Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 1. Tentang Kematian


__ADS_3

Saat membuka mata, pemandangan yang sangat asing muncul dihadapanku.


Seekor kadal berukuran besar sedang menyerang seorang pria. Walaupun perbedaan ukuran yang sangat jauh, si pria mencoba tetap bertahan dari semua serangan kadal besar.


Sementara aku yang masih bingung, mencoba mengamati keadaan.


Berada di sebuah dasar tebing yang dikelilingi pepohonan yang lebat, hanya ada aku, si pria, dan kadal besar. Serta satu lagi kadal yang berukuran lebih kecil tergeletak tak bergerak dan bersimbah darah.


Dimana aku?


Itu pertanyaan yang segera muncul dalam benakku. Hal terakhir yang aku ingat adalah tidur di kamar, jadi ini adalah mimpi?


Aku menggeleng. Pemandangan yang terasa begitu nyata tidak mungkin hanya mimpi. Bahkan hawa panas yang dihasilkan dari semburan nafas kadal besar terasa olehku.


Tempat ini adalah Hutan Hitam sebelah utara Kota Lorisa, sebuah desa di ujung Kerajaan Manusia.


Tunggu, dari mana aku tahu tempat ini? Walaupun terasa aneh, sepertinya ada ingatan yang tiba tiba muncul dalam pikiranku.


Setelah mengingat tempat ini, aku juga mengingat kenapa aku disini. Awalnya aku dan bersama ketiga temanku ditugaskan untuk menjalankan misi mengalahkan kadal besar dari serikat petualang. Namun, kadal yang diperkirakan hanya beberapa ekor, malah muncul lebih dari sepuluh ekor. Parahnya lagi, mereka menyergap kami di jalan yang cukup sempit di sebuah tebing.


Tidak membutuhkan waktu yang lama sampai kami membunuh setengah dari kelompok kadal besar itu. Sayangnya, saat kadal tersisa empat ekor, salah satu dari mereka menabrak teman kami dan jatuh dari tebing.


Dengan gerakan cepat aku memutuskan ikut melompat setelah berkata kepada kedua temanku yang lain.


“Aku akan menolongnya.”


Ada sihir penciptaan es milikku yang bisa membuat pendaratan dari tempat tinggi, mendarat tanpa cedera.


Sayangnya, saat kami berpikir kami sudah di tempat aman, seekor kadal besar muncul, dua kali lebih besar dari sebelumnya. Selain ukurannya yang besar, itu juga memiliki gigi dan taring yang tajam. Kami segera tahu itu adalah pemimpin kawanan kadal barusan. Ditambah lagi, kadal besar ini bisa mengeluarkan api dari mulutnya.


Jika kami berempat berkumpul, mengalahkan kadal besar yang mempunyai tinggi sekitar dua meter, masih bisa dikalahkan dengan cukup mudah. Namun, kali ini, tanpa seorang yang mempunyai pertahanan yang kuat dan seorang dengan serangan jarak jauh membuat formasi kami sangat tidak menguntungkan.


Zazki, temanku yang sedang bertarung melawan kadal besar itu, terlihat kewalahan. Pedang besar yang di bawanya tidak cukup untuk memberikan luka yang cukup dalam karena sisik dari kadal itu sangat keras. Bahkan dengan kemampuan pedang yang bisa mengeluarkan api, masih tetap belum bisa memberikan luka yang fatal. Seolah sisik kadal itu tahan terhadap serangan api.


Walaupun kadal itu memiliki tubuh besar, gerakannya cukup lincah. Dia menggunakan rahang, cakar ataupun ekornya untuk menyerang Zazki. Bahkan dia juga bisa menempel di dinding tebing seperti kadal yang lebih kecil lainnya, lalu melompat ke arah Zazki dengan cakar tajamnya atau menyemburkan api dari mulutnya.


Sementara aku, seorang penyihir dengan sebuah buku sihir di tangan, bisa membuat lempengan-lempengan es kecil dan menusukan es itu ke tubuh kadal besar. Namun, sama seperti serangan Zazki, lempengan-lempengan es yang aku tembakan tidak bisa membuat luka yang cukup dalam.


Ada satu sihir yang bisa melukai kadal besar itu, yaitu sihir tombak es besar, namun membuat sihir itu membutuhkan waktu yang lama. Saat aku sedang mencoba membuatnya, seakan tahu sihir yang akan aku gunakan, kadal besar itu menyemburkan api dari mulutnya kearahku. Tanpa bisa menyelesaikan sihir itu, aku membuat dinding es, mencoba bertahan dari semburan api.


