
Zerfist tersadar saat tangan Grim menepuk-nepuk pipi kirinya, kepalanya masih terasa berkunang-kunang dan terasa sakit di sekujur tubuhnya. Mengerjapkan matanya beberapa kali hingga pandangannya berangsur kembali normal. Menatap sekitar dan mendapati kedua adiknya yang sudah berpakaian, sedangkan dirinya masih berbalut selimut yang menutupi hingga dadanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Zerfist kembali menutup kedua mata untuk meredakan sakit kepalanya.
"Ivy memakai stun gun untuk melumpuhkan kita," jawab Spade sambil mengusap leher belakangnya yang terkena stun gun.
"Dia benar-benar penuh dengan kejutan, cerdas, dan menyebalkan!" ujar Grim membuat Zerfist membuka matanya.
"Setidaknya ia tidak mematahkan tangan ataupun kaki kita," gumam Zerfist seraya bangkit dari tidurnya dan punggungnya menyandar ke kepala ranjang.
"Kita kehilangan jejaknya lagi." Spade bangkit dan berjalan keluar kamar begitu saja.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Grim menoleh ke arah sang kakak.
"Biarkan ia bersenang-senang terlebih dahulu, setelah ia lulus kuliah kita akan menjemputnya," jawab Zerfist sambil memijat keningnya.
"Baiklah," jawab Grim yang lalu keluar dari ruangan itu.
Zerfist menyentuh bibirnya yang terasa kering, tetapi samar-samar ia mengingat dalam keadaan setengah sadar. Bahwa Ivy mencium bibirnya sekilas sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat mengingat dua hari yang lalu.
–Flashback On–
"Ehmm ...." Ivy terus memberontak saat tubuhnya memasuki sebuah penthouse.
Mulut dan matanya tertutup kain yang diikat oleh Grim, entah bagaimana caranya mereka bertiga membawa Ivy dengan mudah tanpa dicurigai oleh orang lain. Ivy didudukan di pinggir ranjang dengan tangan dan kakinya yang tentunya terikat.
Zerfist membuka ikatan di mulut Ivy karena ia ingin mendengar desahan-desahan Ivy kali ini. Ia merindukannya, tentu saja sangat merindukan gadis cantik di hadapannya. Tetapi, kali ini rasa cemburu benar-benar memakan hati kecilnya untuk sekadar membuat Ivy merasa nyaman.
"Lepaskan aku, Zerfist," desis Ivy membuat Zerfist tertawa sinis.
"Jangan bercanda, Ivy. Kami jauh-jauh datang ke London bukan untuk melihatmu lalu membiarkanmu pergi begitu saja. Kami datang dalam rangka menghukum adik kecil kami karena sudah bersetubuh dengan lelaki lain," terang Grim dengan santainya.
Ivy terdiam, jantungnya berdebar saat mendengar kekehan yang keluar dari bibir Zerfist. Sebuah tangan kekar menarik tubuh Ivy untuk bangkit dan membuatnya terduduk di pangkuan Zerfist.
"Bagaimana bisa kalian–"
"Seseorang mengirimkan gambar saat dirimu tengah terlihat bercumbu dengan seorang lelaki yang tidak kami ketahui," jawab Spade sambil tersenyum manis ke arah Ivy.
Ivy terkesiap lalu ingatannya kembali berputar. "Bukankah kalian yang menukar obatku?!"
Zerfist mengangkat satu alisnya lalu menoleh ke arah Grim dan Spade.
"Obat apa yang kau maksud?" tanya Zerfist yang tetap menatap kedua adiknya.
"Obatku tertukar menjadi obat perangsang! Dan kau masih bertanya apa yang aku maksud?" jawab Ivy setengah berteriak.
Napas Ivy terengah-engah setelah mengatakannya, ia begitu kesal dengan apa yang terjadi. Jika saja ia tidak meminum obat perangsang itu, mungkin saat ini ketiga iblis yang siap menyantapnya ini tidak akan menemuinya. Grim dan Spade menggelengkan kepalanya, tanda bukan mereka yang memberikannya.
"Bukan kami yang menukarkanmu obat itu," jawab Zerfist yang langsung saja menoleh ke arah Ivy.
"Jangan bercanda, jika bukan kalian lalu siapa?" desis Ivy.
