
Seorang lelaki berkemeja hitam terlihat telah sampai di depan sebuah Mansion besar yang ia dapatkan alamat dari seseorang teman lamanya. Lelaki tampan itu mengetuk pintu rumah itu beberapa kali dan tidak menunggu lama seorang pelayan membukakan pintu mansion besar itu.
"Selamat datang, Tuan Zerfist," sambut pelayan itu.
"Di mana Alysia?" tanya lelaki tampan itu tanpa basa basi.
"Nona sedang berada di ruang tamu bersama Tuan Leon, silakan ikuti saya," jawab pelayan itu sambil melangkahkan kakinya untuk mengantar sang tamu.
Pelayan itu membuka pintu besar di sebelah kiri lorong dan mempersilakan lelaki tampan itu masuk. Lelaki itu melangkahkan kedua kakinya hingga membuat dua sejoli di hadapannya terkejut dengan kehadirannya.
"Zerfist, aku tidak tahu kau akan datang secepat ini," ujar Alysia sambil menatap Zerfist malas.
"Tentu saja, aku tidak ingin membuang waktu untuk menemukan adikku tercinta," jawab Zerfist sambil menggulung kemeja hitamnya sampai siku.
"Adik? Maksudmu Spade?" jawab Alysia berpura-pura tidak tahu.
"Aku tahu kau mengenal adikku, Alysia. Kau tidak perlu berpura-pura." Tubuh Alysia terlihat menegang seketika.
"Ivy, dialah yang kau maksud?" jawab Alysia sedikit kesal.
"Sadarlah, Alysia. Kau beruntung karena kau adalah Adik Lucas. Jika tidak, kau sudah aku pastikan membusuk di penjara bawah tanah keluarga kami," jawab Zerfist yang langsung memilih duduk di seberang Alysia dan Leo.
"Jaga perkataanmu, Tuan Verleon," desis Leo tidak terima.
"Aku berkata jujur, wanita cantik di sebelahmu sudah mencelakai adikku. Kau tahu, mereka yang mencelakai Ivy, sudah aku kirim ke sana," jawab Zerfist sambil menunjuk ke atas.
Alysia menelan salivanya dengan susah payah, benar apa yang dikatakan Zerfist. lelaki di depannya itu seperti Lucas, seorang maniak yang menyukai adiknya sendiri.
"Jadi, tujuanmu datang karena ingin menanyakan di mana Ivy berada?" tebak Alysia mencoba suaranya tidak bergetar.
"Wanita pintar, aku tidak perlu mengatakan alasanku yang sebenarnya, bukan?" jawab Zerfist kini memperlihatkan senyum sinisnya.
"Aku memang menabraknya, dan membawanya ke rumah sakit. Tetapi, setelah itu ia dibawa pergi oleh seseorang bernama Trace," jawab Alysia setenang mungkin.
"Lagi-lagi lelaki itu menghalangiku," desis Zerfist tidak suka.
__ADS_1
"Aku ingin kau membantuku untuk mencarinya, bodyguard pribadinya benar-benar membuatku muak," jawab Zerfist sambil bangun dari duduknya.
"Apa? Kau pikir aku tidak memiliki kesibukan selain mengurusi urusanmu?" jawab Alysia sambil melotot kesal.
"Kau ingin aku membuat Lucas kembali untuk merebutmu atau kau dengan senang hati mengikuti permintaanku?" ancam Zerfist halus, Alysia hanya membulatkan kedua matanya tidak percaya.
"Kau tidak bisa membuatnya kembali bersikap gila, Zerfist," sangkal Alysia setengah histeris.
"Tentu saja aku bisa, kau pikir siapa yang membuatnya menjadi seperti itu?" jawab Zerfist dengan senyum miringnya.
"Pikirkanlah baik-baik, Alysia. Aku menunggu informasi yang berguna darimu," jawab Zerfist sambil berlalu.
Zerfist melangkah meninggalkan kediaman wanita cantik itu, lelaki tampan itu tidak peduli dengan apa pun lagi saat ini. Yang ia pikirkan saat ini adalah mencari Ivy dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.
Tidak peduli dengan ayahnya yang melarang untuk bertemu dengan Ivy. Apa pun akan ia hadapi, termasuk melawan seorang Alexander Verleon. Seorang pria berjas hitam menghampiri Zerfist yang masih berdiri di depan gerbang mansion.
