
Suara lantunan musik terdengar dari toko buku Waterstone’s cabang Picadilly dengan 6 lantainya dilengkapi pula dengan restoran, gift shop dan art gallery. Foyles Bookshop di Charring Cross yang selalu diminati pengunjung. Di toko unik yang baru-baru ini diperbaharui masih menjaga reputasinya dengan maraknya memberikan penawaran. Pengunjung dapat pula bersantai sembari minum kopi, teh atau mengakses internet via Wi-Fi. Waterstone’s ini memiliki persediaan dalam jumlah banyak untuk buku bestseller dan juga menyediakan berbagai buku khusus untuk peminat tertentu.
Seorang gadis cantik bersurai hitam tengah asik duduk di sudut ruangan dengan tangan yang membaca buku ditemanin secangkir teh di meja miliknya. Tidak menghiraukan para pelanggan yang menatapnya dengan memuja. Selagi tidak ada yang mengganggunya ia tidak akan pergi dari tempat itu, hingga seorang lelaki duduk begitu saja di hadapan gadis itu dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Hari yang cerah, bukan?" sapa lelaki itu kepada sang gadis.
Gadis itu menoleh ke depan dan memutar bola matanya jengah mendapati lelaki yang ia kenal ada di hadapannya.
"Kau telat 10 menit, Nicolas," desis gadis itu membuat lelaki bernama Nicolas itu tertawa.
"Seperti biasa kau orang yang tepat waktu, Ivy," kekeh lelaki itu sambil memberikan sebuah buku di atas meja.
"Buku yang kau cari, aku mendapatinya dengan susah payah," katanya sambil bersandar di sandaran kursinya.
"Terima kasih, Nicolas. Aku sudah mencari tetapi sangat sulit menemukannya," jawab Ivy sambil menggerutu.
"Tentu, kau sudah memasuki semester akhir, kau sudah mengerjakan tugas akhirmu?" tanya Nicolas sambil menyeruput teh milik Ivy.
"Aku sudah menyelesaikannya, tetapi ada beberapa kekurangan yang harus aku perbaiki dengan membaca buku ini," jawab Ivy sambil mengangkat buku yang ia terima dari Nicolas.
"Kau beruntung memiliki otak cerdas, mudah mengerjakan dan mudah menguasai semua materi dalam sekejap. Aku ingin sekali memiliki otak pintarmu," ujar Nicolas iri, Ivy hanya terkekeh sambil kembali membaca buku yang sejak tadi ia baca.
"Kau harus banyak belajar, Nicolas," jawab Ivy dan Nicolas hanya memutar bola matanya jengah.
Mereka berdua terus berbincang hingga seseorang yang sudah beberapa minggu ini dihindari gadis itu menatapnya dari kejauhan. Nicolas adalah salah satu teman Ivy di kampus terbarunya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ivy untuk mendapatkan teman, sifatnya yang mudah bergaul membuatnya cepat mendapatkan beberapa teman termasuk Nicolas yang tidak suka dengan anak baru sepertinya.
"Jadi, apa kau memiliki waktu kencan denganku?" canda Nicolas membuat Ivy menatapnya tajam.
"Hahahaha, mengapa kau setakut itu hanya untuk berkencan?" tanya Nicolas sambil terkekeh.
"Jika kau sayang dengan nyawamu maka jangan mengajakku berkencan, kau tidak akan tahu betapa menyeramkannya ketiga Kakakku yang gila itu, Nicolas," jawab Ivy lalu menyeruput teh miliknya.
"Kau benar, aku tidak ingin berurusan dengan Keluarga Verleon. Mereka terlalu menyeramkan," jawab Nicolas sambil menggoda Ivy.
Ivy hanya terkekeh mendengar jawaban temannya itu. Benar apa yang dikatakan Nicolas, bahkan Alysia yang keturunan bangsawan italia saja tidak ingin berurusan dengan keluarganya ketika Ivy mengatakan nama keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah, sampai jumpa besok. Aku memiliki urusan lagi setelah ini," kata Nicolas sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Terima kasih atas bantuanmu, Sir," goda Ivy membuat Nicolas terkekeh.
Nicolas bangkit dan langsung saja mengacak-acak rambut Ivy layaknya seorang kakak. Lelaki itu meninggalkan Ivy yang kini hanya sendirian menikmati teh yang sudah mulai mendingin. Hujan mulai turun membasahi bumi, Ivy yang hanya memakai kaos dan celana jeans pendek mulai kedinginan di dalam toko.
"Sebaiknya aku pulang," gumamnya lalu memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas yang ia bawa.
