
Sudah beberapa hari ini Ivy hanya mendekam di kamarnya, tidak pernah melangkah keluar sedikit pun. Yang ia lakukan hanyalah menatap langit yang cerah hingga kembali menjadi gelap. Tidak mendengarkan apa yang Trace katakan, lelaki itu kembali menghilang dengan urusan pribadi yang Ivy sangat mengetahuinya jika lelaki itu kembali bertemu dengan keluarganya.
Hari yang damai untuk Ivy, entah apa yang gadis yang kini menjadi seorang wanita itu pikirkan. Bibirnya selalu terlihat melengkung ke atas, melihat indahnya langit malam hari, ketenangan yang tidak ada habisnya, membuatnya semakin merasa nyaman.
"Inikah yang dinamakan hidup damai?" gumam Ivy sambil tersenyum kecil.
Keadaan mansion besar itu hanyalah berisikan pelayan, bodyguard dan juga Ivy. Zerfist dan kedua adiknya sudah pergi sejak beberapa hari yang lalu dan membuat Ivy merasa tenang sekaligus kesal karena diabaikan atau lebih tepatnya ia benci rencananya gagal.
Rencana yang ingin membuat para lelaki ketiga kakak tirinya itu berlutut padanya dan semakin terjerat dalam jaring laba-laba yang sudah ia sebarkan. Tetapi, jaring laba-laba yang sudah ia rentangkan sepertinya terlalu lebar hingga membuat celah untuk mereka bertiga lolos.
Jika dilihat kembali, rencana-rencana yang telah dibuat Ivy benar-benar membutuhkan pemikiran keras bagi mereka yang menyukai taktik dalam memerangkap seseorang.
Pertama kali Ivy sengaja membuat dirinya diperkosa oleh ketiga lelaki itu, bisa saja wanita itu langsung mematahkan tulang mereka akan tetapi, wanita itu sengaja melebarkan jaring untuk benar-benar menangkap ketiga kakak tirinya itu.
Kedua, membuat ketiga lelaki itu bergantung padanya. Seperti yang diketahui, Ivy akhirnya menunjukan sisi aslinya dengan menghajar ketiga kakaknya tanpa ampun. Dan sengaja memberikan kesenangan dalam seksual agar mereka sangat tergantung pada tubuhnya.
Ketiga, membiarkan salah satu dari mereka cemburu karena para lelaki menatap tubuhnya. Dan Ivy kembali menarik Zerfist dalam permainannya, ia sudah memprediksi semua, hingga Alexander yang datang ke kamar Zerfist dan menemukan dirinya yang sedang bersetubuh.
Keempat, membiarkan dirinya pergi ke London. Ivy yakin ketiga kakak tirinya itu akan terus melacak keberadaannya. Dan benar saja, mereka sudah terjerat terlalu dalam, dalam jaring yang dibuat Ivy.
Kelima, membiarkan dirinya tertangkap saat di London agar ia bisa memakaikan mereka chip GPS dalam tubuh mereka. Dengan meminta Nicolas untuk mencarikannya stun gun, semua rencananya telah berhasil hingga ia bisa kembali ke dalam pelukan ketiga kakak tirinya. Melumpuhkan mereka bertiga cukuplah mudah untuk dirinya.
Keenam, membuat ketiga kakak tirinya semakin terjerat dalam jaring yang wanita itu buat. Akan tetapi, satu kesalahan saat ia menggunakan Clara dalam rencananya. Tetapi semua pun sudah ia prediksi hingga menjadi seperti saat ini.
"Saat kau mengambil air dalam genggamanmu, jangan kau genggam terlalu kuat dan jangan kau genggam terlalu lemah. Karena air itu akan keluar dari tanganmu dan membasahi sekitarmu," gumam Ivy, wanita cantik itu lalu tertawa miris.
Ia mengerti, jika ia terlalu menggenggam air yang selama ini ia jaga digenggamannya. Terlalu keras dapat membuat orang lain meninggalkanmu dengan luka yang mereka ciptakan. Tangannya langsung saja menyambar ponsel di saku celananya dan menelepon seseorang di seberang sana.
"Halo," sapa orang di seberang sana.