"Tuan, tidak ada tanda-tanda Nona Ivy pernah tinggal di sini," lapor pria itu.
"Sesuai dugaanku, mereka mungkin saja mampu menghapus semua jejak, tetapi tidak dengan penciumanku," jawab Zerfist sambil menyeringai.
"Maksud, Tuan?"
Zerfist memasuki mobil sport miliknya dan melihat Alysia yang berada di depan mansion menatapnya penuh amarah. Dengan kekehan sinis, Zerfist memberikan isyarat pada Alysia.
"I'm watching you!"
Alysia semakin terlihat murka atas kehendak Zerfist yang semena-mena, bahkan ia baru menyadarinya jika orang suruhan Zerfist telah menyelidiki mansion miliknya tanpa sepengetahuan sang pemilik.
"Lelaki arogan itu benar-benar menyebalkan!" umpat Alysia kesal dan kembali masuk ke dalam mansion.
Sedangkan Grim dan Spade yang kini juga sedang berada di London tengah mencari jejak keberadaan Ivy. Sangat rapi sekali sehingga sulit untuk ditemukan oleh mereka bertiga. Hingga akhirnya Spade menemukan di mana Ivy melanjutkan kuliahnya.
"Sedikit informasi yang tertinggal," ujar Spade sambil melempar berkas di atas meja.
Mereka kini berada di sebuah penthouse milik Zerfist di kota London. Zerfist melihat berkas yang diberikan oleh Spade dan kembali mengukir senyum sinisnya.
__ADS_1
"Kita tidak tahu apakah ini sebuah jebakan atau bukan, lelaki bernama Trace itu benar-benar lihai dalam menutupi jejak Ivy," jawab Zerfist.
"Tidak hanya dirinya, Ayah pasti membantunya," kata Grim sambil menatap berkas di tangannya.
"Sebenarnya siapa lelaki bernama Trace itu? Aku tidak yakin dia adalah orang biasa," gumam Spade membuat Zerfist kini meliriknya.
"Kau tahu bukan, Arnold adalah seorang tentara. Jadi, apa yang ada dipikiranmu saat Ayah kita adalah seorang tentara?" jawab Zerifst dan kembali bertanya.
Spade dan Grim membulatkan kedua matanya. "Pantas saja, Trace benar-benar berbahaya," ujar Grim membuat Zerfist terkekeh.
"Jangan meragukanku, Grim," ucap Zerfist membuat Grim tertawa kecil.
Zerfist, dia adalah seorang murid dari sekolah militer yang dikeluarkan karena telah membunuh timnya sendiri yang terdiri dari 23 orang. Dan itu terjadi saat usianya 15 tahun, kecerdasan bahkan daya tahan tubuhnya benar-benar mengagumkan.
Alexander sengaja memasukkan Zerfist ke sekolah militer saat berusia 10 tahun agar Zerfist dapat menjaga dirinya sendiri tanpa harus memiliki bodyguard. Berbeda dengan Grim dan Spade, Grim memilih keluar dari sekolah militer saat berusia 14 tahun. Dan kasus pembunuhan yang terjadi oleh Zerfist sudah pasti ditutupi dari para awak media.
"Aku sama sekali tidak meragukanmu, tetapi kau saja kalah telak melawan Ivy. Bagaimana jika kau melawan Trace? Aku tidak dapat membayangkannya," jawab Grim membuat Zerfist menatapnya dingin.
"Ohh ayolah, ada masalah besar yang akan menanti kita," sela Spade menatap kesal kedua kakaknya.
"Aku tahu, setelah kita mendapatkan Ivy, kita harus membuatnya mengandung anak kita. Sesuai yang dikatakan Daddy, sebenarnya aku tidak mengerti apa yang direncanakan Daddy. Apakah ini sebuah jebakan atau pria tua itu memiliki rencana lain?" jawab Zerfist sambil memijat keningnya.
"Sepertinya aku mengetahui rencana Daddy sebenarnya," ujar Spade sambil tertawa kecil.
"Apa maksudmu?" tanya Grim tidak mengerti.
"Kau akan tahu nanti," jawab Spade sambil berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Dia mulai menyebalkan."
***
__ADS_1
Libur dulu sampe like tembus 300 :*