
-Roma, Italia 10:00 Am-
Trace melangkahkan kakinya di depan sebuah mansion megah yang membuat dirinya akhir-akhir ini uring-uringan dan melampiaskannya pada Ivy. Sudah lama ia tidak memikirkan hal ini dan akhirnya ia harus kembali menemui dua orang yang ingin membunuh dirinya.
"Selamat datang, Tuan Muda." Trace mendengkus mendengar pelayan itu menyebutnya dengan 'Tuan Muda'.
"Apa kedua orangtuaku sudah mati?" tanya Trace tanpa menoleh ke arah pelayan yang kini wajahnya sudah memucat.
"Maaf?" Trace tidak menjawab, ia kembali berjalan dengan santainya hingga pintu kediaman keluarga besarnya kini terpampang di hadapannya.
Pintu terbuka dan ia mendapati semua keluarga besarnya telah berkumpul. Trace memasuki ruangan dan ia dapat melihat tatapan para saudara bahkan kedua orang tuanya menatapnya dengan terkejut.
"Cucuku Trace, aku merindukanmu," sapa seorang pria tua yang kini rambutnya sudah memutih dan menatap senang ke arahnya.
"Selamat pagi, Tuan Michaelis. Sepertinya aku sedikit telat," jawab Trace berbasa-basi.
"Sama sekali tidak, dan berhentilah memanggil dengan nama belakangku," jawab Tuan Euros menatap tidak suka dengan panggilan Trace pada dirinya.
"Jadi, apa yang membuatmu memintaku untuk jauh-jauh datang dari London ke Italia?" tanya Trace yang kini berdiri tidak jauh dari hadapan Euros.
"Aku dengar kau menjadi bodyguard seorang gadis dari Keluarga Verleon, apa benar?" tanya Euros sambil menatap Trace dengan serius.
"Ya," jawab Trace singkat membuat Euros menghembuskan napas kasarnya.
"Aku ingin mengetahui bagaimana kau selamat dari kejadian sembilan tahun yang lalu," pinta Euros sambil berdiri dari kursi miliknya.
Kedua orang tua Trace terlihat sedikit tersentak saat kakek tua itu ingin mendengar apa yang terjadi delapan tahun yang lalu.
"Aku tidak memiliki waktu untuk membicarakan sesuatu hal yang sudah terjadi, Tuan Euros," jawab Trace dengan malasnya.
"Aku membiarkan diriku datang dan meninggalkan Nona-ku hanya untuk bertemu dengan Anda. Jadi, katakan yang ingin kau katakan saat ini juga sebelum aku keluar dan pergi dari negara ini!" suara baritone milik Trace membuat mereka semua yang berada di sana tersentak kaget.
"Jaga nada bicaramu, Trace." Marison bangkit dari duduknya.
"Diamlah," jawab Trace dingin sambil menatap sinis Ayahnya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, Trace? Sembilan tahun kepergianmu dan kau kembali dengan sikapmu yang seperti ini," tanya Relia sambil berjalan mendekat ke arah Trace.
Wanita cantik itu berjalan mendekat dan terhenti saat Trace menodongkan pistol miliknya ke arah kepala Relia. Semua mata kini menatap terkejut ke arah Trace, tidak menyangka Trace yang dulunya adalah anak baik dan periang kini menjadi seperti seorang penjahat.
"Aku akan menembak tepat di kepalamu jika kau maju selangkah saja," desis Trace tajam membuat Euros menatap geram cucu kesayangannya itu.
"TRACE DE RANDOLF!" bentak kakek tua itu membuat Trace mendelik kesal.
"Namaku Trace Valkyrie, Trace de Randolf sudah lama mati," jawab Trace yang langsung saja memasukkan pistol miliknya ke dalam saku celananya.
"Dengar, jika kalian bergerak sedikit saja, kepala kalian akan hancur. Aku sudah menempatkan beberapa sniper andal milik Keluarga Valkyrie. Jika saja masih ada di antara kalian yang ingin melukaiku, sudah aku pastikan kalian akan mati terlebih dahulu," jelas Trace kini ia sudah tenang.
"Trace, bagaimana mungkin kau ingin membunuh keluargamu sendiri?" Euros menatap tidak percaya ke arah cucu kesayangannya itu.
"Aku? Membunuh keluargaku sendiri? Katakan itu pada kedua orangtuaku yang sudah membuangku jauh ke Amerika karena mereka berdua tidak ingin harta warisan milikmu jatuh ke tanganku," jawab Trace membuat Euros menatap tajam Marison dan Relia.