Tidak ada yang bisa aku lakukan, begitu pula dengan Zazki, entah berapa lama lagi kami bisa bertahan. Harapan satu-satunya adalah kedua teman kami datang membantu kami. Namun jika dilihat dari tinggi tebing saat kami jatuh, membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke dasar tebing. Selain tebing yang cukup curam, tali yang sebelumnya kami siapkan pun, sepertinya tidak cukup panjang.


Aku menatap buku sihir di tangan kiriku. Buku itu bersinar saat aku menggunakan sihir. Halaman yang berupa gambar, segera terbuka sesuai jenis sihir yang akan aku gunakan.


Mengapa aku disini? Hal terakhir yang aku ingat, aku berada di kamar kan? Dan apa-apaan ingatan yang muncul ini, seolah ingatan seseorang masuk ke dalam otakku. 


Ada banyak hal aneh yang terjadi. Aku juga tidak mengerti keadaan seperti ini.


Tapi, kalau aku mati di sini, aku tidak sungguhan mati kan? aku akan bangun dari mimpi ini kan?


Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul, lalu aku menyadari sesuatu.


Benar, ini hanyalah mimpi, walaupun aku mati disini, aku tidak akan mati. Jadi tidak apa-apa aku mati disini.


Aku masih menatap buku sihir milikku yang tiba-tiba lembaran-lembaran kertas buku itu bergerak pelan, lalu sampai akhirnya tertutup.


“Rizkal!” teriak Zazki dengan suara keras padaku. Dia tidak melihatku dan masih fokus pada kadal besar di depannya. Matanya masih terlihat tajam, dia belum menyerah. “Aku akan menyerang dengan seluruh kemampuanku, kamu fokus pada sihirmu saja.”


“Aku mengerti.”


Tunggu, namaku Rizkal?


Aku menggeleng, ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Saat ini, entah mengapa, aku merasa sangat ingin membantu Zazki dengan seluruh kemampuanku. Meskipun beberapa saat yang lalu aku ingin menyerah, sepertinya, aku ingin mencobanya sekali lagi.


Buku sihir di tanganku terbuka sekali lagi, pada lembaran buku yang terbuka ada sebuah gambar mirip tombak es dan ada banyak simbol di sekitarnya. Selain sebagai media penyimpanan sihir, buku sihir juga digunakan untuk mengubah energi seorang menjadi sihir.


Aku menatap kadal besar itu sekali lagi lalu mengangkat tangan kananku keatas. Walaupun ini pertama kalinya aku menggunakan sihir, tetapi aku merasa ini adalah hal biasa bagiku. Serpihan-serpihan es mulai terbentuk di atas tanganku. 


Seolah tahu apa yang sedang aku lakukan, kadal besar itu mencoba menyemburkan api padaku. Namun, sebelum itu terjadi, Zazki dengan pedang besarnya yang berkobar api, menebas mulut kadal. Si kadal melompat pada dinding tebing, masih mencoba menyemburkan api padaku.


Zazki tidak tinggal diam, dia ikut melompat pada sebuah pijakan dinding tebing lalu melompat sekali lagi, hingga kadal itu dalam jangkauan pedang apinya. Sebelumnya Zazki hanya bertahan saat si kadal melompat ke dinding tebing, namun kali ini dia terus mengikuti si kadal kemanapun dia pergi, untuk melindungiku.


Saat aku sedang membuat sihir yang membutuhkan waktu yang lama, aku tidak bisa melindungi diriku, jika aku terpaksa membuat sihir bertahan, otomatis sihir yang sedang aku buat akan gagal. Biasanya, temanku yang mempunyai pertahanan yang kuat akan melindungiku. Sepertinya Zazki tidak dapat melindungiku dari semburan api, karena itu dia memilih terus menyerang kadal itu terus menerus.


Beberapa detik lagi, sihir yang aku buat selesai, sebuah tombak es besar. Tombak es yang berdiameter lebih dari satu meter dan panjang lebih dari lima meter, dengan salah satu ujungnya berbentuk runcing. 


Sebelum aku menembakkan sihir yang aku buat, Zazki kehilangan keseimbangan lalu terkena serangan dari ekor kadal itu. Dia terpelanting keras dari ketinggian belasan meter. Tanpa berhenti, si kadal melompat dari dinding tebing menuju Zazki yang yang tergeletak lemas di tanah. Dalam sekejap, tiga cakar kadal yang tajam, menembus perut Zazki.


Kemudian, tidak butuh satu detik, tombak es milikku bergerak cepat dan menembus leher kadal besar. Tombak es itu tertancap pada tanah tepat di samping tubuh Zazki yang tertancap cakar si kadal. Zazki dan kadal besar sudah tak bergerak sama sekali. 


Melihat darah merah yang keluar dari tubuh Zazki, tubuhku terasa lemas. Aku jatuh berlutut dengan kedua tanganku menopang tubuhku.


