Brothers Conflict

Brothers Conflict
Episode 1


__ADS_3

Keluarga Verleon adalah keluarga terkaya di Amerika Serikat, sayangnya Keluarga Verleon seperti terkena kutukan. Dimana Alexander Verleon akan kehilangan seorang istri setelah melahirkan anak pertama. Dengan akhirnya Alexander menikah sebanyak 3x dan mendapati 3 orang putra, tetapi Alexander kembali jatuh cinta pada seorang wanita yang memiliki satu anak.


Rosaline Valkyrie dan anak gadisnya yang bernama Heavenia Valkyrie, kini telah masuk ke dalam keluarga Verleon. Tidak hanya itu, Heavenia / Ivy diminta untuk menjalankan satu permintaan dari Alexander yang kini menjadi ayah tirinya. Permintaan yang di luar nalar akan tetapi, Ivy tidak bisa melihat Rosaline bersedih. Karena itu Ivy memutuskan menerima permintaan sang ayah, meski akhirnya ia harus membuang hatinya untuk melakukan permintaan ayahnya.


Zerfist Verleon, pemuda tampan yang sialnya bagai dewa Yunani berusia 25 tahun kini menjabat menjadi seorang CEO di ZEV Corp. Zerfist adalah anak pertama dari Alexander dengan istri pertamanya. ZEV Corp adalah salah satu perusahaan cabang besar yang dimiliki ALV Corp dengan ownernya adalah Alexander Verleon. Berjalan di bidang properti, farmasi, dan juga senjata untuk pemerintahan. Zerfist bekerja tanpa mengenal wanita, sisi dinginnya terhadap wanita membuat para wanita hanya bisa melihatnya dari jarak jauh. Dingin tak tersentuh, angkuh, dan arogan adalah sifatnya. Tetapi itu semua runtuh seketika saat kehadiran Ivy dalam kehidupannya.


Grimvon Verleon / Grim, pemuda tampan kedua setelah Zerfist. Berusia 22 tahun dan masih duduk di bangku kuliah semester akhir.  Grim adalah anak kedua dari Alexander dengan istri keduanya. Setelah kematian istri pertamanya, Alexander kembali menikah karena dijodohkan. Tetapi sayangnya istri keduanya pun meninggal setelah melahirkan Grim. Grim adalah mahasiswa di Anterion University milik Keluarga Verleon, selain menjabat menjadi mahasiswa ia juga menjabat menjadi Rektor muda di kampusnya. Memiliki hobi bermain wanita dan berganti-ganti pasangan. Memiliki senyuman yang ramah, hangat, dan juga baik hati membuat para wanita tergila-gila akan dirinya. Dan semuanya runtuh ketika ia berhasil memerkosa Ivy, ia menjadi seorang yang posessive dan gila akan tubuh Ivy.


Keturunan terakhir, Spade Verleon. Pemuda tampan ketiga setelah kedua kakaknya. Berusia 20 tahun dan masih duduk di bangku kuliah di Anterion University. Anak terakhir dari para istrinya.  Namun kutukan kembali bekerja setelah melahirkan Spade, dan akhirnya Alexander menikah lagi dengan seorang wanita yang memiliki satu anak gadis bernama Heavenia Valkyrie. Spade adalah orang yang pendiam, dan lebih menyukai buku daripada apa pun, kepintarannya lebih terlihat daripada kedua kakaknya. Akan tetapi semuanya berubah seperti kedua kakaknya. Ketika ia dan kedua kakaknya memerkosa Ivy secara bersamaan, kecintaannya terhadap buku pudar seketika, ia lebih mencintai kebersamaannya bersama Ivy dibandingkan membaca tumpukan buku yang selalu menjadi kesehariannya.


Mereka semua berubah dalam satu malam, dan mereka semua berubah dari Pangeran iblis menjadi budak seorang iblis cantik yaitu Heavenia Verleon / Ivy. Bayang-bayang ketakutan ketiga pemuda tampan itu terlihat jelas ketika Ivy sudah bersama dengan mereka. Karena kesalahan mereka yang berani memerkosa adik tiri mereka sendiri, maka hukumannya jauh mengerikan dari apa yang mereka pikirkan.


