
Pagi hari yang terasa begitu dingin, hujan terus membasahi tanah tanpa berniat berhenti. Ivy membuka kedua matanya dan mendapatkan dirinya berada di atas ranjang sendiri. Tubuhnya sudah berbalut pakaian hangat, tetapi hari ini begitu dingin meski tidak sedingin musim bersalju.
Ivy mencoba untuk bangun dari ranjang akan tetapi, tubuhnya seperti tidak bertenaga. Waktu menunjukan pukul sebelas siang dan ia belum memakan apa pun sejak semalam. Ketukan pintu terdengar dan memperlihatkan Trace yang membawa nampan berisi makanan dan satu set cangkir berisi minuman.
"Wajahmu terlalu pucat, Nona," sapa Trace sambil menutup pintu dengan kaki kirinya.
Ivy hanya tersenyum, kali ini ia tidak ingin banyak bicara. Tubuhnya terasa lemas dan ia hanya bisa mengangguk atau menggeleng jika ditanya. Trace tersenyum samar lalu memberikan semangkuk bubur ke tangan Ivy. Lagi-lagi wanita itu hanya makan dalam diam, sambil sesekali melirik Trace yang sedang memainkan ponsel miliknya.
Kening Trace berkerut lalu meminta izin untuk menerima telepon dari ponsel miliknya. Ivy kembali mengangguk dan menikmati semangkuk bubur di tangannya.
"Ada apa?" tanya Trace tanpa basa-basi.
"Kita harus cepat melakukannya, mereka mulai bergerak," jawab orang di seberang.
"Baiklah," jawab Trace yang terdengar dingin dan wajahnya benar-benar terlihat masam.
Pria tampan itu berbalik dan melihat Ivy yang sedang menikmati teh racikannya. Mengusap wajahnya kasar untuk menghilangkan rasa kesal yang begitu terlihat di raut wajahnya.
"Ivy," panggil Trace melepaskan keformalitasannya.
Wanita itu menoleh dan menaikkan satu alisnya. "Jalankan rencana akhir kita," ujar Trace dan Ivy hanya menghembuskan napasnya sejenak.
"Semua sudah sesuai dengan perhitunganku, aku akan kembali menjerat mereka." Akhirnya Ivy membuka suara, meski terdengar serak dan seksi.
"Kau membiarkan dirimu sakit?" Trace menatap tajam Ivy yang kini terlihat hanya terkekeh.
"Tidak juga, tetapi ini kesempatan bagus, bukan?" Trace hanya mendengkus, ia membenci saat-saat seperti ini.
"Baiklah, aku persiapkan semuanya. Hingga waktunya tiba, aku akan kembali padamu," jawab Trace lalu mengecup kening Ivy.
__ADS_1
Hatinya benar-benar rapuh saat ia harus meninggalkan wanitanya sendiri, dengan berat hati Trace melangkahkan kedua kakinya keluar. Pintu tertutup dengan rapat, Ivy yang melihat kepergian Trace hanya tertawa lirih. Penderitaan untuk dirinya akan segera dimulai. Tidak akan ada yang menolongnya saat ini, bukankah kebebasan membutuhkan pengorbanan?
Beberapa pelayan masuk dan terkejut melihat kondisi Ivy yang terlihat begitu pucat.
"Nona, apa Anda sakit? Kami akan memanggil dokter untuk melihat keadaan Nona," tanya pelayan itu dengan wajah paniknya.
"Aku hanya butuh istirahat, tidak perlu memanggil dokter. Kalian bisa pergi," jawab Ivy dengan suara seraknya.
"Tapi Nona-" Ucapan pelayan itu terpotong saat tangan kanan Ivy terangkat.
"Aku ingin istirahat." Para pelayan itu hanya bisa mengangguk patuh.
Para pelayan itu keluar dengan piring kotor dan menutup pintu kamar. Hening, Ivy menyandarkan tubuhnya di bantalan dan menutup matanya sejenak. Ketentraman itu membuat Ivy merasa ingin kembali ke dunia mimpi. Tetapi sayangnya ia tidak bisa beristirahat dengan tenang, suara keributan terdengar dari lantai bawah.
