
Matahari mulai turun dari arah barat saat kami sudah membunuh semua gorila besar yang tersisa.
Aku duduk di sebuah bangku taman tidak jauh dari bangunan tempat para penduduk berlindung. Aku bersandar pada bangku yang terbuat dari kayu, menegakan kepalaku, menatap langit yang mulai berwarna merah.
Aku mengeluarkan nafas panjang, lebih panjang dari biasanya.
Sangat melelahkan.
Bukan hanya lelah karena bertarung yang tidak ada hentinya, namun memimpin dan menyuruh orang lain melakukan sesuatu, bagiku juga sangat melelahkan.
Jika bukan karena ingatan Rizkal yang sudah biasa melakukannya, aku tidak mungkin sanggup melakukan hal seperti itu.
Di kelas, di dunia asliku, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Setiap hari, hampir semua kegiatan di kelasku hanya digunakan untuk tidur dan bermain ponsel. Bahkan ngobrol bersama teman pun jarang ku lakukan.
Selain memiliki tubuh yang lemah, aku juga merasa tidak cukup percaya diri untuk berkata dengan lantang. Berbanding terbalik denganku di dunia ini. Selain kuat, Rizkal juga dipercaya oleh orang lain.
Selain melelahkan, aku juga sangat menyedihkan.
Air mataku akhirnya menetes.
Aku menghembuskan nafas panjang sekali lagi.
Tidak hanya itu. Aku menegakan kepalaku memperhatikan dua anak kecil yang berjalan tidak jauh dari tempatku duduk.
Salah satu anak kecil itu sedang menangis.
"Kak, kenapa ayah dan ibu gak bangun-bangun kak?"
"Tidak apa-apa, kakak masih disini kan? Ayo kita balik ke rumah kita dulu, mungkin masih ada benda berharga yang bisa kita temukan."
Kenapa? Bukankah seharusnya di dunia lain itu bersenang-senang, bukan melihat hal semacam ini?
Walaupun gorila besar semua sudah dikalahkan, namun masalah tidak akan menghilang begitu saja.
Banyak penduduk kota kehilangan rumahnya, bahkan anggota keluarganya. Para anggota keluarga yang masih hidup tentu saja mencari barang berharga di reruntuhan rumah mereka.
Entah butuh berapa lama kota ini akan pulih, kerusakannya sudah sangat parah. Dan tidak ada jaminan para monster tidak akan menyerang lagi.
Bukan hanya itu, beberapa hari kedepan masalah makanan pasti akan muncul. Selain gudang penyimpanan sudah rusak, sepertinya para gorila besar juga sudah memakannya.
Entah apa tujuan para gorila besar menyerang kota masih menjadi misteri.
Aku menyandarkan kepalaku lagi lalu memejamkan mata.
Untungnya ada sedikit kabar baik. Tubuh gorila yang sudah mati, masih banyak manfaatnya. Dagingnya dapat dimakan, kulitnya bisa dibuat pakaian serta tulangnya bisa digunakan bahan baku membuat senjata.
Serikat petualang juga sangat melindungi para penduduk kota saat mereka sedang membutuhkan. Selain menyiapkan tempat untuk tidur sementara, mereka juga sudah mulai mengambil semua bagian yang dibutuhkan pada tubuh gorila besar, sementara dagingnya dimasak untuk nanti malam.
Aku juga sempat mendengar, mereka sudah mengirim pesan terntang kondisi kota ke ibukota kerajaan. Seharusnya beberapa hari lagi, bantuan akan segera datang.
Walaupun begitu, aku merasa semua yang terjadi di dunia ini hanyalah kesedihan.
Mungkin sebaiknya aku tidak ke dunia ini untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Nih," ucap seseorang yang sangat aku kenal, membagunkanku dari lamunan. Di depanku, Nazdia menyodorkan sebuah mangkuk berisi makanan. Dia tersenyum manis.
Hanya melihat Nazdia, semua kesedihan dan lelahku seperti menguap.
Sepertinya aku harus menarik kata-kataku barusan.
"Makasih." Aku menerima mangkuk pemberian Nazdia.
Nazdia mengangguk lalu duduk di sampingku, dia masih memegang satu mangkok di tangannya.
"Meskipun daging gorila besar sangat keras, namun jika kita tau cara memasaknya bisa menjadi sangat lembut," jelas Nazdia dengan semangat. "Cobain deh."
Aku mengangguk lalu mengambil satu sendok sup daging gorila besar dan memasukkannya ke dalam mulut. Seperti yang dikatakan Nazdia, hanya beberapa kunyahan daging di dalam mulutku hancur.
"Lembut."
"Benarkan," ucap Nazdia tersenyum bangga, lalu melihat pemandangan di depannya. "Setidaknya malam ini penduduk kota tidak kelaparan."
Aku setuju, setidaknya malam ini mereka bisa tidur dengan nyenyak.
"Setelah ini, ayah Desfi sebagai walikota disini, ingin bertemu denganmu secara langsung."
