Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 3.


__ADS_3

Beberapa menit sudah berlalu ketika bel istirahat pertama berbunyi.


Suasana kelas semakin sepi, hanya beberapa anak yang masih berada di dalam kelas, termasuk aku sendiri.


Kotak bekal yang aku bawa sudah habis sebagian.


Meskipun aku sudah menahan sekuat mungkin, pada akhirnya aku tetap tidak bisa membuat kedua mataku tetap terbuka. Aku sangat mengantuk lalu dengan gerakan pelan menutup kotak bekal di depanku. Kurasa aku harus tidur beberapa menit.


Lagipula, tidak tidur sama sekali di pelajaran pagi hari, itu kemajuan yang sangat besar kan?


Aku mengangguk pelan lalu meletakan kepalaku yang sudah sangat berat pada kedua tanganku yang berada di atas meja.


Aku mulai memejamkan mata.


Tapi….


Aku sangat penasaran kenapa di dunia itu, aku sama sekali jarang mengantuk. Berbeda dengan di dunia ini, hanya beberapa jam belajar saja sudah membuatku sangat lelah dan mengantuk.


Aku menghembuskan nafas panjang dan duduk tegap sekali lagi.


Alasannya adalah karena di dunia itu, aku memiliki tubuh Rizkal yang setiap hari menggunakan waktunya sebaik mungkin. Tidak ada kata malas dalam hidupnya.


Sangat berbanding terbalik dengan hidupku disini, yang selalu menggunakan waktuku untuk bermalas-malasan. Tidak ada kata kerja keras di hidupku. Kerja keras tidak ada gunanya.


Alasan yang lain mungkin karena di dunia itu diharuskan banyak bergerak dan bertarung. Berbeda dengan disini yang hanya menggunakan otak untuk berpikir dan lebih cepat membuat otak terasa lelah.


Kehidupan di sekolah pun terasa sangat membosankan. Aku merasa tidak hal yang menarik yang terjadi.


Tunggu….


Aku mengamati keadaan di dalam kelas dengan hati-hati.


Di bangku pojok bagian belakang. Seseorang sedang dikerubungi oleh tiga lelaki yang terkenal sangat nakal di kelasku.


“Bagi duit!” ucap salah satu lelaki yang sedang mengerubungi korbannya. Suaranya pelan namun sangat terdengar sangat mengintimidasi.


Lelaki yang sedang dikerubungi menundukan kepalanya lalu menutup kotak bekal di hadapannya. “Aku ga bawa uang jajan.”


“Hah?” teriaknya lalu menggebrak meja dengan keras. “Bukannya kemarin sudah kami ingatkan?”


“Maaf,” jawabnya dengan suara sangat pelan. “Lupa.”


“Goblok lu,” Lelaki itu mengambil sebuah uang lima puluh ribuan dan melemparkan ke depan lelaki di depannya. “Beliin roti sama minum seperti biasa.”

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk lalu berdiri dan berjalan cepat menuju pintu keluar kelas.


Apakah kejadian seperti ini biasa terjadi?


Aku menghembuskan nafas panjang menatap papan tulis yang kosong.


Aku benar-benar tidak tahu.


Meskipun aku tahu, aku tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Berbeda dengan Rizkal yang memiliki tubuh berotot, tubuh asliku sangat lemah. Mungkin satu kali pukul saja bisa membuatku pingsan.


Beberapa saat kemudian seseorang yang sangat aku kenal muncul dari balik pintu. Dia tersenyum lebar padaku lalu duduk di kursi sebelahku. Dia adalah Andri, teman sebangkuku. Dia membawa sebuah roti dan dua kotak susu. 


Andri menyerahkan salah satu kotak susu padaku.


“Tumben lu ga langsung tidur?”


Aku baru menyadari alasan kenapa aku tidak diganggu oleh tiga anak nakal di kelasku. Seharusnya lelaki lemah sepertiku pasti menjadi sasaran empuk untuk mereka. Namun mereka tidak pernah menggangguku sama sekali.


Alasannya adalah aku berteman cukup baik dengan Andri, kapten dari tim sepakbola di sekolah kami. Dia memiliki banyak teman dan tentu saja mempunyai tubuh yang bagus.


Walaupun begitu, sepertinya aku ingin menjadi sedikit lebih kuat.


“Tau ga persyaratan masuk eskul silat?” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaan Andri.


Aku mengangguk pelan. 


“Lu sakit ya!” Andri membulatkan matanya tidak percaya, dia menempelkan telapak tangannya pada dahiku. “Pertama lu ngerjain pr, kedua lu ga tidur saat pelajaran, ketiga lu bawa bekal, dan terakhir lu tiba-tiba pengin masuk ekskul silat?”


Aku mengabaikan Andri, lalu mengingat seseorang di kelasku yang sudah masuk eskul silat.


