
Ivy membuka kedua matanya saat sesuatu mengusik tidurnya yang terasa nyenyak. Nyenyak? Entah kapan terakhir kali ia bisa tidur senyenyak saat ini. Pandangannya menatap langit-langit yang terlihat dari kayu besar yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Kepalanya masih terasa amat berat hanya untuk melihat sekeliling kamar itu.
"Jangan memaksakan diri." Suara lembut itu mengagetkan Ivy yang kini memaksakan kepalanya untuk melihat ke arah sumber suara.
"Spade?" entah ia sedang berhalusinasi atau tidak, saat ini ia melihat Spade tengah duduk sambil membaca buku di sebuah sofa panjang tak jauh dari ranjang.
Pria itu menoleh dan tersenyum manis kepada Ivy, Spade menutup buku di tangannya lalu berjalan ke arah ranjang. Senyum lembut Spade membuat Ivy mengerutkan keningnya, beberapa hari lalu rasanya pria itu mengacuhkannya dan tidak pernah tersenyum lagi padanya.
"Jangan menatapku seperti itu, kau tahu aku tidak bisa melihatmu sakit seperti saat ini," ujar Spade masih tetap menyunggingkan senyum manisnya.
"Tetapi, jika kau berakting lagi ... aku tidak akan segan-segan padamu lagi, Ivy." senyumnya menghilang seketika.
Ivy hanya menghembuskan napasnya kasar sambil memijit kepalanya yang terasa semakin sakit. Pandangannya mulai mengabur, entah apa yang terjadi padanya rasanya ia tidak sakit separah saat ini.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Ivy lirih.
"Kami hanya berjaga-jaga agar kau tidak bisa kabur untuk yang terakhir kalinya. Tenang saja, obat itu akan berhenti bekerja setelah kau cukup beristirahat. Ini semua kami lakukan untuk kita semua, Ivy. Kau hanyalah milik kami," jawab Spade dengan senyum sinisnya.
"Kalian gila!"
"Ya, kami gila karena dirimu, tubuhmu, dan semua yang ada padamu! Lebih baik saat ini kau pejamkan kedua matamu, aku tidak suka bercinta saat kau tidak sadarkan diri, Ivy," jawab Spade dengan santainya.
"Aku baru saja terbangun dan kau menyuruhku untuk kembali tidur?!" Spade terkekeh, itulah Ivy. Separah apa pun kondisinya ia tetap saja keras kepala.
Spade beranjak ke arah jendela lalu membuka jendela ruangan itu dengan lebar, hawa dingin berhembus menggelitik kulit. Spade tersenyum melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Jika diperhatikan ruangan yang ditempati Ivy saat ini tidak sebesar kamar miliknya di mansion. Dan saat ini mereka berdua memang tidak berada di mansion.
Ivy menarik selimut di tubuhnya dan memeluknya erat, udara dingin yang berhembus benar-benar membuatnya tidak nyaman. Spade yang melihat ivy sudah mulai kedinginan hanya tersenyum sinis.
"Kita berada jauh dari keramaian pusat kota." Spade membuka suara, Ivy menoleh dan menatap penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Kau tidak akan selamat jika keluar dari tempat ini Ivy." seringaian Spade membuat Ivy bergidik ngeri.
Di antara ketiga kakaknya yang tidak banyak bertingkah hanyalah Spade. Jika lelaki itu sudah mulai hilang kesabarannya, mungkin kali ini nyawanya benar-benar tidak akan selamat. Ivy memejamkan kedua matanya, seringaian Spade membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
Pergerakan dari ranjang begitu terasa, Ivy membuka kembali kedua matanya dan mendapati Spade sudah berada di atasnya. Tangan dingin Spade menyentuh kening Ivy dengan lembut, senyuman samar terlihat di wajah lega milik Spade.
"Kau kedinginan, sebaiknya kau tutup saja jendela itu, Spade," ujar Ivy yang langsung saja mendapatkan tatapan tajam dari Spade.
Wajah tampannya kian lama kian menunduk dan tepat berada di depan wajah Ivy, entah mengapa saat ini jantungnya mulai bertalu-talu. Kecupan hangat didapatkan Ivy dari bibir dingin milik Spade, wajah ivy seketika memerah. Entah mengapa ia sangat malu saat ini, apa yang terjadi padanya sekarang benar-benar tidak ia ketahui.
"Kau harus menghangatkanku nanti, sekarang saatnya kau meminum obat dan bersiap untuk istirahat hingga kau kembali pulih." Kini perkataan Spade bahkan selembut sutra.
Spade bangkit dan mengambil obat di dalam laci nakas samping ranjang, segelas air sudah tersedia di atas nakas. Disodorkannya beberapa obat yang bahkan Ivy tidak tahu itu untuk apa. Bahkan ia belum makan apa pun sejak tersadar tadi.
"Tenang saja, obat itu harus diminum sebelum makan," jawab Spade sambil kembali duduk di sofa dan membuka buku miliknya.
Ivy memilih untuk langsung meminum semua obat di tangannya, kini ia tahu apa rencana dari ketiga kakaknya. Berhubung semua itu juga termasuk rencana darinya, ia akan mengikuti semua permainan yang disediakan mereka bertiga.
"Di luar sana ada beberapa penembak jitu, jika kau macam-macam untuk kabur ... mereka semua akan menembakmu." Ivy membulatkan kedua matanya, sepertinya mereka memang berniat mengurung dirinya di sini.
Mengurung dirinya untuk menjadikan milik mereka selamanya, dan satu hal pasti akan ada yang mereka lakukan. Mereka tidak mungkin hanya mengurung dirinya di tempat itu, sudah terlihat jelas dari apa yang Spade berikan padanya tadi.
"Jadi, kalian menahanku di sini?" tanya Ivy dengan suara seraknya.
"Kalian?" Spade menaikkan satu alisnya sambil tersenyum miring.
"Apa maksudmu dengan kalian?" tanya Spade membuat Ivy mengerutkan keningnya.
"Tentu saja kalian bertiga, bukankah Zerfist yang membawaku ke tempat ini?" Spade terkekeh lalu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Tidak ada kalian, hanya kau dan aku di sini," jawab Spade sambil terkekeh.
"Apa maksudmu?" tanya Ivy dengan wajah tidak mengerti.
"Sementara ini, aku yang menculikmu dari Zerfist. Dan aku pastikan kau akan mengandung anakku sebelum Zerfist menemukan kita berdua." Spade memamerkan seringaian miliknya.
"A-apa?" Ivy membulatkan kedua matanya, Spade benar-benar ingin bunuh diri sepertinya.
Tidak ada yang selamat jika sudah menentang Zerfist, tetapi Spade benar-benar ingin menggali tanah kuburannya sendiri.
"Spade, kau bisa mati jika Zerfist menemukanmu?!" Kini Ivy terlihat semakin panik.
Ini tidak termasuk dalam rencanaya, bahkan sepertinya rencananya akan gagal sebelum dimulai. Wajah panik Ivy membuat Spade tersenyum, ternyata wanita itu masih memikirkan keadaannya. Bagaimanapun juga ia tidak akan mengalah lagi pada kedua kakaknya, ia ingin memiliki Ivy seutuhnya.
"Ivy, kau tahukan aku mencintaimu?" Pertanyaan Spade membuat Ivy mengerutkan keningnya, tentu saja ia tahu lalu mengapa pria itu bertanya lagi.
"Maukah kau menikah denganku?"
"Apa?"
***
__ADS_1