"Oh shit," umpatnya kecil saat melihat ponsel miliknya mati. "aku bahkan belum menghubungi Trace," gumamnya lagi yang langsung saja kembali duduk menunggu hujan reda.
Dua jam menunggu hingga matahari sudah tenggelam menyisakan sedikit sinar yang menandakan hari telah senja. Hujan pun sepertinya sudah lelah dan hanya meninggalkan rintikan kecil yang tidak cukup membasahi tubuh.
Ivy memilih untuk secepatnya keluar dari toko memesan taksi dan pulang ke penthouse miliknya. Akan tetapi, saat dirinya sudah keluar dari toko tubuhnya menegang saat melihat seseorang yang ia kenal berada di seberang jalan dengan seringaian khas milik lelaki itu.
Ivy berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu yang lalu diikuti oleh lelaki itu. Jalanan yang sepi karena masih turun hujan membuat Ivy leluasa untuk berlari. Tas jinjingnya terpaksa ia ikat di tangannya agar tidak terlepas saat ia berlari.
Ivy terus berlari tanpa ingin memasuki gang yang bisa saja membuatnya terperangkap dan dibawa kabur oleh lelaki itu. Napasnya sudah hampir terputus-putus mengingat ia terus berlari melewati jalan besar.
"Sial, ia masih mengejarku," desis Ivy yang mengambil jalan memutar.
Tidak memperlambat larinya, Ivy terus berlari melewati gedung yang seharusnya ia masuki untuk melepas penat hari ini. Sayangnya ia harus bermain kejar-kejaran dengan seorang lelaki yang ingin ia hindari.
Hingga akhirnya sebuah tangan menarik tubuh Ivy dan masuk ke dalam gang sempit. Ivy membelalakan kedua matanya saat melihat siapa yang kini membekap mulutnya. Seorang lelaki yang tentunya juga ia kenali dan ingin ia hindari.
"Haaa, haaa, sial. Akhirnya tertangkap juga, aku tidak mengira ia akan terus berlari sejauh ini," ujar seorang lelaki yang tadi mengejar Ivy.
"Aku tidak menyangka kau memiliki stamina besar untuk mengejar adik kecil kita, Grim," jawab lelaki yang kini membekap mulut Ivy dan mulai mengunci pergerakan tubuh Ivy.
"Hey, kau pikir aku siapa? Kita sudah menjalani pelatihan militer sejak usia belasan tahun, Spade," jawab Grim memutar bola matanya jengah.
"Ahk," Spade merintih kala tangannya digigit oleh Ivy.
"Gadis nakal, semakin kau menggigitku semakin aku ingin kau menyiksaku, Ivy," desis Spade sambil menciumi leher jenjang gadis itu.
"Ehm ...." Ivy terus meronta hingga belaian tangan Grim mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Tenanglah, kami hanya ingin menghukummu sedikit," kata Grim yang langsung saja menutup mata Ivy dengan kain kecil.
"Ehm ...." Ivy meronta-ronta, sayangnya tenaganya sudah habis karena terus berlari sejak tadi.
"Tenanglah, kau akan baik-baik saja, Ivy," bisik Spade di telinga Ivy.
Suara deru mobil yang berhenti di depan gang kecil itu menghentikan aktivitas mereka, seorang supir keluar dan membukakan pintu penumpang.
"Kau tepat waktu," kata Grim membuat alis Ivy mengkerut dengan maksud perkataan Grim.
"Kerja bagus." Suara baritone itu menyentakkan Ivy, perlahan Spade membuka bekapan mulut Ivy dengan seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil itu berjalan mendekati mereka.
"Hukuman apa yang pantas untuk adik kecil kita?" tanya lelaki itu sambil mengelus lembut wajah Ivy.
"Ze-zerfist?!" gumam Ivy gugup, ia tidak menyangka bahwa mereka bertiga yang akan langsung turun tangan menangkapnya.
"Kau masih mengingat suaraku, Sweetheart?" tanya Zerfist yang langsung saja melumat bibir Ivy sekilas.
"Bagaimana bisa?" tanya Ivy dengan tubuh menegang.
"Mudah saja bagi kami menemukan dirimu. Baiklah, apa yang harus kami lakukan padamu, Ivy?" Zerfist melihat pakaian Ivy yang terlalu minim membuatnya ingin merobeknya.
Ivy tidak menjawab, ia bergerak mundur dan kini punggungnya menabrak dada bidang milik Spade.
"Bagaimana jika hukumanmu kali ini adalah ... kami yang akan memerkosamu seperti dulu?"
***
__ADS_1