Grim dan Spade hanya mengendikkan bahu, saat ini bukanlah meluruskan kesalahan. Melainkan memberikan hukuman pada gadis yang tengah terikat di pangkuan Zerfist.
"Akan kami selidiki nanti, saat ini yang terpenting adalah menghapus jejak lelaki itu dari tubuhmu," bisik Zerfist di telinga Ivy.
Ivy beringsut menjauh tetapi, tubuhnya tersentak dan kembali jatuh di pangkuan Zerfist.
"Kau pikir bisa melarikan diri dengan mudah? Kami tidak akan membuka ikatan tangan dan kedua kakimu, Ivy," bisik Zerfist membuat bulu halus Ivy meremang.
"Berhenti melakukan ini semua, Zerfist," pinta Ivy membuat Zerfist tidak bergeming sedikit pun.
"Tidak akan pernah!" desis Zerfist yang langsung saja memberikan kode pada Grim dan Spade untuk membuka pakaian Ivy selagi ia memegang kedua tangan gadis itu.
"Zerfist!" pekik Ivy saat dengan kasarnya Grim membuka bajunya.
Lelaki tampan itu hanya terkekeh sinis, terlihat jelas tubuh mulus Ivy yang menggairahkan. Spade dengan cepat melepaskan celana pendek yang Ivy pakai dan menyisakan panty dan bra hitam yang masih terpasang di tubuh indahnya.
"Seperti biasa, aroma tubuhmu selalu saja memabukkan." Zerfist mulai menciumi leher jenjang Ivy, dengan kasarnya meremas buah dada milik Ivy.
"Akh ...," desah Ivy menahan rasa sakit saat Zerfist meremas dadanya.
"Aku dan Spade akan menunggumu hingga kau puas, Zerfist," ujar Grim dan mendapat anggukan dari Zerfist.
Tubuh Ivy langsung saja dihempaskan ke atas ranjang, dengan cepat Grim dan Zerfist mengikat kedua tangan dan kaki Ivy agar tidak terlalu memberontak. Karena kali ini mereka yakin, jika Ivy akan terus berontak hingga kelelahannya muncul.
Zerfist langsung saja membuka ikatan di mata gadis yang kini berada di bawah kuasanya. Iris kelam Ivy begitu ia rindukan, tanpa merasa risih dilihat oleh kedua adiknya Zerfist memulai permainannya.
"Mari kita lihat seberapa kuat dirimu dengan pil perangsang," desis Zerfist yang langsung saja membungkam mulut Ivy sebelum gadis itu menjawab.
Zerfist memasukan obat dari dalam mulutnya ke dalam mulut Ivy dengan mendorong obat itu dengan lidahnya. Dan sialnya, obat itu tertelan dengan cepat membuat Ivy terbatuk-batuk.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk," Ivy terbatuk-batuk, dengan cepat Zerfist memberikan Ivy segelas air yang berada di atas nakas.
"Sialan!" desis Ivy sambil menatap tajam Zerfist, lelaki itu hanya tersenyum sinis lalu kembali membungkam bibir manis Ivy.
Tubuhnya mulai terasa panas dengan Zerfist yang terus menyentuh bagian-bagian tubuh sensitifnya. Salah satunya adalah belakang leher gadis itu yang tidak akan kuat menerima sentuhan halus yang dapat membuat gadis itu merinding.
"Zerfist," kali ini Ivy terlihat seperti memohon pada sang kakak tertua.
Akan tetapi, Zerfist mengetahui kelicikan dan kepintaran gadis yang kini berada di bawah kuasanya, lelaki itu memilih mengabaikan permohonan Ivy. Dibukanya bra hitam milik Ivy yang kini mempertontonkan gundukan yang begitu memanjakan mata.
Grim dan Spade hanya terkekeh melihat Zerfist sudah mulai beraksi, bagi mereka berdua menonton kedua saudaranya bercinta menjadi hiburan tersendiri. Kapan lagi mereka bisa menonton secara langsung?
Tanpa mempedulikan tatapan penuh gairah kedua adiknya, Zerfist melanjutkan aksinya. dicumbuinya leher jenjang Ivy dan semakin lama semakin menurun hingga ke dada yang terlihat ranum itu.
Zerfist membuka pakaiannya, iris miliknya mulai terlihat berkabut, kembali Zerfist menyesap manisnya bibir Ivy yang selama ini ia rindukan. Zerfist benar-benar merindukan sosok gadis di bawahnya saat ini.