"Cantik dan tubuhnya begitu membuat kecanduan seperti mawar, tetapi durinya bahkan lebih tajam dari sebilah pedang. Itulah Ivy." -Zerfist Verleon-


"Terasa lebih nikmat dari wanita mana pun, akan tetapi lebih menyeramkan dari pencabut nyawa sekalipun. itulah Ivy." -Grimvon Verleon-


"Lebih menarik dari sebuah buku, tetapi begitu rumit untuk ditebak, dihitung, atau dimanipulasi seperti rumus-rumus. Itulah Ivy." -Spade Verleon-


"Mereka bertiga hanyalah sampah yang harus aku berikan makan dengan tubuhku, mereka tergila-gila dengan diriku. Tetapi mereka juga takut dengan apa yang akan aku lakukan terhadap mereka. Itulah para Pangeran Verleon." -Heavenia/Ivy Verleon-


 


 


***


Seorang gadis cantik yang memiliki body  sangat menggoda iman kini berjalan dengan santainya di sebuah lorong kampus dengan banyaknya mata yang menatapnya kagum dan tertarik. Siapa yang tidak mengenal Ivy, gadis cantik yang bernama asli Heavenia Verleon itu menjadi orang ketiga terpopuler di kampusnya.


Ivy yang kini menginjakkan usia 19 tahun tidak pernah menjadi sorotan media manapun. Ia tidak suka terkenal seperti ketiga kakak tirinya. Karena itu banyak yang ingin mengetahui sosok putri dari keluarga Verleon yang baru. Hanya segelintir orang yang mengetahui jika dirinya adalah Putri dari Keluarga Verleon.


"Hai, Ivy. Apa kau mau pulang bersamaku?" sapa seorang gadis cantik yang datang menghampirinya.


"Maaf, kakak sialan yang super tampan tetapi kutu buku  itu memintaku untuk menjemput kakakku yang bajingan," jawab Ivy sambil menatap memohon maaf pada gadis cantik di depannya.


"Maksudmu Grim? Kau menjuluki kakakmu sendiri dengan sarkas seperti itu, Ivy," jawab gadis itu sambil terkekeh.

__ADS_1


"Lalu aku harus menjuluki mereka apa? Itu kenyataannya, bukan? Lagi pula mereka terima-terima saja saat aku memberi mereka nama seperti itu. Ahh ya, Chelsie, kau tahu di mana Grim? Si kutu buku itu tidak memberitahuku di mana si bajingan itu berada," jawab Ivy setengah terkekeh.


"Ahh, aku lihat Grim tadi sedang menarik seseorang ke dalam ruangan Rektor. Sepertinya ia sedang menghukum seorang anak gadis yang tadi tidak sengaja menumpahkan minuman ke pakaiannya," jawab Chelsie terlihat seperti berpikir.


"Baiklah, aku akan menjemputnya di sana, kau lebih baik pulang. Aku akan aman jika bersama Grim," jawab Ivy sambil tersenyum ke arah sahabatnya.


"Baiklah, hati-hati jika sudah di mansionmu. Kau bisa saja diterkam Grim," jawab Chelsie sambil tertawa dan berlalu meninggalkan Ivy.


Ivy hanya tertawa lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang Rektor yang sangat sepi, karena tidak ada yang boleh melewati lorong  menuju ke arah ruangan Rektor termasuk dosen-dosen sekalipun. Sesampainya di depan pintu besar yang berukiran rumit dan terlapisi sedikit emas itu, Ivy mendengar desahan-desahan yang sangat erotis dari dalam ruangan.


Ivy mengambil kunci cadangan ruangan itu yang diberikan oleh ayah tirinya dari dalam tasnya, ia tahu ruangan itu akan dikunci oleh sang pemilik ruangan saat ini. Ivy membukanya perlahan dan pintu itu dapat terbuka, dibukanya pelan-pelan dan ia mendapati kakak tercintanya sedang menunggangi seorang gadis yang kini tidak memakai sehelai benang pun.


"Ahh ... ahh ... ehm, lebih cepat Grim, lebih cepat," desah gadis itu, Ivy hanya diam di tempat sambil menyandarkan bahunya ke dinding.


"Gadis perawan sepertimu memang nikmat, tetapi sayangnya Ivy-ku lebih nikmat daripada siapa pun," jawab Grim yang semakin semangat menggoyangkan pinggulnya.


Milik Grim terus menghentak-hentakkan rahim gadis itu, racauan, desahan, bahkan umpatan keluar dari bibir Grim. Hingga akhirnya Grim hampir sampai, Ivy mulai mengeluarkan suara indahnya bagai lantunan musik yang merdu.


"Grim, apa yang kau lakukan?"


Seketika tubuh Grim menegang dan ia tidak sempat sampai klimaks, dengan cepat ia melepas penyatuan dengan gadis di bawahnya itu lalu mengambil pakaian dan memakainya meski kedua tangannya kini mulai bergetar. Ketakutan, Grim benar-benar ketakutan mendengar suara yang sangat indah itu menyapa telinganya.


"I-ivy, a-aku bisa jelaskan apa yang terjadi," jawab Grim gugup.


