Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 1. Part 2


__ADS_3

Matahari masih bersinar terik, saat Anifsa kembali. 


Lima kereta kuda muncul dari balik bagian sisi dasar tebing. Untungnya, bagian itu bisa digunakan jalan kereta kuda.


Anifsa turun dari salah satu kereta kuda, lalu seorang pria dewasa juga ikut turun dibelakangnya. Mereka berjalan ke arah kami berdiri. 


Pria dewasa itu bernama Benito, salah satu orang penting di serikat petualang. Kumisnya yang tebal adalah ciri khas pada wajahnya.


Benito segera menundukan kepala saat tiba di tempat kami berdiri. 


“Saya turut berduka cita,” ucapnya dengan raut muka sedih, lalu menyadari tubuh seseorang berada di dekat kami, dia terlihat menahan tangisnya. Dia memejamkan matanya erat. “Saya mengingat dengan jelas saat mengenal Zazki pertama kali empat tahun lalu, ketika desanya hancur dan kedua orang tuanya meninggal dunia. Bersama dengan kedua adiknya, dia bekerja dan berlatih dengan sangat keras, sampai akhirnya dia menjadi petualang peringkat emas. Dia pemuda yang pantang menyerahi.”


Benito menghembuskan nafas panjang. Wajahnya yang terlihat cukup seram, begitu juga dengan sifatnya yang tegas dan sangat disiplin, membuatnya saat ini terlihat begitu sedih. Dia juga seseorang yang paling perhatian kepada para petualang di kotanya. 


"Boleh saya melihatnya?" 


Aku mengangguk pelan. Saat ini, tubuh Zazki sudah dipisahkan dengan kadal besar dan di tutupi kain yang selalu aku bawa. Begitu pula dengan wajahnya. 


Benito membuka penutup kain di atas wajah Zazki. Dia terdiam beberapa saat, hanya isak tangis yang terdengar lirih. 


"Saya tidak akan melupakan semua jasamu, Zazki. Lagipula kamu akan selalu menjadi pahlawan di Kota Lorisa." 


Sebagai petualang peringkat emas, peringkat tertinggi di serikat petualang, membuat Zazki sangat dihormati di Kota Lorisa, beberapa dari mereka memanggilnya pahlawan. Selain karena hanya sedikit petualang peringkat emas -saat ini hanya kami berempat petualang peringkat emas di Kota Lorisa- Zazki juga sudah 4 tahun melindungi Kota Lorisa. 


Sementara aku dan Nazdia baru saja datang ke Kota Lorisa beberapa bulan yang lalu, saat mendengar banyak monster kuat muncul di kota ini. Sejak itulah kami bertemu Zazki dan Anifsa, lalu menjadi kelompok yang melindungi kota ini.


Bisa dikatakan, mulai hari ini, kekuatan Kota Lorisa menurun drastis.


Benito menutup wajah Zazki kembali seperti semula, lalu berdiri. “Kalau boleh tahu, tentang kedua adik Zazki….”

__ADS_1


“Kami akan merawatnya,” ucapku cepat, lagipula aku sudah berjanji pada Zazki.


Kali ini Benito tersenyum tipis. “Zazki sangat beruntung bertemu dengan kalian.”


Aku mengangguk pelan.


“Baiklah, kalo begitu, bolehkan kami mengambil sisik kadal besar sekarang?” tanya Benito padaku, yang aku jawab dengan anggukan. “Jika berkenan, bisakah kalian membawa tubuh Zazki ke salah satu kereta kuda, setelah ini, kami akan memperingati kematiannya. Saya yakin seluruh warga Lorisa akan sangat sedih mendengarnya.”


“Aku mengerti.”


Benito mengangguk, lalu melihat ke arah kereta kuda berhenti. Dia bertepuk tangan sebanyak tiga kali dengan keras.


Delapan pria dewasa turun dari kereta kuda, lalu empat kereta kuda dituntun menuju kadal besar berada. Mereka membawa pisau besar yang biasa digunakan untuk mengambil bagian yang bisa digunakan dari tubuh monster.


Mereka menunduk saat melewati kami bertiga.


Satu kereta kuda masih di berdiri di tempat semula. Dengan hati-hati aku mengangkat tubuh Zazki dan berjalan menuju ke kereta kuda itu. Sementara pedang besar milik Zazki di bawa oleh Anifsa.


Nazdia dan Anifsa duduk besisian, berhadapan denganku. Kedua mata Anifsa terlihat sembab, dia memilih memejamkan matanya, mencoba tertidur. Begitu pula dengan Nazdia, entah tertidur atau tidak, kepala mereka berdua saling bersandaran.


Aku menatap ke langit sekali lagi.


Aku benar-benar berada di dunia lain, dunia dimana para monster berkeliaran, membunuh atau memakan para manusia.


Di dunia ini, yang kuatlah yang bertahan hidup.


Jika aku memikirkan betapa lemahnya aku di dunia asli, mungkin aku tidak akan bertahan hidup selama satu hari pun di dunia ini. Bahkan, tubuh asliku yang hanya kuat push up sebanyak lima kali, untuk keenam kalinya aku sudah tidak sanggup.


Menyedihkan sekali kan?

__ADS_1


Aku melihat sebuah pedang besar milik Zazki yang mempunyai berat lebih dari 10 kg. Pedang itu memiliki garis merah pada bagian tengahnya. Mengangkat lalu mengayunkan pedang seberat itu, sama sekali tidak terbayang olehku.


Jika dibandingkan dengan benda di dunia asliku, mungkin mirip seperti membawa tabung gas elpiji 3 kg yang mempunyai berat 8 kg. Membawa tabung itu pun, tanganku sampai bergemetaran karena terlalu berat.


Bukan hanya Zazki, Nazdia pun juga membawa tameng yang mempunyai berat sekitar 5 kg. Seorang gadis yang sangat jauh lebih kuat di banding denganku di dunia asli.


Untungnya, aku memiliki tubuh dan ingatan Rizkal di dunia ini. Aku seharusnya tidak perlu malu, meskipun saat aku tahu, Rizkal melakukan push up sebanyak 50 kali lalu berlari mengelilingi kota saat hari itu tidak ada misi.


50 kali? Tidak mungkin.


Sepuluh kali lipat yang dapat aku lakukan, meskipun Rizkal hanyalah seorang pengguna buku sihir.


Aku mendesah pelan.


Untuk pertama kalinya aku memikirkan bagaimana aku hidup selama ini.


Tidur-tiduran, makan, bermain game dan menonton film. Itu adalah kegiatan sehari-hari saat aku dirumah.


Saat libur sekolah, aku bahkan bisa di dalam kamar satu minggu penuh.


Aku tidak pernah melatih otot tubuhku, begitu juga otakku yang tidak pernah aku gunakan untuk berpikir keras.


Begitulah kehidupan ku selama ini.


Memikirkan semua itu, hatiku terasa sakit.


Mengingat semua ingatan Rizkal yang berusaha keras hanya untuk bertahan hidup, dibandingkan denganku, apa yang sudah aku lakukan selama ini?


Aku terlalu terlena hidup dalam kenyamanan, kah?

__ADS_1


Sekali lagi, air mataku membasahi pipi.


__ADS_2