"Ivy ... aku mencintaimu," bisik Zerfist yang hanya bisa terdengar oleh Ivy.
Sedangkan Ivy hanya bisa merasakan sentuhan-sentuhan tangan Zerfist yang membuatnya terbakar akan gairahnya. Sialnya, tubuh Ivy saat ini menginginkan lebih dan lebih membuat Zerfist mengerti. Zerfist memberikan tanda kepemilikannya pada tubuh Ivy, menghisap dan menggigit kecil kulit mulus gadis itu.
Tangan Zerfist mulai bermain ke daerah kewanitaan Ivy. Seperti biasa tangannya yang sangat lihai mulai mempermainkan gairah Ivy dari bawah sana. Kedua jarinya masuk begitu saja setelah mengusap lembut bagian bawah tubuh Ivy.
"Ahhh ...," desahan Ivy yang lolos begitu saja membuat Zerfist menyeringai.
Digerakkan tangannya dengan cepat membuat tubuh Ivy melengkung ke atas. Tidak membuang kesempatan, Zerfist langsung saja menghisap puncak dada Ivy yang terlihat menggoda iman.
Ketika Ivy hampir sampai, Zerfist menarik tangan membuat Ivy mendengkus kesal.
"Persetan denganmu, Zerfist!" bentak Ivy membuat Zerfist terkekeh.
"Ssstt, setiap kalimat kotor yang keluar dari bibir manismu, kau akan mendapatkan hukumannya, Ivy," bisik Zerfist sambil menarik rambut Ivy.
Ivy tidak menjawab, rasa sakit di kepalanya karena tarikan Zerfist membuatnya bungkam. Zerfist segera melepaskan rambut Ivy lalu menjilati dua jarinya yang basah karena bermain di dalam kewanitaan gadis itu.
"Permainan apa lagi yang akan kita mainkan?" tanya Zerfist sambil menyeringai.
Ivy hanya menggelengkan kepalanya lemas, ia melihat seringaian Zerfist kali ini lebih mengerikan dari yang sebelumnya. Lelaki tampan itu kembali terkekeh sambil mengambil sesuatu dari laci nakas dekat dengan ranjang.
Sebuah cambuk yang lumayan panjang Zerfist keluarkan dari laci tersebut, Ivy yang melihat itu sontak menggelengkan kepalanya.
"Aku akan membunuhmu jika kau membuatnya terluka parah, Zerfist!" Grim memperingatkan dan kali ini anak kedua dari Keluarga Verleon itu terlihat bersungguh-sungguh.
"Tenang saja, aku tidak akan memberikan bekas luka permanen, tetapi yang jelas aku akan menyakitinya," jawab Zerfist enteng.
"Aku tidak sabar saat Ivy mencambukku," gumam Spade sambil tertawa kecil.
"Dasar masokis!" jawab Grim sambil mencoba menjauh dari Spade.
__ADS_1
Ctarr
Suara cambukan terdengar membuat Ivy membulatkan matanya saat Zerfist mencobanya dengan lantai. Tiba-tiba saja perasaannya mulai tidak enak, dan benar saja beberapa detik kemudian Zerfist melayangkan cambuknya ke perut Ivy dan membuat tanda merah di sana.
"Akkhh," rintih Ivy saat perutnya begitu perih terkena cambukan.
"Rintihanmu membuatku semakin bergairah," desis Zerfist sambil mengangkat kedua kaki Ivy dan melesakkan kejantanannya ke dalam liang kenikmatan milik Ivy.
Ivy mengigit bibirnya saat rasa sensasi nikmat bercampur perih itu mulai ia rasakan, Zerfist mulai menggerakkan tubuhnya sambil sesekali mencambuk paha Ivy yang terlihat mulus. Suhu tubuh Ivy semakin panas karena obat perangsang itu mulai bekerja seluruhnya,
Ivy hanya menutup matanya dengan menahan perih di perut dan nikmat di kewanitaannya, Zerfist yang melihat ekspresi wajah Ivy semakin membuatnya bergairah. Dipercepatnya gerakan tubuhnya hingga kembali meloloskan desahan Ivy.
Kedua tangan Ivy sudah mulai membiru karena ikatan tali yang kencang dan juga dirinya yang menarik tali itu terlalu kuat.
"Ahhh, Zerfist," desah Ivy saat tubuhnya sudah mulai menegang.
