Brothers Conflict

Brothers Conflict
Episode 32


__ADS_3

Hari kelulusan telah tiba. Dengan bangga Ivy berjalan di atas podium lalu memberikan sambutan rasa terima kasihnya karena saat ini ia mendapatkan penghargaan dengan nilai tertinggi. Rosaline dan Alexander yang datang memberikan ucapan selamat kepada putri mereka. Tetapi, tentunya Ivy tidak mendapatkan ketiga kakaknya yang entah saat ini ada berada di mana.


Grim sudah tidak lagi menjabat rektor di kampus, sedangkan Spade juga sudah lulus beberapa waktu lalu sebelum Ivy. Trace yang terlihat senang dengan kelulusan Ivy juga terlihat begitu panik.


Karena rencana besar akan dilakukan dirinya dengan Ivy setelah kelulusan gadis itu. Dan setelah ini Ivy diharuskan kembali ke Amerika, satu hal yang ditakutkan Trace. Ivy akan jatuh dalam pesona ketiga kakak tirinya itu.


"Selamat atas kelulusanmu, Ivy," ucap Rosaline sambil memeluk putri cantiknya itu.


"Terima kasih, Mom," jawab Ivy sambil tersenyum hangat ke arah Rosaline.


"Mereka ada di Amerika, kami akan pergi ke Jerman untuk memantau kalian," kata Alexander membuat senyuman Ivy pudar.


"Setelah semua selesai, lalu apa yang kau rencanakan?" tanya Ivy membuat Alexander mengangkat satu alisnya.


Selama ini Ivy tidak pernah bertanya, Ivy bagaikan tentara yang selalu siap melakukan perintah tanpa bertanya apa pun. Alexander tersenyum samar, ia tidak berniat mengatakannya pada Ivy, tetapi Rosaline mengetahui semuanya.


"Kau akan menikah dengan salah satu Putraku, bayi yang akan kau kandung adalah Cucuku. Jadi kau harus menikah dengan salah satu dari mereka," jawab Alexander membuat tubuh Trace menegang.


Ivy terdiam, ia sama sekali tidak berniat menikah dengan seseorang. Karena ia tahu, betapa kotor dirinya. Ia hanya sebuah alat yang akan dibuang pada akhirnya, dan Ivy sangat tahu diri bahwa ia tidak pantas untuk lelaki mana pun.


"Kita lebih baik pulang saat ini juga," jawab Ivy memaksakan senyumannya.


"Ya, lebih cepat lebih baik. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu," jawab Alexander sambil mengusap surai hitam Ivy dengan sayang.


Trace mendengkus tidak suka, ia benci saat para lelaki itu mulai menyakiti wanitanya. Wanitanya? Bolehkan ia berharap seperti itu? Ya, apa pun akan dilakukannya untuk membuat Ivy menjadi wanitanya. Tetapi, saat ini ia harus mengikuti misi yang telah diberikan padanya. Persetan dengan Arnold, jika saja Trace bisa memilih membawa Ivy menjauh dari Keluarga Verleon, sudah pasti ia akan melakukannya.


"Semua sudah saya persiapkan, keberangkatan tinggal menunggu dua jam lagi. Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu di bandara," ucap Trace dan Alexander mengangguk, ia menjadi menyukai pekerjaan Trace yang terbilang cepat dan selalu di luar dugaan.

__ADS_1


Sesampainya di bandara, Ivy hanya melamun. Memikirkan apa yang terjadi, rencana darinya saat ini terbilang terlalu mulus. Entah apa yang akan terjadi di depan membuatnya berpikir lebih keras saat ini juga. Trace ingin bertanya tetapi, melihat sang Nona dengan raut wajah lesu membuatnya mengurungkan niatnya.


Yang dilakukan mereka hanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Ketika mereka semua sudah kembali ke Amerika dan saat ini Ivy kembali menginjakkan kembali kakinya di mansion besar milik Keluarga Verleon itu, gadis itu menghembuskan napasnya sejenak.


Sebuah pertaruhan yang ia mainkan antara hidup dan mati, jika ia gagal ia akan mati antara melahirkan atau sesudah melahirkan. Jika berhasil, ia akan mematahkan kutukan di Keluarga Verleon. Lalu ia akan dinikahkan dengan salah satu dari mereka bertiga.