Mengapa ini terjadi padaku?


Perutku terasa mual, lalu memuntahkan isi dalam perutku.


Dalam sekejap kemudian, pandanganku berubah kelabu. Bahkan langit yang tadinya berwarna biru juga berubah kelabu dan burung yang sedang terbang, diam tak bergerak.


Waktu berhenti?


Aku mencoba berdiri, rasa mualku sudah mulai hilang.


Lalu sebuah titik berwarna emas muncul dihadapanku. Titik itu sedikit demi sedikit berubah menjadi besar, hingga akhirnya menjadi sebesar genggaman tangan.


Suara tepuk tangan terdengar.


Beberapa saat kemudian, muncul sesosok makhluk kecil dari cahaya emas didepanku. Makhluk kecil itu bersinar terang diantara latar yang semuanya kelabu.


“Luar biasa, luar biasa,” ucap makhluk kecil dengan bersemangat. Suaranya terdengar kecil namun cukup nyaring, seperti suara anak kecil. Dia masih bertepuk tangan lalu terbang memutari badanku beberapa kali. Kedua sayap di belakang tubuhnya bergerak cepat hingga tak terlihat saat dia sedang terbang. “Pertunjukan yang sangat menegangkan.”


Makhluk kecil itu berhenti tepat di hadapanku, tangannya menyilang dan senyum lebar terlihat di wajahnya.


“Selamat datang di duniaku, tuan yang terhormat.”


Banyak hal yang membuatku bingung dan banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Namun pertanyaan yang paling penting adalah…


“Duniamu?


Makhluk kecil itu mengangguk lalu tertawa dengan keras.


“Kamu ingat bola hitam yang terakhir kamu pegang? Dunia ini berada di dalam bola hitam itu.”


“Tidak mungkin.”


Aku ingat, aku sempat berpikiran benda itu adalah black hole, ada kemungkinan di dalam dalam black hole terdapat alam semesta lain seperti sekarang. Tapi bola hitam yang aku temukan sama sekali tidak menyerap apapun.


“Hebat bukan?” Makhluk kecil itu terkekeh pelan, seperti bangga pada dirinya sendiri. “Walaupun aku tidak pernah melihat bola hitam itu secara langsung, tapi, tidak perlu di ragukan lagi, dunia ini ada di bola hitam itu.”


“Jadi aku masuk kedalam bola hitam itu?”


Makhluk kecil itu meletakan tangannya di dagunya, terlihat memikirkan sesuatu. “Hmm, bisa dibilang benar dan salah. Pada dasarnya kamu masuk ke dunia ini saat mimpi. Saat kamu keluar dari dunia ini, kamu kembali ke duniamu saat bangun tidur.”


“Jadi ini hanya sebuah mimpi?”


“Tet, tet, salah sekali, meskipun masuk saat mimpi, arwah atau bisa disebut ruh masuk ke dalam bola hitam lalu mengambil sebuah tubuh disini. Seperti sekarang kamu mengambil sebuah tubuh bernama Rizkal. Ingatan Rizkal masih dapat kamu ingat, meskipun untuk mengingatnya kamu membutuhkan waktu dan usaha.”


“Lalu Rizkal yang asli?”


Makhluk kecil itu memperlihatkan giginya, sebuah tawa terdengar cukup jahat. “Tentu saja arwah Rizkal sudah tidak ada, bisa dibilang dia sudah mati.”


Aku hanya menatap makhluk kecil didepanku, tidak percaya ucapannya. Rizkal, nama pemilik tubuh yang sedang aku ambil, ingatannya masih dapat ku ingat, namun karena itulah, mengingat semua usahanya hingga sampai saat ini, lalu tiba-tiba seseorang dari dunia lain mengambil tubuhnya, bukankah itu terdengar menyedihkan?


“Tidak perlu dipikirkan," lanjut makhluk itu seperti tau isi dalam pikiranku. "Dunia ini memang diciptakan untuk seseorang yang masuk kesini. Jika suatu saat kamu mati saat berada di tubuh Rizkal, otomatis kamu akan dipindahkan ke tubuh seseorang yang lain di dunia ini. Bisa dibilang, di dunia ini kamu tidak akan mati. Dan karena rasa sakit dari kematian begitu menyakitkan, kamu hanya bisa merasakan rasa sakit itu 10 kebawah.”


“Tunggu sebentar,” penjelasannya begitu cepat, ada banyak hal yang belum aku pahami. “Jadi walaupun ini hanya mimpi, aku bisa merasakan rasa sakit?”


