Brothers Conflict

Brothers Conflict
Episode 37


__ADS_3

Sebuah lamaran yang begitu tiba-tiba dan tentu saja Ivy menolaknya. Mungkin Spade sudah terbentur batu hingga otaknya menggeser dengan kemiringan 80 derajat. Ivy benar-benar tidak habis pikir, kini mereka saling berlomba untuk mendapatkan dirinya. Yang paling berbahaya jika Zerfist sudah mulai menggunakan kekerasan kepada adik-adiknya.


"Spade, lebih baik kita kembali."


"Dan membiarkanmu kabur untuk kesekian kalinya?" Spade menatap tajam wanita yang kini berada di bawahnya.


"Spade, akhh ...." Tidak membiarkan Ivy menjawab, Spade memompa tubuhnya dengan kasar.


Setelah Ivy pulih dan sudah sehat karena dokter pribadi milik Spade datang memberitahukan bahwa kondisi Ivy semakin membaik, membuatnya senang bukan main. Tidak menunggu waktu lama setelah kepergian sang dokter Spade benar-benar membuat Ivy tidak bisa berjalan dengan benar.


"A-aku ti-tidak akan kabur darimu, akhh!" Spade tersenyum, dilumatnya bibir Ivy dan menghisapnya kuat-kuat.


Benar-benar menyenangkan, berada di alam tubuh Ivy membuat miliknya terus ingin memasukinya. Sudah berapa lama Spade tidak merasakan sensasi menggairahkan seperti saat ini. Rasanya ia tidak bisa berhenti barang sebentar saja. Tubuh indah Ivy benar-benar membuatnya melupakan dunia. Saat ini yang ia pikirkan hanyalah membuat Ivy mengandung anaknya.


"Ahk ... kau terlalu cepat, Spade!" Kedua tangan Ivy mencengkeram selimut di bawahnya dengan keras.


Tubuhnya mulai mengejang seakan mendapatkan pelampiasannya, dan di saat yang bersamaan mereka berdua mencapai puncaknya.


Spade menindih tubuh Ivy, sepertinya pria itu sudah kehabisan tenaga sore ini. Hembusan napas hangat menyentuh kulit pundaknya, Ivy benar-benar kelelahan. Bahkan ia belum memakan apa pun sejak semalam.


"Bisa kita istirahat? Aku lapar," ujar Ivy sambil memegang perutnya yang rata.


Ia benar-benar lapar, menghabiskan beberapa ronde membuatnya benar-benar kehabisan tenaga. Sangat tidak lucu ia pingsan karena kelaparan, bukan?


Spade menghembuskan napasnya lelah, ia juga lapar dan tubuhnya seakan tidak ingin meninggalkan liang kenikmatan milik Ivy. Meski begitu Spade tidak akan memaksakan diri, ia tidak ingin membuat Ivy menjadi stress dan menggagalkan rencananya untuk membuat Ivy hamil.


"Aku akan menyiapkan makanan dan kau lebih baik membersihkan dirimu," bisik Spade di telinga Ivy.


Ivy hanya menjawab dengan gumaman, sedikit kesal karena tentu ia akan sulit berjalan. Ivy menghembuskan napasnya kasar setelah Spade bangun dari atas tubuhnya, rasanya sakit dan perih di area kewanitaannya. Percintaan yang kasar dan tanpa henti sudah sukses membuatnya terbang dan sedikit frustrasi karena menahan rasa nyeri. Tubuhnya yang sudah banyak bercak kepemilikan membuat Ivy mendengkus kesal.


Spade tidak seperti biasanya yang ingin disiksa, saat ini Spade lebih memilih untuk cepat-cepat menghamilinya daripada mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri. Setelah membersihkan diri di air yang terasa begitu dingin itu, Ivy memakai sebuah dress berwarna putih yang tersedia di atas ranjang.


Sepertinya Spade sudah mempersiapkan semuanya, entah berapa lama ia membersihkan diri. Wanita itu berjalan keluar ruangan dan ia baru kali itu melihat nuansa ruangan yang terlihat begitu hangat. Semua terbuat dari pepohonan yang terlihat cukup kuat, ditelusurinya lorong panjang hingga ia menemukan anak tangga untuk turun ke bawah.


Rasa sakit mulai terasa di daerah kewanitaannya, tubuh wanita itu jatuh terduduk saat ingin melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Ivy menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang mulai menjadi-jadi. Spade yang mendengar suara terjatuh itu langsung saja berlari ke atas dan mendapatkan Ivy yang duduk terkulai lemas.


"IVY!" Wajah panik Spade begitu terlihat saat melihat Ivy dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Maafkan aku," bisik Spade sambil menggendong tubuh Ivy.


"Kau benar-benar menyebalkan, setidaknya jangan membuatku sesakit ini, Spade," jawab Ivy ketus.


Ivy benar-benar kesal dengan rasa sakit itu, sedangkan Spade hanya tersenyum simpul mendengar celotehan Ivy. Ingin sekali Ivy memukul pria itu akan tetapi, kini ia tidak bertenaga sama sekali. Spade membawa Ivy ke lantai bawah dan mendudukinya di sofa ruang tamu.


