Bola Hitam

Bola Hitam
Chapter 1. Part 4


__ADS_3

Setelah tiba di serikat petualang kami disambut oleh Benito dan beberapa orang penting lainnya.


Bangunan serikat petualang sama seperti bangunan lain yang terbuat dari kayu dan batu, namun bangunan itu adalah salah satu bangunan terluas dan terbesar di kota ini. Mungkin luasnya tidak jauh dari luas gelanggang olahraga di dunia asliku. Hampir sebagian isi dalam bangunan itu merupakan meja dan kursi kayu, tempat berkumpul semua petualang.


Namun sebelum kami masuk, kami diarahkan ke bangunan sebelahnya. Bangunan itu tidak kalah luasnya dari sebelumnya. Bangunan ini digunakan hanya pada acara tertentu, seperti tes masuk menjadi anggota petualang atau upacara-upacara yang jarang dilakukan.


Tidak banyak yang aku katakan, setelah menyerahkan tubuh Zazki pada mereka, kami segera ijin kembali ke tempat penginapan kami. Tidak lupa aku membawa pedang besar milik Zazki.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit berjalan kaki, kami sudah berada di area penginapan khusus petualang. Dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter dan dijaga dua orang di gerbang masuk.


Mereka menundukan kepala saat kami melewati gerbang.


Kamar yang aku pilih adalah kamar paling ujung di area itu, bersebelahan dengan kamar Nazdia. Ada dua bangunan utama di area itu, yang berisi kamar dan setiap kamar memiliki sebuah kamar mandi. Walaupun dari luar bangunannya tampak sederhana, namun isi bagian dalam cukup mewah.


Sebelum aku membuka kunci pintu kamarku, aku memalingkan pandanganku pada Nazdia.


“Setelah kita membersihkan diri, kita langsung menuju rumah Zazki.”


“Aku mengerti.”


Setelah mendengar jawaban Nazdia, aku membuka pintu, lalu berlari menuju kasur yang terlihat sangat nyaman. Aku merebahkan tubuhku, seolah sudah berbulan-bulan aku tidak tidur. Kasurnya sangat nyaman, mungkin lebih nyaman di banding kasur di dunia asliku.

__ADS_1


Walaupun di dunia asli aku selalu malas-malasan, tapi tidak akan ku lakukan di dunia ini. Aku menampar kedua pipiku dengan kedua tanganku dengan cukup keras.


Dengan gerakan cepat aku melepaskan pakaianku satu persatu, setelah aku sepenuhnya telanjang, aku menyadari sesuatu, tubuh Rizkal tidak terlalu berbeda jauh dengan tubuh asliku. Perbedaannya mungkin hanya di otot yang lebih kuat dan keras.


Semuanya hampir sama, seperti tinggi, warna kulit, bentuk rambut, gerakan tangan, cara berjalan, kurasa tidak ada bedanya.


Kalau tidak salah makhluk kecil itu bilang memilihkan tubuh yang sesuai kan? Mungkin ini maksudnya.


Aku berjalan ke arah kamar mandi.


Sangat tidak ku sangka, kamar mandi cukup luas dan berlantaikan batu-batu kecil yang tersusun rapi. Di bagian kanan sebuah bak mandi berukuran besar yang terbuat dari batu yang mempunyai tinggi sekitar paha.


Hal yang paling mengejutkan adalah air dalam bak mandi terus mengalir, dan terlihat sangat jernih. Batu bak mandi yang terbuat dari batu khusus juga sangat halus, aku segera merendamkan diri pada bak mandi.


Aku memejamkan mataku merasakan nikmatnya air yang membasahi tubuhku.


Saat aku merasa akan terlelap, aku menggelengkan kepala dengan cepat, lalu mengambil siwak untuk membersihkan gigiku.


Aku mengamati isi dalam kamar mandi sekali lagi, selain bak mandi di bagian sebelah kanan, di bagian sebelah kiri juga terdapat kloset duduk beserta ember beserta gayung yang terbuat dari kayu. Air dalam ember itu terus mengalir dan terlihat sangat jernih juga.


Walaupun aku tahu bahwa Kota Lorisa mempunyai banyak sumber mata air, namun merasakan langsung mandi seperti ini sangat berbeda dengan hanya mengingat ingatan Rizkal. Apalagi dibanding mandi di dunia asliku yang hanya menggunakan gayung lalu mengguyurkan ke seluruh badan.

__ADS_1


Aku bisa berlama-lama berendam seperti ini, namun karena malam ini masih ada hal yang harus aku lakukan, aku memilih menyudahi mandi kali ini.


Setelah mengeringkan badan, aku mengambil pakaian dalam milikku yang masih bersih lalu kupakai.


Di dunia ini, sepertinya hanya pakaian dalam yang sering berganti, sementara pakaian luar yang selalu terlihat, hanya ada satu.


Selain memiliki harga yang cukup mahal, sering berganti pakaian membuat kita kagok mengambil sesuatu saat sedang terdesak.


Seperti buku sihir aku ikatkan di bagian pinggang kiriku, sementara di bagian belakang terdapat pisau kecil untuk berjaga-jaga.


Untuk pakaian bagian atas terbuat dari kulit hewan berwarna coklat dengan sedikit bulu halus sekitar bagian leher. Beberapa saku tempat penyimpanan benda berharga ada di balik baju.


Aku merebahkan tubuhku sekali lagi, sembari menunggu Nazdia mengetuk pintu kamarku. Seperti yang biasa kami lakukan. Aku tahu memakai dan melepaskan zirah yang selalu dipakainya mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.


Beberapa saat kemudian, pintu kamarku di ketuk.


Aku segera berdiri lalu membuka pintu kamarku.


Di depan pintu, Nazdia tidak memakai zirah yang selalu di pakainya. Dia hanya memakai pakaian kain yang biasa penduduk kota ini pakai. Wajahnya terlihat lebih cerah.


Namun, tameng besarnya masih dibawa di balik punggungnya. Dia selalu mengatakan, dia hanya merasa tenang saat membawa tamengnya kemanapun dia pergi.

__ADS_1


"Ayo berangkat!" ucapku setelah mengunci pintu kamarku. Kami mulai berjalan bersisian menuju rumah Zazki.


__ADS_2