“Kamu salah paham, ini bukan mimpi, hanya pintu masuknya saja saat kamu dalam mimpi. Tentu saja dunia ini sama seperti dunia nyata milikmu. Kamu dapat melihat, mendengar, merasakan sama seperti di dunia milikmu. Walaupun karena untuk kenyamanan para tuan yang datang kesini, rasa sakit hanya bisa dirasakan 10 kebawah.”


“Aku masih belum paham 10 kebawah.”

__ADS_1


Makhluk kecil itu terbang dengan pelan ke arah kiri dan kanan, beberapa kali. “Jadi jika kamu mati, rasa sakit yang bisa kamu rasakan hanya 10. Biar kupikirkan, bisa di misalkan rasa sakit 10 kebawah itu seperti, di suntik, tangan tergores pisau atau di pukul. Ya, seperti itu. Lalu jika tangan terpotong, bisa dibilang rasa sakit itu bisa mencapai 50 keatas. Jadi meskipun tanganmu terpotong, kamu hanya bisa merasakan sakit seperti tergores pisau.“


Aku mengerutkan dahi, memahami semua ucapan makhluk di depanku.


“Jika dibanding dengan rasa sakit saat kematian tiba, rasa sakit bisa mencapai 1000 ke atas, tentu saja tergantung mati karena apa. Meskipun aku juga tidak begitu yakin karena belum pernah mengalaminya. Pokoknya, di dunia ini dibuat untuk kenyamanan semua tuan yang datang kesini.”


Aku mengangguk beberapa kali, sedikit demi sedikit mulai memahaminya. “Jadi sebelum aku datang kesini, banyak orang lain juga kesini?”


Makhluk kecil itu mengangguk. “Seingatku, tuan terakhir yang datang kesini sekitar 70 an tahun yang lalu. Saat itu kalau tidak salah, indonesia masih dijajah kan? Aku ingat tuan itu datang kesini dan menjadi seorang pemimpin di salah satu kerajaan. Dengan pengalaman yang di dapat disini, katanya, tuan itu menjadi pemimpin melawan para penjajah.”


“Benarkah, hebat sekali.”


Kali ini, makhluk kecil itu tersenyum lebar lalu tertawa. “Benarkan, dunia ini memang hebat. Kamu bisa menjadi siapa saja disini.”


“Tunggu, kalau boleh tahu, kamu tahu siapa nama tuan yang terakhir itu?”


“Tentu saja aku tahu, tapi maaf, rahasia semua tuan yang pernah datang kesini tidak bisa aku katakan.”


Aku mengangguk mengerti. “Jadi sudah ada berapa tuan yang masuk kesini?”


“Hmm biar kuingat, yang pasti sudah lebih 100 tuan.”


“Dan umur dunia ini adalah?”


“Lebih dari 10 ribu tahun.”


Aku membulatkan mata. 10 ribu tahun bisa dikatakan itu adalah zaman yunani kuno kan? Tapi tunggu dulu…


“Waktu disini berbeda dengan di duniaku?”


“Tentu saja berbeda, jika bola hitam tidak ada pemiliknya, waktu disini berjalan sama seperti di duniamu berada. Namun jika bola hitam menemukan pemiliknya, dunia disini berjalan sangat lambat, bisa dibilang sekitar satu menit di sini, hanya satu detik di duniamu berada. Lalu jika kamu tidak berada di dunia ini, waktu dunia ini tidak berjalan, waktu berjalan lagi, jika kamu masuk kesini atau di dunia aslimu kamu meninggal."


“Aku tidak paham."


"Kamu tahu, penjelasanku tadi jadi terasa sia-sia," jelas makhluk kecil itu dengan mendengus kesal. "Intinya di dunia ini kamu bisa menjadi siapa saja. Coba aku lihat."


Makhluk kecil itu mengambil sebuah buku yang sangat kecil dari balik bajunya. Buku kecil itu sangat sesuai untuk tangan kecilnya. Dia membukanya lalu menatapnya beberapa saat.


"Pemalas, tidak punya tujuan hidup, suka menyendiri, mudah menyerah, selalu pesimis."


Tunggu, bagaimana kamu tahu semua itu, hei?


"Benar kan?" tanya makhluk kecil padaku dengan senyum sinis di wajahnya. Matanya terlihat sedang merendahkanku.


Aku tidak menjawab.


Makhluk kecil itu mengangguk beberapa kali sebelum melanjutkan penjelasannya. "Kurasa aku sudah benar, Rizkal yang kamu masuki adalah seorang petualang. Orang tuanya meninggal saat dia berumur 10 tahun saat desanya diserang oleh monster. Meski begitu, dia tidak menyerah dalam hidupnya, bersama dengan teman masa kecilnya yang juga kehilangan orang tua, dia memutuskan belajar buku sihir dan menjadi petualang. 8 tahun berlalu hingga akhirnya dia menjadi salah satu petualang terkuat di kerajaan."


