang aku duga, Maluna terlalu cepat dan dengan mudah menghindari beberapa serangan es milikku. Namun aku memang dengan sengaja tidak menembakan semua es yang sudah tercipta. Masih ada lebih 10 lempengan es di atas kepalaku.


Aku menunggu waktu yang tepat.


Setelah menghindari beberapa seranganku, Maluna melompat maju ke arahku. Tombaknya diselimuti oleh angin yang membuat kecepatan semakin bertambah. Dia mengarahkan tombaknya pada dadaku.


Aku menggerakan dua bongkahan es di sekelilingku mencoba menahan serangan tombak Maluna. Aku bergerak mundur terkena tekanan darinya. Satu bongkahan es tertusuk tembus oleh tombaknya.


Tidak membuang kesempatan, aku menembakan beberapa lempengan es yang tersisa menuju tubuh Maluna dari berbagai arah. Namun sebelum mengenainya dia melompat mundur dengan gerakan cepat.


“Tidak buruk juga,” ucapnya pelan. Lalu dia memutar-mutarkan tombaknya dengan gerakan indah. “Kita lihat berapa lama kamu menahan seranganku.”


Tidak lama kemudian dia mulai menyerangku sekali lagi. Tusukan dari depan dan tebasan dari berbagai arah dia lancarkan dengan tombaknya. Sedikit demi sedikit bongkahan es milikku mulai terkikis.


Aku tidak mungkin bertahan seperti ini terus.


Aku mencoba memperhatikan pola serangan Maluna, namun berbeda dengan monster pola serangannya tidak dapat diprediksi. Bahkan dengan menembakan lempengan es miliku pada titik butanya pun tidak berhasil. Dengan gerakan cepat dia selalu berpindah-pindah dan menyerangku dengan kekuatan penuh.


Bongkahan es yang sebelumnya berukuran besar, sekarang sudah mulai mengecil. Serangan tombak angin miliknya tidak dapat ditahan sepenuhnya dengan bongkahan es yang sekarang.


Beberapa serangan miliknya mengenaiku, membuat luka gores di beberapa bagian tubuhku.


Aku menembakan sekali lagi dengan semua lempengan es yang tersisa.


Maluna melompat mundur, dia tersenyum sinis melihatku. “Apa kau sudah menyerah?”


Aku melihat sekilas Nazdia dan Anifsa yang masih bertarung dengan sengit.


“Baiklah, aku akan mulai serius,” ucapku lalu membuat sihir serangan es tingkat tinggi. Buku sihir di tangan kiriku bergerak membuka sebuah lembar kertas yang bergambar bola dengan permukaan yang berduri.


Aku mengangkat tangan kananku, lalu sedikit demi sedikit mulai muncul titik es yang mulai membesar. Sihir ini membutuhkan waktu 10 detik, jadi selama itu aku harus bertahan dari serangannya.


“Itu bagus!” teriak Maluna lalu mulai menyerangku kembali.


Kali ini aku bergerak mundur menghindari serangannya, bongkahan es bertahan milikku tersisa dua dan sudah tidak akan bertahan lebih lama lagi. Selain lebih berhati-hati menggunakan bongkahan es yang tersisa, aku menghindari serangan yang bisa aku hindari dengan melompat mundur atau berlari menjauh.


Sampai akhirnya beberapa detik lagi sampai sihir bola es milikku berhasil diciptakan. Tapi sebelum itu, Maluna menyerang dengan kekuatan yang tersisa, menusuk dengan tombaknya ke arah dadaku.


Dua bongkahan es milikku hancur menahan serangan milik Maluna, tapi dengan itu sihir bola es milikku sudah siap di tembakan. Aku mengarahkan bola es ke arah dada Maluna dan juga melompat mundur.


Maluna menangkis bola es dengan tombaknya dengan mudah. Bola es itu hancur lalu menciptakan kabut es. Namun tidak berhenti sampai situ, tombak yang yang terkena bola es segera membeku, begitu juga dengan tangan miliknya yang terkena serpihan bola es juga mulai membeku.