"Tidak secepat itu." Zerfist berhenti membuat Ivy berdecak kesal, hampir saja ia sampai dan kini rasa itu hilang begitu saja saat Zerfist berhenti bergerak.
Zerfist tertawa kecil karena telah berhasil mempermainkan Ivy, gadisnya itu harus mendapatkan ganjaran dan harus mengingat tubuh siapa yang harus ia rindukan. Zerfist menunduk untuk mencium Ivy, ciumannya begitu ganas dengan digerakkannya kembali pinggulnya perlahan.
"Zerfist," desah Ivy dengan tatapan sayunya di sela ciuman mereka.
Zerfist hanya menyeringai dan mulai mempercepat pergerakan pinggulnya. Desahan-desahan sexy memenuhi ruangan dan membuat Grim dan Spade yang mendengar itu sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Bisakah kau mempercepatnya, atau kau bisa membungkam suaranya yang kelewat sexy itu," pinta Grim sambil memijat pangkal hidungnya.
Zerfist yang masih memompa tubuh Ivy hanya tertawa kecil dan mempercepat pergerakannya.
"Lima ronde sudah cukup untukku," ujar Zerfist. "berikan aku waktu dua jam lagi. Kalian bisa keluar jika tidak ingin mendengar desahannya yang kelewat sexy ini," lanjut Zerfist membuat Ivy melotot kepadanya.
"Tenanglah, kita akan cukup bersenang-senang dan kau cukup berenergi karena sudah meminum pil itu," ucap Zerfist pada Ivy.
Grim dan Spade memilih keluar kamar daripada harus mendengar desahan-desahan Ivy yang tentunya akan membangunkan singa tidur. Setelah Grim dan Spade keluar dari kamarnya, Zerfist menatap Ivy dengan penuh kelembutan.
Zerfist memelankan pergerakan pinggulnya sambil menatap Ivy penuh cinta, sedangkan Ivy yang ditatap seperti itu hanya menatap sayu karena gairahnya yang memuncak.
"Kau tahu, aku tidak pernah mengatakan cinta pada siapa pun. Dan hanya padamulah aku mengatakannya, tetapi mengapa ...," Zerfist menjeda kalimatnya. "... mengapa kau tidak pernah melihatku!" lanjut Zerfist sambil mencengkram pinggul Ivy hingga ia kembali menghentakkan tubuhnya begitu kuat memasuki Ivy.
"Akkhh ...." Ivy kembali merintih, dilihatnya iris kelam milik Zerfist yang kini berganti menatapnya dingin.
"Kau pikir aku akan menyerah? Jangan harap aku akan menyerah atas dirimu, Ivy." Kini kilat kemarahan tergambar jelas di iris milik Zerfist.
Ivy tidak menjawab apa pun, hatinya merasa gelisah karena ucapan Zerfist. Dan Ivy benar-benar membenci perasaan itu tumbuh, Ivy memilih memenjamkan matanya daripada harus melihat kilat sedih yang kini Zerfist berikan padanya.
Dua jam berlalu dan Zerfist sudah keluar dari kamarnya, melihat Grim dan Spade yang tengah asik mengobrol membuatnya enggan untuk bergabung. Grim menyadari kedatangan kakaknya lalu menoleh.
"Kau sudah selesai?" tanya Grim memastikan.
"Biarkan ia beristirahat satu jam, setelah itu lakukanlah dengan kalian berdua. Aku tidak ingin adik kecil kita mati kelelahan," jawab Zerfist tanpa menoleh ke arah Grim.
"Baiklah," jawab Grim patuh.
Membiarkan Ivy istirahat tentu saja keputusan yang bijak, hari pun sudah beranjak tengah malam. Setelah satu jam Grim memasuki kamar Zerfist dan mendapati tubuh Ivy yang kini terlihat memar karena cambukan.
"Dia benar-benar melakukannya." Grim mendadak bergidik ngeri saat melihat tubuh Ivy.
"Ahh, ternyata kau yang datang," ujar Ivy setelah membuka matanya.
Tubuhnya letih, tetapi sialnya Zerfist memberikannya lagi pil untuk staminanya agar terus terjaga. Grim menggelengkan kepalanya, ia merasa ini sudah berlebihan. Grim keluar dari kamar begitu saja tanpa berminat menyentuh Ivy, Ivy yang melihat itu mendadak waspada.