Makhluk kecil itu menatap ku sekali lagi, masih dengan senyum sinisnya. "Gimana, Rizkal hebat kan?"


Aku tetap memilih menutup mulutku.


Makhluk kecil itu tertawa keras. "Tidak perlu dipikirkan, bukankah dunia menjadi lebih berwarna jika sifat orang berbeda-beda?"


Setelah berhenti tertawa, dia memasukkan buku kedalam balik bajunya. Dengan senyum yang masih lebar, dia terbang menuju atas kepalaku lalu duduk di atas rambutku.


"Jadi bagaimana, apa kamu masih mau tetap menjadi Rizkal di dunia ini? Atau ingin menjadi yang lain, hmm, misalkan menjadi bangsawan, mereka hidup hanya tiduran sepanjang hari pun tidak masalah, makanan atau gadis pun selalu siap tersedia di dalam kamar. Sangat cocok sama sifatmu kan?"


Benarkah? Itu adalah kehidupan yang selalu aku impi-impikan. Tapi apa tidak masalah jika aku hidup seperti itu?


"Atau mungkin kamu ingin menjadi pembunuh bayaran? Kamu tahu, sensasi membunuh seseorang juga katanya menyenangkan lho. Meskipun aku peringatkan, jika kamu memilih ini, sangat memungkinkan di dunia aslimu pun, kamu tidak ragu lagi saat membunuh seseorang."


"Bukankah itu bahaya?"


"Benar, aku juga tidak merekomendasikannya."


"Kalau aku ingin menjadi bangsawan, bagaima…"


"Tentu saja kamu harus bunuh diri dengan tubuh sekarang, lalu aku akan memilihkan tubuh bangsawan yang cocok."


Walaupun aku tidak bisa melihat raut mukanya, tapi suaranya terdengar tidak senang. Sepertinya dia memang ingin aku memilih pilihan yang pertama. Yah, menjadi seseorang yang berkepribadian baik sepertinya tidak terlalu buruk.


Makhluk kecil terbang sekali lagi, dia berhenti tepat di depan kedua mataku, matanya berbinar. "Sungguh? Ah terima kasih. Jika kamu memilih menjadi bangsawan, hidupmu pasti tidak menarik untuk dilihat. Bagaimanapun, setelah 70 tahun berlalu dan tidak terjadi apa-apa, aku juga ingin melihat beberapa aksi seru, tau. Yah meskipun aku juga ingin mendengar keadaan di dunia aslimu sekarang, pasti sudah banyak berubah."


Aku tersenyum melihat kelakuan makhluk kecil didepanku. Suaranya yang sangat ekspresif, kadang ceria, kadang senang, kadang kesal, dan berbagai macam suara lainnya, membuatku tidak bosan mendengar suaranya.


Aku mengangguk. "Lain kali aku yang akan cerita, kamu pasti kaget mendengar kemajuan yang terjadi di dunia asliku. Lagipula, kita pasti akan sering ketemu kan?"


"Kamu benar, aku akan keluar kapanpun jika kamu butuh penjelasan, tapi aku juga tidak akan membantumu melakukan sesuatu. Dan satu lagi, aku tidak akan keluar saat kamu sedang bertarung. Menurutku itu akan mengurangi keseruan pertarungan."


"Baiklah, aku mengerti, aku akan berusaha sebaik mungkin."


Makhluk kecil itu mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar di wajahnya. "Kalau tidak ada pertanyaan lagi, aku pergi dulu."


"Tunggu sebentar, bisakah kamu menolong Zazki?"


"Hmm temanmu yang disana ya?" ucapnya sambil memperhatikan Zazki beberapa saat. "Dia masih hidup, namun karena lukanya yang terlalu parah, beberapa menit lagi dia akan meninggal. Sayangnya aku juga tidak punya sihir untuk menyembuhkan luka seperti itu, tapi aku bisa membunuh secepatnya agar dia tidak merasakan rasa sakit lagi. Gimana?"


"Tidak perlu."


"Hmm, baiklah, kalau begitu sampai ketemu lagi."


Makhluk kecil itu melambaikan tangannya ke arahku. Tidak lama kemudian, tubuhnya berubah menjadi menjadi segumpal cahaya lalu berpendar dan menghilang.


Bersamaan dengan hilangnya makhluk kecil itu, pandanganku yang semula berwarna kelabu, kini berwarna kembali, langit berwarna biru dan burung juga bergerak kembali.


Waktu sudah bergerak.


Setelah tahu Zazki masih hidup, aku berdiri lalu berlari ke arahnya.


Melihat darah yang sebelumnya membuatku merasa mual, kali ini aku tidak merasakannya.