"Apa…." Maluna melompat mundur lalu menjatuhkan tombaknya dan mulai mulai mengusap-usap tangannya yang kedinginan. Bahkan nafasnya mulai berembun.


Tanpa membuang kesempatan, aku membuat sihir bola es yang lainnya.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Maluna padaku, wajahnya terlihat sangat marah.


"Ini…," ucapku memperlihatkan sihir bola es yang mulai terbentuk di atas tangan kananku. "Ini adalah sihir tingkat tinggi, hanya petualang peringkat emas yang hanya bisa menggunakannya."


"Jadi kalian peringkat emas," ucapnya pelan lalu memalingkan kepalanya melihat pertarungan temannya. Dia tersenyum tipis. "Setidaknya…."


Maluna mengambil tombak es yang tergeletak di tanah, hampir semua bagian tombak itu sudah membeku, namun dia tidak peduli, dia mengambil tombak miliknya dan berlari ke arahku dengan kekuatan penuh.


Sayangnya sihir bola es milikku sudah siap digunakan. Ditambah lagi kecepatan berlari Maluna yang sudah menurun drastis.


Namun dengan sisa tenaga yang dimilikinya, menggunakan kaki kirinya dia mencoba berdiri, sekali lagi tombaknya di selimut angin.


Aku segera menyiapkan sihir dinding es. Sihir ini membutuhkan waktu 2 detik. Energi sihir mulai terkumpul di telapak tanganku.


Dia mengarahkan ujung tombaknya ke arahku dan melemparkannya dengan cepat.


Aku menunduk dan menempelkan tanganku ke tanah, sebuah dinding es dengan sudut 45 derajat segera terbentuk tepat sebelum tombak Maluna mengenaiku. Tombak miliknya terbang di atas dinding es milikku.


Dengan berhati hati aku berjalan ke arah samping dan membuat dua lempengan es tajam berukuran kecil.


Maluna terduduk kesakitan melihat lutut kakinya sudah membeku, namun untuk berjaga-jaga, aku menembakan dua lempengan es ke kedua tangannya hingga tak bisa bergerak.


Dia berteriak kesakitan.


Kali ini seharusnya dia sudah tidak bisa melawan.


Sekali lagi, aku membuat lempengan es tajam berukuran besar, bersiap untuk melakukan serangan terakhir.


Tepat saat itu aku mengingat sesuatu hal yang sangat penting.


Melihat Maluna yang kesakitan dan kedua tangannya berdarah, membuatku berpikir sejenak. Meskipun aku sudah mulai terbiasa bertarung menggunakan tubuh Rizkal, namun ini pertama kalinya aku melawan seorang manusia.


Walaupun saat aku mengingat Rizkal sudah membunuh beberapa orang jahat, seperti bandit, perampok atau seorang yang berbahaya bagi banyak orang.


Apakah tidak apa-apa jika aku membunuh seseorang di dunia ini?


Aku melihat Maluna yang memejamkan kedua matanya masih menahan rasa sakit.


Aku memalingkan pandanganku memperhatikan pertarungan Nazdia dan Anifsa.


Dengan jarak yang sekarang cukup jauh, mereka masih bertarung dengan sekuat tenaga. Walaupun melawan dua orang petualang emas, sepertinya lawannya masih mengungguli mereka berdua.


Pria yang berbahaya.


Malahan jika di perhatikan lebih teliti, pria itu terus menerus menyerang Nazdia tanpa henti dengan pedang apinya yang berkobar besar. Nazdia hanya bertahan. Bahkan dia tidak mempunyai kesempatan menyerang balik dengan tombak apinya.


Sementara Anifsa terlihat ragu saat menembakan anak panahnya, karena pria itu bergerak sangat cepat. Dan arah bidikannya selalu tertutupi oleh tubuh Nazdia.


Aku melihat beberapa saat pertarungan itu dan menyadari sesuatu.


Walaupun Nazdia memakai zirah lengkap, namun panas dari zirah yang terkena api akan tetap terasa di kulitnya. Dia tidak mungkin bertahan seperti itu terus menerus.


