Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 1. Part 3


__ADS_3

Satu jam berlalu, hingga akhirnya, para petualang yang mengambil sisik dan bagian lain yang bisa dugunakan dari tubuh kadal besar, selesai.


Matahari mulai turun di arah barat, seharusnya kita sampai di kota saat malam belum terlalu gelap..


“Kita berangkat,” ucap Benito saat dia melewati kereta kuda yang kami tumpangi.


Aku hanya mengangguk.


Nazdia membuka kedua matanya, menatapku beberapa saat. Bahkan, dia yang sejak tadi terlihat tenang, kali ini terlihat cukup sedih.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Nazdia padaku.


Entahlah.


Aku memilih diam, lalu menatap langit. Entah mengapa hanya dengan melihatnya, langit di dunia ini cukup membuatku sedikit merasa nyaman.


Berhadapan dengan dua gadis cantik sejujurnya membuatku merasa tidak nyaman. Bahkan di dunia asliku, aku tidak pernah berhadapan dengan gadis cantik.


Tidak, mungkin aku hanya tidak menyadarinya.


Kereta kuda pun mulai berjalan.


“Kita mampir di rumah Zazki sebentar ya?” ucapku pada kusir yang duduk di bagian depan kereta kuda.


“Dimengerti, tuan.”


Aku menghela nafas sekali lagi, memikirkan sebentar lagi melihat kedua adik Zazki melihat kakaknya untuk yang terakhir kalinya. Mungkin aku akan menangis untuk ketiga kalinya.


***


Langit sudah berganti gelap, saat kami melihat tembok pertahanan Kota Lorisa. Tembok itu setinggi sekitar 10 meter mengelilingi kota.


Sebagai kota yang berhadapan langsung dengan Hutan Hitam, Kota Lorisa adalah kota yang sangat rawan di serang oleh monster. Karena itulah tembok besar dibangun.


Ada dua penjaga di depan gerbang kota. Melihat kedatangan kami, mereka hanya menundukan kepala.


Aku rasa kabar tentang meninggalnya Zazki sudah tersebar luas.


Saat kami masuk kedalam kota, jajaran rumah yang terbuat dari kayu dan batu menghiasi jalanan kota. Lampu depan rumah yang berasal dari batu sihir, bersinar cukup terang.


Berbeda dengan dunia asliku yang hampir semua peralatan sehari-hari menggunakan listrik, di dunia ini digantikan dengan batu sihir.


Aku penasaran dari mana batu sihir ini berasal.


Beberapa saat berlalu, kereta yang kami naiki, berhenti di depan sebuah rumah. Dua gadis kecil berdiri di depan pintu, wajah mereka terlihat khawatir.

__ADS_1


Aku, Nazdia dan Anifsa turun dari kereta kuda.


Kedua gadis cilik itu berpegangan satu sama lain. Wajah yang yang semula khawatir berubah takut.


"Ka…kak…," ucap Lizfa -nama gadis kecil yang lebih tinggi- dengan terbata, dia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, kepalanya bergerak-gerak mencari seseorang yang tidak kunjung muncul.


"Maaf…," jawabku pelan, aku menundukan kepala.


Seolah menyadari sesuatu yang berada di atas kereta kuda, Lizfa menarik adiknya menaiki kereta kuda. Bahkan hanya melihat pedang besar yang tergeletak di samping siluet tubuh yang tertutup kain, dia sangat tahu apa maksudnya semua itu.


"Ka… kak?" Lizfa berjalan pelan hingga dia dapat menyentuh kain yang menutupi siluet tubuh seseorang.


"Kakak dimana, kak?" Linda, adik kecil Lizfa, akhirnya bertanya, bingung dengan tingkah kakaknya.


Lifza membuka kain penutup wajah di depannya dengan pelan, tangannya bergetar.


“Kakak…,” jerit Lizfa saat melihat wajah kakaknya yang sudah kaku dan dingin. Dia memeluk kakaknya erat.


Linda yang berumur sekitar 6 tahun, ikut menangis melihat kakaknya menangis.


Aku memalingkan wajahku menatap jalanan yang cukup sepi, tidak sanggup melihat dua gadis kecil menangis.


Sementara Anifsa naik ke kereta kuda, lalu memeluk mereka berdua dari belakang. Dia memang paling dekat dengan mereka di antara kami bertiga.


“Kenapa kakak meninggalkan kami secepat ini?” Lizfa mengusap-usap kedua matanya, mencoba menghapus air matanya, namun air matanya terus keluar tanpa henti.


Beberapa orang yang berjalan, berhenti, terlihat penasaran dengan apa yang sedang terjadi dan mulai berbisik-bisik


Mereka menundukan kepala saat mata kami bertemu, lalu melanjutkan perjalanan.


Akhirnya, Lizfa turun dari kereta kuda, dia masih mengusap-usap matanya. Sementara Linda memeluk tubuh Anifsa dengan erat.


