
Dentuman - dentuman irama musik terdengar begitu keras dalam sebuah ruangan yang cukup menampung 200 orang. Dengan berbagai ruangan yang bertuliskan VIP hingga VVIP terlihat jelas di lantai satu dan dua. Banyaknya orang-orang menari di lantai dansa, lampu yang berwarna warni terlihat berpendar dengan indahnya.
Zerfist yang saat ini menikmati segelas wine di tangannya berdecak kesal saat banyak jalang yang menghampiri dirinya. Lelaki tampan itu memilih tak menghiraukan para jalang tersebut menyentuh tubuhnya. Pikirannya saat ini hanya Ivy, belaian-belaian para wanita penghibur itu hanya bisa ia bayangkan jika Ivy lah yang melakukannya.
Hari ini sudah minggu ketiga setelah kejadian itu, di mana ia menyekap Ivy dengan akhir dirinya yang tidak sadarkan diri. mengingat bagaimana Ivy memintanya untuk mencumbu dirinya bersama kedua saudaranya membuatnya harus berkali-kali menahan gairahnya.
Zerfist tentu tidak ingin berakhir di ranjang esok pagi dengan seorang jalang, ia sangat membenci wanita murahan dan ia sangat mencintai Ivy. Pikirannya yang berkelana membuatnya tidak memperhatikan sekitar, sedangkan sejak awal ada seseorang yang terus memperhatikan lelaki tampan itu dalam diam dan senyuman tipis itu.
"Ivy...," Zerfist mulai bergumam.
Iris matanya kini mulai melihat ke sekeliling, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan para jalang di dekatnya. Dan tatapannya yang tajam kini melihat ke arah penari striptease yang sedang melakukan pekerjaannya. Matanya kini berfokus pada penari itu hingga lelaki itu menarik sudut bibirnya.
"Sepertinya aku mulai berhalusinasi," gumam Zerfist sambil menggelengkan kepalanya. "bagaimana mungkin itu adalah Ivy," lanjutnya.
Zerfist mengerjapkan kedua matanya, ia merasa belum cukup untuk mabuk malam ini, minuman yang ia pesan pun tidak akan membuatnya mabuk sedini ini. Lalu bagaimana ia bisa berhalusinasi jika penari sexy itu adalah Ivy?
Zerfist kembali melihat ke arah penari itu dan tetaplah sama, ia melihat Ivy yang menari di sana. Lelaki tampan itu memijit pangkal hidungnya sejenak lalu mendengar lagu yang diputar untuk mengiringi penari itu telah selesai. Zerfist membuka matanya dan melihat kembali penari itu, matanya terbelalak saat melihat apa yang terjadi.
"Shit, Ivy!" teriak Zerfist yang tentu saja tidak didengar karena lagu selanjutnya kembali berputar.
Sedangkan gadis penari itu yang ternyata adalah Ivy sudah menghilang entah ke mana. Gadis itu, sebelum turun dari panggung kecilnya tersenyum mengejek ke arah Zerfist. Entah apa yang dilakukan gadis itu, Ivy kembali muncul dan kemudian menghilang.
Zerfist berjalan cepat keluar club malam itu, hingga di luar ia tidak dapat menemukan Ivy.
"Zerfist, apa yang kau lakukan di London?" tanya seorang wanita yang kini mengalihkan pandangan Zerfist.
"Clara?"
"Selamat malam, Tuan Zerfist," sapa wanita itu dengan senyum manisnya.
"Malam," jawab Zerfist singkat tanpa berniat ingin berbicara lebih.
Meladeni wanita cantik di depannya itu saat ini sangat tidak menguntungkan dirinya, jadi sebisa mungkin ia akan menghindar dari wanita ular di hadapannya.
"Mencari Adik tercinta?" tanya Clara dan sukses membuat mata tajam Zerfist kini tertuju padanya.
"Kau mengetahuinya?" desis Zerfist membuat Clara terkekeh.
"Aku melihatnya tadi menjadi penari di altar sana," jawab Clara sambil terkekeh.
__ADS_1
"Oh," jawab Zerfist singkat dan kedua matanya kembali mencari sosok gadis yang dicarinya.
"Ingin mengetahui di mana ia berada?" tanya Clara sambil mencoba menyentuh pinggang Zerfist.
"Aku dapat menemukannya sendiri," jawab Zerfist yang kini merasa tidak nyaman dengan tangan wanita itu di tubuhnya.
"Sebelum ia disentuh orang lain," timpal Clara membuat rahang kokoh lelaki tampan di hadapannya mengeras.
"Apa maumu?" tanya Zerfist langsung.
"Tidur bersamaku sekali dan yang terakhir kalinya." Zerfist tertawa mendengar permintaan wanita cantik di hadapannya.
Wanita itu benar-benar membuatnya muak setengah mati, tetapi ia mengingat jika wanita itu mengetahui keberadaan gadisnya. Meskipun begitu ia tidak akan mudah mempercayai wanita ular di hadapannya itu.
