Brothers Conflict

Brothers Conflict
Episode 28


__ADS_3

Seorang gadis terlihat memakai pakaiannya yang kini berceceran di lantai, setelah membersihkan diri di dalam kamar mandi gadis itu berdiri di dekat sebuah ranjang. Tiga lelaki yang ia kenal tengah tidak sadarkan diri dengan pakaian mereka yang juga berada di lantai.


Suara ponsel terdengar membuyarkan lamunan gadis itu, ia segera mengambil ponsel miliknya yang sudah ia charge tadi malam. Gadis itu tersenyum melihat siapa yang kini menghubunginya.


"Trace," ucap gadis itu lalu mengangkat sambungan telepon miliknya.


"Nona, apa Anda berhasil?" tanya sebuah suara dari seberang telepon.


"Tenang saja, aku berhasil melakukannya. Jemput aku di lobby."


"Tentu," jawab Trace yang langsung menutup sambungan telepon.


Sekali lagi Ivy menyeringai melihat tiga lelaki yang sudah tidak sadarkan diri sejak semalam karena dirinya. Hari yang menyenangkan untuk memancing ikan, Ivy tidak menyangka jika mereka memakan umpan darinya begitu mudah.


"Kalian sangat bodoh," gumam Ivy yang langsung saja mendekat ke ranjang dan mengecup bibir ketiga lelaki itu.


"Aku merindukan sentuhan kalian, tetapi ... aku memiliki urusan lain yang harus aku urus. Sampai jumpa lagi, Brothers." ujar Ivy sambil melangkahkan kedua kakinya menuju pintu keluar.


Tidak lupa tas jinjing yang ia bawa dua hari yang lalu setelah mereka bertiga sukses menangkap dirinya dan juga ia yang sukses memancing mereka. Ivy berjalan dengan santainya, tubuhnya sangat letih karena harus membuat ketiga kakaknya benar-benar lengah.


Sesampainya di lobby, Trace menyambut Ivy dengan uluran tangannya. Ivy menyambut tangan Trace seperti biasa, memasuki mobil SUV yang entah dari mana Trace mendapatkannya. Mobil itu mulai meninggalkan gedung pencakar langit yang ternama di Kota London.


Menatap keluar jendela, Ivy termenung dengan kata-kata yang ketiga kakaknya lontarkan tanpa mereka sadari.


"Kami mencintaimu, karena itu apapun caranya akan kami lakukan termasuk harus membuatmu mengandung anak kami."


Ivy mengusap wajahnya kasar, ia tidak habis pikir dengan ketiga kakak tirinya. Ia lelah dengan semua yang harus ia lakukan. Keinginan untuk hidup normal sepertinya terlampau jauh untuk saat ini. Ivy menyandarkan kepalanya pada bahu Trace yang kini berada di sampingnya.


"Aku lelah," gumam Ivy sambil menutup kedua matanya.


"Aku akan menjagamu, jadi beristirahatlah," jawab Trace yang langsung merangkul tubuh Ivy.


Ivy kembali terlelap dalam tidurnya, sedangkan Trace mengelus-elus lembut rambut Ivy. Setelah sampai di penthouse milik Ivy, Trace membawa tubuh Ivy dengan menggendongnya. Selayaknya putri tidur, Ivy sama sekali tidak terbangun dari tidurnya meskipun diguncang beberapa kali oleh Trace.


Malam harinya, Ivy baru saja terbangun mengerjapkan mata beberapa kali di ruangan yang terlihat gelap. Gadis itu bangkit dengan kepala yang terasa sakit. Tiba-tiba saja lampu menyala memperlihatkan Trace yang baru saja memasuki kamar Ivy dengan membawa nampan berisikan beberapa makanan dan air.

__ADS_1


"Akhirnya kau bangun," ujar Trace melepas keformalitasannya.


"Sepertinya aku tidur layaknya orang mati," kekeh Ivy sambil mengambil gelas yang berisikan air dari atas nampan yang dibawa Trace.


"Tidak masalah, selagi kau menjalankan tugasmu dengan baik dan tanpa masalah, aku memakluminya," jawab Trace sambil memberikan senyum hangatnya.


Ivy hanya memutar bola matanya jengah, lelaki di depannya masih saja membahas tentang tugasn yang membuat moodnya menjadi buruk. Trace terkekeh melihat raut wajah Ivy yang berubah, lelaki itu mulai menghibur Ivy dengan gurauan-gurauan dan sukses membuat Ivy kembali tersenyum.


Senyuman yang indah, sejenak Trace terpana dan menatap lekat senyuman Ivy yang tengah berceloteh riang tentang teman kampusnya. Ia menyukainya, menyukai senyuman Ivy dan terlihat tertawa lepas tanpa beban. Trace tersenyum berbagai andaian kini terpatri di dalam otaknya.