"Tunggu dan diam di sini, Adik kecilku yang manis," ujar Spade membuat Ivy menatap jijik pada kakak tirinya itu.


Tidak membutuhkan waktu lama Spade datang dengan membawa makanan di atas nampan. Aroma lezat tercium di penciuman Ivy. Dengan cepat Ivy mengambil sepiring nasi berwarna cokelat kekuningan dari tangan Spade.


"Pelan-pelan saja, Ivy. Makananmu tidak akan lari jika kau menyantapnya seperti biasa." Tatapan mencemooh Ivy membuat Spade tersenyum lebar.


Wanita itu baru menyadari jika pria di sampingnya itu sudah terlihat begitu rapi dan wangi. Sepertinya Spade mandi terlebih dahulu sebelum memasak. Memasak? Ivy baru mengetahui jika kakaknya itu bisa memasak. Padahal yang Ivy lihat setiap harinya pria itu hanya bercinta dengan tumpukan buku di kamarnya.


'Dasar kutu buku,' itulah yang dicapkan Ivy pada Spade.


Spade kala itu hanya menatap datar adik tirinya, tidak berniat untuk membalas sedikit pun celaan yang keluar dari bibir seksi itu. Perhatian Ivy kini teralihkan dari makanannya saat Spade mulai menciumi pipi kanannya.


"Aku sedang makan."


"Aku tahu."


"Tidak mau."


"Kita bisa lanjutkan 'itu' nanti, Spade!"


"Aku ingin sekarang."


"Di sini?"


"Ya."


"Kau benar-benar gila, menyingkir dariku!"


"Baiklah, setelah kau selesai kita lanjutkan yang tertunda."


"Tidak."

__ADS_1


"Aku tidak menerima penolakan , Ivy."


"Aku ingin istirahat, kita lanjutkan besok."


"Baiklah."


Jawaban terakhir Spade membuat Ivy mengerutkan dahi, tidak ingin berpikir panjang saat ini ia ingin menyelesaikan makanannya lalu pergi untuk tidur. Sedangkan Spade hanya tersenyum sambil mengamati Ivy yang dengan lahap menyantap makanannya.


"Apa kau tidak makan?" tanya Ivy saat melihat Spade sama sekali tidak menyentuh makanannya.


"Aku ingin memakanmu." Jawaban Spade benar-benar di luar dugaan, Ivy sempat terdiam saat mendengar itu lalu hanya bisa melanjutkan menghabiskan makanannya.


"Makanlah, atau kau mau aku yang menyuapimu?" tanya Ivy membuat Spade tersenyum lebar lalu mengangguk cepat.


"Kau seperti anak kecil, Spade," gerutu Ivy sambil meletakkan piring kotor di tangannya lalu mengambil sepiring makanan milik Spade.


"Aku tidak pernah disuapi oleh Ibuku, bahkan Daddy jarang sekali di rumah saat aku masih kecil." Ivy terdiam meski tangannya mulai menyuapi Spade.


"Aku kadang iri saat melihat dirimu bersama Mommy Rosaline, kau memiliki Mommy yang sangat ingin aku miliki," lanjut Spade dengan senyum masam di wajahnya.


"Apa aku terlihat bahagia di matamu?" tanya Ivy sambil tersenyum miris.


"Ivy, kau tahu aku tidak memiliki seorang Ibu setelah aku lahir. Sedangkan dirimu, kau memilikinya hingga saat ini. Kebahagiaan apa yang kau cari?" Ivy tersentak dengan pertanyaan Spade.


Benar, kebahagiaan apa yang ia cari? Hidupnya hanya dipersulit oleh orang sekitarnya. Ibunya mempertaruhkan dirinya hanya untuk membalaskan dendam karena kehilangan suami tercintanya. Mempertaruhkan hidupnya hanya untuk mengungkap takdir di depan sana. Apakah dengan kebebasan akan menemukan kebahagiaan yang ia cari?


"Aku tidak tahu," jawab Ivy dengan senyum mirisnya.


Ia benar-benar tidak tahu, hatinya mulai bimbang. Apakah ia akan melanjutkan misi itu? Atau lari dari semua masalah yang ia mulai. Permainan yang ia suguhkan sudah menguras kewarasannya saat ini.


"Hidupku terlalu rumit untuk kau cerna, Spade," jawab Ivy sambil meletakkan piring yang kini telah bersih dari makanan di tangannya.


Spade terkekeh lalu menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit dengan senyum simpul yang masih merekah di wajahnya. Ivy memilih bersandar di bahu Spade sambil menutup kedua matanya, ia lelah. Spade sama sekali tidak terusik saat Ivy mulai terlelap di sampingnya.


"Kau seperti para bintang, semakin aku ingin menggapaimu, rasanya kau semakin menjauh. Kau datang di malam selanjutnya dengan sinar yang tidak cukup menyinari dunia. Tetapi cahayamu sudah cukup menyinari hidupku."


__ADS_1



__ADS_2