
Waktu sudah menunjukkan waktu 22.13.
Aku menatap langit-langit kamar, memikirkan banyak hal. Bola hitam sudah berada di atas tangan kananku, aku sudah siap melanjutkan menjalani hidup sebagai pemuda bersama Rizkal.
Walaupun aku tahu merubah kebiasaan memang butuh waktu panjang, namun aku sudah mencoba sedikit demi sedikit.
Seperti yang aku lakukan hari ini, aku mengerjakan semua PR sekolah untuk esok hari.
Biasanya aku mengerjakan PR di kelas pada pagi hari, tentu saja dengan melihat hasil pekerjaan teman. Itu lebih mudah kan? Dibanding dengan bersusah payah memikirkan soal yang belum tentu bisa menjawabnya. Aku selalu berpikir seperti itu.
Namun hari ini, setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan kesedihan. Aku merasa mengerjakan PR sangat jauh lebih mudah dibanding mengalahkan seekor monster kuat, bahkan nyawa menjadi taruhannya.
Tentu saja aku juga tidak melupakan daily quest di sebuah game yang sudah seperti kewajibanku setiap hari. Aku menganggapnya itu sebagai hiburan setelah bekerja keras mengerjakan PR. Walaupun saat aku melakukannya aku merasa tidak seantusias biasanya.
Aku mendesah pelan.
Aku mengingat sekarang aku masih belum mempunyai ponsel.
Setiap malam, sebelum tidur aku pasti membuka aplikasi sosial media. Bahkan jika aku hari itu tidak bisa tidur, aku bisa menatap layar ponsel hingga pagi. Dan pada akhirnya aku telat masuk sekolah.
Tapi malam ini berbeda, meskipun aku tidak bisa membuka ponsel, aku merasa itu bukan masalah. Lagipula, ketika aku memikirkan lagi, aku tidak tahu manfaatnya membuka sosial media, bahkan hingga begadang.
Jika aku mengingatnya lagi, di dunia itu sama sekali tidak ada ponsel, dan itu bukan masalah. Mungkin karena itu jugalah, di dunia itu aku benar-benar merasa hidup.
Aku rasa ponsel membuatku mengabaikan semua di sekitarku.
__ADS_1
Aku memejamkan mataku, mencoba untuk tidak memikirkan apapun lagi.
***
Saat aku membuka mata, langit-langit kamar yang terbuat dari kayu dan tersusun rapi, memenuhi pandanganku.
Di samping kanan, jendela kayu yang memiliki banyak lubang bergaris-garis, udara dingin pagi hari masuk melewati lubang itu. Bahkan aku dapat melihat hembusan nafasku sendiri.
Sementara di samping kiriku, seorang gadis masih tertidur pulas. Aku dapat melihat wajah polosnya dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan aku dapat mendengar suara nafas lembutnya.
Dengan perlahan, aku mengangkat selimut lalu duduk memperhatikan gadis di sampingku.
Nazdia. Seorang gadis yang sangat aku cintai di dunia ini. Jika di dunia asliku ada seorang gadis seperti dia, hidupku pasti akan lebih baik.
Aku mendesah pelan.
Meskipun aku tidak terlalu yakin bisa menemukan seseorang seperti itu di dunia asliku. Tapi setidaknya, aku bisa merasakannya di dunia ini.
Aku mengangguk lalu menyentuh ujung hidung Nazdia.
"Hmm…," Nazdia bergumam pelan lalu merubah posisinya, yang semula menghadap ke atas, sekarang menghadap ke arahku.
Dia masih memejamkan mata.
Aku ingin menyentuhnya sekali lagi, namun hanya melihat wajahnya yang polos sudah cukup membuatku terkagum.
__ADS_1
Aku ingin melihat wajahnya beberapa saat lagi.
Belum sampai aku puas melihat wajahnya, matanya mulai bergerak lalu mengerjap-kerjapkan beberapa kali.
Melihatku yang sedang memandangnya, dia tersenyum malu.
"Rizkal…," ucap Nazdia pelan.
"... Selamat pagi."
"Selamat pagi," jawabnya lalu duduk berhadapan denganku. "Meskipun aku juga ingin melihat wajahmu saat tertidur."
"Sayang sekali."
Aku tersenyum lebar. Baru kusadari membangunkan dan memandangi wajah tidur seseorang yang aku sayangi, sangat membahagiakan.
Untuk beberapa saat dia terlihat kesal walaupun pada akhirnya tersenyum kembali. Dia menggerakkan tubuhnya lalu berpindah duduk tepat di sampingku. Tangan kanannya memeluk perutku.
"Semalam aku menyadari sesuatu," ucap Nazdia pelan, kepalanya bersandar pada bahuku. "Setiap hari kita harus membuat kenangan yang indah."
"Kamu benar," jawabku sangat setuju dengannya. "Jadi jika kamu menginginkan sesuatu, langsung katakan saja, ya?"
Nazdia mengangguk dengan cepat. "Akan aku ingat."
"Tapi sebelum itu, hari ini kita harus menghadiri pemakaman Zazki."
__ADS_1
"Kamu benar."
Hari ini akan menjadi hari terakhir kami melihat Zazki.