"Biar kutanyakan sekali lagi, karena saat ini aku harus kembali untuk mengawal Nona-ku yang cantik. Apa yang kau inginkan? Aku sudah menghilang selama sembilan tahun dan aku harap pembagian harta warisan itu sudah mencapai kesepakatan," tanya Trace membuat Euros menghembuskan napas beratnya.
"Kau akan tetap menjadi pewaris tunggal, tidak ada orang lain dan tidak akan ada yang bisa menggantikan dirimu. Karena itu berhenti dengan pekerjaan bodohmu dan kembali ke keluarga ini." Trace terdiam mendengar penuturan sang kakek.
"Berhenti membual, Kakek Tua. Bagaimana aku bisa berhenti dari pekerjaan bodohku jika merekalah yang menyelamatkan diriku saat sedang sekarat?" Trace memberi jeda.
"Sembilan tahun lalu, Tuan Marison beserta istrinya Nyonya Relia memerintah anak buah mereka untuk membunuhku, membuangku ke negara yang jauh, dan membiarkanku mati dengan perlahan!" mereka semua menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Trace.
"Lalu, seorang gadis kecil yang cantik menemukanku yang terkapar di sebuah gang yang gelap dan sempit. Menawarkanku kehidupan baru bersama keluarganya yang hangat dan kasih sayang yang melebihi dari keluargaku sendiri," lanjut Trace dan kembali memberi jeda.
"Sembilan tahun keluarga itu mengasuhku, memberikan yang terbaik untuk hidupku dan dengan mudahnya kau berkata untuk meninggalkan pekerjaan bodohku ini? Tuan, aku bukanlah lelaki yang tidak tahu balas budi." Trace mengakhiri ucapannya.
Mereka terdiam, tidak tahu harus berkata apa bahkan para sepupunya kini tidak berani menatap dirinya. Keheningan itu berakhir saat suara ponsel milik Trace terdengar. Trace mengangkatnya sambil menatap raut wajah kakek tua itu dengan puas.
"Di mana kau?" tanya suara di seberang sana.
"Saya berada di Roma, maafkan saya yang tidak memberitahukan kepergian saya, Nona," jawab Trace penuh dengan keformalitasan dirinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya sang Nona dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
"Ada seseorang yang harus aku temui di sini, tetapi urusan saya sudah selesai. Saya akan secepatnya kembali ke sisi Anda, Nona Ivy," jawab Trace yang kini melihat perubahan raut wajah kakek tua itu.
"Baiklah, rencana kedua dan ketiga sudah aku jalankan. Sebaiknya kau cepat kembali sebelum mereka mencium keberadaanku," jelas Ivy dan Trace terlihat tersenyum.
"Sesuai perintahmu, Nona Ivy," jawab Trace dan sambungan telepon itu terputus begitu saja.
Trace kembali menatap kakek tua di hadapannya, lelaki tampan itu menghembuskan napas kasarnya lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan ruangan besar itu.
"Trace," panggil Euros membuat langkah Trace berhenti.
"Kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu. Pewaris utama tetaplah dirimu, kau bisa kapanpun kembali mengambil apa yang menjadi hak milikmu. Kau tahu harus menghubungi siapa jika kau ingin meminta pertolonganku," ujar Euros, Trace hanya mengangguk singkat tanpa menoleh.
Lelaki tampan itu kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan mansion besar milik Keluarga Michaelis. Kepergiannya membuat napas mereka menjadi lega, mereka tidak mengetahui apapun tentang Trace yang menjadi menyeramkan seperti itu. Tetapi, Leo sudah memperingati mereka semua untuk tidak membuat Trace marah.
Perubahan Trace benar-benar membuat mereka tidak habis pikir. Euros kini menatap anak dan menantunya yang telah lama menyandang status sebagai orangtua Trace.
"Bawa mereka pergi, aku tidak membutuhkan anak dan menantu yang menjadi tersangka utama hilangnya Trace," ujar Euros sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Sontak ruangan itu menjadi ramai dengan tangisan Relia yang dipaksa keluar dari mansion. Trace segera mencari penerbangan secepatnya menuju London, dan sialnya ia tidak menemukannya untuk hari ini. Penerbangan baru saja kosong esok harinya.
Trace mengumpat dalam hati, dengan cepat tangannya menelepon seseorang.
"Jangan biarkan Nona Ivy keluar dari penthouse dan perketat penjagaan, aku akan kembali esok hari," ucap Trace pada seseorang di seberang sana.
"Yes, Sir."
***
__ADS_1