
Lonceng besar yang berada pada menara dekat serikat petualang, berbunyi lima kali.
Di sebuah ruangan yang luas, ratusan orang berkumpul dengan raut wajah penuh kesedihan. Di tengah kerumunan itu, sebuah peti mati menjadi pusat perhatian semua orang.
Zazki, petualang berperingkat emas, pahlawan yang selalu melindungi kota Lorisa, hari ini beristirahat untuk selamanya.
Seorang laki-laki tua, dengan pakaian yang sangat tertutup, memimpin jalannya upacara kematian. Wajahnya terlihat penuh dengan kesedihan, bahkan dengan jelas terlihat dia menahan air matanya untuk tidak keluar selama proses upacara itu.
Dia menceritakan semua jasa yang pernah Zazki lakukan untuk kota Lorisa dan sebagai orang yang masih hidup kita harus selalu mengingatnya. Dengan mengingatnya, kita harus berusaha lebih keras untuk melindungi kota yang kita tinggali.
Pada akhirnya, dia berdoa untuk Zazki agar bisa beristirahat dengan tenang.
Aku yang sejak tadi menahan air mataku agar tidak keluar, akhirnya gagal. Air mataku menetes dari ujung mataku. Walaupun bisa di bilang pertemuan kami sangat singkat, aku sudah merasa cukup dekat dengannya.
Dia adalah pemuda yang bertanggung jawab dan sangat bisa di andalkan. Bahkan dia juga bisa menjadi pendengar yang baik, kami sering bercerita banyak hal.
Di sampingku, Nazdia menggenggam erat tanganku. Dia masih cukup tenang walaupun terlihat cukup sedih.
Sementara itu, Anifsa mencoba menenangkan Lizfa dan Linda yang menangis dalam diam. Dia mengusap pelan kedua bahu mereka. Walaupun aku aku tahu dia orang yang paling sedih saat ini.
Upacara pemakaman Zazki pun berakhir. Setelah melihat beberapa saat peti mati Zazki untuk yang terakhir kalinya, kami berjalan menuju pintu keluar.
Kami belum memutuskan kegiatan apa yang akan dilakukan hari ini.
Namun, saat kami baru saja keluar dari pintu, seorang perempuan petugas serikat petualang sudah menunggu kami.
"Mohon maaf jika mengganggu," ucapnya pelan dengan menundukan kepalanya. "Tapi ada keadaan darurat, seseorang sudah menunggu tuan Rizkal."
Aku memalingkan wajahku, lalu melihat anggukan dari Nazdia dan Anifsa.
"Baiklah, antar kami kesana."
"Baik, tuan."
Kami berlima pun berjalan mengikuti di belakang perempuan tadi, kami masuk ke dalam bangunan utama serikat petualang lalu naik ke lantai dua dan masuk ke dalam ruangan khusus yang digunakan saat ada keadaan darurat.
Namun sebelum masuk ke ruangan itu, aku menempatkan Lizfa dan Linda duduk di salah satu meja dan memesankan minuman dan beberapa makanan ringan.
Saat kami bertiga masuk ke ruangan khusus itu, seseorang yang aku kenal sudah menunggu kami.
Dia segera memeluk Nazdia saat kami tiba di dalam ruangan.
__ADS_1
"Nazdia…," ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya, namun beberapa detik kemudian berubah menjadi wajah khawatir.
Desfi, nama seorang gadis yang menunggu kami. Terakhir kali kami bertemu sekitar 5 tahun yang lalu saat aku dan Nazdia berada di kota Banderang. Banderang adalah salah satu kota di timur kota Lorisa. Kota itu juga sebagai awal perjalanan kami berdua sebagai petualang.
Desfi melepaskan pelukannya lalu menatapku.
“Rizkal, lama tidak jumpa.”
Aku mengangguk, dia terlihat masih kelelahan setelah perjalanan yang cukup jauh. “Apa yang terjadi?”
Desfi tersenyum kecut. “Bagaimana kalau kita duduk dulu.”
Kami berempat beranjak duduk. Sementara perempuan yang datang bersama kami, ijin keluar. Di dalam ruangan, Benito dan ketua serikat terlihat menunggu kami, wajah mereka terlihat serius. Walaupun aku cukup yakin melihat mereka berdua di upacara tadi, namun sepertinya mereka berdua pergi di tengah upacara.
“Sekarang, kemungkinan kota Banderang sedang di serang monster,” jelas Pisirio, nama ketua serikat petualang, setelah kami duduk di dekatnya. Pisirio adalah pria yang sudah cukup berumur, terlihat rambutnya yang sudah mulai memutih sebagian.
Desfi mengangguk setuju. “Dini hari tadi, beberapa pengintai yang ditugaskan memantau keadaan di sekitar kota, melihat gorila besar dengan tinggi sekitar 5 meter, memakai zirah dan membawa senjata, mereka sedang berjalan menuju kota Banderang.”
Gorila besar adalah salah satu monster yang paling sulit dihadapi. Selain mereka bisa memakai senjata, mereka juga memiliki sedikit kepintaran seperti manusia. Walaupun bisa di bilang selama ini gorila besar sangat jarang menyerang manusia.
“Mereka tahu berapa jumlahnya?” tanya Anifsa penasaran.
“Sekitar 100 ekor,” jawab Desfi pelan, seolah dia tidak ingin mempercayai ucapannya.
Mendengar gorila besar berkumpul dan menyerang sebuah kota saja sudah membuat siapapun heran, ditambah lagi jumlah mereka sekitar 100 ekor. Tidak dapat dipercaya.