Aku mengerti, Rizkal sudah terbiasa melihat seperti ini ya?


Ada perasaan aneh saat mengingat ingatan milik Rizkal, bahkan melihat Zazki yang baru saja aku kenal, sama sekali tidak membuatnya seperti orang asing. Ditambah lagi dengan melihat keadaannya sekarang, membuat hatiku terasa sakit.


Aku berlutut, mencoba memastikan apakah dia benar-benar masih hidup.


Sebelum aku menggerakan tanganku menuju lubang hidungnya, kelopak matanya bergerak. Dengan terlihat sangat kesusahan, dia membuka matanya. Matanya merah, seolah bola matanya tersiram oleh darah.


"Ak-hir-nya," ucap Zazki dengan terbata. "Kamu mengalahkannya," lanjutnya dengan suara lemah, darah keluar dari mulutnya. Meskipun terlihat sangat menyakitkan, dia tersenyum tipis di ujung bibirnya.


Aku mengangguk, mencoba untuk tidak meneteskan air mata.


Menyedihkan!


Meskipun didepanku, temanku yang sangat membutuhkan pertolongan, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan setelah mengingat semua sihir milik Rizkal, tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan luka fatal, paling hanya ada sihir untuk menyembuhkan luka gores.


"Ti-dak apa-apa," ucap Zazki dengan terbata, matanya setengah tertutup. Dia menghirup nafas dengan sangat berat. "Aku mau minta tolong."


Tangannya yang sebelumnya tergeletak bersimbah darah, bergerak pelan dan bergemetar. Dia menggunakan semua tenaganya yang tersisa untuk menggerakkan tangannya. Dia mengambil sesuatu dari balik bajunya yang penuh darah.


Sebuah kantong.


Sebuah kantong kecil dari kulit rusa yang selalu dia rawat setiap hari. Ada benda yang sangat berharga di dalamnya. Koin emas yang selama ini dia kumpulkan berada di dalam kantong itu.


Zazki meletakkan kantong miliknya di atas dadanya, tangannya tergeletak di bawahnya.


"Tolong," ucap Zazki pelan. "Tolong rawat adikku hingga mereka hidup mandiri."


Aku merapatkan bibirku, bahkan dalam keadaan seperti ini, Zazki masih memikirkan kedua adiknya yang masih kecil. "Aku mengerti, aku berjanji merawat adikmu."


"Terima kasih."


Setelah mengucapkan terima kasih padaku, Zazki terdiam beberapa saat, pandangannya juga kosong. Kali ini, aku memeriksa keadaannya yang sempat tertunda. Nafasnya sudah berhenti, begitu juga dengan denyut jantungnya.


Zazki sudah meninggal dunia.


Aku menggerakan tanganku, menutup kedua mata Zazki yang masih terbuka, lalu terduduk lemas di dekatnya.

__ADS_1


Aku memperhatikan keadaan Zazki sekali lagi. Perutnya tertembus cakar kadal besar. Semuanya terlihat begitu nyata, walaupun aku masih berpikir dunia ini hanyalah dunia mimpi, namun perasaan yang aku rasakan saat ini begitu nyata, bahkan pada saat tertentu aku merasa aku adalah seseorang dilahirkan di dunia ini.


Aku menengadahkan kepala menatap langit, langit terlihat cerah, kontras dengan hatiku yang terasa sangat suram. Entah terakhir kali kapan hatiku terasa sedih seperti ini, bahkan saat nenekku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, tidak membuatku hatiku sedih seperti ini.


Aku menutup mataku. Air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya mulai keluar.


Ini bukan hanya tentang kematian yang membuatku sangat sedih.


Aku mengingat sesuatu. Dua hari yang lalu, aku terserempet sepeda motor. Walaupun tanpa terluka sedikitpun, namun ponsel yang sedang aku pegang, terpelanting dengan sangat keras terkena setang motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ponselku seketika hancur menabrak dinding, begitu juga motor dan pengendara terluka parah.


Ketika aku mengalami kejadian itu, aku sangat kesal pada pengendara motor itu, ponsel yang sangat aku sayangi, bahkan saking sayangnya aku tidak bisa hidup satu haripun tanpa ponsel. Dan di depan mataku, ponsel yang aku sangat sayangi hancur lebur.


Aku ingin marah pada pengendara motor itu, namun melihat dia juga terluka parah, aku memutuskan menahan amarahku.


Orang-orang di sekitar segera menolong pengendara motor itu. Sementara aku dengan perasaan sedih, mengambil ponselku yang sudah terbagi menjadi dua bagian, layarnya retak tak berbentuk.


Hari itu menjadi hari tersedih selama aku hidup.