'Apakah aku boleh berandai-andai? Andai saja kau adalah kekasihku, mungkin saat ini kita tengah bertukar cerita seperti saat ini. Mendengar keluh kesah kehidupanmu, mencari solusi dan menghadapinya bersama.


Andai saja kita tidak memiliki tugas penting, mungkin saat ini kita tengah berlibur menikmati kebersamaan di antara kita. Andai saja kau bukanlah kunci kebahagiaan hidup mereka, mungkin saja saat ini kau tengah bahagia dengan hidup yang kau jalani bersamaku. Dan andai saja ... kau mencintaiku.'


"Trace! Kau tidak mendengarkanku?!" Panggilan dari Ivy membuyarkan lamunannya.


Sejenak ia melihat kekecewaan yang terpancar dari kedua mata gadis itu, Trace terkekeh lalu mengusap kepala Ivy lembut.


"Maaf, aku sedang berandai-andai," jawab Trace sambil tersenyum meminta maaf.


"Aku hanya berandai-andai, seandainya kita tidak hidup seperti ini. Aku hanya ingin melihat kau tersenyum bahagia selamanya, Ivy," jawab Trace membuat Ivy tertegun.


"Kau memikirkanku, tetapi kau tidak memikirkan dirimu," gumam Ivy, Trace tersenyum lalu menyingirkan nampan yang menghalangi mereka berdua.


Trace memeluk Ivy erat, dan Ivy pun membalas pelukan dari lelaki tampan yang kini memeluknya.


"Kau yang utama untukku, di mana kau bahagia maka aku akan bahagia. Aku ingin sekali menjadi lelaki yang egois akan tetapi, aku tidak ingin kau menjauh dariku karena hal itu," jawab Trace, Ivy menggelengkan kepalanya.


"Tidak, sesekali kau boleh egois. Dan aku pasti memakluminya, karena kau selalu terkekang olehku. Suatu saat nanti aku akan melepaskanmu," jawab Ivy membuat Trace ingin menyangkal perkataan gadis di depannya.


"Kau harus mendapatkan kebahagianmu, ingat kata-kataku." Trace kembali bungkam, ia menutup matanya dan kembali menatap gadis yang kini di pelukannya.


"Kau tahu arti dari kata bahagia untukku? Dan saat itulah aku akan menjadi lelaki yang egois seperti yang kau katakan, Ivy." Ivy mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti.


Entah mengapa di saat-saat seperti ini otaknya tidak bisa diajak bekerja sama, Ivy hanya kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Trace. Dan Trace sendiri terlihat bahagia saat Ivy tidak dapat menangkap jalan pikirannya.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana?" tanya Ivy tiba-tiba sambil melepas pelukannya, Trace yang mengetahui pertanyaan Ivy mendadak kesal.


"Mereka mulai bergerak," jawab Trace singkat, Ivy menautkan alisnya dan ia kembali tersenyum.


"Kau benar-benar akan melakukannya?" tanya Trace khawatir.


"Tentu saja, sedikit bermain dengan 'ikan' peliharaanmu tidak masalah, bukan?" jawab Ivy membuat Trace mengalihkan pandangannya.


"Berhati-hatilah atau dirimu yang akan termakan oleh umpan 'ikan' itu," Trace menasehati.


"Akan aku ingat perkataanmu akan tetapi, aku memang harus memakan umpan dari mereka, bukan?!" jawab Ivy sambil terkekeh.


"Bukan itu yang aku maksud," jawab Trace dingin, kali ini ia menatap iris kelam milik Ivy.


"Kau takut aku jatuh hati pada mereka?" tanya Ivy yang sepertinya benar karena Trace hanya menatap Ivy.


"Jika itu yang kau takutkan ... sayang sekali. Sepertinya aku sudah terjatuh," jawab Ivy tanpa ingin menatap Trace yang terlihat geram menatap dirinya.


"Tetapi, tugas tetaplah tugas. Permintaan Arnold adalah yang harus aku lakukan, setelah semuanya selesai aku ingin menghilang dari mereka semua. Termasuk Rosaline dan kau juga akan terbebas dariku," ujar Ivy yang memberanikan menatap iris milik Trace.


"Lakukan tugasmu dengan baik, setelah itu kau bebas mencintai siapa pun!" ujar Trace yang langsung saja berjalan keluar dengan membawa nampan berisikan piring kotor.


Ivy menghembuskan napasnya perlahan, ia tersenyum kecut. Bagaimanapun ia mengetahuinya, tentu saja ia sangat mengetahuinya jika Trace mencintainya.


"Sampai kapan kau ingin terus memendamnya, Trace?"


 


 


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2