Mungkin Grim bukanlah lelaki seberingas Zerfist saat bercinta, Grim adalah lelaki lembut yang mengerti menggunakan tubuh wanita dengan baik. Tetapi, kali ini sepertinya otak Ivy sedang kurang beristirahat sehingga memikirkan hal negatif terlebih dahulu.
Grim memasuki kembali kamar Zerfist sambil membawa sebuah baskom besar yang berisikan air hangat. Di pundaknya sudah ada handuk kecil yang sepertinya untuk membasuh tubuh Ivy yang terlihat memar.
Dengan telaten Grim mengompres tubuh Ivy yang lebam dengan handuk yang sudah dicelupkan ke air hangat. Rintihan Ivy kembali terdengar saat Grim menekan sedikit perut gadis itu.
"Apa terasa sakit?" tanya Grim yang terlihat khawatir.
"Maaf," jawab Grim singkat sambil tersenyum canggung.
"Tahanlah sedikit," ucap Grim sambil kembali mengompres kulit mulus Ivy yang membiru.
Grim sesekali melihat raut wajah Ivy yang kini menatap langit-langit, tatapannya begitu kosong sehingga membuat Grim gemas sendiri karena diacuhkan.
"Aku akan mengganti airnya dengan antiseptik, dan air hangat lainnya. Kau tidak bisa terbangun dari tempat tidur untuk membersihkaan dirimu, bukan?!" ujar Grim yang langsung saja keluar dari kamar itu.
Ivy hanya menatap kepergian Grim dengan senyuman kecil.
"Aku tahu ia orang yang lembut, tetapi kenapa bisa semanis itu?" gumam Ivy sambil terkekeh, menertawai kebodohannya.
Sikap Grim tentu saja tidak ada manis-manisnya dan Ivy berkata jika lelaki itu sudah berbuat manis? Sepertinya kepalanya terbentur sesuatu sebelum sampai di kamar itu.
Grim kembali masuk dengan kini membawa baskom besar yang tersedia air hangat dan air antiseptik. Ivy hanya bisa memejamkan matanya saat lagi-lagi Grim membersihkan tubuhnya dengan handuk kecil di tangannya.
Dan tiba-tiba saja di tangan kanannya terasa tergigit semut, Ivy membuka kedua matanya dan mendapati Grim yang menyuntikkan sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?!" desis Ivy membuat Grim menoleh.
"Zerfist memberikanmu pil stamina, tetapi malam ini kau harus istirahat. Aku tidak ingin menyetubuhimu saat kondisimu kelelahan, jadi aku akan membuatmu tertidur, Adik kecilku," jawab Grim dengan seringaiannya.
'Sial, ternyata ia sama saja dengan Zerfist! Otaknya hanya penuh dengan selangkangan wanita!' umpat Ivy dalam hati.
Perlahan namun pasti, Ivy mulai memejamkan matanya bisikan Grim yang samar-samar ia dengar bagai lantunan lagu yang mengirimnya ke alam bawah sadar. Grim menghembuskan napasnya sejenak saat melihat Ivy sudah bernapas dengan teratur.
"Meskipun aku terlihat seperti tidak mempedulikanmu, asal kau tahu, Ivy. Sepertinya aku mulai mencintaimu, kecemburuan membakar hatiku meski kau tengah disetubuhi oleh Kakakku sendiri," ujar Grim yang langsung saja bangkit. Menghembuskan napas sejenak lalu keluar dari kamar membiarkan Ivy yang kini tertidur pulas.
Pagi tiba, dan Ivy masih saja terikat di kedua tangan dan kakinya. Terlihat pintu terbuka dan menampilkan Grim yang hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Melihat Ivy yang sudah sadar membuat Grim tersenyum.
"Sudah lebih baik?" tanya Grim sambil duduk di tepi ranjang.
"Ya, setidaknya tidak seburuk kemarin malam," jawab Ivy seadanya.
Tubuhnya sangat pegal karena harus tidur beberapa jam dengan posisi yang sama. Ingin sekali gadis itu meneriaki mereka bertiga saat ini, sayangnya itu semua hanya menguras tenaganya saja.
"Jadi, kau akan melepaskanku hari ini?" tanya Ivy sambil tersenyum mengejek ke arah Grim.
Grim terkekeh dan langsung saja menindih tubuh Ivy. "Tentu saja, aku akan membuatmu mengeluarkannya berkali-kali hingga kau kelelahan," jawab Grim lalu mencium Ivy dengan ganasnya.