"Pertama, aku tidak suka meniduri wanita lain selain gadisku. Kedua, kau tidak akan menyukai gaya bercinta denganku. Dan ketiga, aku tidak berniat dengan wanita lainnya yang tidak dapat memuaskan diriku," ujar Zerfist membuat Clara tersenyum lebar.
"Mau mencobanya?" tantang Clara.
"Aku dapat menemukan Ivy dengan tanganku sendiri." Zerfist berbalik tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara desahan yang berasal dari ponsel milik Clara.
"Kau mendengarnya?" Clara tersenyum sinis menatap Zerfist yang kini menoleh ke arahnya.
"Aku akan membuatmu menyesal jika Ivy tidak berada di sana!" desis Zerfist yang kini menatap wanita di hadapannya dengan tatapan membunuh.
"Beritahu saat kita mulai permainan, aku tidak yakin kau akan bertahan hingga akhir permainan," jawab Zerfist tidak ingin menghilangkan kesempatan.
Clara menatap Zerfist dengan kerutan di dahinya, ia tidak akan percaya begitu saja dengan Zerfist. Zerfsit yang mengerti arti dari tatapan wanita ular itu hanya menatap sinis.
"Kita buat kesepakatan hitam di atas putih, jika kau menyetujuinya aku akan membuatkannya malam ini dan besok kita bertemu kembali," ujar Zerfist membuat keraguan di mata Clara menghilang begitu saja.
"Deal. Sampai jumpa besok, Tuan Zerfist," jawab Clara yang melenggang pergi begitu saja meninggalkan Zerfist yang kini menatap datar kepergian Clara.
Setelah merasa aman, Clara menatap sekeliling dan yakin tidak ada seseorang selain dirinya. Dilihatnya ponsel miliknya dan secepatnya mendial sebuah nomor. Tidak menunggu lama sambungan telepon itu terangkat.
"Aku mendapatkannya," jawab Clara langsung tanpa ingin berbasa basi.
"Bagus, meski aku tidak yakin Zerfist akan melakukannya," jawab seorang gadis di seberang sana.
"Apa kau benar-benar yakin dengan hal ini, Ivy?" tanya Clara yang ternyata sedang menelepon Ivy.
__ADS_1
"Ya, aku harus melakukannya karena ini masuk dalam rencanaku. Kau hanya perlu tidur bersamanya dan satu rencanaku berjalan dengan sempurna," jawab Ivy dengan tenangnya.
"Apa kau yakin membiarkan Zerfist tidur dengan wanita lain?" tanya Clara lagi untuk memastikan, beberapa detik tidak ada jawaban dan semua itu membuat Clara yakin jika Ivy sebenarnya tidak rela.
"Lakukan saja seperti apa yang kita sepakati!" Sambungan telepon itu terputus begitu saja.
Clara hanya memutar bola matanya jengah, jika saja ia tidak diimingi tubuh Zerfist tentu ia tidak akan melakukan kesepakatan dengan Ivy. Clara pun tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan adik kecil Zerfist itu, dan mengenai rencana Ivy ia pun tidak mengetahui apa motif gadis cantik itu melakukan semua permainan ini.
"Dasar munafik! Ia tidak rela Zerfist meniduri wanita lain tetapi, ia tidak ingin mengakuinya," gerutu Clara yang langsung saja bergegas pergi sebelum anak buah Zerfist menemukannya.
Di sisi lain Ivy menghembuskan napasnya lega, dialihkan pandangannya kini menatap Trace yang berada di sampingnya. Memeluk tubuh indahnya yang kini tidak memakai sehelai benang pun, apa yang dilihat Zerfist di club malam itu bukanlah dirinya.
Tentu saja bukan dirinya, ia tidak akan sudi menari di tempat seperti itu. Dan apa yang ia lakukan saat ini dirinya pun tidak mengerti. Begitu cepat terjadi hingga dirinya pun tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
"Ivy," panggil Trace dengan suara seraknya.
Demi apa pun saat ini jantung Ivy berdentang lebih cepat, wajahnya mulai memerah dan entah mengapa saat ini ia menjadi gugup.
"Hmm," jawab Ivy dengan gumaman.
"Sudah selesai menerima teleponnya?" tanya Trace yang kini mengeratkan pelukannya.
Ivy hanya mengangguk, entah mengapa Ivy mengetahui jika Trace kini menyeringai ke arahnya.
"Kita lanjutkan permainan kita," bisik Trace sukses membuat darah gadis itu kembali berdesir.
"Trace–" Sebelum Ivy melanjutkan kalimatnya, mulutnya sudah dibungkam dengan bibir Trace. Trace membalikkan tubuhnya yang kini menjadi di atas Ivy.
Trace kembali memasukkan miliknya hingga terdengar desahan Ivy yang membuatnya menjadi tergila-gila.
"Sial, aku tidak dapat mengendalikan diri lagi," ucap Trace di sela ciuman mereka.
Trace mulai menggerakkan pinggulnya hingga membuat Ivy mendesah kembali. Dan malam itu menjadi saksi bisu di mana Ivy mulai merasakan yang namanya cinta.
***
__ADS_1
Udah di kasih bonus crazy up ya, :v istirahat lagi sampe like tembus 500 :*