Menyadari gadis yang sangat aku sayangi merasakan kesakitan, perasaan marah muncul di hatiku. Aku yakin ini perasaan marah milik Rizkal yang tidak ingin Nazdia terluka.


Aku menembakan lempengan es tajam tepat di samping tubuh Maluna, lalu berteriak pada petualang perak yang masih bersiaga.


“Kalian, ikat gadis ini dan tutup lukanya sementara, kita akan mencari tahu informasi penting darinya.”


“Siap.”


Saat aku berjalan menuju pertarungan Nazdia berada, aku membuat sihir tingkat tinggi, tombak es besar.


Bagi Rizkal, Nazdia adalah orang yang paling berharga di dunia ini, tidak peduli siapapun lawannya, dia pasti akan melindungi Nazdia sekuat yang dia bisa. Itulah alasan dia berjuang sangat keras meningkatkan kekuatannya.


Dia tidak ingin melihat Nazdia menangis.


Dia tidak ingin Nazdia merasakan kesakitan.


Dia ingin membuat Nazdia selalu bahagia.


Semua perasaan itu masih dapat aku rasakan. Perasaan yang sama sekali belum pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan melindungi seseorang yang berharga. Perasaan sakit saat melihat orang yang sangat aku sayangi menderita. Perasaan marah saat seseorang menyakitinya.


Aku menembakan tombak es besar tepat setelah si pria melompat mundur menghindari serangan Anifsa.


Tombak es melaju dengan cepat, menuju tubuh si pria.


Tidak sempat untuk menghindar, dia menahan dengan pedang apinya. Dia terdorong mundur dan tombak es pun hancur, namun kepingan es tombak yang hancur masih melaju dengan cepat. Mereka membuat luka gores di seluruh tubuh si pria.

__ADS_1


“Jangan sentuh, gadisku.”


Si pria menahan rasa sakit yang diterimanya lalu mengamati keadaan di sekitarnya. Saat dia melihat temannya sudah tidak berdaya, dia terlihat sangat kesal.


“Cih, dasar gadis tidak berguna.”


Aku berdiri di samping Nazdia dan menyiapkan beberapa lempengan es berukuran besar di atas kepalaku.


“Hei…hei…bukannya 3 lawan 1 terlihat tidak adil?”


“Meskipun kami ras manusia terlemah?”


Si pria tertawa mendengar ucapanku. “Kamu benar, kalian cukup kuat dibandingkan manusia yang sudah kami hadapi. Namun masih banyak ras ku yang lebih kuat dariku. Dengan kekuatan yang sekarang, kalian tetap ras terlemah.”


“Diam,” teriak Anifsa dengan menembakan tiga anak panah sekaligus menuju kepala dan badan si pria. Semua anak panahnya terselimuti petir berwarna putih kebiru-biruan dan melaju sangat cepat.


Si pria melompat dan menghindari semua anak panah milik Anifsa. Tanpa membuang kesempatan, aku juga menembakan tiga lempengan es besar ke arah si pria.


Dengan pedang apinya yang masih berkobar besar, dia menghancurkan tiga lempengan es besar milikku dengan mudah. Sepertinya hanya sihir es tombak besar yang dapat melukainya.


Si pria mendesah kesal. “Sayang sekali, sepertinya aku harus menunda membunuh kalian bertiga.”


“Tidak akan aku biarkan.” sekali lagi Anifsa menembakan anah panahnya, namun sia-sia.


Si pria tertawa. “Tidak perlu khawatir, suatu saat kita akan bertemu lagi. Sampai saat itu, jaga diri kalian baik-baik.”


Untuk sesaat dia memperhatikan keadaan sekitar dan berhenti saat melihat Maluna yang sudah di ikat dan di kelilingi para petualang perak. Aku bergerak menghalangi pandangan si pria yang menatap Maluna.


Si pria tersenyum lebar lalu mengangkat pedangnya dan sekali lagi berkobar api besar. Dia memutar tubuhnya dengan cepat lalu mengayunkan pedang apinya ke tanah. Sebuah ledakan tercipta lalu muncul asap yang tebal.


Walaupun terhalangi oleh asap, aku tahu si pria berlari dengan cepat dan menghilang di balik sebuah rumah. Lalu beberapa saat kemudian suara ringkikan kuda terdengar.