“Aku akan menemani mereka berdua,” ucap Anifsa saat mereka bertiga sudah berdiri di hadapan kami. “Kalian lanjutkan saja mengantar tubuh Zazki.”


“Aku mengerti.”


Walaupun Anifsa memiliki rumah sendiri, tapi dia tidak jarang juga menginap di rumah Zazki. Padahal, seperti yang dikatakan Zazki, ada satu kamar kosong dirumahnya. Sebenarnya Anifsa bisa saja tinggal bersama mereka.


Sementara aku dan Nazdia biasa menginap di tempat penginapan dekat serikat petualang. Untungnya, serikat petualang menyediakan penginapan bagi para petualang dengan harga terjangkau, ditambah lagi ada diskon untuk petualang peringkat emas.


Meskipun selalu berpindah-pindah, biaya yang dikeluarkan untuk tempat tinggal, bisa dibilang masih sangat murah.


Jika Zazki dan Anifsa tidak diberikan rumah secara gratis oleh penduduk kota ini, pasti mereka juga masih menginap di tempat penginapan yang disediakan serikat petualang.


"Satu hal lagi, kalau kalian berkenan, bisakah setelah ini datang ke sini lagi?"

__ADS_1


"Tentu saja." Lagipula banyak yang harus kita diskusikan.


"Baiklah, kalo begitu kami juga akan menyiapkan makan malam."


Aku dan Nazdia melanjutkan perjalanan, namun kali ini Nazdia duduk di sisiku, sementara tameng, helm dan tombaknya di letakan di depannya.


Aku menyadari sesuatu.


"Bagaimana dengan pedang besar milik Zazki?"


Aku mengingat ingatan tentang pedang besar itu, sebuah pedang yang selalu menemani perjalanan Zazki sebagai petualang berperingkat emas, tidak mungkin dibiarkan begitu saja.


Aku juga mengingat, pedang itu dibeli oleh Zazki dengan harga cukup mahal, sekitar 50 koin emas atau jika uang itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk makan dan menginap, bisa habis hingga 10 tahun hidup di dunia ini.


Ah, dengan uang sebanyak itu mungkin aku bisa membeli ponsel baru dan komputer baru.


"Kamu benar, apa yang harus kita lakukan?" tanya Nazdia membuyarkan lamunanku.


"Kurasa kita harus membawanya, lebih baik kita diskusikan lagi bersama kedua adiknya."


"Baiklah."


Hampir saja aku mencampur adukkan antara kehidupan di dunia ini dan di dunia asliku.


Tapi memang benar, di dunia asliku aku selalu ingin komputer dan ponsel terbaru, namun mamaku selalu melarang. Jika aku pikirkan lagi, aku meminta itu paling juga hanya untuk bermain game. Mungkin itu alasan mamaku melarang.


Aku mendesah pesan.


Di banding dengan Rizkal, sepertinya ada sesuatu yang ingin dibelinya akhir-akhir ini. Dia ingin menambah sihir tingkat atas pada buka sihirnya. Biar ku ingat, satu sihir tingkat atas membutuhkan sekitar 25 koin emas. Kalau tidak salah sihir tombak es besar, digolongkan menjadi sihir tingkat atas.


Mahal banget.


Bisa dikatakan, dua sihir tingkat atas bisa membeli pedang milik Zazki yang terlihat sangat kuat dan keren. Mungkin itu juga alasan kenapa pengguna buku sihir di dunia ini lebih sedikit dibanding pendekar pedang.


Namun jika dipikirkan lagi, membeli alat untuk menambah peluang hidup di dunia ini, terdengar sangat masuk akal. Lagi pula jika kita mati di dunia ini, semua yang kita punya akan menghilang, koin emas, senjata, keluarga, semuanya menghilang. Asalkan kita hidup sekarang, itu lebih baik daripada tidak mempunyai satu koin emas pun.


Baiklah, jika ada waktu aku ingin menambah sihir tingkat atas pada buku sihirku.


Asalkan digunakan untuk membeli sesuatu yang berguna, menurutku tidak masalah. Tapi membeli komputer dan ponsel baru hanya untuk bermain game, apakah itu benar-benar dibutuhkan?


Sekarang aku mengingat berapa banyak koin emas yang sudah dikumpulkan oleh Rizkal, 30 koin emas ya. Tidak apa-apa, masih tersisa 5 koin emas.


Aku menatap langit sekali lagi. Langit terlihat cerah tanpa awan yang terlihat. Bulan dan bintang-bintang juga terlihat jelas.


Mungkin ini pertama kalinya aku berpikir banyak hal. Aku tidak akan menyangka bisa merasakan menjalani hidup sesulit ini. Setiap hari pun selalu berhadapan dengan kematian.

__ADS_1


Sangat jauh jika dibandingkan dengan hidupku di dunia asli. Seharian hanya scroll layar pada aplikasi sosial media pun sama sekali tidak masalah.


Sekali lagi, aku mendesah pesan.


__ADS_2