__ADS_1
"Apa kau berada di Amerika?" tanya Ivy sambil mengigit bawah bibirnya.
"Kau mulai merindukanku?" kekeh lelaki di seberang sana.
"Ayolah, Nicolas, aku ingin bercerita banyak denganmu." Nicolas terdengar kembali tertawa.
"Apa sekarang kau yang mengajakku kencan?" tanya Nicolas dengan ledekan kecil.
"Kau mulai menyebalkan. Ya, aku mengajakmu kencan apa kau sekarang puas?!" jawab Ivy yang terdengar kesal.
"Hahahaha, aku berada di New York. Baiklah aku akan menemuimu, tetapi tidak hari ini. Aku sedang sibuk, okey?"
"Oh, baiklah. Bagaimana jika besok?"
"Tentu, aku tidak memiliki jadwal untuk besok. Aku akan menjemputmu," jawab Nicolas yang masih saja terdengar jika lelaki itu sedang tertawa kecil.
"Baiklah, aku akan menunggumu, sampai jumpa," jawab Ivy lalu menutup sambungan telepon itu.
Keesokan harinya seperti yang dikatakan Nicolas, lelaki itu datang untuk menjemput Ivy. Nicolas sama sekali tidak terkejut dengan kediaman Ivy, ia bahkan terlihat biasa saja melihat besarnya Mansion itu. Nicolas yang terlihat muda kini dianggap orang lain seperti adik Ivy.
"Mengesalkan," gerutu Nicolas yang kini duduk di depan Ivy, mereka sedang berada di sebuah cafe dekat taman hiburan.
"Mengapa kau sekesal itu?" tanya Ivy pura-pura tidak tahu.
"Jangan berpura-pura, aku yakin kau saat ini tengah menertawaiku sejak tadi," jawab Nicolas sedikit kesal dan membuat Ivy tertawa.
"Hahaha, wajahmu terlihat lebih muda daripada usiamu yang sudah menua itu," jawab Ivy dengan jujurnya.
"Kau mulai menyebalkan, bahkan aku dikira sebagai adikmu," desis Nicolas dan membuat Ivy kembali tertawa.
__ADS_1
"Nicolas, wajahmu memang tampan. Tetapi sayangnya terlihat seperti usia belasan tahun," kekeh Ivy.
"Kau memujiku atau menghinaku, Ivy?" Nicolas mengerucutkan bibirnya lucu membuat Ivy semakin tertawa dan menahan dengan tangannya.
"Dua-duanya," jawab Ivy santai membuat Nicolas memalingkan wajahnya menahan kesal.
"Hahaha, okey. Maafkan aku, aku ingin bercerita banyak denganmu." tawa Ivy mereda seketika.
Nicolas menoleh dan mendapatkan wajah Ivy yang menjadi murung.
"Ceritakan apa yang terjadi, dan aku akan menjadi pendengarmu yang baik. Mungkin aku tidak bisa memberikan solusi terbaik, tetapi aku akan berusaha membantumu," ujar Nicolas membuat Ivy kembali tersenyum.
Ivy memulai ceritanya, tidak semua ia katakan dan ia hanya mengatakan tentang status dirinya yang menjadi pelampiasan nafsu dari ketiga kakaknya. Mendengar apa yang diceritakan Ivy membuat wajah Nicolas terlihat mengeras, tanpa Ivy ketahui kedua tangan lelaki itu mengepal kuat di bawah meja.
Tatapan Nicolas tidak terbaca dan setelah Ivy selesai menceritakan kisah hidupnya barulah ia bernapas lega. Setidaknya yang ia tahu saat ini Ivy tidaklah hamil, dan itu bagus untuk wanita cantik di depannya itu.
"Dan saat ini kau mulai merasa kehilangan?" tanya Nicolas membuat Ivy yang tertunduk kini mendongakkan wajahnya dan menatap Nicolas.
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa kesal," jawab Ivy kembali tertunduk.
"Lalu siapa yang kau cintai saat ini?" Ivy kembali mendongak.
Ivy tidak harus mengatakan apa, saat ini pun ia tidak mengerti dengan perasaannya. Wanita itu kembali menggelengkan kepalanya dan tersenyum miris.
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
***