Terlihat akhir yang indah, tetapi Ivy sudah memprediksi semuanya. Ketiga iblis itu tidak akan melepaskannya begitu saja, menikah dengan satu orang berarti mereka harus saling membunuh untuk mendapatkannya. Atau yang lebih parahnya lagi, Ivy akan melayani mereka kembali meski tanpa ikatan pernikahan.


Dan jika itu terjadi, ia memilih mati. Tetapi, mati adalah pilihan terakhirnya. Yang ia pilih adalah melarikan diri dari ketiga iblis itu, termasuk melepaskan Trace. Dengan begitu ia dapat hidup damai tanpa memikirkan hal lain, misinya berakhir dan ia dapat melanjutkan hidup seperti kebanyakan orang. Menikah dengan lelaki biasa saja dan memiliki anak lagi tentunya. Sebuah akhir yang indah, itulah yang dipikirkan Ivy.


Ivy melangkahkan kedua kakinya memasuki mansion besar itu. Seperti biasa para pelayan akan berjejer rapi dan memberi salam pada mereka yang baru saja tiba. Dilihatnya di tangga sudah berdiri Zerfist, Grim dan Spade dengan wajah dingin mereka.


Tanpa sadar Ivy menyunggingkan senyumannya, ia begitu senang melihat wajah dingin mereka bertiga. Itu tandanya ... Ivy berhasil dengan semua rencananya.


"Selamat atas kelulusanmu, Ivy," ucap Grim tanpa senyum menghiasi wajahnya.


"Zerfist, Grim, Spade, aku akan pergi berlibur ke Jerman. Aku harap kalian tidak membuat masalah dengan Ivy," ujar Alexander sambil merangkul bahu Rosaline.


"Ya, lagi pula aku akan berangkat ke Jepang untuk menghadiri pertemuan," jawab Zerfist sambil melangkah pergi.


"Aku juga ada pertemuan dengan klienku di Florida, mungkin aku akan berlibur juga di sana beberapa minggu," jawab Grim yang kini enggan menatap Ivy.


"Spade, apa kau juga akan pergi?" tanya Alexander dengan raut wajahnya yang tidak terbaca.


"Ya, aku ada pertemuan dengan para profesor besar di Chicago," jawab Spade sambil membuka buku di tangannya.


Saat itu juga entah mengapa Ivy merasa diabaikan oleh ketiga lelaki tampan itu. Menghembuskan napasnya perlahan, Ivy berpamitan ingin segera kembali ke dalam kamarnya. Trace yang melihat itu diam-diam tersenyum meski hanya sekejap.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, Ivy kembali ke dalam kamarnya dan kedua orang tuanya kembali terbang menuju Jerman. Ivy kembali memutar ingatannya yang baru saja terjadi, dan ia dapat menyimpulkan bahwa ... rencananya gagal.


"Nona," panggil Trace yang baru saja masuk ke dalam kamar gadis itu dan membawakan teh kesukaan Ivy.


"Rencanaku telah gagal, Trace," jawab Ivy yang tengah berbaring merentangkan kedua tangannya ke samping.


"Dan aku sudah menduganya, jalang itu benar-benar memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Ivy dengan gumamannya.


"Sepertinya mereka sedang mencoba mengulurmu, Nona," jawab Trace sambil berdiri di dekat ranjang.


"Tidak, mereka lebih pintar dari itu. Sepertinya aku terlalu menganggap mereka remeh, atau aku yang sudah melemah menghadapi mereka?"


"Nona, semua belum berakhir," ujar Trace mencoba menyemangati.


"Semua memang belum berakhir, tetapi aku sudah lelah," jawab Ivy sambil menutup kedua matanya.


"Aku ingin semua cepat berakhir, dengan begitu aku bisa bebas dan kau pun bebas," lanjut Ivy dengan suara lirih.


"Nona," panggil Trace lembut, ia sama sekali tidak ingin melepas keformalitasan dirinya. Karena ia tahu saat ini dia tengah di mata-matai oleh mereka bertiga.


"Kau bisa keluar, istirahatlah. Aku sedang ingin sendiri merenungi kesialanku ini," jawab Ivy dengan suaranya yang sedikit bergetar.


"Saya akan kembali nanti dengan membawa makan malam," jawab Trace lalu membungkuk hormat dan berlalu keluar kamar Ivy.


Ivy membuka kedua matanya yang kini menatap atap kamarnya. "Arnold, jika semua sudah selesai, aku harap kau membawaku pergi bersamamu."


 

__ADS_1


***


__ADS_2