“Apa tidak apa-apa kita biarkan dia kabur?” Anifsa bertanya padaku, asap tebal sudah mulai menghilang.


Aku mengangguk. “Tidak perlu, tapi pastikan dia tidak kembali kesini.”


“Aku mengerti.” Anifsa segera berlari dan melompat pada sebuah pohon dan berakhir di atap sebuah rumah. Dia beberapa saat mengamati seseorang yang sedang memacu kudanya dengan cepat.


Aku bersama Nazdia berjalan menuju para petualang petualang perak berada.


"Untunglah kalian bersama kami, jika tidak, entah kami bisa bertahan melawan mereka atau tidak," ucap seorang pria dengan wajah yang penuh kelegaan. Dia membawa sebuah pedang dan tameng di tangannya.


Petualang yang bersama kami berjumlah 10 orang, dengan hampir semuanya membawa pedang dan tameng. Salah satu dari mereka membawa tongkat sihir, dia adalah penyembuh di antara kami dan sudah mengobati luka Maluna, walaupun luka pada lututnya tidak terlihat benar-benar sembuh.


Aku mengangguk. "Kita harus bergegas, kita tidak tahu apakah mereka akan muncul lagi atau tidak. Dan pastikan kalian tetap waspada, mungkin ada musuh yang masih bersembunyi."


"Siap."


Setelah meletakan Maluna di atas salah satu kereta kuda, kami mulai berjalan menuju sebuah gudang yang dipimpin oleh Liani.


Gudang itu sudah setengah hancur, namun seperti yang dikatakan Liani, bahan makanan yang berada di bawah gudang masih utuh seperti semula. Para petualang perak segera mengambil bahan makanan, sementara aku dan Nazdia mengamati keadaan tidak jauh dari gudang itu. Begitu juga dengan Anifsa masih melompat dari atap rumah ke atap rumah yang lain, waspada dengan keadaan sekitar.


Berdiri berdampingan dengan Nazdia, aku mulai mengobati luka kecil sisa pertarunganku dengan Maluna. Seperti yang dikatakan oleh Pieria, aku dapat merasakan rasa sakit, walaupun aku masih belum mengalami luka yang fatal dan membuktikan ucapan Pieria tentang bagaimanapun aku tidak akan merasakan rasa sakit lebih dari luka gores.


Tapi walaupun begitu, rasa sakit dari luka seperti ini pun sudah membuatku takut. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakit saat kematian.


Buku sihir di atas tangan kiriku bersinar. Hanya dengan melihatnya, luka gores di bagian lengan tangan kananku mulai tertutup, benar-benar sihir yang sangat berguna. Jika aku dapat menyembuhkan seperti ini di dunia asliku, mungkin aku tidak takut lagi tergores pisau.


"Maafkan aku," ucap Nazdia tiba-tiba, dia sedang memperhatikan luka pada tangan kananku yang sedang aku sembuhkan. "Jika aku lebih kuat…."


"Kamu benar, masih banyak yang lebih kuat dari kita ya?"


Jika ucapan pria tadi benar, kita harus secepatnya meningkatkan kekuatan. Jika dipikirkan, pria tadi adalah kelompok pengintai dari kerajaan Siskf, bahkan melawan kelompok pengintai saja sudah sangat membuat kami kewalahan, aku tidak akan heran jika kelompok utama mereka masih memiliki orang dengan kemampuan lebih hebat dari pria tadi.


Di dunia dimana kekuatan adalah segalanya, kita harus meningkatkan kekuatan setinggi mungkin untuk melindungi orang yang kita sayangi.


Aku memperhatikan zirah yang dipakai Nazdia, di beberapa bagian terdapat sisa terbakar. Aku menyentuhnya pelan.


"Kamu yakin tidak ada luka?" tanyaku khawatir.


Nazdia mengangguk pelan. "Kamu ingat kan, zirahku tahan api, serangan seperti ini tidak akan menembus kulitku."