Itu adalah apa yang aku pikirkan hari itu.


Namun setelah mengalami kejadian barusan, aku baru menyadari, jika pada hari itu aku juga tertabrak dan meninggal dunia, bukan hanya aku tidak bisa merasakan sedih lagi, tapi semua yang aku miliki hingga sekarang menghilang tak bersisa. Jadi seharusnya aku bersyukur karena masih hidup kan?


Sama seperti yang dialami oleh Zazki, semua kemampuan bertarung yang sudah dilatihnya sejak kecil, uang yang dengan susah payah dia kumpulkan, menghilang dari sisinya bersama dengan meninggalnya dari dunia ini.


Tapi satu hal yang aku sangat kagumi pada diri Zazki, meskipun dia berada di ambang kematian dan rasa sakit yang luar biasa, dia masih memikirkan kedua adiknya.


Aku penasaran, jika suatu saat aku di ambang kematian, apakah aku bisa memikirkan orang lain dibanding diriku sendiri?


Aku menghela nafas, menyingkirkan semua yang aku pikirkan, tidak ada manfaatnya memikirkan kejadian yang belum terjadi. Saat ini ada hal yang harus aku lakukan.


Saat aku beranjak berdiri, aku mendengar suara langkah dari balik pepohonan.


Tidak lama kemudian, dua gadis yang sejak tadi aku sangat harapkan datang, akhirnya muncul.


Aku menggigit bibirku, antara senang dan sedih melihat mereka berdua.


Nazdia, dengan memakai baju zirah lengkap hingga pelindung kepala, hanya terdapat lubang berbentuk huruf T pada pelindung wajahnya. Di punggungnya terdapat tameng yang hampir menutupi badan. Sementara tangan kanannya membawa sebuah tombak.


Dia melepaskan pelindung kepala saat tiba di hadapanku, senyum manisnya terlihat sangat menawan.


“Syukurlah kamu baik-baik saja.”


Aku mengangguk pelan, dan menyadari gadis di sebelahnya terlihat kaget melihat sesuatu di belakangku. Dia segera berlari menuju Zazki terbaring.


Anifsa, menangis memeluk Zazki.


Tentu saja, teman yang sudah bersama sejak kecil, pasti akan sangat sedih jika melihat temannya meninggal dunia tanpa bisa berbuat apapun. Mungkin aku dan Nazdia akan seperti itu jika salah satu dari kita meninggal.


Bahkan hanya bersama beberapa bulan dengan mereka, juga sudah cukup membuatku sangat sedih.


"Pemimpin kadal besar?" ucap Nazdia dengan wajah kesal melihat kadal besar yang masih tertusuk tombak. "Jika aku ada disini…"


Aku mengangguk, bagaimanapun, apapun yang kita lakukan sekarang sudah sia-sia.


"Mungkinkah, pemimpin kadal besar itu sengaja menunggu disini?"


"Kamu benar, akhir-akhir ini aku merasa para monster lebih pintar dari biasanya."


Bahkan, kawanan kadal besar adalah monster yang biasa hidup di dalam goa dan hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan. Apalagi, ini pertama kalinya aku menghadapi kadal besar yang menyergap manusia. Ditambah lagi adanya seekor kadal yang menabrakan dan menjatuhkan diri dengan seseorang, itu juga sangat jarang terjadi.


Seolah ada seseorang yang memerintah mereka.


"Bukankah itu berarti kita harus lebih sangat berhati-hati?"


"Benar," ucapku pelan. Dan ketidak hati-hatian itu menewaskan salah satu pendekar pedang terkuat di Kota Lorisa.


Aku memalingkan pandanganku melihat wajah gadis yang berdiri di sebelahku. Wajahnya terlihat sedih melihat Anifsa yang masih menangis.


Walaupun ini pertama kali aku melihat wajah secantik ini di hadapanku, tapi aku juga merasa tidak asing karena dalam ingatanku sudah belasan tahun bersamanya. Perasaan yang sangat aneh.


"Ada apa?" tanya Nazdia melihat aku melamun memandanginya.


"Ah, tidak apa-apa, aku hanya merasa, hari ini kamu sangat cantik."


Nazdia menatapku dengan tatapan tajam. "Ini bukan waktunya untuk itu."


"Maaf."


Aku memalingkan pandanganku melihat Anifsa sudah berdiri, tangannya memegang sebuah kantong berlumuran darah. Dia berjalan kearahku.


"Ini…," ucap Anifsa padaku dengan menjulurkan tangannya ke arahku. Kedua matanya masih basah oleh air mata dan beberapa kali mengusapnya dengan lengan panjang bajunya.


"Itu," ucapku mengingat kejadian yang mungkin tidak akan aku lupakan seumur hidupku. "Dia memintaku untuk merawat kedua adiknya hingga cukup untuk hidup mandiri."