Tapi mengingat perilaku para monster akhir-akhir ini memang sedang tidak wajar, seperti kadal besar yang kami lawan kemarin. Kejadian seperti ini cepat atau lambat akan segera terjadi.
Namun, jika di pikirkan kembali, untuk mengalahkan satu ekor gorila besar membutuhkan setidaknya satu petualang peringkat emas, atau lima petualang peringkat silver berkumpul dan bekerja sama. Jika petualang peringkat tembaga membutuhkan 10 orang atau lebih dengan peran yang harus lengkap. Jika warga biasa tentu saja tidak ada kemungkinan untuk menang. Lalu untuk para penjaga kota, yang dipimpin oleh walikota di bawah perintah kerajaan, memiliki peringkat tembaga, untuk peringkat perak dan emas, biasanya memiliki jabatan yang lebih tinggi.
Itu semua bisa terjadi jika gorila yang di lawan hanya satu ekor. Tentu saja berbeda jika gorila besar berjumlah 100 ekor.
“Kalau tidak salah, di kota Banderang ada petualang peringkat emas, kan?” tanyaku pada Desfi, mengingat informasi dari ingatan Rizkal.
Desfi mengangguk. “Saat terakhir kali aku pergi, hanya ada satu petualang peringkat emas. Dia adalah Rasniar dengan dua pedang api dan es nya.”
Walaupun ada peringkat emas, namun jika harus menghadapi 100 ekor gorila besar, dia tidak mungkin bertahan. Satu-satunya harapan adalah memanggil para petualang lain dari kota lain.
“Sebenarnya teman saya di serikat petualang kota Banderang sudah menceritakannya beberapa minggu yang lalu, namun saya tidak menyangka mereka menyerang secepat ini,” jelas Pisirio, wajahnya terlihat khawatir.
Tanpa bantuan, bisa dipastikan kota Banderang akan menjadi kota yang ditinggalkan. Sementara untuk berpindah dalam jumlah besar sangat berisiko saat malam. Kemungkinan besar mereka bertahan semampu mereka.
__ADS_1
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyaku pada Pisirio. Mengirim semua petualang peringkat emas tentu saja akan membuat kota Lorisa kehilangan kekuatannya. Meskipun aku yakin, monster di sekitar ini seharusnya tidak tersisa untuk sekarang.
Pisirio menghembuskan nafasnya pelan. “Jika kalian bersedia, kalian bisa membantu kota Banderang.”
“Kami siap,” jawabku cepat, lalu memalingkan pandanganku pada Anifsa, lagi pula hari ini adalah pemakaman teman baiknya. “Anifsa bagaimana? Jika kamu masih ingin di sini, kamu tidak perlu ikut.”
“Aku ikut,” jawabnya tanpa ragu.
“Baiklah,” ucapku lalu memikirkan sesuatu. “Perjalanan dengan kuda, membutuhkan waktu sekitar 5 jam, bagaimana menurutmu, Desfi?”
“Aku harap mereka masih bisa bertahan.”
“Baiklah, saya akan menyiapkan tiga kuda terbaik,” ucap Benito beranjak berdiri. “Desfi bagaimana? Saya rasa lebih baik kamu istirahat dulu disini.”
“Aku ikut pergi.” Wajahnya masih terlihat kelelahan, namun sepertinya dia tidak menghiraukannya. “Walaupun aku tidak bisa berbuat banyak, tapi setidaknya aku ingin melindungi kota kelahiranku.”
Anifsa adalah petualang peringkat perak dengan pedang dan tameng kecil di kedua tangannya. Padahal terakhir kali kami bertemu dia masih seorang putri bangsawan yang manja. Sekarang dia terlihat sudah sangat berubah.
“Baiklah, saya akan siapkan 4 kuda terbaik.”
Setelah Benito keluar dari ruangan, kami juga harus menyiapkan beberapa hal.
“Kalau begitu, Pak Pisirio, kami bersiap-siap terlebih dahulu.”
Pisirio mengangguk. “Tolong berhati-hati, kita tidak ingin kehilangan petualang peringkat emas lainnya.”
“Kami mengerti, kami akan berhati-hati.” Kami perlahan berdiri, lalu aku teringat sesuatu. “Selama kami pergi, tolong jaga Lizfa dan Linda.”
“Tidak perlu khawatir, serikat petualang selalu menjaga dengan baik kedua adik Zazki.”
Aku tersenyum. “Baiklah, kami izin pergi.”
Setelah berpamitan kepada Lizfa dan Linda, kami segera mengambil dan memakai perlengkapan kami dengan lengkap. Lalu menuju ke kandang kuda. Disana Benito sudah menyiapkan empat kuda yang besar dan terlihat kuat.
Tidak jauh dari empat kuda yang sudah disiapkan, Desfi berjalan menuju kuda yang berdiri sendirian, lalu mengusapnya pelan. Sepertinya kuda itu yang membawa Desfi ke sini, dan sekarang masih terlihat kelelahan.
Nazdia dan Anifsa segera naik ke punggung kuda.
Sementara aku, untuk sesaat memandangi kuda dihadapanku. Ini pertama kalinya aku menaiki kuda. Di dunia asliku sudah sangat jarang orang menaiki kuda secara langsung, lebih sering di jadikan kereta kuda di sebuah tempat wisata.
Aku menghembuskan nafas pelan, menyakinkan diriku. Dengan semua ingatan Rizkal, aku pasti bisa melakukannya.
__ADS_1
Setelah memastikan ketiga temanku sudah di atas punggung kuda, kami berpamitan kepada Benito.
“Hati-hati,” teriak Benito saat kuda yang kami naiki mulai berjalan menjauh.