“Kalau lu benaran pengin masuk eskul silat, coba tanya Linida aja deh.”


Linida ya? 


Baiklah, sepertinya aku akan bertanya padanya setelah pulang sekolah. 


***


Aku merebahkan tubuhku dengan pelan di atas kasur nyamanku.


"Aahhh…."


Selama seharian ini aku sudah hidup sebaik mungkin. Aku berhasil melewati waktu di sekolah tanpa sama sekali tertidur satu menit pun. Walaupun pada akhirnya aku langsung merebahkan tubuhku setelah pulang sekolah lalu tertidur. Tidak sanggup lagi menahan rasa kantuk yang sudah aku tahan selama di sekolah.

__ADS_1


Meskipun aku masih mempertanyakan kenapa aku harus menyiksa diri untuk tidak tidur di sekolah.


Aku tidak tahu.


Ketika aku memikirkannya, aku sudah terbiasa hidup dengan santai tanpa perlu memikirkan sesuatu dengan serius. Belajar dengan sungguh-sungguh sangat membuatku otakku kelelahan. Jika aku tidak mengingat kehidupanku di dunia itu, aku pasti tidak akan berusaha sekeras itu.


Aku menghembuskan nafas panjang.


Jika diingat kembali, hampir semua waktuku dihabiskan dengan melihat layar ponsel. Entah itu membuka sosial media atau menonton sebuah video. Kegiatan seperti itu tidak membutuhkan otak berpikir keras. Aku hanya cukup melihat tanpa memikirkan apapun, dengan sesekali tertawa saat melihat hal lucu. Walaupun aku yang sekarang masih tidak terlalu mengerti apa gunanya semua hal itu.


Selain itu aku juga menghabiskan banyak waktu dengan bermain game.


Jika berbicara game, tentu saja otak lebih banyak digunakan dibanding hanya membuka sosial media atau hanya menonton video. Tapi aku menyadari satu hal yang berbeda. Bermain game membuatku ketagihan.


Dibandingkan dengan belajar pelajaran sekolah, bermain game hanya cukup mempelajarinya satu kali. Jika sudah memahami cara bermain sebuah game tentu selanjutnya akan sangat mudah bermain game itu, meski tanpa berpikir sekalipun.


Berbeda dengan belajar pelajaran sekolah, saat sudah mempelajari sebuah soal dan memahaminya. Aku harus segera belajar pelajaran yang lain tanpa bisa membanggakan hasil dari sebuah soal yang sudah dikuasai.


Mungkin karena itu jugalah, aku tidak terlalu suka mencoba game baru dan lebih sering memainkan game itu-itu saja. Karena aku tidak ingin mempelajari cara kerja sebuah game yang lain dan lebih memilih memainkan game yang menurutku sudah nyaman.


Tanpa sadar aku sudah ketagihan bermain game itu.


Namun mulai hari ini juga, aku mulai meninggalkan semua itu. Walaupun belum sepenuhnya aku tinggalkan, tapi setidaknya aku sudah mulai mengurangi waktu menggunakan semua hal itu dan diganti melakukan sesuatu yang lebih berguna yang lain.


Aku juga tidak lupa melakukan ritual olahraga. 5 kali push up, 20 kali squat jump dan 10 kali sit up. Melakukan semua itu membuat jantungku berdegup kencang dan setidaknya melupakan rasa kantuk untuk sesaat.


Hari ini tidak terlalu buruk kan?


Selain itu, aku juga melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan selama hidupku. Untuk pertama kalinya aku ingin masuk ke dalam sebuah ekskul.


Seusai jam pelajaran sekolah, aku tidak lupa menuju bangku Linida, salah satu anggota ekskul silat di kelasku, untuk menanyakan persyaratan masuk ke ekskul itu.


Linida adalah salah satu gadis yang cukup cantik di kelasku dan memiliki tubuh yang sangat ideal. Sepertinya sudah ada beberapa teman kelasku yang sudah mencoba mendekati Linida, namun sepertinya, Linida sama sekali tidak memberikan tanda lampu hijau.


Aku masih cukup gugup saat pertama kali berbicara dengannya.


Walaupun aku sangat yakin Nazdia jauh lebih cantik dibanding Linida, namun entah mengapa tubuhku sangat berbeda dengan tubuh Rizkal saat berhadapan dengan seorang gadis.


Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup aku bertanya pada Linida. Sayang sekali ekskul silat tidak menerima anggota baru sebelum tahun ajaran baru.


Mungkin untuk sementara aku akan masuk ekskul sepakbola setelah di ajak oleh Andri. Namun aku akan memikirkannya lebih dalam lagi.


Aku menghembuskan nafas panjang sekali lagi.

__ADS_1


Bola hitam sudah di tanganku. Aku sudah siap melanjutkan perjalanan hidupku di dunia itu.


__ADS_2