"Terima kasih," ucap Anifsa pelan. Dia menundukan kepalanya, memegang erat kantong itu dengan kedua tangannya.


"Tapi sebelum itu, aku belum meminta pendapat Nazdia."


Aku memalingkan wajahku menatap Nazdia.


"Tentu saja aku akan mengikuti semua pilihanmu."


"Terima kasih, Nazdia,” ucap Anifsa mendahului ucapanku. Dia segera memeluk erat Nazdia, yang masih menangis dipelukannya. Nazdia mengusap pelan punggungnya, mencoba menenangkannya.


Bagaimanapun, aku mengingat sesuatu, kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Bahkan 8 tahun lalu saat orang tua kami meninggal oleh monster. Kami menangis berhari-hari, namun sampai kapanpun kita menangis keadaan tidak berubah. Oleh karena itu, aku dan Nazdia melangkah maju bersama, menjadi seorang petualang.


Selama 8 tahun itu pun, entah sudah berapa kali kami melihat para petualang yang lain mati. Seharusnya kematian sudah hal biasa bagi kami. Tapi entah mengapa kali ini aku merasa sangat sedih kehilangan Zazki, mungkin ini karena hanya mereka lah yang cukup dekat dengan kami berdua selama ini. Bahkan dengan kedua adik Zazki-pun, kami sudah sering menemui mereka.


"Jadi, setelah ini bagaimana?" tanya Nazdia padaku.


Aku menatap Zazki yang sudah tidak bergerak sekali lagi.


Saat kami berempat, Zazki lah yang biasa menentukan keputusan. Namun setelah Zazki tiada, kurasa tidak ada orang lain yang pantas selain diriku. Bahkan saat kami hanya berdua dengan Nazdia, akulah yang menentukan keputusan.


Namun, itu saat tubuh ini masih milik Rizkal.


Jika dibandingkan denganku, aku tidak pernah menentukan keputusan. Bahkan tujuan hidup pun aku tidak tahu. Aku adalah seorang introvert yang lebih suka mengurung di dalam kamar. Bahkan hanya berbicara dengan lancar pada dua orang gadis pun, itu sudah kemajuan yang sangat bisa dibanggakan olehku. Di tambah lagi harus menentukan keputusan untuk mereka berdua.


Tapi bagaimanapun, aku memiliki ingatan Rizkal, seharusnya aku baik-baik saja.


Rizkal, aku mohon bantuanmu.


Aku mengamati keadaan sekali lagi. Kita tidak mungkin meninggalkan jasad Zazki seperti itu, ditambah lagi sisik pemimpin kadal besar bisa digunakan untuk membuat senjata bertipe api, harganya pasti lumayan mahal. Melihat dua alasan itu, aku akhirnya memutuskan.


Aku mencoba menghilangkan dahak pada tenggorokanku, sebelum aku mulai bicara.


"Kita tidak mungkin meninggalkan Zazki disini dan sisik pemimpin kadal besar juga bisa dijual cukup mahal. Jika Anifsa tidak keberatan, gimana kalo kamu kembali ke kota lalu memberitahu serikat petualang untuk mengambil sisik itu. Untuk berjaga-jaga, 5 gerobak kuda seharusnya cukup. Aku dan Nazdia menunggu disini."


Anifsa melepaskan pelukannya, sekali lagi mengelap air matanya. Dia mengangguk.


"Baiklah."


Dengan kecepatan Anifsa berlari, tiba ke kota seharusnya tidak membutuhkan waktu satu jam. Namun, untuk berjaga-jaga…


"Bawalah ini."


Aku mengeluarkan dua buah batu sihir yang pada bagian tengahnya mengeluarkan cahaya redup. Jika salah satu batu rusak, maka cahaya pada batu sihir lainnya akan berubah warna, dan jika dua batu sihir itu dipisahkan, maka cahaya pada kedua batu itu berbentuk garis arah menuju keberadaan batu yang lainnya. Walaupun benda ini sangat berguna, namun cahaya yang bersinar hanya bertahan tidak lebih dari satu hari.


"Aku mengerti."


Anifsa menerima batu sihir itu, lalu memberikan kantong yang sejak tadi dia pegang, ke arahku.


Dengan ragu, aku menerimanya, lagipula ini untuk kedua adik Zazki. Kami harus membahasnya lagi nanti.


Aku memasukan kantong itu pada balik bajuku.


"Baiklah, aku berangkat."


"Anifsa, hati-hati."

__ADS_1


Anifsa mengangguk pada Nazdia. Lalu dengan gerakan cepat dia berlari dan meninggalkan kami berdua.


__ADS_2