Ivy mendesah di sela-sela ciuman mereka yang memanas, tubuhnya yang masih lemas membuatnya tidak bisa menolak sentuhan Grim.
"Sepertinya tubuhmu masih lemas," gumam Grim yang langsung saja beranjak dari ranjang dan mengambil sesuatu di laci nakas.
"Itu?" Ivy mengerutkan keningnya.
"Aku akan ke bawah membuatkanmu makanan," jawab Grim yang langsung saja kembali keluar kamar.
"Mau apalagi ia memakai pil itu?" ucap Ivy geram.
Tidak berselang lama Grim kembali dengan senampan makanan dan segelas air untuk Ivy. Grim membuka ikatan di lengan gadis itu, namun tidak dengan kedua kakinya.
"Aku ingin kau mengunakan kedua tanganmu untuk makan, bukan untuk melepaskan ikatan di kedua kakimu," Grim memperingatkan.
Ivy hanya memutar kedua bola matanya jengah, gadis itu mengambil sepiring sandwich yang dibuatkan khusus oleh Grim untuk Ivy. Ivy memakannya dengan raut wajah masam mengingat ia memang lapar sejak kemarin malam.
"Aku ingin ke toilet," ujar Ivy setelah makanannya habis.
Grim hanya mengangguk mengerti dan melepaskan kedua kaki gadis itu, terlihat lebam menghiasi pergelangan kaki Ivy. Ivy yang melihat arah pandang Grim mengerutkan alisnya.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu diobati," ujar Ivy yang langsung saja memasuki kamar mandi.
Setelah setengah jam lebih Ivy baru saja selesai dengan urusan pribadinya, Ivy membuka pintu kamar mandi dan mendapati Grim yang berdiri tegap di hadapannya.
"Ada apa? Kau pikir aku kabur?" tanya Ivy dengan tenangnya.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya berpikir untuk bercinta denganmu di dalam kamar mandi," jawab Grim sambil menyeringai.
"Jangan bercanda," jawab Ivy dengan kekehan.
Ivy kembalinya menatap Grim dan tidak ada raut bercanda di wajahnya.
"Grim–"
"Jangan memaksaku, apa kau tidak merasa bahwa udara saat ini panas?" potong Grim membuat Ivy membulatkan matanya.
"Kau memberikanku pil sialan itu lagi?!" desis Ivy dan Grim hanya terkekeh.
Dengan cepat Grim membawa Ivy kembali memasuki kamar mandi yang cukup besar itu, tubuh Ivy yang telanjang memudahkannya untuk membuat Ivy terangsang pada sentuhannya. Grim membawa Ivy ke bawah shower dan menyalakan air dingin yang langsung saja membasahi tubuh mereka berdua.
Beruntunglah Grim hanya memakai handuk yang kini sudah ia singkirkan, lelaki tampan itu kembali melumat bibir Ivy dengan lembut. Sebagai seorang player, Grim sudah dipastikan mengerti melayani para wanitanya. Grim dengan lembut membawa Ivy ke dalam kenikmatan duniawi.
Tangannya yang lihai membuat Ivy semakin terangsang, lumatan-lumatan kecil membuat Ivy semakin melambung tinggi. Grim mengangkat sebelah kaki Ivy dan langsung saja melesakkan miliknya dengan penuh.
Tanpa melakukan pemanasan, Grim sudah mengetahuinya jika kewanitaan Ivy sudah siap dimasuki. Dengan tempo sedang Grim menggerakan pinggulnya membuat Ivy kini mengalungkan tangannya di leher lelaki tampan itu.
"Ahhh ... ahhh ... aahhh," desah Ivy sambil menutup matanya merasakan kenikmatan yang sama saat ia bercinta dengan Zerfist.
"Grim, akhh ...," panggil Ivy dan Grim tidak ingin Ivy yang mengambil alih atas dirinya kali ini.
"Desahanmu bagai melodi indah di telingaku," jawab Grim lalu melumat bibir Ivy.
Tangannya kirinya memeras dada Ivy, sedangkan tangan kanannya mengangkat kaki kiri Ivy. Semakin masuk ke dalam, Ivy kembali terbuai dengan apa yang dilakukan Grim padanya. Begitu lembut dan membuat Ivy merasa nyaman sekaligus menginginkan lebih.