Braakk
Pintu terbuka dengan kasarnya menampilkan Zerfist dengan raut wajah dinginnya. Ivy yang baru saja memejamkan matanya kini terpaksa kembali membuka mata. Tatapan mata tajam Zerfist benar-benar menusuk hingga membuat Ivy tak bergeming. Saat Ivy ingin membuka mulut Zerfist terlebih dahulu memotong.
Ivy mengangkat satu alisnya menatap kakak tiri yang kini berada di samping ranjang. Membunuh seseorang? Jika Zerfist mengetahui dirinya yang sebenarnya mungkin pria itu sudah menghindarinya sedari dulu. Ivy memilih mengabaikan perkataan Zerfist dan menutup kedua matanya, Zerfist yang melihat itu semakin dibuat geram. Bahkan ia tidak melihat kondisi Ivy yang saat ini terlihat pucat, Zerfist terlalu emosi hingga tidak melihat keadaan sekitar.
"IVY!!!" bentakan Zerfist kali ini benar-benar mengganggu wanita itu.
"Bicarakan itu nanti, aku ingin istirahat sejenak," ujar Ivy tenang, sayangnya ketenangan Ivy membuat Zerfist kembali murka.
"KAU MEMBUNUHNYA DI RUMAH INI, DASAR JALANG. AKU TIDAK PEDULI JIKA SAAT INI KAU SEDANG SAKIT ATAU MATI. SEBENARNYA APA YANG KAU INGINKAN?!"
Ivy membuka kedua matanya, kali ini entah mengapa hatinya begitu diremas. Sakit di tubuhnya pun terasa menghilang, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Jika ia ditanya apa yang ia inginkan? Tentu saja jawabannya hanya satu, kebebasan.
"Mati." Jawaban singkat Ivy membuat Zerfist tersadar.
__ADS_1
Ada yang aneh dengan Ivy saat ini, selain wanita itu yang sedang sakit ada hal lain yang kini terlihat dari iris kelam milik wanita cantik itu. Zerfist masih menatap dalam tatapan kosong milik Ivy, sedikit terlihat sebuah penyesalan, rasa sakit, kerinduan, dan menyerah. Semua itu perlahan menghilang dengan kehampaan yang terlihat.
"Kebebasan," gumam Ivy, Zerfist mengerutkan kening tampak berpikir dengan apa yang dimaksud wanitanya itu.
"Bukankah mati adalah kebebasan yang paling sempurna?" Zerfist tidak menjawab, entah mengapa hatinya berdebar-debar.
Perasaan takut itu mulai merambat ke seluruh tubuhnya, mati dan kebebasan adalah hal yang sangat berbeda namun, memiliki makna yang hampir sama. Zerfist memijat keningnya yang terasa berdenyut, terlalu banyak yang ia pikirkan. Emosi yang ia perlihatkan membuatnya terlihat seperti bukan dirinya.
"Mati bukanlah kebebasan yang kau cari, Ivy," jawab Zerfist pada akhirnya, suaranya melembut meski terasa tajam.
"Tidak ada kebebasan abadi seperti mati, Zerfist," balas Ivy dengan suara seraknya.
"Kalau begitu kau tidak akan pernah bebas." Itulah pilihan Zerfist, ia bahkan tidak mengerti mengapa ia semarah itu pada Ivy. Membunuh adalah hal biasa baginya, tetapi tidak untuk wanita yang tengah berbaring dengan tatapan kosong itu. Apa wanita itu sedang berakting kembali? Kini Zerfist menatap waspada dan melihat keadaan sekitar.
"Tenang saja, aku sedang tidak ingin bermain. Biarkan aku istirahat untuk kali ini saja, setelah itu mungkin kau tidak akan pernah bisa melihatku lagi," ujar Ivy sambil menutup kembali kedua matanya.
Tidak, Zerfist tidak akan pernah melepaskan wanitanya. Amarah kini mulai mengusiknya, tidak akan ada kepergian dari wanita itu. Satu hal yang kini terpikir oleh Zerfist, hanya dengan cara itu Ivy tidak akan meninggalkannya. Dengan hanya cara itu Ivy akan menjadi miliknya. Zerfist mendekat lalu mengangkat tubuh Ivy dalam gendongannya.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Ivy sambil menatap tajam kakak tirinya itu.
"Membuatmu menjadi milikku selamanya!"
***
__ADS_1
Crazy Update!!! next up 10 chapter setelah like mencapai 1000 :*