Aku menghembuskan nafas lega, sedikit mengurangi rasa khawatir. Sekali lagi, aku melanjutkan menyembuhkan luka pada tubuhku dengan sesekali memperhatikan keadaan sekitar.


Beberapa saat berlalu hingga tiga kereta kuda terisi penuh oleh bahan makanan, seperti gandum, sayur dan buah-buahan.


Kami segera meninggalkan desa Risari dan kembali menuju menuju kota.


Di tengah perjalanan, aku memejamkan mataku lalu memanggil Pieria.


Waktu segera berhenti.


Pieria segera muncul.


"Gimana, seru ga di dunia ini?" tanya Pieria dengan senyum bangga pada wajahnya.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa." Lebih tepatnya antara perasaan takut dan menegangkan. Aku tidak terlalu mengerti apa yang sudah terjadi, meskipun satu hal yang pasti, aku sama sekali tidak menyesali melakukannya.


"Aku yakin sebentar lagi kamu akan ketagihan," ucapnya masih tersenyum lebar. "Jadi, kamu ingin kembali ke dunia aslimu sekarang?"


Aku mengangguk pelan, aku merasa sangat lelah, mungkin ini waktu yang tepat untuk kembali. "Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."


Pieria mengangguk mengerti.


"Jika aku atau Nazdia mati di dunia ini, apa yang akan terjadi?"


"Aku tidak paham pertanyaanmu, jika Nazdia mati berarti mati, jika kamu mati kamu akan berpindah tubuh dengan orang lain."


"Maksudku jika aku mati, apakah aku masih mengingat Nazdia dan bertemu kembali?"


Pieria mengangguk beberapa kali, terlihat mengerti. "Jadi itu maksudmu, tentu saja kamu masih mengingat Nazdia, namun ingatan seseorang yang kamu masuki juga memiliki ingatan juga. Jadi meskipun kamu masih mengingat Nazdia, perasaan milik Rizkal tidak akan kamu ingat lagi, kamu tidak akan tahu lagi kenapa kamu harus berusaha keras demi Nazdia. Ditambah lagi, perasaan orang yang kamu masuki juga akan mempengaruhi pikiranmu dan tentu saja orang ini juga memiliki orang yang disayangi juga. Kamu akan memperoleh perasaan sayang pada seseorang yang baru dan kehilangan perasaan sayang pada Nazdia."


Aku memahami setiap ucapan Pieria. "Jadi intinya, aku dan Nazdia harus tetap hidup agar bisa selalu bersama?"


"Kamu benar."


"Baiklah, sepertinya sudah cukup kali ini."


"Aku mengerti, sampai ketemu lagi."


Pieria menempelkan kedua tangannya, lalu perlahan membukanya. Perlahan dari kedua tangannya muncul sinar yang sangat terang. Karena terlalu terang aku memejamkan mataku dan seketika kesadaranku mulai hilang.


***


Aku membuka mataku dan hanya kegelapan dalam pandanganku.


Aku segera duduk dan melihat jam digital yang berada di atas meja belajar menunjukan angka 05.07.


Aku menundukkan kepalaku merasakan bola hitam yang masih di tanganku. Dunia itu benar-benar nyata. Nazdia, Anifsa dan yang lainnya. Mereka mempunyai masa lalu dan masa depan. Mereka berusaha keras hanya untuk hidup hari esok.


Sementara aku disini….


Aku memejamkan mata sangat erat, ingin menangis.


Aku menggeleng pelan, lalu menghidupkan lampu kamarku. Aku meletakan bola hitam di salah satu laci meja belajarku lalu ku kunci.


Push up 5 kali, squat jump 20 kali dan sit up 10 kali.


Aku menghembuskan nafas panjang setelah melakukan itu semua, lalu melihat jam digital sekali lagi. Walaupun tidak membutuhkan waktu 3 menit, tapi aku tidak pernah melakukannya.


Kenapa?


Tentu saja karena aku pikir olahraga tidak ada gunanya, lebih baik setelah bangun tidur langsung membuka ponsel dan melihat kabar terbaru di media sosial, itu lebih bermanfaat kan?


Aku mendesah pelan.


Aku beranjak turun dari lantai 2, menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2