Grim kembali mencium bibir Ivy dan meneruskan penyatuan mereka hingga akhirnya mereka berdua merasakan puncaknya. Berjam-jam berlalu, tidak hanya di kamar mandi saja, bahkan Grim membawa tubuh Ivy kembali ke kamar dan kembali bercinta.
"Seperti biasa kau sungguh nikmat," ujar Grim sambil memompa tubuh Ivy.
"Aku benci gaya seperti ini," jawab Ivy yang kini sedang berpegangan pada dinding dengan tubuh yang membungkuk dan pinggulnya tengah dihentak-hentakkan oleh sang kakak.
"Tetapi aku menyukainya, dengan begini aku dapat memasukimu dengan sangat dalam," jawab Grim menyeringai.
Ivy hanya memutar bola matanya jengah, tubuhnya lelah dan tidak ingin membuat Grim semakin bergairah. Hingga waktu menunjukan sore hari, Grim melepaskan Ivy. Ivy dengan santainya membersihkan tubuhnya dan memilih tidur dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Setelah ini ia harus melayani Spade yang notabenya selalu ingin disiksa, menyiksa Spade tentu saja harus menggunakan tenaga extra. Dan Ivy tidak ingin menyia-nyiakan waktunya dengan mencoba kabur dengan akhirnya ia tertangkap lagi.
Malam tiba dan Ivy menggeliat tidak nyaman saat merasakan punggung mulusnya kini tengah diusap lembut seseorang. Perlahan ia membuka mata kelamnya dan mendapati Spade memainkan alat cambuk milik Zerfist pada tubuhnya.
"Akhirnya kau bangun, aku sudah bosan menunggu," ujar Spade yang kini terlihat lebih berani menghadapi sang adik.
"Kau ingin bermain dengan itu?"tanya Ivy sambil menatap cambuk di tangan Spade.
Spade hanya mengangguk dan melepaskan pakaiannya. Ivy ingin berpaling saat melihat otot-otot di perut lelaki itu, tetapi itu terlalu sayang dilewatkan. Ivy mengambil cambuk itu dan langsung saja mencambuk tangan Spade, ia benci mengapa bisa berpikir untuk terus menatap perut sixpack milik kakaknya itu.
Apakah ia sudah semesum itu? Ivy mengutuk siapa pun yang membuat dirinya menjadi gadis mesum seperti itu. Spade yang terkejut sesaat langsung menyeringai, dan semua itu membuat ketampanannya berlipat ganda.
'Sial,' rutuk Ivy dalam hati.
Sepersekian detik Ivy mengagumi wajah tampan Spade, dan detik selanjutnya tubuhnya sudah berada di bawah kuasa Spade. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Spade langsung saja melumat bibir Ivy dengan ganasnya. Tangan ivy mencengkram bahu Spade hingga kuku-kuku cantiknya membuat bahu lelaki itu mengeluarkan darah segar.
Sensasi rasa sakit di bahunya membuatnya semakin bergairah, Ivy mengerjapkan matanya saat Spade menyudahi ciuman panas mereka.
"Aku ingin langsung ke intinya!" desis Spade membuat darah Ivy kembali berdesir.
Spade langsung saja membuka kedua paha Ivy dan memperlihatkan kewanitaan Ivy yang begitu menggiurkan. Spade langsung saja menjilati cairan milik Ivy dan mulai memasuki lidahnya ke dalam liang kewanitaan Ivy.
Ivy hanya menggerang merasakan nikmatnya saat lidah Spade begitu lihai. Ivy langsung saja mencambuk punggung Spade hingga membuat lelaki itu menggerang menahan rasa sakit yang begitu nikmat baginya.
Setelah beberapa lama dan punggung Spade sudah penuh dengan luka cambukan, Spade langsung saja memasukkan kejantanannya hingga membuat Ivy tersentak. Rasa sakit yang dirasakan Spade benar-benar mengagumkan, darah segar yang menetes dari punggungnya dan rasa perih yang menjadi satu membuatnya kini hilang kendali.
Spade ingin mendapatkan rasa sakit itu lagi akan tetapi, Ivy mencegahnya.
"Tidak, kau sudah terluka parah di punggungmu. Aku tidak ingin kau mati karena ulahku, Spade!" ujar Ivy membuat Spade murka.