"Aku mengerti," ucapku lalu mencoba menghabiskan sup daging gorila besar dengan cepat.
***
Langit sudah berganti gelap saat aku merebahkan badanku di kasur.
Sangat melelahkan.
Tidak hanya tidur siang, hanya untuk istirahat duduk saja sepertinya aku tidak bisa melakukannya.
Aku yakin jika tubuh asliku bekerja satu penuh pasti sudah pingsan.
Untunglah aku memiliki tubuh Rizkal, satu hari melakukan banyak pekerjaan pun hanya sedikit lelah yang kurasakan. Aku percaya dengan tubuh Rizkal aku bisa bekerja tiga sampai empat hari tanpa tidur.
Tidak mungkin.
Aku menggeleng keras, tidak ingin mempercayainya apalagi melakukannya.
Bahkan setelah membuat banyak sihir dan membunuh semua gorila yang tersisa, aku tidak begitu ingat apa yang aku lakukan setelah itu. Aku hanya mengikuti naluri dari otak Rizkal yang tersisa.
Bertemu dengan walikota, ikut rapat dengan orang-orang penting kota Banderang lalu makan bersama setelah langit sudah gelap.
Bahkan, aku sudah tidak terlalu mengingat semua itu.
Yang kuinginkan saat itu adalah tidur dan beristirahat. Namun satu hal yang aku ingat adalah kami bertiga diminta untuk tetap di kota Banderang hingga bantuan dan pasukan kerajaan datang ke tempat ini.
Tentu saja kami menyetujuinya, lagipula kami tidak mungkin meninggalkan kota yang sudah bersikap baik pada kami dulu. Ditambah lagi, melihat anak-anak yang kehilangan orang tua mereka membuatku merasa ingin membantu mereka.
Namun aku sangat kagum pada Nazdia dan Anifsa yang sama sekali tidak terlihat mengeluh, meskipun pekerjaan kali ini, kemungkinan besar tanpa ada bayaran sama sekali.
Aku memalingkan wajahku menatap Nazdia yang sudah menutup mata.
__ADS_1
Malam ini, kami tidur di sebuah kamar khusus untuk kami bertiga. Dengan tiga buah kasur yang hanya diletakkan di atas lantai. Di saat para penduduk kota berdesak-desakan tidur di ruangan yang besar, kami yang diberikan kamar yang cukup luas, tentu saja sangat berterima kasih.
Nazdia tidur di antara aku dan Anifsa.
Melihat wajah Nazdia dari samping pun sudah cukup membuatku bahagia.
Sebelum aku memejamkan mata, aku teringat sesuatu, ada sesuatu yang ingin aku ketahui.
Aku memanggil Aisla dalam pikiranku.
Seketika pandanganku berubah kelabu.
Waktu berhenti.
Tidak lama kemudian Pieria muncul, seperti biasa dia terbang kesana kemari sebelum berhenti tepat di hadapanku.
Aku perlahan duduk. Tentu saja hanya arwahku yang duduk.
“APA!” teriak Pieria dengan sangat keras setelah dengan kedua tangan di pinggangnya. “KAMU SUDAH INGIN BALIK?”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Ah kamu benar, maaf,” ucapnya tanpa rasa bersalah dengan menjulurkan lidahnya ke samping. “Lagipula kamu baru di dunia ini sekitar 18 jam, di duniamu baru 18 menit lho.”
Aku menyadari sesuatu. “Kalau boleh tahu, jika aku tidur selama 7 jam, apakah aku disini bisa hidup selama 420 jam? Atau 17 hari penuh?”
Pieria menggeleng cepat. “Untuk memasuk ke dalam dunia ini, kamu harus tidur sangat nyenyak, jika kamu tidur 7 jam, tidur nyenyak hanya sekitar 1-2 jam, atau 2 - 4 hari di dunia ini.“
“Jika di dunia asliku aku tiba-tiba terbangun?”
“Seperti yang aku katakan kemarin, dunia ini berhenti, walaupun agak kurang nyaman saat masuk kesini, kamu sedang berdiri atau sedang melakukan sesuatu. Ingat, seperti saat kamu masuk ke dunia ini.”
Aku mengangguk mengerti.
“Udah gitu aja?”
"Tentu saja tidak, hal yang ingin aku tanyakan adalah tentang kejadian hari ini." Aku memperhatikan Pieria yang mengangguk terlihat mengerti. "Aku penasaran apa tujuan gorila besar menyerang kota Banderang?"
"Tentu saja untuk membunuh manusia."
"Ehh hanya itu?"
"Iya hanya itu."
"Ehh aku tetap tidak mengerti."
"Suatu saat kau akan mengerti."
"Hmm." Aku sangat tidak puas dengan jawaban Pieria, namun dia tidak terlihat peduli dan hanya tertawa mengejekku.
"Baiklah, aku pergi dulu, sampai ketemu lagi, tuan Rizkal."
Waktu berjalan lagi.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang lalu membenamkan wajahku pada bantal yang disediakan untukku.