Ivy melangkahkan kakinya lalu mendekatkan dirinya pada Grim, dipeluknya tubuh Grim yang semakin menegang. Ivy hendak bersuara tetapi dicegah oleh bibir Grim yang kini tengah melumat bibir manis gadis itu.


"Sial, kumohon maafkan aku, Ivy. Aku tidak bisa–" Ucapan Grim terpotong saat jari telunjuk Ivy menyentuh bibirnya.


"Jangan katakan apa pun, sebaiknya kita pulang," jawab Ivy lalu merapikan pakaian Grim hingga menurutnya sudah lebih baik dan mengecup singkat pipi Grim.


"Ayo," ajak Ivy berjalan lebih dahulu.


"Sial, pasti Spade yang melakukannya," umpat Grim hampir tidak terdengar.


Ivy dan Grim sudah menaiki mobil sedan hitam milik Grim, kali ini Ivy yang menyetir dengan kecepatan standar. Akan tetapi wajah Grim kini lebih pucat daripada kertas putih, Ivy pun mengabaikan wajah pucat sang kakak. Ivy hanya tersenyum senang, karena hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk dirinya menghukum seseorang atau mereka menyebutnya, penyiksaan.

__ADS_1


Setelah mereka berdua sampai, Ivy dengan cepat membuka seatbelt dan keluar dari mobil hitam itu. Ia memutari mobil lalu membuka pintu mobil, dengan cepat ia langsung saja mencengkram rambut Grim dengan keras.


"Argghhh ... Ivy, kumohon maafkan aku," teriak Grim sambil memegang tangan Ivy berharap Ivy melepaskan cengkramannya.


Ivy tidak menggubris perkataan Grim, diseretnya tubuh Grim dengan tangan yang masih menarik rambut Grim beserta kepalanya. Semua pelayan hanya bisa menatap iba sang majikan, mereka tidak berani menolong. Jika mereka berani, maka mereka yang akan kena hukuman sang Nona Muda.


Terlihat Spade yang baru saja menuruni tangga sambil memegang sebuah buku, Ivy tersenyum lalu mendekat ke arah Spade. Spade yang mengetahui kedatangan adik tercintanya tersenyum lembut lalu mengecup bibir Ivy saat adiknya sudah berada di depannya.


"Jangan membaca saat menuruni tangga, kau bisa terjatuh," ucap Ivy, Spade tersenyum lalu mengangguk.


"Baiklah, Ivy. Malam ini kau mau bersamaku?" jawab Spade patuh.


"Sepertinya aku tidak bisa, aku harus memberi Grim hukuman," jawab Ivy terlihat memohon maaf dari wajahnya.


"Baiklah, jangan terlalu kasar, oke? Dan jangan rusak wajahnya," jawab Spade memperingati.


Ivy hanya terkekeh lalu kembali menarik Grim yang hanya bisa menahan sakit sejak tadi di kepalanya. Hingga akhirnya mereka berdua memasuki kamar Grim yang berada di lantai dua, Ivy baru melepaskan cengkraman di tangannya tetapi kini beralih ke leher Grim.


"I-Ivy, kau ingin membunuhku?!" ucap Grim sedikit terkejut karena cengkraman Ivy.


Ivy langsung saja menatap sinis sang kakak dan melempar tubuhnya ke atas ranjang, Ivy langsung saja menduduki perut sixpact Grim yang masih berbalut kemeja putih dan jas. Perlahan Ivy mendekati wajahnya ke wajah Grim, dikecupnya kecil-kecil rahang Grim dengan tangannya sedikit bermain di dada Grim.


"Berani sekali kau menyamaiku dengan gadis lain!" desis Ivy di telinga Grim.


"Ma-maafkan aku, Ivy. Aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Grim gugup.


"Malam ini jika kau tidak dapat memuaskanku, akan kubuat kau tidak bisa beranjak dari tempat tidurmu," ancam Ivy dengan raut wajah penuh ancaman darinya.


"Ba-baiklah, setidaknya kau tidak mematahkan tanganku atau bahkan tulang rusukku lagi." jawab Grim sambil menutup matanya dengan tangan kirinya.


"Maksudku dengan kau tidak bisa beranjak dari tempat tidurmu adalah kedua kakimu akan aku patahkan," jawab Ivy, seketika wajah Grim memucat.


"Baiklah," Grim langsung saja memutar tubuhnya dan kini Ivy berada di bawahnya. "akan kubuat kau tidak bisa beranjak dari ranjang," lanjut Grim dengan seringaiannya.


"Bersiaplah adik kecilku yang manis," desis Grim di telinga Ivy.

__ADS_1


 


***


__ADS_2