"Jika kau tidak memberikanku, maka kau tidak akan memiliki kesempatan untuk bangun esok hari," ancam Spade sambil menatap tajam Ivy.
"Spade, aakkhh!" Spade langsung saja menghujamkan kejantanannya dengan kasar.
Ivy hanya bisa mengigit bawah bibirnya menahan gelora panas itu, hingga akhirnya mereka berdua mencapai puncaknya bersamaan. Napas mereka berdua memburu, Spade jatuh di atas tubuh Ivy begitu ia mendapatkan klimaks.
"Aku tidak ingin melukaimu lagi, Spade," gumam ivy, Spade tercenung.
Ia tidak mengerti mengapa adiknya kini tidak ingin melukainya seperti biasa. Ivy mencoba bangkit akan tetapi, Spade menahan tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu istirahat malam ini," ujar Spade yang langsung saja kembali bangkit dan menghujam tubuh Ivy.
Malam itu menjadi malam yang melelahkan, Zerfist dan Grim hanya memantau Spade dari luar kamar. Hingga pagi tiba, Ivy mulai terlihat menyeringai. Melihat gelagat aneh yang diberikan Ivy, Zerfist dan Grim kembali memasuki kamar itu dengan melihat Spade yang sepertinya masih tertidur.
"Spade, bangunlah, aku ingin kalian bertiga memakaiku secara bersamaan," ucap Ivy yang membuat Zerfist mengerutkan dahinya.
"Apa yang kau rencanakan?" desis Zerfist mulai waspada.
"Tidak ada, hanya saja aku ingin mencoba hal baru," jawab Ivy sambil tersenyum mengejek ke arah Zerfist.
"Kau benar-benar mengundang kami, Ivy." Zerfsit dan Grim membuka pakaian mereka dengan tatapan mereka masih tertuju padanya.
"Kami harap kau tidak menyesal," ujar Grim sambil terkekeh.
Spade bangun dan menatap adiknya dengan raut wajah yang tidak terbaca. Spade langsung saja memeluk Ivy dari belakang dan mengunci pergerakan tangannya. Zerfist tersenyum mengejek, dan Ivy terlihat terus menantang dirinya.
"Grim, mulailah terlebih dahulu," kata Zerfist, Grim hanya menganggukan kepalanya dan mulai membuka kedua kaki Ivy yang kini terduduk di pinggir ranjang.
"Apa kau baru saja selesai membersihkan tubuhmu? Tidak ada bercak sehabis bercinta di daerah ini," tanya Grim yang langsung saja memasukkan kedua jarinya dan mulai mempermainkan Ivy.
Mendengar desahan Ivy, Spade melepaskan kuncian di tangannya dan mulai meremas kedua buah dada Ivy yang membuat gadis itu semakin merasakan kenikmatan dunia. Sedangkan Zerfist masih tetap berdiri menatap Ivy yang sepertinya ingin bermain dengannya.
Ivy memejamkan kedua matanya sambil menikmati permainan kedua kakaknya yang kini terlihat mulai kembali terangsang. Spade dan Grim langsung saja membawa Ivy ke tengah ranjang, Grim mulai memasuki kejantanannya dan memompa tubuh Ivy yang kini terlihat sangat menikmati.
"Ahhh ... ahhh ... lebih cepat!"
Setelah mendapatkan klimaks pertamanya, Grim melepaskan penyatuannya dan menatap Ivy lekat-lekat. Desahan yang Ivy keluarkan entah mengapa kali ini begitu membuatnya ingin lagi dan lagi. Pertahanan Zerfist yang kini runtuh melangkahkan kakinya mendekati Ivy. Dikecupnya bibir Ivy dan memilih memasukkan kejantanannya ke dalam milik gadis itu.
Desahan kecil terdengar kembali, Spade membangunkan posisi Ivy yang kini punggungnya tengah ditahan oleh Grim dan Spade.
"Bagaimana rasanya, Ivy?" tanya Spade sambil memeras buah dada Ivy.
Setelah Ivy dan Zerfist mendapatkan klimaksnya secara bersamaan, Zerfist menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Ivy. Dan dengan cepat Ivy menggerakkan tangannya,
Drrttttt
Drrrtttt
Drrrtttt
Zerfist, Grim dan Spade tidak sadarkan diri.
–Flashback Off–
"Ivy, kau tidak akan bisa lari setelah kau lulus," gumam Zerfist.
***
__ADS_1